عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

Semoga Tuhan kita menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya. Sesungguhnya kita mengharap kepada Tuhan kita.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ'asaa rabbunaa an yubdilanaa khayran minhaa innaa ilaa rabbinaa raaghibuuna'semoga Tuhan kita menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya; sesungguhnya kita mengharap kepada Tuhan kita'

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. عَسَىٰ'asaaboleh jadi
  2. رَبُّنَاrabbunaaTuhan kami
  3. أَنْanbahwa
  4. يُبْدِلَنَاyubdilanaamenggantikan bagi kami
  5. خَيْرًاkhayrankebaikan
  6. مِنْهَاminhaadarinya
  7. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  8. إِلَىٰilaakepada
  9. رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
  10. رَاغِبُونَraaghibuunaorang-orang yang berharap

Inti bacaan

Harapan yang muncul dari kerendahan hati: 'semoga Tuhan kita menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya; sesungguhnya kita mengharap kepada Tuhan kita', pergeseran dari kepercayaan diri berlebihan (68:25) menuju kepasrahan dan harapan yang tulus, transformasi sikap setelah kegagalan menyadarkan keterbatasan diri.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يُبْدِلَنَا, yubdilanaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:32. Kata (رَاغِبُونَ, raaghibuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:59 dan 68:32. Dua-duanya berada di paruh kedua ayat yang sama, dan keduanya berbicara tentang arah yang mereka tuju sesudah kehilangan.

Di 9:59 kata kedua itu berada di dalam kalimat yang diandaikan. Ayat tersebut menyebut apa yang seharusnya mereka ucapkan, yaitu bahwa Allah cukup bagi mereka dan bahwa mereka berharap kepada Allah. Jadi di sana kalimatnya masih berupa yang belum diucapkan. Di 68:32 kalimat serupa benar-benar keluar dari mulut orang di dalam kisahnya. Ini pola kedua semacam itu di surah ini, sebab kalimat di 68:27 juga masih berupa andaian ketika muncul di 56:67.

Kata (عَسَىٰ, 'asaa) menyatakan harapan, bukan kepastian dan bukan tuntutan. Mereka tidak menagih apa pun. Susunan seperti itu memisahkan permintaan mereka dari kebiasaan lama mereka, sebab yang mereka kerjakan pada malam sebelumnya justru memastikan segalanya sampai ke hal yang paling kecil, tanpa menyisakan satu ruang pun bagi kehendak di luar mereka.

Kata 'Tuhan kami' muncul dua kali di dalam satu ayat, sekali di awal dan sekali di akhir. Sebutan itu sama sekali tidak muncul di sepanjang 68:17 sampai 68:25, yaitu bagian ketika rencana disusun dan dijalankan. Ia baru muncul di 68:29 dan sekarang dua kali sekaligus. Jadi yang berubah bukan cuma isi ucapan mereka, melainkan berapa sering nama itu disebut di dalamnya.

Yang mereka minta 'yang lebih baik daripadanya'. Permintaannya masih menyebut kebun yang hilang sebagai ukuran, jadi belum sepenuhnya lepas dari yang tadi. Namun yang mereka tuju bukan pengembalian barang yang sama, melainkan penggantian dengan yang lebih baik, dan penilaian tentang mana yang lebih baik diserahkan kepada yang diminta.

Terjemahan memakai 'mengharap kepada Tuhan kita' untuk kata terakhirnya. Kata Arabnya menggambarkan condong dan menghadapkan diri kepada sesuatu dengan keinginan, dan bahasa Indonesia tidak punya satu kata yang memuat keduanya. Yang dipilih kata yang paling dekat, dan yang berkurang gambaran gerak condongnya. Menambahkan kata untuk gerak itu akan memanjangkan kalimatnya melebihi ayat aslinya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apakah permintaan itu dikabulkan, tidak disebut apakah kebunnya kembali, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sesudah hari itu. Kisahnya berhenti di kalimat ini. Ayat berikutnya sudah berpindah ke keterangan umum, sehingga akhir cerita mereka memang sengaja tidak diberikan kepada pembaca.

Tafsiran

Ayat ini menutup pengakuan mereka dengan harapan penuh kepada Tuhan mereka.

Ayat ini menutup ucapan rombongan itu dengan sebuah harapan, dan harapannya diarahkan kepada satu pihak saja.

Kata (يُبْدِلَنَا, yubdilanaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:32. Kata (رَاغِبُونَ, raaghibuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:59 dan 68:32. Di 9:59 kata itu berada di dalam kalimat yang diandaikan, yaitu apa yang seharusnya mereka ucapkan, sedangkan di sini kalimat serupa benar-benar keluar dari mulut orang di dalam kisahnya. Ini pola kedua semacam itu di surah ini, sebab kalimat di 68:27 juga masih berupa andaian ketika muncul di 56:67.

Kata pembukanya menyatakan harapan, bukan kepastian dan bukan tuntutan, sehingga permintaan mereka berbeda benar dari cara mereka menyusun rencana pada malam sebelumnya.

Sebutan 'Tuhan kami' muncul dua kali di dalam satu ayat, padahal sebutan itu sama sekali tidak muncul di sepanjang 68:17 sampai 68:25. Yang mereka minta masih memakai kebun yang hilang sebagai ukuran, tetapi yang dituju penggantian dengan yang lebih baik, dan penilaian tentang mana yang lebih baik diserahkan kepada yang diminta. Tidak disebut apakah permintaan itu dikabulkan, tidak disebut apakah kebunnya kembali, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sesudah hari itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam harapan yang muncul sesudah kebunnya habis. Bukan menyesali kebun. Meminta ganti yang lebih baik. Permintaan mereka masih memakai kebun yang hilang sebagai ukuran, sehingga belum sepenuhnya lepas dari yang tadi. Namun yang mereka tuju bukan pengembalian barang yang sama, melainkan penggantian dengan yang lebih baik. Penilaian tentang mana yang lebih baik diserahkan kepada Allah, bukan ditetapkan mereka sendiri. Menyerahkan ukuran penilaian itu perubahan yang lebih besar daripada perubahan isi permintaannya sendiri.
  • Nadanya berubah dari yang di awal kisah. Dulu yakin bisa sendiri. Kini berharap. Kata pembuka ayat ini menyatakan harapan, bukan kepastian dan bukan tuntutan. Mereka tidak menagih apa pun. Bandingkan dengan malam sebelumnya, ketika segalanya dipastikan sampai ke hal terkecil dan tidak satu ruang pun disisakan bagi kehendak di luar mereka. Satu kata pembuka sudah cukup menandai perpindahan itu, dan Allah tidak menambahkan satu kalimat keterangan pun untuk menjelaskannya.
  • Sebutan Tuhan kita dipakai dua kali dalam satu ayat. Allah merekam pengulangannya. Yang tadi dilupakan kini disebut berulang. Sebutan 'Tuhan kami' muncul dua kali di dalam ayat sependek ini, sekali di awal dan sekali di akhir. Sebutan itu sama sekali tidak muncul di sepanjang 68:17 sampai 68:25, yaitu bagian ketika rencana disusun dan dijalankan. Ia baru muncul di 68:29 dan sekarang dua kali sekaligus. Yang berubah bukan cuma isi ucapan mereka, melainkan berapa sering nama itu disebut di dalamnya.
  • Kata terakhir ayat ini juga dipakai di 9:59, dan di sana ia berada di dalam kalimat yang diandaikan, yaitu apa yang seharusnya mereka ucapkan tetapi tidak mereka ucapkan. Di sini kalimat serupa benar-benar keluar dari mulut orang di dalam kisahnya. Ini kejadian kedua semacam itu di surah ini, sebab kalimat di 68:27 pun masih berupa andaian ketika muncul di 56:67. Allah dua kali memberi wujud kepada kalimat yang di tempat lain masih berupa seharusnya.
  • Mereka meminta yang lebih baik, dan tidak menyebutkan seperti apa yang lebih baik itu. Siapa yang menentukan ukurannya? Bukan mereka. Semalam sebelumnya merekalah yang menetapkan segala ukuran, mulai dari waktu memetik sampai siapa yang boleh masuk. Sekarang penilaian tentang apa yang lebih baik diserahkan sepenuhnya kepada Allah, dan penyerahan itu perubahan yang lebih besar daripada isi permintaannya sendiri.
  • Tidak disebut apakah permintaan itu dikabulkan, tidak disebut apakah kebunnya kembali, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sesudah hari itu. Ayat berikutnya sudah berpindah ke keterangan umum. Allah menutup kisahnya pada kalimat harapan dan menahan akhirnya. Kisah yang tidak diberi akhir tidak bisa dibaca sebagai catatan yang sudah selesai, dan pembacanya tinggal berdiri di tempat mereka berdiri, dengan permintaan yang sama belum diketahui jawabannya.