أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۙ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ
Atau, apakah kalian memperoleh sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat, bahwa kalian dapat mengambil putusan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِam lakum aymaanun 'alaynaa baalighatun ilaa yawmi l-qiyaamatiatau, apakah kalian memperoleh sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat
- إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَinna lakum la-maa tahkumuunabahwa kalian dapat mengambil putusan
Terjemahan per kata (12 kata)
- أَمْamatau
- لَكُمْlakumbagi kalian
- أَيْمَانٌaymaanunsumpah
- عَلَيْنَا'alaynaaatas Kami
- بَالِغَةٌbaalighatunyang sempurna
- إِلَىٰilaasampai
- يَوْمِyawmiHari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
- إِنَّinnasesungguhnya
- لَكُمْlakumbagi kalian
- لَمَاla-maabenar-benar yang
- تَحْكُمُونَtahkumuunakalian memutuskan
Inti bacaan
Tantangan kedua tentang legitimasi klaim: 'apakah kalian memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami. bahwa kalian dapat mengambil putusan (sekehendak kalian)?', pertanyaan yang menutup kemungkinan klaim otoritas independen tanpa dasar perjanjian yang jelas dan dapat diverifikasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(janji-janji yang diperkuat dengan)', '(yakni)', dan '(sekehendak kalian)' seluruhnya tidak dipakai.
Kata (أَيْمَانٌ, aimaan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:108 dan 68:39. Di 5:108 yang dibicarakan sumpah antarmanusia dalam urusan kesaksian, dan di sana sumpah bisa dibantah sumpah lain sesudahnya. Di 68:39 yang ditanyakan sumpah yang mengikat Allah sendiri. Kata yang di satu tempat menunjuk pengikat antarmanusia dipakai di tempat lain untuk sesuatu yang tidak mungkin dipegang manusia.
Kata (بَالِغَةٌ, baalighah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 54:5 dan 68:39. Di 54:5 kata itu menyifati hikmah yang sampai ke sasarannya. Di ayat ini ia menyifati sumpah yang berlaku sampai hari kiamat. Sifat yang sama dipakai untuk sesuatu yang benar-benar sampai dan untuk sesuatu yang cuma diandaikan sampai, dan perbedaannya bukan pada katanya melainkan pada apa yang disifatinya.
Susunan ayat ini mengulang susunan 68:37 dan 68:38 sekaligus, yaitu tuntutan agar ditunjukkan sesuatu lalu penyebutan isi yang diandaikan. Dua pasang pertanyaan berdiri berturut-turut. Yang pertama meminta kitab, dan yang kedua meminta sumpah. Yang diminta bergerak dari benda yang bisa dibaca ke ikatan yang tidak bisa dibaca, jadi tuntutannya tidak melemah melainkan berpindah ke bentuk yang lebih sulit lagi ditunjukkan.
Kata terakhirnya sama dengan kata terakhir di 68:36, yaitu kata untuk memutuskan. Rentetan pertanyaan ini dibuka dengan kata tersebut dan ditutup dengan kata yang sama. Susunan yang kembali ke titik awalnya membuat empat ayat itu terbaca sebagai satu bangunan, bukan sebagai empat pertanyaan yang kebetulan berurutan.
Kata (عَلَيْنَا, 'alainaa) menempatkan Allah sebagai pihak yang terikat. Itu bentuk anggapan yang paling jauh yang bisa disusun, sebab sesudahnya tidak ada lagi yang bisa dituntut. Ayat ini mengajukannya sendiri, tanpa menunggu pihak yang ditanya mengajukannya. Menyebut kemungkinan terjauh lebih dahulu membuat pertanyaan berikutnya tidak lagi tentang bukti, melainkan tentang siapa yang berani berdiri di belakangnya.
Terjemahan memakai 'sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat' dan memecah keterangannya menjadi dua bagian. Ayat aslinya menyusunnya menjadi satu rangkaian tanpa jeda. Pemecahan itu diperlukan supaya kalimatnya terbaca dalam bahasa Indonesia, dan yang berkurang kerapatannya, bukan isinya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan sumpah itu diberikan, tidak disebut kepada siapa, dan tidak disebut siapa yang menyaksikannya. Yang disebut cuma bahwa ia mengikat dan berlaku sampai hari kiamat. Ketiadaan keterangan itu bagian dari maksudnya, sebab sesuatu yang tidak pernah ada memang tidak punya waktu, tempat, dan saksi untuk disebutkan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian pertanyaan retoris menantang dasar klaim keistimewaan mereka.
Ayat ini mengulang bentuk tuntutan sebelumnya dengan barang bukti yang berbeda, dan kali ini yang diminta ikatan, bukan tulisan.
Kata (أَيْمَانٌ, aimaan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:108 dan 68:39. Di 5:108 yang dibicarakan sumpah antarmanusia dalam urusan kesaksian, yang bisa dibantah sumpah lain sesudahnya, sedangkan di sini yang ditanyakan sumpah yang mengikat Allah sendiri.
Kata (بَالِغَةٌ, baalighah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 54:5 dan 68:39. Di 54:5 ia menyifati hikmah yang sampai ke sasarannya, dan di sini menyifati sumpah yang berlaku sampai hari kiamat.
Susunan ayat ini mengulang susunan 68:37 dan 68:38 sekaligus, sehingga dua pasang pertanyaan berdiri berturut-turut. Kata terakhirnya sama dengan kata terakhir di 68:36, sehingga rentetan ini kembali ke titik awalnya dan terbaca sebagai satu bangunan. Rangkaian 'atas Kami' menempatkan Allah sebagai pihak yang terikat, dan itu bentuk anggapan terjauh yang bisa disusun, sebab sesudahnya tidak ada lagi yang bisa dituntut. Tidak disebut kapan sumpah itu diberikan, tidak disebut kepada siapa, dan tidak disebut siapa yang menyaksikannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menuntut surat perjanjian, bukan sekadar alasan. Adakah sumpah dari Kami. Yang diminta hitam di atas putih. Yang diminta di 68:37 kitab yang bisa dibaca, dan yang diminta di ayat ini ikatan yang tidak bisa dibaca. Tuntutannya tidak melemah melainkan berpindah ke bentuk yang lebih sulit lagi ditunjukkan. Allah menyusun dua pasang pertanyaan berturut-turut dengan bentuk yang sama, sehingga yang ditanya sempat mencari di dua arah yang berbeda dan menemukan pintu tertutup di kedua-duanya. Tuntutan yang datang berpasangan tidak menyisakan alasan bahwa arahnya belum sempat dicoba.
- Masa berlakunya disebut sampai hari Kiamat. Bukan sebentar. Klaim mereka menuntut jaminan sepanjang itu. Sifat yang dipakai di sini juga dipakai di 54:5 untuk menyifati hikmah yang sampai ke sasarannya. Di ayat ini ia menyifati sumpah yang berlaku sampai hari kiamat. Sifat yang sama melekat pada sesuatu yang benar-benar sampai di satu tempat dan pada sesuatu yang cuma diandaikan sampai di tempat lain. Yang membedakan bukan katanya, melainkan apa yang disifatinya dan siapa yang mengucapkannya.
- Pertanyaan ini menutup deretan pertanyaan sebelumnya. Allah menyusunnya bertingkat. Yang terakhir menutup celah terakhir. Rangkaian 'atas Kami' menempatkan Allah sebagai pihak yang terikat, dan itu bentuk anggapan paling jauh yang bisa disusun, sebab sesudahnya tidak ada lagi yang bisa dituntut. Allah mengajukannya sendiri tanpa menunggu pihak yang ditanya mengajukannya. Menyebut kemungkinan terjauh lebih dahulu membuat ayat berikutnya tidak lagi menanyakan buktinya, melainkan menanyakan siapa yang berani berdiri di belakangnya.
- Kata terakhir ayat ini sama dengan kata terakhir di 68:36, yaitu kata untuk memutuskan. Rentetan pertanyaan ini dibuka dengan kata tersebut dan ditutup dengan kata yang sama. Allah menyusun empat ayat menjadi satu lingkaran, bukan empat pertanyaan yang kebetulan berurutan. Susunan yang kembali ke titik awalnya menandai bahwa bagian ini sudah selesai, dan pembaca merasakannya tanpa perlu diberi tanda apa pun.
- Kata untuk sumpah di ayat ini juga dipakai di 5:108, dan di sana yang dibicarakan sumpah antarmanusia yang bisa dibantah sumpah lain sesudahnya. Di sini yang ditanyakan sumpah yang mengikat Allah sendiri. Kata yang menunjuk pengikat antarmanusia dipakai untuk sesuatu yang tidak mungkin dipegang manusia. Perbandingan itu tidak dinyatakan satu kalimat pun; ia berdiri pada pilihan katanya, dan pembaca yang memeriksa tempat lainnya menemukannya sendiri.
- Kapan sumpah itu diberikan? Diberikan kepada siapa di antara mereka? Siapa yang menyaksikannya? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma bahwa ia mengikat dan berlaku sampai hari kiamat. Ketiadaan keterangan itu bagian dari maksudnya, sebab sesuatu yang tidak pernah ada memang tidak punya waktu, tempat, dan saksi untuk disebutkan. Allah membiarkan kekosongan itu berbicara sendiri.