مَا الْحَاقَّةُ
Apakah Kepastian itu?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَا الْحَاقَّةُmaa l-haaqqatuapakah Kepastian itu
Terjemahan per kata (2 kata)
- مَاmaaapakah
- الْحَاقَّةُl-haaqqatuhari yang pasti
Inti bacaan
Pertanyaan retoris yang membangun rasa penasaran: 'apakah al-Haqqah itu?', teknik pembukaan yang mengundang perenungan mendalam sebelum jawaban diberikan, cara membangkitkan perhatian serius terhadap topik yang akan dibahas.
Penjelasan pilihan kata
'Al-haaqqatu' konsisten diterjemahkan 'Kepastian itu' sesuai kaidah di 69:1.
Ayat ini dua patah kata, dan salah satunya mengulang kata pembuka di 69:1. Susunan (مَا الْحَاقَّةُ, maa al-haaqqatu) memakai kata tanya diikuti pokok yang sudah disebut. Jadi bunyinya 'apakah Kepastian itu'. Pertanyaan tersebut bukan permintaan keterangan melainkan cara membesarkan perkara yang ditanyakan, susunan yang lazim dalam bahasa Arab untuk sesuatu yang dianggap melampaui gambaran biasa.
Terjemahan mempertahankan 'Kepastian itu' sesuai kaidah yang sudah dipakai di 69:1. Konsistensi tersebut penting: kalau satu kata yang diulang tiga kali diterjemahkan berbeda-beda, pembaca akan kehilangan jejak bahwa ketiganya kata yang sama. Pengulangan itu justru yang menjadi bentuk tiga ayat pembuka.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kedudukan kata tanyanya perlu dicermati. Ia berdiri sebagai pokok, dan kata yang diulang berdiri sebagai keterangannya. Jadi susunan harfiahnya kira-kira 'apa itu, Kepastian itu'. Susunan seperti ini menempatkan pertanyaan sebagai keterangan bagi pokok di 69:1, bukan sebagai kalimat baru. Karena itu tiga ayat pembuka membentuk satu bangunan: pokok disebut, lalu ditanyakan, lalu ditanyakan lagi dengan cara yang berbeda.
Yang perlu dicatat, pertanyaan ini tidak dijawab di ayat berikutnya. Ayat 69:3 justru mengulang pertanyaan yang sama dengan tambahan. Jawabannya baru mulai muncul di 69:4, dan itu pun bukan berupa penjelasan melainkan berupa kisah dua kaum yang mendustakannya. Jadi surah ini menjawab pertanyaan tentang apa dengan menceritakan siapa yang menolaknya.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Perlu dicatat pula bahwa kata untuk kepastian di ayat ini kembali memakai penanda tertentu, sama seperti di 69:1 dan 69:3. Tiga kali berturut-turut, dan ketiganya dengan penanda yang sama. Ketetapan bentuk itu memperkuat kesan bahwa yang diulang memang satu hal yang sama, bukan tiga sebutan yang mirip.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata yang diulang di ayat ini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, seluruhnya di surah ini. Jadi pengulangannya bukan pemakaian istilah yang lazim, melainkan pemakaian satu kata yang tidak dikenal dari tempat lain. Bandingkan dengan sebutan lain untuk hari yang sama, yang dipakai di 69:15 dan juga di 56:1; sebutan itu punya sebaran sendiri di luar surah ini, sedangkan sebutan di ayat ini tidak.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak memakai huruf penyambung apa pun. Ia menempel langsung pada 69:1 tanpa penghubung, susunan yang dalam bahasa Arab dipakai ketika kalimat kedua menerangkan yang pertama. Ayat 69:3 justru memakai penyambung. Jadi tiga ayat pembuka tidak seragam bentuknya: yang kedua menerangkan, yang ketiga menambahkan.
Bentuk (الْحَاقَّةُ, al-haaqqah) diulang di sini persis seperti di ayat sebelumnya, tanpa diganti kata ganti. Bahasa Arab punya kata ganti yang bisa dipakai untuk menghindari pengulangan, dan di sini kata ganti itu tidak dipakai. Pengulangan penuh seperti itu menahan nama tersebut tetap terdengar utuh, dan menggantinya dengan kata ganti akan melemahkan bunyinya sekaligus mengurangi tekanannya.
Tafsiran
Ayat ini menghadirkan pertanyaan retoris pertama yang memperbesar rasa ingin tahu pembaca. Ayat ini mengulang kata pembuka lalu menambahkan satu kata tanya. Pertanyaannya bukan permintaan keterangan melainkan cara membesarkan perkara yang ditanyakan. Susunan seperti itu lazim dalam bahasa Arab untuk sesuatu yang dianggap melampaui gambaran biasa, dan bentuknya sendiri sudah menyampaikan bahwa jawabannya tidak akan sederhana.
Yang paling perlu dicatat, pertanyaan ini tidak dijawab di ayat berikutnya. Ayat 69:3 justru mengulang pertanyaan yang sama dengan tambahan. Jawabannya baru mulai muncul di 69:4, dan itu pun bukan berupa penjelasan melainkan berupa kisah dua kaum yang mendustakannya. Jadi surah ini menjawab pertanyaan tentang apa dengan menceritakan siapa yang menolaknya, dan cara menjawab seperti itu memindahkan perhatian dari gagasan ke akibat.
Kedudukan tata bahasanya menempatkan pertanyaan ini sebagai keterangan bagi pokok di 69:1, bukan sebagai kalimat baru. Karena itu tiga ayat pembuka membentuk satu bangunan yang naik bertingkat: pokok disebut, lalu ditanyakan, lalu ditanyakan lagi dengan cara yang lebih menekan. Dan ketiganya memakai penanda tertentu yang sama, sehingga tidak ada celah untuk mengira yang diulang adalah tiga sebutan yang berbeda.
Perlu dicatat pula bahwa kata yang diulang itu muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya berada di surah ini. Jadi pengulangan yang terasa menekan di tiga ayat pembuka bukan pengulangan sebuah istilah yang lazim, melainkan pengulangan satu kata yang tidak dipakai di tempat lain mana pun. Bandingkan dengan sebutan lain untuk hari yang sama, misalnya yang dipakai di 56:1 atau 101:1, yang masing-masing punya sebaran sendiri di beberapa surah.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan di ayat ini bukan permintaan keterangan melainkan cara membesarkan perkara yang ditanyakan. Susunan seperti itu lazim dalam bahasa Arab untuk sesuatu yang dianggap melampaui gambaran biasa. Bentuknya sendiri sudah menyampaikan bahwa jawabannya tidak akan sederhana. Allah memakai pertanyaan sebagai alat menakar, bukan sebagai cara memperoleh keterangan yang Dia sendiri sudah miliki. Allah menakar besarnya perkara lewat bentuk pertanyaan, bukan lewat ukuran yang disebutkan. Ukuran yang tidak disebutkan justru membuat perkaranya terasa tak terukur.
- Pertanyaan ini tidak dijawab di ayat berikutnya. Ayat 69:3 justru mengulangnya dengan tambahan, dan jawabannya baru mulai muncul di 69:4 berupa kisah dua kaum yang mendustakannya. Jadi surah ini menjawab pertanyaan tentang apa dengan menceritakan siapa yang menolaknya. Cara menjawab seperti itu memindahkan perhatian dari gagasan ke akibat yang bisa dilihat. Kisah yang menggantikan penjelasan membuat pembaca melihat akibat sebelum memahami sebabnya. Melihat akibat lebih dulu mengubah cara seseorang menerima sebabnya.
- Terjemahan mempertahankan sebutan yang sama sesuai kaidah yang sudah dipakai di 69:1. Konsistensi itu penting: kalau satu kata yang diulang tiga kali diterjemahkan berbeda-beda, pembaca akan kehilangan jejak bahwa ketiganya kata yang sama. Pengulangan tersebut justru yang menjadi bentuk tiga ayat pembuka, dan menghapusnya berarti membongkar bentuknya. Terjemahan yang berubah-ubah untuk satu kata Allah membongkar bentuk yang sengaja dibangun. Kesetiaan pada satu terjemahan menjaga bentuk yang dibangun lewat pengulangan.
- Kata tanya di ayat ini berdiri sebagai pokok, dan kata yang diulang berdiri sebagai keterangannya. Susunan harfiahnya kira-kira apa itu, Kepastian itu. Susunan tersebut menempatkan pertanyaan sebagai keterangan bagi pokok di 69:1, bukan sebagai kalimat baru. Tiga ayat pembuka karena itu membentuk satu bangunan, bukan tiga pernyataan yang kebetulan berdampingan. Tiga ayat itu satu bangunan, dan mengutip salah satunya sendirian merusak susunannya. Bangunan tiga ayat runtuh maknanya kalau salah satu bagiannya diambil sendiri.
- Kata untuk kepastian di ayat ini kembali memakai penanda tertentu, sama seperti di 69:1 dan 69:3. Tiga kali berturut-turut, dan ketiganya dengan penanda yang sama. Ketetapan bentuk itu memperkuat kesan bahwa yang diulang memang satu hal yang sama. Tidak ada celah untuk mengira Allah sedang menyebut tiga perkara yang mirip bunyinya. Ketetapan bentuk dari Allah menutup celah bagi pembacaan yang memecah satu hal jadi tiga.
- Tiga ayat pembuka membentuk satu bangunan yang naik bertingkat: pokok disebut, lalu ditanyakan, lalu ditanyakan lagi dengan cara yang lebih menekan. Setiap tingkat menambah tekanan tanpa menambah keterangan. Sanggupkah kita bertahan membaca sesuatu yang tiga kali disebut penting sebelum sekali pun dijelaskan isinya? Menunggu tanpa menuntut penjelasan adalah bagian dari cara membaca kitab Allah. Menunggu penjelasan tanpa menuntutnya adalah latihan yang jarang kita jalani.