خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ
Pandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan. Sungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌkhaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatunpandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan
- وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَwa-qad kaanuu yud'awna ilaa s-sujuudi wa-hum saalimuunasungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat
Terjemahan per kata (11 kata)
- خَاشِعَةًkhaasyi'atantunduk
- أَبْصَارُهُمْabshaaruhumpenglihatan mereka
- تَرْهَقُهُمْtarhaquhummenutupi mereka
- ذِلَّةٌdzillatunkehinaan
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- كَانُواkaanuumereka selalu
- يُدْعَوْنَyud'awnamereka diseru
- إِلَىilaakepada
- السُّجُودِs-sujuudisujud
- وَهُمْwa-humdan mereka
- سَالِمُونَsaalimuunaorang-orang yang selamat
Inti bacaan
Kontras antara kesempatan yang diabaikan dan konsekuensi yang tak terelakkan: 'pandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan. Sungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat', pengingat tajam bahwa penolakan terhadap kewajiban ibadah saat kondisi masih mendukung berujung pada ketidakmampuan menyesal di kemudian hari.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(di dunia)' dan '(tetapi mereka enggan)' tidak dipakai.
Rangkaian (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, khaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43 dan 70:44, sama persis huruf demi huruf. Di 70:44 rangkaian itu disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Di ayat ini ia disusul keterangan bahwa dahulu mereka pernah diseru bersujud ketika masih sanggup. Gambaran yang sama diselesaikan dua surah dengan dua cara yang berbeda.
Kata kerja (تَرْهَقُهُمْ, tarhaquhum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Di 10:27 ia dipakai untuk mereka yang mengumpulkan keburukan, dan di sana wajah mereka digambarkan seakan tertutup potongan malam yang gelap. Jadi kata itu selalu melekat pada gambaran wajah dan pandangan, bukan pada gambaran tubuh secara keseluruhan.
Kata (سَالِمُونَ, saalimuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43. Ia menutup ayat ini dan sekaligus menutup perbandingannya. Kata tersebut berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka. Terjemahan memakai 'pada waktu mereka sehat' dan menahan maknanya tanpa menambahkan keterangan tentang jenis keutuhan yang dimaksud.
Ayat ini memuat dua waktu sekaligus. Paruh pertamanya melukiskan keadaan mereka pada hari itu, dan paruh keduanya menoleh ke belakang, ke masa ketika mereka masih di dunia. Susunan (وَقَدْ, wa-qad) yang menghubungkan keduanya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Jadi yang dibandingkan bukan dua kemungkinan, melainkan dua kenyataan yang keduanya sudah pasti.
Seruan yang mereka terima dahulu dan seruan yang mereka terima pada hari itu memakai susunan kata yang sama, seperti terlihat pada 68:42 dan 68:43. Yang berbeda cuma keadaan tubuh mereka ketika seruan itu datang. Dahulu sanggup tetapi tidak dikerjakan; pada hari itu dikerjakan seruan yang sama tetapi tidak sanggup. Al-Qur'an tidak menyusun satu kalimat pun untuk menyatakan perbandingan itu, dan pengulangan kata yang mengerjakannya.
Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Jadi yang dilaporkan bukan bahwa mereka pernah diseru sekali lalu melewatkannya, melainkan bahwa seruan itu datang berkali-kali sepanjang mereka masih sanggup. Bentuk tersebut memindahkan perkaranya dari satu peristiwa yang terlewat ke kebiasaan yang berlangsung lama.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa kali mereka diseru, tidak disebut siapa yang menyerukan, dan tidak disebut apa alasan mereka dahulu. Yang disebut cuma bahwa seruannya ada dan bahwa mereka waktu itu dalam keadaan utuh. Dua keterangan itu saja sudah cukup untuk membuat gambaran pada paruh pertama terbaca sebagai akibat, bukan sebagai kemalangan.
Tafsiran
Ayat ini mengontraskan keengganan bersujud semasa sehat dengan ketidakmampuan di akhirat.
Ayat ini menaruh dua waktu di dalam satu kalimat, yaitu keadaan mereka pada hari itu dan keadaan mereka dahulu.
Rangkaian (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, khaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43 dan 70:44, sama persis huruf demi huruf. Di 70:44 ia disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan, sedangkan di sini ia disusul keterangan tentang masa lalu mereka.
Kata kerja (تَرْهَقُهُمْ, tarhaquhum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Kata (سَالِمُونَ, saalimuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43, dan ia menutup ayat sekaligus menutup perbandingannya.
Susunan penghubung di tengahnya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi, sehingga yang dibandingkan dua kenyataan dan bukan dua kemungkinan. Seruan yang mereka terima dahulu dan yang mereka terima pada hari itu memakai susunan kata yang sama, dan yang berbeda cuma keadaan tubuh mereka. Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Tidak disebut berapa kali mereka diseru dan apa alasan mereka dahulu.
Kata penutupnya berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyandingkan dua waktu dalam satu ayat. Dahulu sehat dan menolak. Kini tertunduk dan tak sanggup. Paruh pertamanya melukiskan keadaan mereka pada hari itu, dan paruh keduanya menoleh ke belakang, ke masa ketika mereka masih di dunia. Susunan penghubung di tengahnya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Jadi yang dibandingkan bukan dua kemungkinan, melainkan dua kenyataan yang sama pastinya. Allah menaruh keduanya dalam satu kalimat, sehingga jarak di antaranya terbaca sekaligus, bukan berurutan. Dua kenyataan yang disandingkan tidak menyisakan ruang untuk berkata bahwa keadaannya berbeda.
- Kesempatan itu disebut ada saat mereka sehat. Bukan saat sulit. Justru saat paling mampu. Kata penutup ayat ini tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka. Dahulu sanggup tetapi tidak dikerjakan, dan pada hari itu dikerjakan seruan yang sama tetapi tidak sanggup. Allah menutup ayatnya dengan kata yang menerangkan seluruh perbandingannya, dan sesudah kata itu tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Kata terakhir yang menerangkan seluruh ayat tidak menuntut kalimat tambahan sesudahnya.
- Tunduk yang datang sekarang tidak dihitung Allah sebagai sujud. Bentuknya mirip. Waktunya sudah lewat. Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Jadi yang dilaporkan bukan satu seruan yang terlewat, melainkan seruan yang datang berkali-kali sepanjang mereka masih sanggup. Bentuk itu memindahkan perkaranya dari satu peristiwa yang luput menjadi kebiasaan yang berlangsung lama, dan kebiasaan tidak bisa dibela dengan alasan bahwa kesempatannya cuma sekali. Kesempatan yang berulang menutup alasan bahwa pintunya cuma terbuka sekali.
- Paruh pertama ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 70:44. Di sana rangkaian itu disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, sedangkan di sini ia disusul keterangan bahwa dahulu mereka pernah diseru ketika masih sanggup. Allah memakai gambaran yang sama di dua surah dan menyelesaikannya dengan dua cara. Yang satu menunjuk ke depan, dan yang satu lagi menunjuk ke belakang. Satu gambaran yang dipakai dua surah menandai bahwa yang dilukiskan bukan kejadian tunggal.
- Kata kerja yang dipakai di sini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Di 10:27 ia dipakai untuk mereka yang mengumpulkan keburukan, dan di sana wajah mereka digambarkan seakan tertutup potongan malam yang gelap. Jadi kata itu selalu melekat pada gambaran wajah dan pandangan, bukan pada tubuh secara keseluruhan. Allah memakainya di tempat yang sama pada tubuh, di tiga surah yang berbeda. Tempat yang sama pada tubuh, disebut di tiga surah, memberi pembaca satu titik yang bisa diperiksa.
- Berapa kali mereka diseru? Siapa yang menyerukan? Apa alasan mereka dahulu? Tidak satu pun dicatat. Yang disebut cuma bahwa seruannya ada dan bahwa mereka waktu itu utuh. Allah menahan alasan mereka, dan penahanan itu bekerja: dua keterangan yang tersisa sudah cukup membuat gambaran pada paruh pertama terbaca sebagai akibat, bukan sebagai kemalangan yang menimpa tanpa sebab. Alasan yang tidak dicatat tidak bisa diperdebatkan, dan yang tersisa cuma akibatnya.