كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ
Samud dan Ad telah mendustakan Bencana Dahsyat itu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِkadzdzabat tsamuudu wa-'aadun bi-l-qaari'atiSamud dan Ad telah mendustakan Bencana Dahsyat itu
Terjemahan per kata (4 kata)
- كَذَّبَتْkadzdzabattelah mendustakan
- ثَمُودُtsamuuduTsamud
- وَعَادٌwa-'aadundan kaum Ad
- بِالْقَارِعَةِbi-l-qaari'atidengan hari kiamat
Inti bacaan
contoh serupa penolakan yang berujung kehancuran: 'Tsamud dan Ad telah mendustakan al-Qari'ah', pengenalan dua contoh historis sebagai bukti konkret bagi kepastian yang sedang dibahas, bukan spekulasi tanpa rujukan nyata.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِالْقَارِعَةِ, bil-qaari'ati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti memukul keras sampai berbunyi. Jadi gambarannya bukan bencana yang diam, melainkan pukulan yang terdengar. Terjemahan 'Bencana Dahsyat itu' menahan besarnya, dan unsur bunyi pukulannya sedikit larut.
Sebutan ini menggantikan sebutan yang dipakai di tiga ayat sebelumnya. Yang mengisi 69:1 sampai 69:3 berhenti dipakai, dan di sini muncul sebutan lain untuk hari yang sama. Jadi surah ini memakai dua nama berturutan untuk satu peristiwa, dan pergantian nama itu terjadi tepat ketika kisah dimulai. Akar sebutan yang di sini juga menjadi nama surah 101, yang seluruhnya membicarakan hari tersebut.
Bentuk (كَذَّبَتْ, kadzdzabat) muncul di 14 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk perempuan tunggal meski pelakunya dua kaum, susunan yang lazim dalam bahasa Arab ketika kata kerja mendahului pelakunya. Terjemahan mengikuti susunan Indonesia yang menempatkan pelaku lebih dulu, dan kesesuaian jenis itu larut.
Kata (ثَمُودُ, tsamuudu) muncul di 10 ayat dan (وَعَادٌ, wa'aadun) di 9 ayat. Keduanya nama kaum, dan keduanya sering disebut berpasangan di Al-Qur'an. Yang menarik, di ayat ini Samud disebut lebih dulu padahal Ad lebih dahulu ada. Urutan itu bukan urutan waktu melainkan urutan yang akan dipakai di dua ayat berikutnya: 69:5 membahas Samud, 69:6 membahas Ad. Jadi penyebutan di sini menyiapkan urutan pembahasan.
Perlu dicatat bahwa jawaban atas tiga pertanyaan di 69:1 sampai 69:3 dimulai di sini, dan bentuknya bukan penjelasan melainkan kisah. Yang disodorkan bukan gambaran tentang hari itu, melainkan cerita tentang siapa yang pernah menolaknya dan apa yang menimpa mereka. Cara menjawab seperti itu memindahkan perkara dari perdebatan menjadi bukti.
Bunyi ujung ayat ini juga perlu diperhatikan. Tiga ayat sebelumnya ditutup bunyi -aqqah, dan ayat ini ditutup bunyi -ari'ah. Ujungnya tetap sama meski katanya berganti, sehingga telinga pendengar tidak merasakan patahan ketika sebutan hari itu diganti. Pergantian nama disamarkan oleh kesamaan bunyi, dan hanya pembaca yang memperhatikan arti yang akan menyadari bahwa sebutannya sudah bukan yang tadi.
Susunan kerja di ayat ini juga bertingkat. Ia dibentuk dengan menggandakan huruf tengahnya, dan penggandaan seperti itu dalam bahasa Arab mengubah arti dari berbohong menjadi menganggap sesuatu sebagai bohong. Jadi yang dikerjakan dua kaum itu bukan berdusta tentang hari tersebut, melainkan memutuskan bahwa berita tentang hari tersebut adalah dusta. Terjemahan 'mendustakan' sudah menahannya, tetapi jejak penggandaan hurufnya tidak ikut terbawa.
Tafsiran
Ayat ini mengantarkan kisah Samud dan Ad yang mendustakan Hari Kiamat. Ayat ini memulai jawaban atas tiga pertanyaan di 69:1 sampai 69:3, dan bentuk jawabannya bukan penjelasan melainkan kisah. Yang disodorkan bukan gambaran tentang hari itu, melainkan cerita tentang siapa yang pernah menolaknya dan apa yang menimpa mereka. Cara menjawab seperti itu memindahkan perkara dari perdebatan menjadi bukti.
Sebutan yang dipakai juga berganti. Yang mengisi tiga ayat pembuka berhenti dipakai, dan di sini muncul sebutan lain untuk hari yang sama. Kata baru itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dan ia berasal dari akar yang berarti memukul keras sampai berbunyi. Jadi gambarannya bukan bencana yang diam, melainkan pukulan yang terdengar. Akar yang sama menjadi nama surah 101, yang seluruhnya membicarakan hari tersebut.
Urutan dua nama kaum di ayat ini patut diperhatikan. Samud disebut lebih dulu padahal Ad lebih dahulu ada. Urutan itu bukan urutan waktu melainkan urutan yang akan dipakai di dua ayat berikutnya: 69:5 membahas Samud, 69:6 membahas Ad. Jadi penyebutan di sini menyiapkan urutan pembahasan, bukan mencatat urutan sejarah. Susunan seperti itu memperlihatkan bahwa yang disusun Al-Qur'an adalah alur bacaan, dan pembaca yang menuntutnya menjadi catatan waktu sedang menuntut sesuatu yang memang tidak dijanjikan.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban atas tiga pertanyaan di 69:1 sampai 69:3 dimulai di sini, dan bentuknya bukan penjelasan melainkan kisah. Yang disodorkan bukan gambaran tentang hari itu, melainkan cerita tentang siapa yang pernah menolaknya dan apa yang menimpa mereka. Allah memindahkan perkara dari perdebatan menjadi bukti, dan bukti yang berupa kejadian lebih sulit dibantah daripada keterangan yang berupa uraian. Kisah yang dipakai sebagai bukti pun bukan kisah yang asing, melainkan kisah yang sudah beredar dan tinggal dipanggil kembali dengan menyebut namanya saja.
- Sebutan baru di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dan ia berasal dari akar yang berarti memukul keras sampai berbunyi. Gambarannya bukan bencana yang diam, melainkan pukulan yang terdengar. Terjemahan menahan besarnya, dan unsur bunyi pukulannya sedikit larut. Allah memilih kata yang bekerja pada telinga, bukan hanya pada bayangan mata. Nama-nama untuk hari akhir di Al-Qur'an memang banyak, dan tiap nama masuk lewat indera yang berbeda, ada yang lewat mata, ada yang lewat telinga.
- Sebutan yang mengisi tiga ayat pembuka berhenti dipakai, dan di sini muncul sebutan lain untuk hari yang sama. Surah ini memakai dua nama berturutan untuk satu peristiwa, dan pergantian nama itu terjadi tepat ketika kisah dimulai. Akar sebutan yang di sini juga menjadi nama surah 101. Satu hari yang sama diberi banyak nama, dan tiap nama menyorot sisi yang berlainan. Yang punya satu nama saja mudah dilupakan, sedangkan yang punya banyak nama akan terus muncul kembali di berbagai tempat dengan wajah baru.
- Samud disebut lebih dulu padahal Ad lebih dahulu ada. Urutan itu bukan urutan waktu melainkan urutan yang akan dipakai di dua ayat berikutnya: 69:5 membahas Samud, 69:6 membahas Ad. Penyebutan di sini menyiapkan urutan pembahasan, bukan mencatat urutan sejarah. Yang disusun Allah adalah alur bacaan, dan menuntutnya menjadi catatan waktu adalah menuntut yang tidak dijanjikan. Membaca kitab suci sebagai buku sejarah akan terus melahirkan tuduhan keliru, sebab ukurannya diambil dari jenis tulisan yang lain sama sekali.
- Kata kerja di ayat ini muncul di 14 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia berbentuk perempuan tunggal meski pelakunya dua kaum. Susunan itu lazim dalam bahasa Arab ketika kata kerja mendahului pelakunya. Terjemahan mengikuti susunan Indonesia yang menempatkan pelaku lebih dulu, dan kesesuaian jenis itu larut. Yang hilang bukan maknanya, melainkan jejak bagaimana kalimat Arabnya dirakit. Ada banyak hal yang hanya bisa dilihat pada teks asli, dan menyadarinya membuat pembaca terjemahan lebih rendah hati terhadap apa yang sedang dipegangnya.
- Dua nama kaum di ayat ini muncul di 10 dan 9 ayat, dan keduanya sering disebut berpasangan di Al-Qur'an. Pasangan yang berulang seperti itu membentuk rujukan yang dikenali pembaca tanpa perlu diterangkan ulang. Kalau dua nama sudah cukup untuk memanggil seluruh kisahnya, apa yang sebenarnya kita simpan dari bacaan kita selama ini? Allah menyebut dua nama itu tanpa mengulang kisahnya, dan cara menyebut seperti itu mengandaikan pendengar yang sudah menyimpan ceritanya.