فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

Oleh karena itu, bersabarlah terhadap putusan Tuhanmu, dan janganlah seperti orang yang bersama ikan, ketika dia berdoa dengan hati sedih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِfa-shbir li-hukmi rabbika wa-laa takun ka-shaahibi l-huutioleh karena itu, bersabarlah terhadap putusan Tuhanmu, dan janganlah seperti orang yang bersama ikan
  2. إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌidz naadaa wa-huwa makzhuumunketika dia berdoa dengan hati sedih

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. فَاصْبِرْfa-shbirmaka bersabarlah
  2. لِحُكْمِli-hukmipada ketetapan
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. وَلَاwa-laadan janganlah
  5. تَكُنْtakunadalah
  6. كَصَاحِبِka-shaahibiseperti orang
  7. الْحُوتِl-huutiikan
  8. إِذْidzketika
  9. نَادَىٰnaadaamenyeru
  10. وَهُوَwa-huwasedang ia
  11. مَكْظُومٌmakzhuumunyang menahan kesedihan

Inti bacaan

Nasihat kesabaran dengan contoh peringatan: 'bersabarlah terhadap putusan Tuhanmu dan janganlah seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih', penggunaan kisah Yunus sebagai contoh apa yang perlu dihindari (ketergesaan meninggalkan tugas), pengingat bahwa kesabaran dalam menjalankan misi lebih baik daripada melarikan diri dari tanggung jawab.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung berupa nama utusan, kata '(perut)', dan nama tokoh yang dijadikan contoh tidak dipakai: ayat ini cuma memuat gambaran 'orang yang bersama ikan', bukan namanya.

Rangkaian (فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ, fashbir li-hukmi rabbika) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48 dan 76:24, sama persis huruf demi huruf. Kata (فَاصْبِرْ, fashbir) sendiri muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 20:130, 40:55, dan 46:35. Jadi perintahnya sering, tetapi rangkaian lengkap dengan sandaran putusan Tuhan cuma di dua tempat.

Rangkaian (صَاحِبِ الْحُوتِ, shaahibil-huut) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48. Orang yang dimaksud disebut dengan gambaran, bukan dengan namanya. Al-Qur'an memuat namanya di tempat lain, yaitu di 4:163, 6:86, 10:98, dan 37:139, jadi penyebutan lewat gambaran di sini bukan karena namanya tidak dikenal. Yang ditonjolkan keadaannya, bukan jati dirinya.

Kata (مَكْظُومٌ, makzhuum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48. Dari akar yang sama lahir bentuk (كَظِيمٌ, kazhiim), yang muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 12:84, 16:58, dan 43:17. Di tiga tempat itu yang digambarkan orang yang menahan sesak di dalam dadanya. Bentuk yang dipakai di ayat ini menyatakan yang dikenai, sehingga yang digambarkan orang yang tertahan, bukan yang menahan.

Larangannya bukan larangan berdoa. Yang dilarang menjadi seperti orang itu pada saat yang disebutkan, yaitu ketika ia menyeru dalam keadaan tersekat. Yang ditunjuk waktunya, bukan perbuatannya. Terjemahan menahan pembatasan waktu itu dengan 'ketika dia berdoa', dan menghilangkannya akan mengubah ayat ini menjadi larangan yang tidak pernah dimaksudkan.

Perintah dan larangan berdiri berdampingan di dalam satu ayat. Yang diperintahkan bertahan menghadapi putusan, dan yang dilarang mendahului putusan itu dengan berpaling. Dua bagian tersebut saling menerangkan. Contoh yang dipakai bukan orang yang menolak, melainkan orang yang berkedudukan mulia, dan justru itu yang membuat peringatannya terasa dekat.

Ayat ini datang tepat sesudah dua pertanyaan yang menutup semua sandaran lawan. Sesudah pihak lain tidak punya apa-apa, yang tersisa cuma soal waktu. Maka yang diperintahkan bukan menjawab lagi dan bukan menuntut lagi, melainkan bertahan. Perpindahan dari memeriksa lawan menjadi menata diri sendiri terjadi tanpa satu kalimat penghubung pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa isi seruannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut bagaimana akhirnya. Dua ayat berikutnya baru melengkapinya sebagian. Menahan isi seruannya membuat yang ditonjolkan tetap keadaan hatinya, bukan kata-katanya, dan keadaan hati itulah yang sedang dijadikan peringatan.

Tafsiran

Ayat ini menyerukan keteladanan kesabaran, berkontras dengan kegelisahan yang pernah dialami 'orang yang bersama ikan'.

Ayat ini berpindah dari memeriksa pihak lain menjadi menata sikap sendiri, dan peringatannya memakai contoh yang tidak diduga.

Rangkaian (فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ, fashbir li-hukmi rabbika) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48 dan 76:24, sama persis huruf demi huruf. Kata (فَاصْبِرْ, fashbir) sendiri muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 20:130, 40:55, dan 46:35.

Rangkaian (صَاحِبِ الْحُوتِ, shaahibil-huut) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48, dan orang yang dimaksud disebut dengan gambaran, bukan dengan namanya, padahal namanya ada di 4:163, 6:86, 10:98, dan 37:139.

Kata (مَكْظُومٌ, makzhuum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48, dan dari akar yang sama lahir bentuk (كَظِيمٌ, kazhiim) yang muncul 3 kali, yaitu di 12:84, 16:58, dan 43:17. Larangannya bukan larangan berdoa, melainkan larangan menjadi seperti orang itu pada saat yang disebutkan. Tidak disebut apa isi seruannya dan bagaimana akhirnya.

Perintah dan larangan berdiri berdampingan di dalam satu ayat: yang diperintahkan bertahan menghadapi putusan, dan yang dilarang mendahului putusan itu dengan berpaling. Ayat ini datang tepat sesudah dua pertanyaan yang menutup semua sandaran lawan, sehingga yang tersisa cuma soal waktu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memerintahkan bersabar terhadap putusan Tuhanmu. Bukan terhadap orang. Yang disabari keputusannya, dan itu memindahkan perkaranya dari manusia. Rangkaian perintahnya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:48 dan 76:24, sedangkan kata perintahnya sendiri muncul sebelas kali. Jadi bertahan sering diperintahkan, tetapi bertahan yang disandarkan pada putusan Allah cuma di dua tempat. Yang disandarkan begitu memindahkan ukurannya: bukan sampai lawan berhenti, melainkan sampai putusan itu datang. Ukuran yang disandarkan pada putusan tidak berubah oleh sikap pihak lain.
  • Dia menambahkan jangan seperti orang yang bersama ikan. Satu contoh disebut. Peringatan diberikan lewat nama yang sudah dikenal, bukan lewat aturan. Contoh yang dipakai bukan orang yang menolak, melainkan orang yang berkedudukan mulia, dan justru itu yang membuat peringatannya terasa dekat. Allah menyebutnya dengan gambaran, bukan dengan namanya, padahal namanya ada di 4:163, 6:86, 10:98, dan 37:139. Yang ditonjolkan keadaannya pada satu saat, bukan jati dirinya sepanjang hidup. Contoh dari dekat menutup jalan bagi pembaca yang hendak merasa aman.
  • Keadaan yang disebut: ia berdoa dengan hati sedih. Bukan durhaka. Yang dijadikan peringatan bukan kesalahan besar, melainkan sikap yang lahir dari kesempitan. Yang dilarang bukan berdoa, melainkan menjadi seperti orang itu pada saat yang disebutkan, yaitu ketika ia menyeru dalam keadaan tersekat. Yang ditunjuk waktunya, bukan perbuatannya. Terjemahan menahan pembatasan waktu itu dengan 'ketika dia berdoa', dan menghilangkannya akan mengubah ayat ini menjadi larangan yang tidak pernah dimaksudkan sama sekali. Yang dibatasi waktunya tidak boleh dibaca sebagai larangan yang berlaku selamanya.
  • Kata penutup ayat ini tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Dari akar yang sama lahir bentuk lain yang muncul tiga kali, yaitu di 12:84, 16:58, dan 43:17, dan di tiga tempat itu yang digambarkan orang yang menahan sesak di dalam dadanya. Bentuk di ayat ini menyatakan yang dikenai, jadi yang digambarkan orang yang tertahan, bukan yang menahan. Allah membedakan keduanya lewat bentuk kata, bukan lewat keterangan. Bentuk kata membedakan yang menahan dari yang tertahan tanpa perlu keterangan.
  • Yang diperintahkan bertahan menghadapi putusan Allah, dan yang dilarang mendahului putusan itu dengan berpaling. Dua bagian tersebut berdiri berdampingan di dalam satu ayat dan saling menerangkan. Bertahan tanpa larangan itu masih bisa dibaca sebagai menunggu tanpa arah, dan larangan tanpa perintah itu masih bisa dibaca sebagai teguran saja. Bersama-sama keduanya menjadi satu sikap yang utuh. Perintah dan larangan yang sebaris membentuk satu sikap, bukan dua nasihat.
  • Mengapa contoh yang dipakai bukan orang yang menolak seruan, melainkan seseorang yang berkedudukan mulia? Peringatan yang memakai contoh dari jauh mudah dilewati, sebab pembaca merasa tidak berada di sana. Allah memakai contoh dari dekat. Yang ditunjuk bukan wataknya melainkan satu saat di dalam hidupnya, dan satu saat bisa menghampiri siapa pun yang sedang lama menunggu. Satu saat bisa menghampiri siapa pun yang sedang lama menunggu.