فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Biarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan tuturan ini. Kelak akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِfa-dzarnii wa-man yukadzdzibu bi-haadzaa l-hadiitsibiarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan tuturan ini
- سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَsa-nastadrijuhum min haytsu laa ya'lamuunakelak akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui
Terjemahan per kata (10 kata)
- فَذَرْنِيfa-dzarniimaka biarkanlah Aku
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
- بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
- الْحَدِيثِl-hadiitsiperkataan
- سَنَسْتَدْرِجُهُمْsa-nastadrijuhumKami akan membiarkan mereka berangsur-angsur
- مِنْmindari
- حَيْثُhaytsudi mana saja
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
Inti bacaan
Pembiaran strategis sebagai bentuk konsekuensi: 'biarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan. Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui', pengakuan bahwa konsekuensi terkadang datang bertahap dan tak terduga, bukan hukuman instan, proses yang justru lebih mengerikan karena tidak disadari sedang terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Al-Qur'an)' dan '(menuju kebinasaan)' tidak dipakai. 'Al-hadiitsi' diterjemahkan 'tuturan' sesuai kaidah baku proyek yang tidak pernah mentransliterasi kata ini.
Kata (فَذَرْنِي, fa-dzarnii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:44. Rangkaian (هَٰذَا الْحَدِيثِ, haadzal-hadiits) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 4 surah, yaitu di 18:6, 53:59, 56:81, dan 68:44. Di 18:6 yang dibicarakan orang yang tidak beriman kepadanya, di 53:59 mereka ditanya mengapa merasa heran terhadapnya, dan di 56:81 mereka ditanya mengapa meremehkannya. Di keempat tempat itu sebutannya sama, yaitu 'tuturan ini', tanpa nama lain.
Rangkaian (سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ, sanastadrijuhum min haitsu laa ya'lamuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:182 dan 68:44, sama persis huruf demi huruf. Di 7:182 yang disebut sebelumnya mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan di sini yang disebut mereka yang mendustakan tuturan ini. Paruh keduanya sama, dan yang berbeda cuma cara menyebut yang didustakan.
Kesamaan itu berlanjut ke ayat berikutnya. Seluruh kalimat 68:45 sama persis dengan 7:183. Jadi dua ayat berturut-turut di surah ini mengulang dua ayat berturut-turut di surah 7, dengan pembuka yang berbeda pada ayat pertamanya. Pengulangan sepanjang dua ayat penuh jarang terjadi, dan letaknya di sini menutup rentetan tuntutan yang dimulai sejak 68:36.
Kata ganti di dua ayat ini berganti-ganti. Pembukanya memakai bentuk tunggal, yaitu 'biarkan Aku'. Lalu kalimat berikutnya memakai bentuk jamak, yaitu 'kelak Kami'. Kemudian 68:45 kembali ke bentuk tunggal dua kali. Pergantian itu ada juga di 7:182 dan 7:183, dan di sana pun bentuk jamak diikuti bentuk tunggal. Jadi susunannya bukan kekhususan surah ini.
Perintah 'biarkan Aku' ditujukan kepada satu orang, sama seperti perintah di 68:40. Dua ayat itu mengapit rentetan gambaran hari kiamat di 68:42 dan 68:43. Yang diperintahkan di 68:40 bertanya kepada mereka, dan yang diperintahkan di sini berhenti dan menyerahkan urusannya. Jadi tugas yang diberikan bergerak dari bertindak menjadi tidak bertindak.
Kata kerjanya menggambarkan pendekatan yang bertahap, setingkat demi setingkat, dari arah yang tidak mereka ketahui. Terjemahan memakai 'berangsur-angsur' dan menahan gambaran bertahapnya. Yang berkurang gambaran anak tangganya, sebab kata Arabnya memuat bayangan turun atau naik selangkah demi selangkah, dan bahasa Indonesia tidak punya satu kata yang membawa keduanya sekaligus.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut arah mana yang dimaksud, tidak disebut kapan, dan tidak disebut apa bentuknya. Yang disebut cuma bahwa arahnya tidak mereka ketahui. Keterangan yang menyebutkan ketidaktahuan sebagai satu-satunya cirinya menutup semua usaha menebak, sebab apa pun yang bisa ditebak dengan sendirinya bukan yang dimaksud.
Tafsiran
Ayat ini mengancam pendusta wahyu dengan pembiaran berangsur-angsur.
Ayat ini menutup rentetan tuntutan dengan sebuah perintah untuk berhenti, dan urusannya diambil alih sepenuhnya.
Kata (فَذَرْنِي, fa-dzarnii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:44. Rangkaian (هَٰذَا الْحَدِيثِ, haadzal-hadiits) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 4 surah, yaitu di 18:6, 53:59, 56:81, dan 68:44, dan di keempat tempat itu sebutannya sama tanpa nama lain.
Rangkaian (سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ, sanastadrijuhum min haitsu laa ya'lamuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:182 dan 68:44, sama persis huruf demi huruf. Kesamaan itu berlanjut ke ayat berikutnya, sebab seluruh kalimat 68:45 sama persis dengan 7:183, sehingga dua ayat berturut-turut di surah ini mengulang dua ayat berturut-turut di surah 7.
Perintah 'biarkan Aku' ditujukan kepada satu orang, sama seperti perintah di 68:40, dan dua ayat itu mengapit gambaran hari kiamat di 68:42 dan 68:43. Tugas yang diberikan bergerak dari bertindak menjadi tidak bertindak. Tidak disebut arah mana yang dimaksud, kapan, dan apa bentuknya.
Kata kerjanya menggambarkan pendekatan yang bertahap, setingkat demi setingkat, dan terjemahan memakai 'berangsur-angsur' untuk menahan gambaran itu. Yang menyebutkan ketidaktahuan sebagai satu-satunya ciri arahnya menutup semua usaha menebak, sebab apa pun yang bisa ditebak dengan sendirinya bukan yang dimaksud.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh menyerahkan urusan itu kepada-Nya. Biarkan Aku. Yang diminta berhenti mengurusi, bukan berhenti peduli. Perintahnya ditujukan kepada satu orang, sama seperti perintah di 68:40, dan dua ayat itu mengapit gambaran hari kiamat di 68:42 dan 68:43. Yang diperintahkan di 68:40 bertanya kepada mereka, dan yang diperintahkan di sini justru berhenti dan menyerahkan urusannya. Jadi tugas yang diberikan bergerak dari bertindak menjadi tidak bertindak, dan Allah tidak menerangkan alasan perpindahan itu satu kalimat pun. Menahan diri menuntut ketetapan hati yang berbeda dari yang dituntut oleh bertindak.
- Kata yang dipakai berangsur-angsur. Bukan seketika. Yang menakutkan justru pelannya. Kata kerjanya menggambarkan pendekatan setingkat demi setingkat. Terjemahan memakai 'berangsur-angsur' dan menahan gambaran bertahapnya. Yang berkurang bayangan anak tangganya, sebab kata Arabnya memuat gambaran melangkah selangkah demi selangkah, dan bahasa Indonesia tidak punya satu kata yang membawa keduanya sekaligus. Yang bertahap selalu lebih sulit dikenali daripada yang datang sekaligus. Yang bertahap tidak menimbulkan keheranan, dan justru di situ letak beratnya.
- Allah menyebut arah yang tidak mereka ketahui. Bukan dari arah yang dijaga. Yang tak diduga selalu jalan yang tak dijaga siapa pun. Tidak disebut arah mana yang dimaksud, tidak disebut kapan, dan tidak disebut apa bentuknya. Yang disebut cuma bahwa arahnya tidak mereka ketahui. Keterangan yang menjadikan ketidaktahuan sebagai satu-satunya ciri menutup semua usaha menebak, sebab apa pun yang berhasil ditebak dengan sendirinya bukan yang dimaksud. Allah menyusun keterangan yang tidak bisa dipakai untuk berjaga-jaga. Keterangan yang tidak bisa dipakai berjaga-jaga memindahkan seluruh perkaranya ke sikap.
- Paruh kedua ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan paruh kedua 7:182, dan seluruh kalimat 68:45 sama persis dengan 7:183. Jadi dua ayat berturut-turut di surah ini mengulang dua ayat berturut-turut di surah 7. Allah memakai bahan yang sudah ada di tempat lain dan memasangnya di sini untuk menutup rentetan tuntutan yang dimulai sejak 68:36. Yang berbeda cuma pembuka ayat pertamanya. Bahan yang dipasang utuh dari surah lain membawa serta susunan aslinya sekaligus.
- Yang didustakan disebut dengan rangkaian yang muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:6, 53:59, 56:81, dan 68:44. Di 18:6 yang dibicarakan orang yang tidak beriman kepadanya, di 53:59 mereka ditanya mengapa merasa heran, dan di 56:81 mereka ditanya mengapa meremehkannya. Allah memakai sebutan yang sama di empat surah, dan di setiap tempat yang berubah cuma sikap yang sedang dipersoalkan. Satu sebutan yang dipakai di empat surah menjadikan yang disebut mudah dikenali di mana pun.
- Apa yang diminta dari orang yang diperintah di ayat ini? Bukan menjawab, bukan membantah, dan bukan meneruskan tuntutan. Yang diminta berhenti. Allah mengambil alih urusannya sepenuhnya sesudah empat tuntutan berturut-turut tidak dijawab. Perintah untuk berhenti terasa lebih berat daripada perintah untuk bertindak, sebab yang berhenti harus menahan diri sambil menunggu sesuatu yang waktunya tidak diberitahukan. Menunggu tanpa tanggal menanggung beban yang berbeda dari menunggu dengan tanggal.