إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada taman-taman kenikmatan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِinna li-l-muttaqiina 'inda rabbihim jannaati n-na'iimisesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada taman-taman kenikmatan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. لِلْمُتَّقِينَli-l-muttaqiinabagi orang-orang yang bertakwa
  3. عِنْدَ'indadi sisi
  4. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  5. جَنَّاتِjannaatitaman-taman
  6. النَّعِيمِn-na'iimikenikmatan

Inti bacaan

Kontras tegas nasib akhir: 'bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga kenikmatan', pembalikan total dari kisah kebun yang gagal, jaminan hasil positif bagi yang memilih jalan berbeda dari ketamakan yang baru saja diceritakan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (جَنَّاتِ النَّعِيمِ, jannaatin-na'iim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 6 surah, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Salah satunya di surah 56, dan surah itu sudah bertemu surah ini sebelumnya, sebab seluruh kalimat 68:27 sama persis dengan 56:67. Jadi dua surah tersebut bertemu sekali pada kalimat kerugian dan sekali lagi pada sebutan taman.

Kata pertama rangkaian itu seakar dengan kata yang dipakai di 68:17 untuk menyebut kebun di dunia. Kisah tadi memakainya untuk sesuatu yang habis dalam semalam, dan ayat ini memakainya untuk sesuatu yang dijanjikan tetap. Surah ini menaruh keduanya berdekatan dan tidak menerangkan hubungan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang mengerjakan perbandingannya cuma letak dan kesamaan katanya.

Keterangan tempatnya 'di sisi Tuhan mereka'. Yang disebut bukan arah, bukan jarak, dan bukan gambaran isi. Yang disebut kedekatannya kepada siapa. Susunan tersebut memindahkan pokok janjinya dari barang yang diterima ke pihak yang memberikan, dan terjemahan menahannya dengan 'di sisi Tuhan mereka' tanpa mengubahnya menjadi keterangan tempat biasa.

Yang dijanjikan disebut dengan sifat, yaitu mereka yang bertakwa. Al-Qur'an tidak mendaftar perbuatan apa pun di ayat ini. Bandingkan dengan kisah sebelumnya, yang justru merinci perbuatan sampai ke bisikan di jalan dan larangan yang mereka ucapkan. Yang dirinci perbuatan pihak yang satu, dan yang disebut dengan satu sifat saja pihak yang lain.

Huruf (إِنَّ, inna) di awalnya menyatakan penegasan. Ayat ini tidak berbentuk harapan seperti ucapan pemilik kebun di 68:32, melainkan berbentuk pernyataan yang dikuatkan. Dua ayat berdekatan memakai dua bentuk yang berbeda: yang satu manusia berharap, yang satu lagi Allah menegaskan. Perbedaan bentuk itu sendiri sudah menerangkan siapa yang berkedudukan apa.

Terjemahan memakai 'taman-taman kenikmatan' dan menahan bentuk jamak pada kata pertamanya. Memakai bentuk tunggal akan menghilangkan kejamakan yang ada di dalam ayatnya, padahal kejamakan itu bagian dari perbandingannya dengan satu kebun yang habis di kisah sebelumnya. Yang hilang satu, dan yang dijanjikan lebih dari satu.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut isinya apa saja, tidak disebut kapan diberikan, dan tidak disebut berapa lama. Yang disebut cuma untuk siapa dan di sisi siapa. Ayat berikutnya pun tidak melanjutkan gambarannya, melainkan berpindah ke pertanyaan tentang perlakuan yang adil, sehingga janji ini memang tidak dimaksudkan sebagai uraian.

Tafsiran

Ayat ini menjanjikan balasan taman kenikmatan bagi orang bertakwa, berkontras dengan nasib orang durhaka.

Ayat ini berpindah dari mereka yang kehilangan kebun kepada mereka yang dijanjikan taman, dan pergantiannya terjadi tanpa kalimat penghubung.

Rangkaian (جَنَّاتِ النَّعِيمِ, jannaatin-na'iim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 6 surah, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Salah satunya di surah 56, yang sudah bertemu surah ini sebelumnya karena seluruh kalimat 68:27 sama persis dengan 56:67.

Kata pertama rangkaian itu seakar dengan kata yang dipakai di 68:17 untuk kebun di dunia. Kisah tadi memakainya untuk sesuatu yang habis dalam semalam, dan ayat ini memakainya untuk sesuatu yang dijanjikan tetap.

Keterangan tempatnya 'di sisi Tuhan mereka', jadi yang disebut kedekatannya kepada siapa dan bukan arah atau gambaran isi. Yang dijanjikan disebut dengan sifat saja, tanpa daftar perbuatan, padahal kisah sebelumnya merinci perbuatan sampai ke bisikan di jalan. Huruf pembukanya menyatakan penegasan, berbeda dari bentuk harapan yang dipakai pemilik kebun di 68:32. Terjemahan menahan bentuk jamak pada kata pertamanya, sebab kejamakan itu bagian dari perbandingannya dengan satu kebun yang habis di kisah sebelumnya. Tidak disebut isinya apa saja, tidak disebut kapan diberikan, dan tidak disebut berapa lama.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tempatnya di sisi Tuhan mereka. Bukan sekadar taman. Yang dekat dengan-Nya. Keterangan tempatnya bukan arah dan bukan jarak, melainkan kedekatan kepada siapa. Susunan itu memindahkan pokok janjinya dari barang yang diterima kepada pihak yang memberikan. Terjemahan menahannya dengan 'di sisi Tuhan mereka' dan tidak mengubahnya menjadi keterangan tempat biasa. Janji yang disebut begitu tidak bisa dinilai dari isinya saja, sebab bagian terbesarnya justru terletak pada siapa yang berada di dekatnya.
  • Kalimat ini datang sesudah kisah kebun yang gagal. Yang di dunia habis. Yang ini tidak. Kata pertama pada sebutan taman di ayat ini seakar dengan kata yang dipakai di 68:17 untuk kebun di dunia. Yang satu habis dalam semalam, dan yang satu lagi dijanjikan tetap. Allah menaruh keduanya berdekatan tanpa satu kalimat pun yang menerangkan hubungannya. Bentuk jamaknya pun berbeda dari yang di kisah tadi: yang hilang satu, dan yang dijanjikan lebih dari satu.
  • Kata bertakwa dipakai, bukan kata beramal. Allah menyebut sikapnya. Bukan daftar pekerjaannya. Yang dijanjikan disebut dengan sifat saja, yaitu mereka yang bertakwa, dan tidak satu perbuatan pun didaftar di ayat ini. Bandingkan dengan kisah sebelumnya, yang justru merinci sampai ke bisikan di jalan dan kalimat larangan yang mereka ucapkan. Allah merinci perbuatan pihak yang satu dan cukup menyebut satu sifat untuk pihak yang lain, dan perbedaan cara menyebut itu sendiri sudah berbicara.
  • Kisah tadi meminjam kata untuk taman guna menyebut kebun di dunia, yaitu di 68:17. Di ayat ini kata dari akar yang sama muncul kembali dengan maksud yang biasa dipakai Al-Qur'an. Allah meminjam kata itu sebentar untuk kebun yang habis, lalu memulangkannya. Urutan tersebut membuat pembaca membaca janji ini dengan ingatan yang masih hangat tentang taman yang tidak bertahan semalam. Kata yang sama dipakai untuk dua tempat yang tidak sebanding, dan yang menentukan bacaannya cuma kalimat yang mengelilinginya, bukan katanya sendiri.
  • Di 68:32 pemilik kebun berbicara dengan bentuk harapan, sebab yang mereka minta belum tentu diberikan. Di ayat ini kalimatnya berbentuk pernyataan yang dikuatkan sejak huruf pertamanya. Dua ayat yang berdekatan memakai dua bentuk yang berlawanan kedudukannya, yaitu manusia yang berharap dan Allah yang menegaskan. Perbedaan bentuk kalimat itu sudah menerangkan siapa yang berkedudukan apa, tanpa satu kata keterangan pun ditambahkan untuk menjelaskannya.
  • Apa saja yang ada di dalamnya? Kapan diberikan? Berapa lama? Tidak satu pun dijawab. Yang disebut cuma untuk siapa dan di sisi siapa. Ayat berikutnya juga tidak melanjutkan gambarannya, melainkan berpindah ke pertanyaan tentang perlakuan yang adil. Allah tidak sedang menguraikan isi janji di sini; Dia sedang memasang satu pihak berhadapan dengan pihak yang kisahnya baru saja selesai dibaca, dan uraian yang panjang justru akan mengaburkan pemasangan itu.