أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

Ataukah kalian mempunyai kitab yang di dalamnya kalian pelajari,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَam lakum kitaabun fiihi tadrusuunaataukah kalian mempunyai kitab yang di dalamnya kalian pelajari

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَمْamatau
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. كِتَابٌkitaabunKitab
  4. فِيهِfiihidi dalamnya
  5. تَدْرُسُونَtadrusuunakalian pelajari

Inti bacaan

Tuntutan bukti tekstual: 'ataukah kalian mempunyai kitab yang di dalamnya kalian pelajari', permintaan dasar argumen yang sah, klaim tanpa rujukan sumber yang jelas tidak layak dijadikan pijakan keyakinan.

Penjelasan pilihan kata

Susunan (أَمْ لَكُمْ, am lakum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 37:156, 54:43, 68:37, dan 68:39; empat kemunculan tetapi tiga surah karena surah 68 memakainya dua kali. Di 37:156 yang ditanyakan kekuasaan yang nyata, di 54:43 yang ditanyakan jaminan bebas di dalam kitab-kitab terdahulu, dan di surah ini yang ditanyakan kitab lalu sumpah. Di semua tempat itu susunannya dipakai untuk menuntut ditunjukkannya sesuatu yang bisa diperiksa.

Kata (تَدْرُسُونَ, tadrusuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:79 dan 68:37. Di 3:79 kegiatan itu disebut sebagai sesuatu yang memang berlangsung pada mereka yang diberi Kitab, dan justru karena itulah mereka dituntut menjadi orang yang mengabdi kepada Allah. Di 68:37 kegiatan yang sama disebut di dalam pertanyaan yang menuntut ditunjukkan kitabnya lebih dahulu. Yang di satu tempat kenyataan, di tempat lain masih berupa pertanyaan.

Kata untuk kitab di ayat ini tanpa kata sandang, jadi yang ditanyakan bukan kitab tertentu melainkan kitab apa saja. Tuntutannya serendah mungkin. Mereka tidak diminta menunjukkan wahyu, tidak diminta menunjukkan kitab yang dikenal, dan tidak diminta menunjukkan sumbernya. Cukup ada kitab, apa pun itu, yang di dalamnya mereka mempelajari sesuatu.

Susunan (أَمْ, am) menyambungkan ayat ini ke pertanyaan sebelumnya sebagai kemungkinan lain. Jadi ayat ini bukan pertanyaan baru yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan dari keheranan di 68:36. Susunannya berbunyi seakan berkata: kalau bukan karena kalian tidak menimbang, mungkinkah karena kalian punya sesuatu yang belum kami ketahui. Kemungkinan itu diajukan lebih dahulu sebelum ditutup.

Yang diminta di ayat ini benda, bukan alasan. Mereka tidak ditanya mengapa mereka berpendapat begitu dan tidak ditanya apa dasar pikirannya. Yang ditanyakan adakah kitab yang bisa ditunjuk. Pertanyaan tentang benda lebih sulit dielakkan daripada pertanyaan tentang alasan, sebab benda bisa diminta diperlihatkan sedangkan alasan selalu bisa diperpanjang.

Terjemahan memakai 'ataukah kalian mempunyai kitab' dan menahan bentuk kepemilikannya. Ayat aslinya tidak memakai kata kerja memiliki, melainkan susunan yang berarti 'bagi kalian ada'. Bahasa Indonesia tidak punya susunan sependek itu, dan yang dipilih kata yang paling dekat maknanya walaupun kalimatnya jadi sedikit lebih panjang.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kitab siapa, tidak disebut isinya harus apa, dan tidak disebut siapa yang menurunkannya. Yang disebut cuma bahwa ia ada dan bahwa mereka mempelajarinya. Ayat berikutnya baru menyebutkan isi yang dimaksud, sehingga pertanyaan ini sengaja dipecah ke dua ayat dan pembaca menunggu satu ayat untuk mengetahui isinya.

Tafsiran

Ayat ini menantang dasar klaim orang kafir bahwa mereka berhak menyamakan diri dengan orang beriman.

Ayat ini menuntut ditunjukkannya sebuah kitab, dan tuntutannya disusun serendah mungkin supaya tidak bisa dielakkan.

Susunan (أَمْ لَكُمْ, am lakum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 37:156, 54:43, 68:37, dan 68:39. Di 37:156 yang ditanyakan kekuasaan yang nyata, di 54:43 jaminan bebas di dalam kitab-kitab terdahulu, dan di surah ini kitab lalu sumpah.

Kata (تَدْرُسُونَ, tadrusuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:79 dan 68:37. Di 3:79 kegiatan itu disebut sebagai sesuatu yang memang berlangsung pada mereka yang diberi Kitab, sedangkan di sini ia berada di dalam pertanyaan yang menuntut kitabnya ditunjukkan lebih dahulu.

Kata untuk kitab di sini tanpa kata sandang, jadi yang ditanyakan bukan kitab tertentu melainkan kitab apa saja, sehingga tuntutannya serendah mungkin. Yang diminta pun benda, bukan alasan, dan benda bisa diminta diperlihatkan sedangkan alasan selalu bisa diperpanjang. Susunan pembukanya menyambungkan ayat ini ke keheranan di 68:36 sebagai kemungkinan lain, jadi ia bukan pertanyaan yang berdiri sendiri. Tidak disebut kitab siapa, tidak disebut isinya harus apa, dan tidak disebut siapa yang menurunkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menuntut mereka menunjukkan sumbernya. Bukan pendapat. Kitab. Kata untuk kitab di ayat ini tanpa kata sandang, jadi yang ditanyakan bukan sebuah kitab tertentu melainkan kitab apa saja. Mereka tidak diminta menunjukkan wahyu, tidak diminta menunjukkan kitab yang sudah dikenal, dan tidak diminta menyebutkan siapa yang menurunkannya. Allah menurunkan tuntutannya serendah mungkin, dan tuntutan yang serendah itu justru paling sulit dielakkan oleh yang tidak punya apa-apa.
  • Yang diminta bukan alasan, melainkan rujukan. Bukan mengapa. Dari mana. Mereka tidak ditanya mengapa berpendapat begitu dan tidak ditanya apa jalan pikirannya. Yang ditanyakan adakah sesuatu yang bisa ditunjuk. Pertanyaan tentang benda lebih sulit dielakkan daripada pertanyaan tentang alasan, sebab benda bisa diminta diperlihatkan sedangkan alasan selalu bisa diperpanjang. Allah memilih bentuk tuntutan yang tidak menyediakan ruang bagi jawaban yang berputar.
  • Klaim mereka dibongkar Allah dengan menanyakan dasarnya. Bukan dibantah isinya. Ditanya sandarannya. Kata untuk mempelajari di ayat ini juga dipakai di 3:79, dan di sana ia menyebut kegiatan yang memang berlangsung pada mereka yang diberi Kitab. Di sini kata yang sama berada di dalam pertanyaan yang menuntut kitabnya ditunjukkan lebih dahulu. Yang di satu tempat kenyataan, di tempat lain masih berupa kemungkinan yang ditanyakan, dan jarak antara keduanya persis yang sedang dipersoalkan.
  • Susunan pembuka ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:156, 54:43, 68:37, dan 68:39. Di 37:156 yang diminta kekuasaan yang nyata, di 54:43 jaminan bebas di dalam kitab-kitab terdahulu, dan di surah ini kitab lalu sumpah. Di semua tempat itu Allah memakainya untuk menuntut ditunjukkannya sesuatu yang bisa diperiksa, bukan untuk menuntut penjelasan yang bisa disusun ulang sesuka penjawabnya. Bentuk tuntutan itu tetap sama di tiga surah, dan yang berganti cuma barang yang diminta.
  • Susunan pembukanya menyambungkan ayat ini ke pertanyaan sebelumnya sebagai kemungkinan lain, bukan sebagai pertanyaan yang berdiri sendiri. Bunyinya seakan berkata: kalau bukan karena kalian tidak menimbang, mungkinkah karena ada sesuatu pada kalian yang belum diketahui. Allah mengajukan kemungkinan itu lebih dahulu sebelum menutupnya, dan cara begitu tidak menyisakan alasan bahwa pihak yang ditanya belum sempat mengajukan pembelaannya.
  • Mengapa isi kitab yang dimaksud tidak disebutkan di ayat ini juga, padahal kalimatnya masih pendek? Yang disebut di sini cuma bahwa kitabnya ada dan bahwa mereka mempelajarinya. Isinya baru muncul di 68:38. Allah memecah satu pertanyaan ke dua ayat, sehingga pembaca menunggu satu ayat penuh sebelum mengetahui isi yang dimaksud, dan penantian sependek itu sudah cukup membuat isinya terbaca lebih tajam ketika akhirnya sampai kepadanya.