إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ
Bahwa di dalamnya kalian dapat memilih apa yang kalian sukai?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَinna lakum fiihi la-maa takhayyaruunabahwa di dalamnya kalian dapat memilih apa yang kalian sukai
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- لَكُمْlakumbagi kalian
- فِيهِfiihidi dalamnya
- لَمَاla-maabenar-benar yang
- تَخَيَّرُونَtakhayyaruunakalian pilih
Inti bacaan
Pembongkaran dalih tanpa dasar: 'bahwa di dalamnya kalian dapat memilih apa yang kalian sukai?', kritik terhadap kecenderungan memilih keyakinan berdasarkan preferensi pribadi semata tanpa otoritas atau bukti yang mendukung.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَخَيَّرُونَ, takhayyaruun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:20 dan 68:38. Di 56:20 rangkaian (مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ, mimmaa yatakhayyaruun) menyebut buah-buahan yang dipilih penghuni taman, jadi memilih sesuka hati di sana memang pemberian yang dijanjikan. Di 68:38 kata yang sama dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang mustahil, yaitu kitab yang isinya boleh dipilih sesuai selera pembacanya.
Ini pertemuan ketiga antara surah ini dan surah 56. Seluruh kalimat 68:27 sama persis dengan 56:67, dan sebutan taman di 68:34 juga dipakai di 56:12. Tiga pertemuan itu tersebar di tiga pokok yang berbeda, yaitu kerugian, janji, dan pilihan. Tidak satu pun ditandai di dalam teksnya, dan semuanya cuma terbaca oleh yang membandingkan.
Ayat ini bersambung langsung dari 68:37 dan menjadi isi dari kitab yang ditanyakan di sana. Jadi dua ayat itu satu pertanyaan yang dipecah. Yang ditanyakan bukan sekadar adakah kitab, melainkan adakah kitab yang di dalamnya tertulis bahwa kalian boleh memilih apa saja yang kalian sukai. Menyebut isinya sesudah menyebut wadahnya membuat kemustahilannya terasa pada ayat kedua, bukan pada yang pertama.
Kalimatnya dikuatkan dua kali sekaligus, yaitu dengan huruf penegas di awal dan huruf penegas kedua sebelum kata terakhirnya. Yang dikuatkan justru pernyataan yang tidak pernah mereka ucapkan. Al-Qur'an menyusun sendiri anggapan mereka dalam bentuknya yang paling kuat, lalu menyerahkannya untuk dibuktikan. Menyusun anggapan lawan dalam bentuk sekuat mungkin membuat penolakannya tidak bisa dibilang menyerang bentuk yang lemah.
Yang dijanjikan di dalam kitab khayalan itu bukan kebenaran melainkan keleluasaan. Isinya tidak menyebut apa yang benar; ia cuma memberi hak memilih. Kitab semacam itu tidak mungkin menjadi timbangan, sebab ia mengikuti selera yang seharusnya ditimbangnya. Kemustahilannya bukan pada barangnya, melainkan pada isinya yang membatalkan gunanya sendiri.
Terjemahan memakai 'kalian dapat memilih apa yang kalian sukai' dan menahan bentuk pilihan bebasnya. Kata Arabnya menggambarkan memilih yang terbaik menurut yang memilih, jadi bukan sekadar mengambil salah satu. Bahasa Indonesia menyusunnya dengan dua kata kerja, sedangkan ayat aslinya cukup dengan satu, dan yang berkurang kepadatannya bukan maknanya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang menulis kitab itu, tidak disebut memilih di antara apa, dan tidak disebut apa akibatnya jika pilihan itu keliru. Ayatnya berhenti pada gambaran keleluasaannya saja. Gambaran yang berhenti di situ sudah cukup, sebab yang hendak diperlihatkan memang kejanggalan bentuknya, bukan rincian isinya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan tantangan retoris terhadap dasar klaim mereka.
Ayat ini melanjutkan pertanyaan sebelumnya dan menyebutkan isi kitab yang tadi ditanyakan keberadaannya.
Kata (تَخَيَّرُونَ, takhayyaruun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:20 dan 68:38. Di 56:20 kata itu menyebut buah-buahan yang dipilih penghuni taman, jadi memilih sesuka hati di sana memang pemberian yang dijanjikan, sedangkan di sini ia menggambarkan sesuatu yang mustahil.
Ini pertemuan ketiga antara surah ini dan surah 56, sebab seluruh kalimat 68:27 sama persis dengan 56:67 dan sebutan taman di 68:34 juga dipakai di 56:12.
Ayat ini bersambung langsung dari 68:37 dan menjadi isi dari kitab yang ditanyakan di sana, sehingga dua ayat itu satu pertanyaan yang dipecah. Kalimatnya dikuatkan dua kali sekaligus, padahal yang dikuatkan pernyataan yang tidak pernah mereka ucapkan; Al-Qur'an menyusun anggapan mereka dalam bentuk terkuatnya lalu menyerahkannya untuk dibuktikan. Yang dijanjikan di dalam kitab khayalan itu bukan kebenaran melainkan keleluasaan. Isinya tidak menyebut apa yang benar; ia cuma memberi hak memilih, sehingga kitab semacam itu tidak mungkin menjadi timbangan karena ia mengikuti selera yang seharusnya ditimbangnya. Tidak disebut siapa penulisnya, tidak disebut memilih di antara apa, dan tidak disebut apa akibatnya jika pilihan itu keliru.
Renungan dan Hikmah
- Isi kitab yang mereka klaim disebut Allah memilih sesuka hati. Bukan aturan. Pilihan. Kata yang dipakai di sini juga muncul di 56:20 untuk menyebut buah-buahan yang dipilih penghuni taman, dan di sana memilih sesuka hati memang pemberian yang dijanjikan Allah kepada mereka. Di ayat ini kata yang sama menggambarkan sesuatu yang mustahil, yaitu kitab yang isinya boleh dipilih sesuai selera pembacanya. Satu kata dipakai untuk anugerah di satu tempat dan untuk kejanggalan di tempat lain, dan yang membedakannya letaknya, siapa yang memilih, serta apa yang boleh dipilih.
- Pertanyaannya bersambung dari ayat sebelumnya. Punya kitab. Yang isinya begitu. Ayat ini menjadi isi dari kitab yang ditanyakan keberadaannya di 68:37, sehingga dua ayat itu sebenarnya satu pertanyaan yang dipecah. Yang ditanyakan bukan sekadar adakah kitab, melainkan adakah kitab yang di dalamnya tertulis kebebasan memilih seperti itu. Menyebut isinya sesudah menyebut wadahnya membuat kejanggalannya terasa pada ayat kedua, dan pembaca sempat menunggu satu ayat sebelum mengetahuinya.
- Yang disindir Allah bukan punya kitabnya, melainkan isinya. Kitab boleh ada. Isinya yang mustahil. Yang dijanjikan di dalam kitab khayalan itu bukan kebenaran melainkan keleluasaan. Isinya tidak menyebut apa yang benar; ia cuma memberi hak memilih. Kitab semacam itu tidak mungkin menjadi timbangan, sebab ia mengikuti selera yang seharusnya ditimbangnya. Kejanggalannya bukan pada barangnya melainkan pada isi yang membatalkan gunanya sendiri, dan Allah membiarkan pembaca menemukannya tanpa menunjukkannya.
- Kalimat di ayat ini dikuatkan dua kali sekaligus, yaitu dengan huruf penegas di awalnya dan huruf penegas kedua sebelum kata terakhirnya. Yang dikuatkan justru pernyataan yang tidak pernah mereka ucapkan. Allah menyusun sendiri anggapan mereka dalam bentuknya yang paling kuat, lalu menyerahkannya untuk dibuktikan. Menolak bentuk terkuat menutup jalan bagi bantahan bahwa yang ditolak cuma bentuk lemahnya, dan penutupan itu dikerjakan sebelum bantahannya sempat diajukan.
- Surah ini bertemu surah 56 untuk ketiga kalinya. Seluruh kalimat 68:27 sama persis dengan 56:67, sebutan taman di 68:34 juga dipakai di 56:12, dan kata di ayat ini muncul lagi di 56:20. Tiga pertemuan itu tersebar di tiga pokok yang berbeda, yaitu kerugian, janji, dan pilihan. Tidak satu pun ditandai di dalam teksnya, dan semuanya cuma terbaca oleh pembaca yang membandingkan dua surah itu baris demi baris.
- Siapa yang menulis kitab itu? Memilih di antara apa? Apa akibatnya jika pilihannya keliru? Ayatnya berhenti pada gambaran keleluasaannya saja. Allah tidak merinci isinya, sebab yang hendak diperlihatkan memang kejanggalan bentuknya dan bukan daftar isinya. Rincian yang lebih panjang justru akan memindahkan perhatian ke isi, padahal yang batal di sini seluruh gagasan kitabnya, bukan satu pasal di dalamnya.