وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku kukuh.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌwa-umlii lahum inna kaydii matiinunAku memberi tenggang waktu kepada mereka; sesungguhnya rencana-Ku kukuh
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأُمْلِيwa-umliidan Aku memberi tangguh
- لَهُمْlahumkepada mereka
- إِنَّinnasesungguhnya
- كَيْدِيkaydiitipu daya-Ku
- مَتِينٌmatiinunyang kokoh
Inti bacaan
Penangguhan yang bukan pengampunan: 'Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku kukuh', peringatan bahwa penundaan konsekuensi bukan berarti pembebasan dari akuntabilitas, waktu tambahan yang diberikan tetap berada dalam kerangka rencana yang pasti dan tak tergoyahkan.
Penjelasan pilihan kata
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45, sama persis huruf demi huruf. Kata (كَيْدِي, kaidii) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45. Kata (مَتِينٌ, matiin) juga muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45. Jadi seluruh bahan ayat ini cuma ada di dua tempat, dan dua tempat itu memuatnya dalam susunan yang sama persis.
Ayat sebelumnya juga mengulang paruh kedua 7:182. Jadi bukan cuma ayat ini yang berpasangan, melainkan dua ayat berturut-turut. Pengulangan sepanjang dua ayat penuh tidak banyak terjadi di dalam Al-Qur'an, dan di sini ia dipakai untuk menutup bagian yang dimulai dengan rentetan tuntutan di 68:36.
Kata pertamanya menyatakan pemberian waktu, yaitu membiarkan berlangsung tanpa segera dihentikan. Terjemahan memakai 'memberi tenggang waktu' dan menahan maknanya. Kata Arabnya berkaitan dengan memanjangkan, sehingga yang digambarkan bukan pengabaian melainkan perpanjangan yang disengaja. Perbedaan itu penting, sebab yang diabaikan tidak diperhatikan sedangkan yang diperpanjang justru sedang diperhatikan.
Kata (كَيْدِي) memakai bentuk milik orang pertama tunggal. Sepanjang dua ayat ini bentuk tunggal dan jamak berganti-ganti, yaitu 'biarkan Aku' di 68:44, lalu 'kelak Kami', lalu 'Aku memberi' dan 'rencana-Ku' di ayat ini. Pergantian yang sama ada di 7:182 dan 7:183. Jadi susunannya bukan kekhususan surah ini, melainkan bagian dari bahan yang diulang utuh bersama seluruh kalimatnya.
Kata terakhirnya berarti kukuh dan tidak mudah putus. Terjemahan memakai 'kukuh' dan tidak memakai 'cepat' atau 'keras', sebab yang disifatkan bukan kecepatan dan bukan kekerasan melainkan ketahanan. Sifat itu tepat bersanding dengan kata sebelumnya yang menyatakan penangguhan, sebab yang menangguhkan perlu sesuatu yang tidak berubah selama masa tunggunya.
Ayat ini menutup dengan pernyataan tentang sifat, bukan tentang peristiwa. Sesudah 68:42 dan 68:43 melukiskan sebuah hari dan sesudah 68:44 menyebutkan cara yang bertahap, penutupnya justru tidak menambah gambaran apa pun. Ia menyebut satu sifat dan berhenti. Menutup rentetan panjang dengan satu sifat membuat semua yang disebut sebelumnya bersandar pada satu keterangan itu.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa lama tenggang waktunya, tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya, dan tidak disebut apakah masih ada jalan berbalik. Ayat berikutnya berpindah ke pokok lain sama sekali. Penutup yang tidak menyebutkan batas waktu membiarkan masa tunggunya terasa terbuka, dan yang terbuka begitu tidak bisa dihitung mundur oleh siapa pun.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan rencana Allah yang kukuh dan tak terelakkan.
Ayat ini menutup bagian panjang dengan menyebutkan satu sifat, bukan satu peristiwa.
Seluruh kalimat ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45, sama persis huruf demi huruf. Kata (كَيْدِي, kaidii) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45, dan kata (مَتِينٌ, matiin) juga muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:183 dan 68:45.
Ayat sebelumnya pun mengulang paruh kedua 7:182, sehingga yang berpasangan dua ayat berturut-turut, bukan satu ayat saja.
Kata pertamanya menyatakan pemberian waktu, yaitu membiarkan berlangsung tanpa segera dihentikan, dan kata Arabnya berkaitan dengan memanjangkan, sehingga yang digambarkan perpanjangan yang disengaja dan bukan pengabaian. Kata terakhirnya berarti kukuh dan tidak mudah putus, jadi yang disifatkan ketahanan dan bukan kecepatan. Sifat itu tepat bersanding dengan penangguhan, sebab yang menangguhkan perlu sesuatu yang tidak berubah selama masa tunggunya. Tidak disebut berapa lama tenggang waktunya dan apa yang terjadi sesudahnya.
Sepanjang dua ayat ini bentuk tunggal dan jamak berganti-ganti, yaitu 'biarkan Aku' di 68:44, lalu 'kelak Kami', lalu 'Aku memberi' dan 'rencana-Ku' di ayat ini, dan pergantian yang sama ada di 7:182 dan 7:183. Ayat ini menutup dengan pernyataan tentang sifat, bukan tentang peristiwa, sehingga semua yang disebut sebelumnya bersandar pada satu keterangan itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tenggang itu bagian dari rencana. Bukan kelalaian. Bagian dari susunan. Seluruh kalimat ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 7:183, dan ayat sebelumnya pun mengulang paruh kedua 7:182. Jadi yang berpasangan dua ayat berturut-turut, bukan satu ayat saja. Allah memakai bahan yang sudah ada di surah lain dan memasangnya utuh di sini, termasuk pergantian bentuk tunggal dan jamak di dalamnya, untuk menutup bagian yang dimulai dengan rentetan tuntutan di 68:36. Bahan yang berpindah utuh tidak kehilangan satu pun tanda bacanya.
- Kata kukuh dipakai untuk rencananya. Bukan cepat. Tidak goyah. Kata terakhirnya berarti kukuh dan tidak mudah putus. Terjemahan memakai 'kukuh' dan tidak memakai 'cepat' atau 'keras', sebab yang disifatkan bukan kecepatan dan bukan kekerasan melainkan ketahanan. Sifat itu tepat bersanding dengan kata sebelumnya yang menyatakan penangguhan, sebab yang menangguhkan justru perlu sesuatu yang tidak berubah selama masa tunggunya berlangsung. Ketahanan diperlukan justru oleh yang menunda, bukan oleh yang bertindak segera.
- Yang diberi waktu justru mengira menang. Allah menyebut sebaliknya. Yang ditunda bukan yang dibatalkan. Kata pertamanya menyatakan pemberian waktu, yaitu membiarkan berlangsung tanpa segera dihentikan. Kata Arabnya berkaitan dengan memanjangkan, sehingga yang digambarkan bukan pengabaian melainkan perpanjangan yang disengaja. Perbedaan itu menentukan, sebab yang diabaikan tidak diperhatikan sedangkan yang diperpanjang justru sedang diperhatikan, dan Allah menaruh sifat kukuh persis sesudahnya. Perpanjangan yang disengaja selalu punya batas, walaupun batasnya tidak disebutkan.
- Kalimat ayat ini, kata untuk rencana di dalamnya, dan kata sifat penutupnya sama-sama muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua tempat itu sama, yaitu 7:183 dan 68:45. Jadi seluruh bahan ayat ini cuma ada di dua tempat dan selalu bersama-sama. Allah tidak pernah memakai kata-kata itu terpisah satu sama lain, sehingga keduanya terbaca sebagai satu satuan yang tidak dipecah. Kata yang tidak pernah berpisah dari pasangannya terbaca sebagai satu satuan yang utuh.
- Sesudah 68:42 dan 68:43 melukiskan sebuah hari, dan sesudah 68:44 menyebutkan cara yang bertahap, penutup ini justru tidak menambah gambaran apa pun. Allah menyebut satu sifat dan berhenti. Menutup rentetan panjang dengan satu sifat membuat semua yang disebut sebelumnya bersandar pada satu keterangan itu, dan yang bersandar pada sifat tidak bergantung pada tepat tidaknya bayangan pembaca tentang peristiwanya. Sifat tidak bergantung pada tepat tidaknya bayangan pembaca tentang peristiwanya.
- Berapa lama tenggang waktunya? Apa yang terjadi sesudahnya? Masihkah ada jalan berbalik? Ayat berikutnya berpindah ke pokok lain sama sekali tanpa menjawab. Allah membiarkan masa tunggunya terbuka. Yang terbuka begitu tidak bisa dihitung mundur oleh siapa pun, dan orang yang tidak bisa menghitung mundur tidak bisa pula menunda perubahannya sampai menjelang batas. Waktu yang tidak bisa dihitung mundur tidak bisa dipakai untuk menunda sampai menjelang batas.