وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ

Dan tahukah engkau apakah Kepastian itu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُwa-maa adraaka maa l-haaqqatudan tahukah engkau apakah Kepastian itu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
  3. مَاmaaapakah
  4. الْحَاقَّةُl-haaqqatuhari yang pasti

Inti bacaan

Penguatan misteri untuk menegaskan keagungan: 'tahukah engkau apakah al-Haqqah itu?', pengulangan pertanyaan yang justru menegaskan bahwa peristiwa ini melampaui pemahaman biasa, sesuatu yang memerlukan penjelasan lebih lanjut karena signifikansinya yang luar biasa.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini empat patah dan mengulang seluruh isi 69:2 dengan tambahan di depannya. Susunan (وَمَا أَدْرَاكَ, wamaa adraaka) memakai kata tanya diikuti kata kerja yang berarti membuat seseorang tahu. Jadi bunyinya 'dan apa yang membuatmu tahu'. Terjemahan 'dan tahukah engkau' menahan pertanyaannya, dan sisi 'membuat tahu' sedikit larut.

Susunan tersebut dipakai berulang di Al-Qur'an, dan hampir selalu untuk perkara yang melampaui jangkauan pengetahuan biasa. Kehadirannya di sini menempatkan pokok yang ditanyakan di luar batas yang bisa dicapai seseorang tanpa diberi tahu. Jadi pertanyaannya bukan menantang pembaca berpikir, melainkan menyatakan bahwa berpikir saja tidak cukup.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Akhiran pada kata kerjanya menunjuk pihak kedua tunggal, yaitu sang penerima wahyu. Ini penyebutan sapaan tunggal pertama di surah ini. Yang menarik, bahkan kepadanya pun pertanyaan ini diajukan. Jadi yang dinyatakan di luar jangkauan bukan hanya pengetahuan orang kebanyakan, melainkan juga pengetahuan orang yang menerima wahyu itu sendiri, sebelum ia diberi tahu.

Perlu dicatat bahwa ayat ini tetap tidak menjawab. Ia mengulang pertanyaan 69:2 dengan lapisan tambahan, sehingga tekanannya naik tanpa keterangannya bertambah. Tiga ayat pembuka karena itu tidak menyampaikan satu pun keterangan tentang isi perkaranya; seluruhnya hanya menyebut dan mempertanyakan.

Masih tersisa satu perkara. Sebutan untuk kepastian muncul ketiga dan terakhir kalinya di sini. Sesudah ayat ini ia tidak dipakai lagi, baik di surah ini maupun di ayat mana pun di seluruh Al-Qur'an. Jadi sebutan yang mengisi tiga ayat pembuka berhenti sama sekali begitu kisah dimulai di 69:4, dan yang menggantikannya di sana adalah sebutan lain yang juga hanya muncul sekali.

Susunan (وَمَا أَدْرَاكَ, wamaa adraaka) muncul di 12 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan sesudah ayat ini ia tidak muncul lagi sepanjang surah. Bandingkan dengan sebutan pokoknya yang dipakai tiga kali berturut-turut. Jadi yang diulang adalah pokoknya, bukan cara bertanyanya, dan ketidakseimbangan itu menjaga agar tekanan jatuh pada perkaranya, bukan pada bentuk pertanyaannya.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini dibuka huruf penyambung, sedangkan 69:2 tidak. Perbedaan bentuk itu menandai bahwa ayat ini menambahkan lapisan baru, bukan menerangkan ulang. Terjemahan mempertahankan kata 'dan' di depannya, sebab menghilangkannya akan menyamakan dua ayat yang bentuknya memang sengaja dibedakan.

Panjang tiga ayat pembuka naik bertahap: satu patah, dua patah, lalu empat patah. Kenaikan itu sejalan dengan kenaikan tekanan pertanyaannya. Susunan seperti itu membuat pembukaan terasa seperti tangga yang menanjak, dan puncaknya justru bukan jawaban melainkan pertanyaan yang paling menekan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan besarnya perkara ini, di luar jangkauan akal manusia biasa. Ayat ini mengulang seluruh isi ayat sebelumnya dengan tambahan di depannya, dan tetap tidak menjawab. Tekanannya naik tanpa keterangannya bertambah. Tiga ayat pembuka karena itu tidak menyampaikan satu pun keterangan tentang isi perkaranya; seluruhnya hanya menyebut dan mempertanyakan.

Susunan yang ditambahkan dipakai berulang di Al-Qur'an, dan hampir selalu untuk perkara yang melampaui jangkauan pengetahuan biasa. Kehadirannya di sini menempatkan pokok yang ditanyakan di luar batas yang bisa dicapai seseorang tanpa diberi tahu. Jadi pertanyaannya bukan menantang pembaca berpikir lebih keras, melainkan menyatakan bahwa berpikir saja tidak akan sampai.

Akhiran pada kata kerjanya menunjuk pihak kedua tunggal, yaitu sang penerima wahyu, dan ini sapaan tunggal pertama di surah ini. Yang menarik, bahkan kepadanya pun pertanyaan ini diajukan. Yang dinyatakan di luar jangkauan bukan hanya pengetahuan orang kebanyakan, melainkan juga pengetahuan orang yang menerima wahyu itu sendiri sebelum ia diberi tahu. Dan kata untuk kepastian muncul untuk ketiga dan terakhir kalinya di sini; sesudah ayat ini ia tidak dipakai lagi di mana pun. Sebutan yang mengisi tiga ayat pembuka berhenti sama sekali begitu kisah dimulai di 69:4.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan yang ditambahkan di ayat ini dipakai berulang di Al-Qur'an, hampir selalu untuk perkara yang melampaui jangkauan pengetahuan biasa. Kehadirannya menempatkan pokok yang ditanyakan di luar batas yang bisa dicapai seseorang tanpa diberi tahu. Pertanyaannya bukan menantang pembaca berpikir lebih keras, melainkan menyatakan bahwa berpikir saja tidak akan sampai ke sana. Yang di luar jangkauan akal hanya bisa sampai lewat pemberitahuan dari Allah. Akal punya batas, dan Allah menyebut batas itu tanpa merendahkan akalnya.
  • Akhiran pada kata kerjanya menunjuk pihak kedua tunggal, yaitu sang penerima wahyu, dan ini sapaan tunggal pertama di surah ini. Bahkan kepadanya pun pertanyaan ini diajukan. Yang dinyatakan di luar jangkauan bukan hanya pengetahuan orang kebanyakan, melainkan juga pengetahuan orang yang menerima wahyu itu sendiri sebelum Allah memberitahukannya. Bahkan penerima wahyu pun tidak tahu sebelum Allah memberitahukannya. Wahyu diperlukan justru karena ada yang tidak bisa dicapai dari bawah.
  • Ayat ini mengulang seluruh isi ayat sebelumnya dengan tambahan di depannya, dan tetap tidak menjawab. Tiga ayat pembuka tidak menyampaikan satu pun keterangan tentang isi perkaranya; seluruhnya hanya menyebut dan mempertanyakan. Allah menahan keterangan sepanjang tiga ayat, dan penahanan itu yang membuat kisah di 69:4 terasa sebagai jawaban meski bentuknya cerita. Keterangan yang ditahan membuat jawaban terasa lebih berat ketika akhirnya tiba.
  • Kata untuk kepastian muncul untuk ketiga dan terakhir kalinya di sini. Sesudah ayat ini ia tidak dipakai lagi di mana pun, baik di surah ini maupun di seluruh Al-Qur'an. Sebutan yang mengisi tiga ayat pembuka berhenti sama sekali begitu kisah dimulai di 69:4. Yang menggantikannya di sana adalah sebutan lain yang juga hanya muncul sekali. Sebutan yang berhenti sekaligus menandai bahwa satu bagian surah sudah selesai. Berhentinya sebuah sebutan menandai batas bagian sejelas tanda baca menandai kalimat.
  • Kata kerja di ayat ini berarti membuat seseorang tahu, bukan sekadar mengetahui. Bunyinya dan apa yang membuatmu tahu. Terjemahan menahan pertanyaannya, dan sisi membuat tahu sedikit larut. Bentuk itu mengandaikan adanya pihak yang memberi tahu, dan dengan demikian ia sudah menunjuk kepada Allah sebelum nama-Nya disebut sama sekali di surah ini.
  • Tiga ayat pembuka surah ini masing-masing satu, dua, dan empat patah kata. Panjangnya naik bertahap, dan isinya berulang. Susunan itu terasa seperti tiga ketukan yang mengulang satu bunyi sebelum kalimatnya benar-benar dimulai. Berapa lama kita bersedia menunggu sebelum menuntut penjelasan atas sesuatu yang berkali-kali disebut penting? Kesabaran menunggu penjelasan adalah syarat yang jarang kita penuhi saat membaca. Membaca kitab Allah menuntut kesediaan menunggu yang jarang kita punyai.