كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Seperti itulah azab. Sungguh, azab akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. كَذَٰلِكَ الْعَذَابُka-dzaalika l-'adzaabuseperti itulah azab
  2. وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَwa-la-'adzaabu l-aakhirati akbaru law kaanuu ya'lamuunasungguh, azab akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  2. الْعَذَابُl-'adzaabuazab
  3. وَلَعَذَابُwa-la-'adzaabudan sungguh azab
  4. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  5. أَكْبَرُakbarulebih besar
  6. لَوْlawsekiranya
  7. كَانُواkaanuumereka adalah
  8. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Perbandingan skala konsekuensi: 'seperti itulah azab (di dunia). Sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui', penutup kisah kebun yang mengangkat pelajaran ke tingkat lebih luas, kehilangan duniawi sekalipun terasa berat, hanyalah bayangan kecil dari konsekuensi yang jauh lebih signifikan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(di dunia)' tidak dipakai. 'Kadzaalika' (gabungan ka+dzaalika, idiom 'demikianlah/seperti itulah') dipertahankan sesuai draf.

Rangkaian (كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ, kadzaalikal-'adzaab) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:33. Rangkaian (لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ, lau kaanuu ya'lamuun) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 6 surah, yaitu di 2:102, 2:103, 16:41, 29:41, 29:64, 34:14, 39:26, dan 68:33; delapan kemunculan tetapi enam surah karena surah 2 dan surah 29 masing-masing memakainya dua kali.

Kata untuk azab tidak muncul satu kali pun di sepanjang 68:17 sampai 68:32. Kisahnya menyebut bencana yang berkeliling, kebun yang menjadi seperti dipetik habis, dan ucapan orang-orangnya, tetapi tidak pernah menamainya. Ayat inilah yang memberi nama, dan pemberian nama itu datang sesudah kisahnya ditutup. Jadi pembaca lebih dahulu diberi peristiwanya, baru kemudian diberi sebutan untuk peristiwa itu.

Kata ganti di ayat ini berpindah dari 'kami' ke 'mereka'. Sepanjang 68:26 sampai 68:32 yang berbicara pemilik kebun sendiri, dan di sini suaranya berpindah ke luar cerita. Perpindahan tersebut menutup kisahnya tanpa satu kalimat penghubung pun. Yang menandai selesainya cerita cuma pergantian kata ganti dan pergantian pokok pembicaraan.

Susunan 'seperti itulah' menunjuk ke belakang, yaitu ke seluruh kisah yang baru dibaca. Ia tidak menunjuk satu bagian tertentu. Jadi yang dijadikan contoh bukan bencananya saja, melainkan juga rencana yang mendahuluinya, bisikan di jalan, larangan atas orang yang membutuhkan, dan pengakuan yang datang sesudahnya. Semuanya sekaligus disebut dengan satu kata penunjuk.

Perbandingan di paruh kedua tidak menyebutkan seberapa besar bedanya. Yang dinyatakan cuma bahwa yang di akhirat lebih besar. Al-Qur'an tidak memberi ukuran, tidak memberi gambaran, dan tidak memberi keterangan tambahan. Yang diberikan satu kata pembanding saja, dan sisanya dibiarkan tanpa isi.

Penutupnya berbentuk pengandaian, yaitu 'sekiranya mereka mengetahui'. Bentuk itu menyatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya. Yang tidak mereka ketahui bukan bahwa ada azab, sebab kisahnya baru saja memperlihatkan orang yang mengalaminya. Yang tidak diketahui besarnya yang di akhirat, dan justru itulah bagian yang tidak diberi ukuran di paruh sebelumnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa 'mereka' yang dimaksud, tidak disebut apakah pemilik kebun termasuk di dalamnya, dan tidak disebut kapan pengetahuan itu akan sampai kepada mereka. Ayatnya berpindah dari cerita ke keterangan tanpa menyebut satu nama pun, dan susunan begitu membuat kalimatnya bisa dikenakan kepada siapa saja yang membacanya.

Tafsiran

Ayat penutup rangkaian ini menegaskan bahwa azab dunia hanya bayang-bayang dari azab akhirat yang jauh lebih besar.

Ayat ini menutup kisah kebun dari luar, dan sekaligus memberi nama kepada peristiwa yang di dalam kisahnya tidak pernah dinamai.

Rangkaian (كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ, kadzaalikal-'adzaab) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:33. Rangkaian (لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ, lau kaanuu ya'lamuun) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 6 surah, yaitu di 2:102, 2:103, 16:41, 29:41, 29:64, 34:14, 39:26, dan 68:33.

Kata untuk azab tidak muncul satu kali pun di sepanjang 68:17 sampai 68:32, sehingga ayat inilah yang memberi nama, dan namanya datang sesudah kisahnya ditutup. Kata ganti pun berpindah dari 'kami' ke 'mereka', dan perpindahan itu menutup ceritanya tanpa satu kalimat penghubung.

Susunan 'seperti itulah' menunjuk ke seluruh kisah yang baru dibaca, bukan ke satu bagian tertentu. Paruh keduanya menyatakan bahwa yang di akhirat lebih besar tanpa memberi ukuran apa pun. Penutupnya berbentuk pengandaian yang menyatakan mereka tidak mengetahui, dan yang tidak diketahui bukan adanya azab melainkan besarnya. Tidak disebut siapa 'mereka' yang dimaksud dan apakah pemilik kebun termasuk di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut yang baru diceritakan seperti itulah azab. Menunjuk kembali. Kisah kebun yang hangus diberi nama sesudah selesai. Kata penunjuknya mengarah ke belakang, yaitu ke seluruh kisah yang baru dibaca, dan tidak ke satu bagian tertentu. Jadi yang dijadikan contoh bukan bencananya saja, melainkan juga rencana yang mendahuluinya, bisikan di jalan, larangan atas yang membutuhkan, dan pengakuan yang datang sesudahnya. Semuanya sekaligus dirangkum satu kata penunjuk, dan Allah tidak memilah bagian mana yang paling berat.
  • Perbandingannya azab akhirat lebih besar. Bukan berbeda. Yang di dunia tak disangkal berat, cuma disebut kalah ukurannya. Paruh kedua ayat ini tidak menyebutkan seberapa besar bedanya. Yang dinyatakan cuma bahwa yang di akhirat lebih besar. Allah tidak memberi ukuran, tidak memberi gambaran, dan tidak menambahkan keterangan apa pun. Satu kata pembanding saja yang diberikan, dan bagian sisanya dibiarkan kosong. Kekosongan itu sengaja, sebab penutup ayatnya justru menyatakan bahwa merekalah yang tidak mengetahui bagian tersebut.
  • Allah menutup dengan sekiranya mereka mengetahui. Bersyarat. Perbandingannya cuma berguna bagi yang mau menghitung. Bentuk pengandaian di penutupnya menyatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya. Yang tidak diketahui bukan bahwa ada azab, sebab kisahnya baru saja memperlihatkan orang yang mengalaminya sampai selesai. Yang tidak diketahui besarnya yang di akhirat, dan itu persis bagian yang tidak diberi ukuran di paruh sebelumnya. Kekurangan pengetahuan mereka dan kekosongan di dalam ayatnya menunjuk hal yang sama.
  • Kata untuk azab tidak muncul satu kali pun sepanjang kisah kebun, dari 68:17 sampai 68:32. Kisahnya menyebut sesuatu yang berkeliling pada malam hari, kebun yang menjadi seperti telah dipetik habis, dan seluruh ucapan orang-orangnya, tetapi tidak pernah menamainya. Allah menahan namanya sampai ceritanya selesai. Pembaca lebih dahulu diberi peristiwanya, baru kemudian diberi sebutan untuknya, dan urutan itu menahannya dari membaca kisah tadi sambil sudah tahu labelnya.
  • Sepanjang 68:26 sampai 68:32 yang berbicara pemilik kebun sendiri dengan kata ganti 'kami'. Di ayat ini kata gantinya berubah menjadi 'mereka', dan suaranya berpindah ke luar cerita. Allah menutup kisahnya tanpa satu kalimat penghubung pun. Yang menandai selesainya cerita cuma pergantian kata ganti, dan tanda sehalus itu menuntut pembaca yang memperhatikan siapa yang sedang berbicara di setiap ayat.
  • Siapa 'mereka' yang tidak mengetahui itu? Apakah pemilik kebun termasuk di dalamnya? Ayatnya tidak menjawab satu pun. Allah berpindah dari cerita ke keterangan tanpa menyebut satu nama, dan susunan begitu membuat kalimatnya bisa dikenakan kepada siapa saja yang membacanya. Kalimat yang tidak menunjuk orang tertentu tidak bisa ditolak dengan alasan bahwa yang dimaksud orang lain.