لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ

Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌlawlaa an tadaarakahu ni'matun min rabbihi la-nubidza bi-l-araa'i wa-huwa madzmuumunsekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. لَوْلَاlawlaamengapa tidak
  2. أَنْanbahwa
  3. تَدَارَكَهُtadaarakahumenyusulnya
  4. نِعْمَةٌni'matunnikmat
  5. مِنْmindari
  6. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  7. لَنُبِذَla-nubidzasungguh ia akan dilemparkan
  8. بِالْعَرَاءِbi-l-araa'idi tanah tandus
  9. وَهُوَwa-huwasedang ia
  10. مَذْمُومٌmadzmuumuntercela

Inti bacaan

Konsekuensi yang nyaris terjadi tanpa pertolongan: 'sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela', pengakuan bahwa bahkan seorang nabi bisa menghadapi konsekuensi berat atas kelalaian, namun pertolongan datang tepat waktu, dasar bagi harapan bahwa kesalahan yang disertai kesadaran tetap terbuka jalan pemulihan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (تَدَارَكَهُ, tadaarakahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:49. Kata (مَذْمُومٌ, madzmuum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:49. Dua kata sekali pakai berkumpul di satu ayat yang cuma sembilan kata, dan keduanya menanggung bagian terpentingnya, yaitu bagaimana pertolongan itu datang dan bagaimana keadaan yang tercegah.

Rangkaian (بِالْعَرَاءِ, bil-'araai) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:145 dan 68:49. Rangkaian (بِالْعَرَاءِ وَهُوَ, bil-'araa'i wa-huwa) juga muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:145 dan 68:49. Jadi dua surah memakai susunan yang sama sampai kata terakhirnya, dan yang berbeda cuma kata yang menutup gambaran itu.

Perbedaan kata terakhir itulah isi ayat ini. Di 37:145 yang terjadi ia memang dilemparkan ke tempat lapang sedang ia sakit. Di 68:49 yang dinyatakan seandainya nikmat tidak datang, ia akan dilemparkan ke tempat lapang sedang ia dicela. Jadi yang benar-benar berlangsung dilaporkan surah 37, dan yang tercegah dilaporkan surah ini. Dua surah melengkapi satu peristiwa dari dua sisi yang tidak bertumpang tindih.

Kata kerja pertamanya menggambarkan sesuatu yang menyusul dan menemukan tepat pada waktunya, bukan sekadar datang. Bentuknya menyatakan susul-menyusul, sehingga yang dilukiskan pertolongan yang mengejar dan menangkap sebelum jatuhnya selesai. Terjemahan memakai 'segera mendapat' dan menahan gambaran ketepatan waktunya. Memakai 'diberi' saja akan menghilangkan bagian yang justru dikerjakan bentuk kata itu.

Susunan pengandaian yang dipakai di sini juga dipakai surah 37 tentang orang yang sama, yaitu di 37:143 dan 37:144. Di sana yang diandaikan seandainya ia bukan termasuk yang bertasbih, ia akan tinggal di dalam perut sampai hari kebangkitan. Jadi dua surah sama-sama memakai bentuk pengandaian, dan dua-duanya menyebut sesuatu yang menahannya. Yang satu menyebut kebiasaannya, dan yang satu lagi menyebut pemberian dari luar.

Yang menahannya di ayat ini bukan kedudukannya. Yang disebut nikmat yang datang dari Tuhannya, jadi pangkalnya di luar dirinya. Susunan tersebut menutup bacaan bahwa mulianya seseorang dengan sendirinya melindunginya. Ayat berikutnya meneruskan arah yang sama, sebab di sana pun yang berbuat bukan dia.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut nikmat apa yang dimaksud, tidak disebut kapan datangnya, dan tidak disebut siapa yang mencelanya. Yang disebut cuma bahwa nikmat itu menyusul tepat waktu. Menahan rinciannya membuat pembaca berhenti pada ketepatan waktunya, dan ketepatan waktu itulah yang membedakan dua kemungkinan di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan penyelamatan lewat nikmat Allah yang datang tepat waktu.

Ayat ini menyebutkan apa yang tercegah, bukan apa yang terjadi, dan penyebutan itu melengkapi laporan di surah lain.

Kata (تَدَارَكَهُ, tadaarakahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:49, dan kata (مَذْمُومٌ, madzmuum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:49.

Rangkaian (بِالْعَرَاءِ وَهُوَ, bil-'araa'i wa-huwa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:145 dan 68:49, sehingga dua surah memakai susunan yang sama sampai kata terakhirnya. Di 37:145 yang dilaporkan ia memang dilemparkan ke tempat lapang sedang ia sakit, sedangkan di sini yang dinyatakan apa yang akan terjadi seandainya nikmat tidak datang.

Kata kerja pertamanya menggambarkan sesuatu yang menyusul dan menemukan tepat pada waktunya, dan terjemahan menahan gambaran ketepatan waktunya dengan 'segera mendapat'. Yang menahannya bukan kedudukannya melainkan nikmat yang pangkalnya di luar dirinya. Tidak disebut nikmat apa yang dimaksud dan kapan datangnya.

Susunan pengandaian yang dipakai di sini juga dipakai surah 37 tentang orang yang sama, yaitu di 37:143 dan 37:144, dan dua-duanya menyebut sesuatu yang menahannya. Yang satu menyebut kebiasaannya sendiri, dan yang satu lagi pemberian dari luar dirinya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang disebut nyaris terjadi, bukan yang terjadi. Hampir dicampakkan. Allah menyebut nikmatnya datang lebih dahulu. Rangkaian di paruh keduanya sama dengan rangkaian di 37:145 sampai kata terakhirnya, dan yang berbeda cuma kata penutup gambarannya. Di 37:145 yang dilaporkan sesuatu yang memang berlangsung, sedangkan di sini yang dinyatakan sesuatu yang tercegah. Dua surah melengkapi satu peristiwa dari dua sisi yang tidak bertumpang tindih, dan tidak satu pun menyebut adanya sisi yang lain. Yang berlangsung dan yang tercegah sama-sama bagian dari satu peristiwa.
  • Kata segera melekat pada nikmat itu. Bukan sekadar datang. Datang tepat waktu. Kata kerja pertamanya menggambarkan sesuatu yang menyusul dan menemukan tepat pada waktunya, bukan sekadar tiba. Bentuknya menyatakan susul-menyusul, sehingga yang dilukiskan pertolongan yang mengejar dan menangkap sebelum jatuhnya selesai. Terjemahan memakai 'segera mendapat' untuk menahan gambaran itu, sebab memakai kata 'diberi' saja akan menghilangkan bagian yang justru dikerjakan bentuk katanya. Pertolongan yang mengejar berbeda dari pertolongan yang sekadar tiba.
  • Nabi pun disebut Allah bisa sampai ke tepi itu. Bukan kebal. Yang menahannya pertolongan, bukan kedudukan. Yang menahannya di ayat ini bukan kemuliaannya. Yang disebut nikmat dari Tuhannya, jadi pangkalnya di luar dirinya sendiri. Susunan itu menutup bacaan bahwa mulianya seseorang dengan sendirinya melindunginya dari apa pun. Ayat berikutnya meneruskan arah yang sama, sebab di sana pun yang berbuat bukan dia melainkan Allah yang memilihnya. Yang pangkalnya di luar diri tidak bisa diklaim sebagai hasil usaha sendiri.
  • Ayat sembilan kata ini memuat dua kata yang tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, yaitu kata kerja pembukanya dan kata sifat penutupnya. Allah memakai tiga kata sekali pakai untuk melukiskan sesuatu yang tidak jadi terjadi. Peristiwa yang tercegah tidak punya jejak di dunia, dan kata-kata yang tidak berulang di mana pun menyerupai kedudukannya. Kata yang tidak berulang di mana pun menyerupai peristiwa yang tidak jadi berlangsung.
  • Bentuk pengandaian yang dipakai di sini juga dipakai surah 37 tentang orang yang sama, yaitu di 37:143 dan 37:144. Di sana yang diandaikan seandainya ia bukan termasuk yang bertasbih, ia akan tinggal di dalam perut sampai hari kebangkitan. Dua surah sama-sama menyebut sesuatu yang menahannya: yang satu kebiasaannya sendiri, dan yang satu lagi pemberian dari luar dirinya. Dua surah memakai bentuk yang sama untuk orang yang sama tanpa saling menunjuk.
  • Nikmat apa yang dimaksud? Kapan datangnya? Siapa yang mencelanya? Tidak satu pun dirinci. Yang disebut cuma bahwa nikmat itu menyusul tepat pada waktunya. Allah menahan rinciannya dan menyisakan ketepatan waktunya saja. Pembaca yang berhenti di situ menemukan bahwa yang memisahkan dua kemungkinan di ayat ini bukan besar kecilnya pemberian, melainkan saat ia sampai. Yang memisahkan dua kemungkinan di sini bukan besarnya pemberian, melainkan saatnya.