Ayat 68:35

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang yang berserah diri seperti orang-orang yang pendurhaka?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَa-fa-naj'alu l-muslimiina ka-l-mujrimiinaapakah patut Kami memperlakukan orang-orang yang berserah diri seperti orang-orang yang pendurhaka

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَفَنَجْعَلُa-fa-naj'alumaka apakah Kami menjadikan
  2. الْمُسْلِمِينَl-muslimiinaorang-orang yang berserah diri
  3. كَالْمُجْرِمِينَka-l-mujrimiinaseperti para pendosa

Inti bacaan

Pertanyaan retoris tentang keadilan: 'apakah patut Kami memperlakukan orang-orang yang berserah diri seperti orang-orang yang pendurhaka?', penegasan logis bahwa keadilan menuntut perbedaan perlakuan berdasarkan perbedaan pilihan hidup, bukan penyamarataan yang mengabaikan konsekuensi moral.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(orang yang tunduk kepada Allah)' dan '(orang kafir)' tidak dipakai, tidak berpadanan kata Arab.

Kata (أَفَنَجْعَلُ, a-fa-naj'alu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:35. Rangkaian (الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ, al-muslimiina kal-mujrimiin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:35. Jadi pertanyaan ini disusun dengan kata pembuka dan pasangan kata yang tidak dipakai lagi di mana pun.

Kata (الْمُسْلِمِينَ, al-muslimiin) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 10 surah, yaitu di 6:163, 10:72, 10:90, 22:78, 27:91, 33:35, 39:12, 41:33, 46:15, 51:36, dan 68:35; sebelas kemunculan tetapi sepuluh surah karena surah 10 memakainya dua kali. Kata (الْمُجْرِمِينَ, al-mujrimiin) muncul 22 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 7:40, 26:200, dan 74:41. Dua kata yang masing-masing sudah sering dipakai sendiri-sendiri baru dipertemukan di ayat ini.

Yang ditanyakan bukan apakah dua golongan itu sama. Yang ditanyakan apakah Allah akan menjadikan yang satu sebagaimana yang lain. Kata kerjanya menunjuk perbuatan Allah sendiri, bukan sifat yang melekat pada manusianya. Jadi pertanyaannya tentang cara memperlakukan, dan bukan tentang apakah keduanya memang berbeda.

Bentuknya pertanyaan, dan Al-Qur'an tidak menjawabnya di ayat ini. Ayat-ayat sesudahnya justru menambah pertanyaan lain. Susunan seperti itu menyerahkan penyimpulan kepada yang membacanya. Kesimpulan yang ditemukan sendiri melekat lebih lama daripada yang disodorkan sudah jadi, dan bentuk pertanyaan inilah yang memaksa pembaca mengerjakannya.

Letaknya persis sesudah janji di 68:34 dan persis sesudah kisah kebun yang berakhir di 68:33. Jadi pembaca sudah punya dua gambaran di kepalanya ketika pertanyaan ini datang, yaitu sekelompok orang yang menahan hak orang lain lalu kehilangan segalanya, dan sekelompok lain yang dijanjikan taman di sisi Tuhannya. Pertanyaannya tidak menyebut kisah itu, tetapi letaknya membuat kisah itu ikut menjawab.

Terjemahan memakai 'orang-orang yang berserah diri' dan 'orang-orang yang pendurhaka' untuk dua kata itu. Kata pertama menunjuk penyerahan diri, dan kata kedua menunjuk pemutusan hubungan dengan yang benar. Keduanya kata sifat, bukan nama golongan tertentu, dan terjemahan menahan sifatnya supaya ayatnya tidak terbaca sebagai penyebutan kelompok yang sudah ada namanya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang bertanya kepada siapa, tidak disebut apa jawabannya, dan tidak disebut apa akibatnya jika keduanya diperlakukan sama. Yang diberikan cuma pertanyaannya. Pertanyaan yang dibiarkan menggantung memaksa pembacanya berhenti, dan berhenti sejenak itu yang tidak terjadi kalau jawabannya langsung diberikan.

Tafsiran

Ayat ini menolak secara retoris kesetaraan perlakuan antara orang berserah diri dan orang durhaka.

Ayat ini memasang dua golongan berhadapan dalam bentuk pertanyaan, dan pertanyaannya tidak dijawab di tempatnya.

Kata (أَفَنَجْعَلُ, a-fa-naj'alu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:35. Rangkaian (الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ, al-muslimiina kal-mujrimiin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:35.

Kata (الْمُسْلِمِينَ, al-muslimiin) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 10 surah, yaitu di 6:163, 10:72, 10:90, 22:78, 27:91, 33:35, 39:12, 41:33, 46:15, 51:36, dan 68:35. Kata (الْمُجْرِمِينَ, al-mujrimiin) muncul 22 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 7:40, 26:200, dan 74:41. Dua kata yang sudah sering dipakai sendiri-sendiri baru dipertemukan di ayat ini.

Yang ditanyakan bukan apakah dua golongan itu sama, melainkan apakah Allah akan menjadikan yang satu sebagaimana yang lain, sebab kata kerjanya menunjuk perbuatan Allah. Bentuknya pertanyaan, dan Al-Qur'an tidak menjawabnya di sini. Letaknya persis sesudah janji di 68:34 dan sesudah kisah kebun yang berakhir di 68:33, sehingga pembaca sudah punya dua gambaran ketika pertanyaan ini datang. Tidak disebut apa jawabannya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang ditanyakan kepatutan, bukan kemampuan. Allah tidak bertanya apakah Ia mampu. Ia bertanya apakah itu pantas. Kata kerjanya menunjuk perbuatan Allah sendiri, bukan sifat yang melekat pada manusianya. Jadi yang ditanyakan bukan apakah dua golongan itu memang berbeda, melainkan apakah keduanya akan dijadikan sama. Terjemahan menahan perbedaan itu dan tidak mengubah kalimatnya menjadi pernyataan tentang watak. Pertanyaan tentang cara memperlakukan menuntut jawaban yang berbeda dari pertanyaan tentang apakah keduanya sama.
  • Dua kelompok dipasangkan untuk dibedakan, bukan untuk disamakan. Yang berserah dan yang durhaka. Jarak itu yang ditegaskan. Dua kata di ayat ini masing-masing sudah sering dipakai sendiri-sendiri, yang pertama sebelas kali dan yang kedua dua puluh dua kali di seluruh Al-Qur'an. Baru di sini keduanya dipertemukan berdampingan, dan rangkaiannya tidak muncul lagi di mana pun. Allah menyusun pertemuan itu satu kali saja, dan sekali itu dipakai bukan untuk menjelaskan keduanya melainkan untuk menanyakan perlakuan atas keduanya.
  • Keadilan di sini dijelaskan Allah lewat pertanyaan, bukan lewat aturan. Yang membaca menyimpulkan sendiri. Kesimpulan yang ditemukan sendiri lebih melekat. Letaknya persis sesudah janji di 68:34 dan sesudah kisah kebun yang berakhir di 68:33. Pembaca sudah punya dua gambaran di kepalanya ketika pertanyaan ini datang, yaitu sekelompok orang yang menahan hak lalu kehilangan segalanya, dan sekelompok lain yang dijanjikan taman di sisi Tuhannya. Pertanyaannya tidak menyebut kisah itu sama sekali, tetapi letaknya membuat kisah itu ikut menjawab.
  • Kata pembuka ayat ini tidak dipakai lagi di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata yang dipertemukannya juga tidak. Padahal masing-masing kata itu sendiri sudah sering muncul di banyak surah. Allah menyusun pertemuannya satu kali saja, dan sekali itu dipakai untuk sebuah pertanyaan. Kata yang tidak berulang menahan pembaca dari melewatinya sebagai kalimat yang sudah dikenalnya, dan letak ayat ini memang menuntut pembaca berhenti.
  • Kata kerjanya berbentuk orang pertama jamak, yaitu 'Kami'. Jadi yang sedang ditanyakan perbuatan Allah sendiri, bukan sifat manusianya. Pertanyaan seperti itu tidak menuntut pembaca menilai orang lain; ia menuntut pembaca memikirkan bagaimana Allah memperlakukan. Susunan tersebut memindahkan pokoknya dari perbandingan antarmanusia kepada cara Allah membedakan, dan perpindahan itu ada di dalam bentuk kata kerjanya.
  • Mengapa pertanyaan ini dibiarkan menggantung, padahal jawabannya bisa diberikan dalam satu kata? Ayat-ayat sesudahnya justru menambah pertanyaan lain. Allah menyerahkan penyimpulan kepada yang membacanya. Kesimpulan yang ditemukan sendiri melekat lebih lama daripada yang disodorkan sudah jadi, dan pembaca yang baru saja membaca kisah kebun sepanjang tujuh belas ayat sudah punya seluruh bahan untuk mengerjakannya sendiri.

Ayat 68:36

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Mengapa kalian? Bagaimana kalian mengambil putusan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَmaa lakum kayfa tahkumuunamengapa kalian? bagaimana kalian mengambil putusan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مَاmaamengapa
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. كَيْفَkayfabagaimana
  4. تَحْكُمُونَtahkumuunakalian memutuskan

Inti bacaan

Tantangan terhadap logika yang keliru: 'mengapa kalian (berbuat demikian)? Bagaimana kalian mengambil putusan?', konfrontasi langsung terhadap asumsi tak berdasar bahwa semua orang layak diperlakukan sama tanpa mempertimbangkan pilihan moral masing-masing.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(berbuat demikian)' tidak dipakai.

Rangkaian (كَيْفَ تَحْكُمُونَ, kaifa tahkumuun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:35, 37:154, dan 68:36. Di 37:154 seluruh ayatnya sama persis huruf demi huruf dengan ayat ini. Di 10:35 rangkaian tersebut menjadi penutup ayat yang jauh lebih panjang. Jadi kalimat yang sama dipakai sebagai ayat utuh di dua tempat dan sebagai penutup di satu tempat.

Kesamaan dengan surah 37 tidak berhenti pada satu ayat. Sesudah 37:154 datang 37:156 yang membuka dengan susunan 'ataukah kalian mempunyai', dan susunan itu pula yang dipakai 68:37 sesudah ayat ini. Dua surah menjalankan urutan yang sama, yaitu pertanyaan keheranan lebih dahulu, lalu tuntutan agar ditunjukkan dasarnya. Yang berbeda cuma apa yang diminta ditunjukkan.

Kata kerja penutupnya tidak menyebutkan apa yang diputuskan. Ayat ini tidak berkata memutuskan tentang apa. Yang menerangkannya letaknya, sebab 68:35 baru saja menanyakan apakah dua golongan akan dijadikan sama. Jadi yang sedang dipersoalkan cara mereka menyamakan dua hal yang berbeda, dan ayat ini menanggapinya bukan dengan bantahan melainkan dengan keheranan.

Susunan (مَا لَكُمْ, maa lakum) berarti 'apa yang ada pada kalian' dan dipakai untuk menyatakan heran atas keadaan seseorang. Terjemahan memakai 'mengapa kalian' dan menahan bentuk pertanyaannya. Memakai 'kalian salah' akan mengubahnya menjadi pernyataan, padahal ayatnya tidak menyatakan apa pun. Ia bertanya, dan bertanya dengan nada terkejut.

Sasaran bicaranya berganti di ayat ini. Di 68:35 yang berbicara Allah tentang dua golongan, dan kata gantinya orang ketiga. Di 68:36 lawan bicaranya langsung disapa dengan 'kalian'. Pergantian itu memperpendek jarak. Yang tadi dibicarakan sekarang diajak bicara, dan ayat-ayat sesudahnya meneruskan sapaan tersebut sampai 68:39.

Ayat ini memuat dua pertanyaan berturut-turut di dalam ruang yang sangat pendek. Yang pertama tentang keadaan mereka, dan yang kedua tentang cara mereka menimbang. Pertanyaan bertumpuk seperti itu tidak menunggu jawaban satu per satu. Susunannya memang tidak dirancang untuk dijawab, melainkan untuk membuat yang ditanya berhenti pada tempatnya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang ditanya, tidak disebut apa yang mereka putuskan, dan tidak disebut apa jawabannya. Ketiadaan nama membuat pertanyaannya tidak bisa ditolak dengan alasan bahwa yang dimaksud pihak lain. Setiap pembaca yang pernah menyamakan dua hal yang tidak sama berdiri di tempat yang sama dengan yang ditanya.

Tafsiran

Ayat ini menegur standar putusan yang keliru.

Ayat ini membuka rentetan pertanyaan yang berlangsung sampai 68:41, dan pembukanya berupa keheranan, bukan bantahan.

Rangkaian (كَيْفَ تَحْكُمُونَ, kaifa tahkumuun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:35, 37:154, dan 68:36. Di 37:154 seluruh ayatnya sama persis huruf demi huruf dengan ayat ini, sedangkan di 10:35 ia menjadi penutup ayat yang jauh lebih panjang.

Kesamaan dengan surah 37 tidak berhenti pada satu ayat, sebab sesudah 37:154 datang 37:156 yang membuka dengan susunan 'ataukah kalian mempunyai', dan susunan itu pula yang dipakai 68:37. Dua surah menjalankan urutan yang sama.

Kata kerja penutupnya tidak menyebutkan apa yang diputuskan, dan yang menerangkannya letaknya, sebab 68:35 baru saja menanyakan apakah dua golongan akan dijadikan sama. Sasaran bicaranya juga berganti di sini, dari orang ketiga di 68:35 menjadi sapaan langsung. Terjemahan menahan bentuk pertanyaannya dan tidak mengubahnya menjadi pernyataan, sebab ayatnya memang tidak menyatakan apa pun melainkan bertanya dengan nada terkejut.

Ayat sependek ini memuat dua pertanyaan berturut-turut, yang pertama tentang keadaan mereka dan yang kedua tentang cara mereka menimbang. Pertanyaan bertumpuk begitu tidak dirancang untuk dijawab satu per satu, melainkan untuk membuat yang ditanya berhenti di tempatnya. Tidak disebut siapa yang ditanya, tidak disebut apa yang mereka putuskan, dan tidak disebut apa jawabannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah bertanya dua kali dalam satu ayat pendek. Mengapa kalian. Bagaimana memutuskan. Ayat sependek ini memuat dua pertanyaan berturut-turut, yang pertama tentang keadaan mereka dan yang kedua tentang cara mereka menimbang. Pertanyaan bertumpuk seperti itu tidak menunggu jawaban satu per satu. Susunannya memang tidak dirancang untuk dijawab, melainkan untuk membuat yang ditanya berhenti di tempatnya. Allah tidak menyodorkan bantahan; Dia menyodorkan keheranan, dan keheranan menuntut peninjauan diri.
  • Yang dipersoalkan cara memutuskannya, bukan kesimpulannya. Bukan salah jawab. Salah menimbang. Kata kerja penutupnya tidak menyebutkan apa yang diputuskan. Yang menerangkannya letak ayatnya, sebab 68:35 baru saja menanyakan apakah dua golongan akan dijadikan sama. Jadi yang dipersoalkan bukan satu kesimpulan tertentu, melainkan cara menyamakan dua hal yang tidak sama. Membiarkannya tanpa objek membuat pertanyaan ini berlaku bagi setiap penyamaan yang serupa, bukan cuma bagi satu perkara.
  • Kalimatnya terpotong-potong. Allah membiarkannya begitu. Nadanya seperti orang tercengang. Susunan pembukanya berarti 'apa yang ada pada kalian' dan dipakai untuk menyatakan heran atas keadaan seseorang. Terjemahan memakai 'mengapa kalian' dan menahan bentuk pertanyaannya. Mengubahnya menjadi pernyataan akan menghilangkan nada terkejutnya, padahal nada itulah yang membedakan ayat ini dari bantahan biasa. Yang heran tidak sedang berdebat; ia sedang menunjuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.
  • Seluruh kalimat ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 37:154. Kesamaannya tidak berhenti di situ, sebab sesudah 37:154 datang 37:156 yang membuka dengan susunan yang sama dengan 68:37. Dua surah menjalankan urutan yang sama, yaitu keheranan lebih dahulu lalu tuntutan agar ditunjukkan dasarnya. Allah memakai susunan yang sudah terpakai di tempat lain, dan yang berbeda cuma apa yang diminta ditunjukkan.
  • Di 68:35 yang berbicara Allah tentang dua golongan dengan kata ganti orang ketiga. Di ayat ini mereka langsung disapa dengan 'kalian'. Pergantian itu memperpendek jarak, dan sapaan tersebut diteruskan sampai 68:39. Orang yang tadi menjadi bahan pembicaraan sekarang berdiri di hadapan yang berbicara. Perubahan kedudukan itu terjadi tanpa satu kalimat penghubung pun, cuma dengan berganti kata ganti, dan sapaan langsung selalu lebih sulit dilewati daripada pembicaraan tentang orang ketiga.
  • Siapa yang ditanya? Apa yang mereka putuskan? Apa jawabannya? Tidak satu pun disebut. Allah membiarkan pertanyaan ini tanpa nama dan tanpa perkara tertentu. Kalimat yang tidak menunjuk orang tidak bisa ditolak dengan alasan bahwa yang dimaksud pihak lain. Setiap pembaca yang pernah menyamakan dua hal yang tidak sama berdiri di tempat yang sama dengan yang sedang ditanya di ayat ini, dan tidak ada pintu keluar yang disediakan baginya.