Ayat 69:5

فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ

Maka adapun Samud, mereka dibinasakan dengan yang melampaui batas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِfa-ammaa tsamuudu fa-uhlikuu bi-th-thaaghiyatimaka adapun Samud, mereka dibinasakan dengan yang melampaui batas

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَأَمَّاfa-ammaaadapun
  2. ثَمُودُtsamuuduTsamud
  3. فَأُهْلِكُواfa-uhlikuumaka mereka dibinasakan
  4. بِالطَّاغِيَةِbi-th-thaaghiyatidengan kejadian yang melampaui batas

Inti bacaan

Detail cara kehancuran Tsamud: 'mereka dibinasakan dengan (suara) yang melampaui batas', konsekuensi yang sepadan dengan sifat pelanggaran mereka (melampaui batas), pola bahwa hukuman sering mencerminkan karakter kesalahan yang dilakukan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Kaum)' dan '(suara)' tidak dipakai.

Kata (بِالطَّاغِيَةِ, bith-thaagiyati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti melampaui batas. Yang menarik, akar itu di tempat lain hampir selalu dipakai untuk manusia yang melampaui batas, sedangkan di sini ia menjadi nama bagi hal yang membinasakan mereka. Jadi yang melampaui batas dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut melampaui batas.

Terjemahan 'yang melampaui batas' mempertahankan kekaburan itu apa adanya. Teks tidak menyebutkan apa bendanya, dan draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung yang tidak dipakai. Kekosongan tersebut disengaja: yang penting bukan bentuk bencananya melainkan sifatnya, yaitu melampaui ukuran yang biasa.

Bentuk (فَأُهْلِكُوا, fa-uhlikuu) muncul di 2 ayat: 69:5 dan 69:6, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Dua ayat berurutan ditutup pola yang sama, dan kesejajaran itu menandai bahwa dua kaum tersebut menerima perlakuan yang sebanding meski alatnya berbeda. Bentuknya pasif, sehingga bunyinya 'mereka dibinasakan', tanpa menyebut pelakunya.

Susunan (فَأَمَّا, fa-ammaa) yang membuka ayat ini menandai pemilahan. Ia berpasangan dengan susunan sejenis yang membuka 69:6. Jadi dua ayat itu satu bangunan: adapun yang pertama begini, sedangkan yang kedua begitu. Terjemahan 'maka adapun' dan 'sedangkan' menahan pemilahan tersebut, dan menghilangkannya akan memutus pasangan yang justru menjadi bentuknya.

Perlu dicatat bahwa nama kaum yang disebut di sini sama dengan yang disebut pertama di 69:4. Urutannya dijaga: yang disebut lebih dulu di ayat pengantar juga dibahas lebih dulu di ayat rincian. Ketertiban itu berlaku juga untuk 69:6, dan susunan seperti ini memudahkan pembaca mengikuti tanpa perlu mengingat-ingat siapa yang sedang dibicarakan.

Huruf sambung yang membuka penutup ayat ini menandai akibat yang langsung. Ia tidak sekadar menyambung, melainkan menyatakan bahwa yang kedua terjadi karena yang pertama dan tidak berjarak jauh darinya. Jadi susunannya bukan mereka mendustakan lalu suatu ketika dibinasakan, melainkan mereka mendustakan maka dibinasakanlah mereka. Jarak antara perbuatan dan akibatnya dipendekkan oleh satu huruf saja.

Susunan pemilahan yang membuka ayat ini juga menuntut kelanjutan yang berhuruf sambung. Dalam bahasa Arab, pembuka semacam itu tidak boleh berdiri sendiri; jawabannya wajib diawali huruf yang sama dengan yang mengawali penutup ayat ini. Jadi dua bagian ayat ini terkunci satu sama lain oleh aturan tata bahasa, bukan sekadar oleh urutan pemikiran. Kalimatnya tidak bisa dipotong di tengah tanpa merusak bangunannya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kebinasaan Samud karena melampaui batas. Ayat ini merinci nasib kaum yang disebut pertama di 69:4, dan urutannya dijaga: yang disebut lebih dulu di ayat pengantar juga dibahas lebih dulu di ayat rincian. Ketertiban itu berlaku juga untuk 69:6, sehingga pembaca bisa mengikuti tanpa perlu mengingat-ingat siapa yang sedang dibicarakan.

Kata yang dipakai untuk alat kebinasaan muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti melampaui batas. Yang menarik, akar itu di tempat lain hampir selalu dipakai untuk manusia yang melampaui batas, sedangkan di sini ia menjadi nama bagi hal yang membinasakan mereka. Jadi yang melampaui batas dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut melampaui batas. Kesejajaran nama itu tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan hukuman sebagai bayangan dari perbuatannya sendiri.

Teks tidak menyebutkan apa bendanya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai. Kekosongan tersebut disengaja: yang penting bukan bentuk bencananya melainkan sifatnya, yaitu melampaui ukuran yang biasa. Dan penutup ayat ini memakai bentuk yang muncul di 2 ayat saja, yaitu di sini dan di 69:6. Dua ayat berurutan ditutup pola yang sama, dan kesejajaran itu menandai bahwa dua kaum tersebut menerima perlakuan yang sebanding meski alatnya berbeda. Bentuknya pasif, tanpa menyebut pelakunya, sama seperti kebanyakan kalimat hukuman di surah-surah sekitarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata untuk alat kebinasaan di ayat ini berasal dari akar yang berarti melampaui batas, dan akar itu di tempat lain hampir selalu dipakai untuk manusia yang melampaui batas. Jadi yang melampaui batas dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut melampaui batas. Kesejajaran nama itu tidak dinyatakan langsung Allah, tetapi ia menempatkan hukuman sebagai bayangan dari perbuatannya sendiri. Ukuran yang dilanggar manusia dikembalikan kepadanya dalam bentuk kekuatan yang juga melanggar ukuran, dan tidak ada yang lebih adil daripada dihakimi dengan takaran sendiri.
  • Teks tidak menyebutkan apa bendanya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai. Kekosongan tersebut disengaja: yang penting bukan bentuk bencananya melainkan sifatnya, yaitu melampaui ukuran yang biasa. Mengisi kekosongan yang dibiarkan Allah akan memindahkan perhatian dari sifat ke benda, dan sifat itulah yang menjadi pelajarannya. Berapa banyak pertanyaan yang kita ajukan kepada kitab suci sebenarnya menanyakan benda, padahal yang hendak diajarkan Allah adalah sifat?
  • Penutup ayat ini memakai bentuk yang muncul di 2 ayat saja, yaitu di sini dan di 69:6. Dua ayat berurutan ditutup pola yang sama, dan kesejajaran itu menandai bahwa dua kaum tersebut menerima perlakuan yang sebanding meski alatnya berbeda. Allah menyamakan kedudukan keduanya lewat bentuk kata, bukan lewat pernyataan yang menyebutkannya. Kesamaan yang diletakkan pada bentuk kata akan bertahan selama teksnya bertahan, sedangkan kesamaan yang dinyatakan dengan penjelasan mudah dilupakan pembacanya.
  • Susunan pembuka ayat ini menandai pemilahan, dan ia berpasangan dengan susunan sejenis yang membuka 69:6. Dua ayat itu satu bangunan: adapun yang pertama begini, sedangkan yang kedua begitu. Terjemahan menahan pemilahan tersebut, dan menghilangkannya akan memutus pasangan yang justru menjadi bentuknya. Membaca salah satunya sendirian menyisakan setengah bangunan. Allah menyusun dua ayat sebagai satu kesatuan, dan kebiasaan mengutip sepotong ayat sering memutus kesatuan semacam itu tanpa disadari.
  • Nama kaum yang disebut di sini sama dengan yang disebut pertama di 69:4. Yang disebut lebih dulu di ayat pengantar juga dibahas lebih dulu di ayat rincian, dan ketertiban itu berlaku juga untuk 69:6. Susunan seperti ini memudahkan pembaca mengikuti tanpa perlu mengingat-ingat siapa yang sedang dibicarakan. Ketertiban dalam menyusun adalah bentuk kemudahan yang jarang disadari. Susunan yang tertib membebaskan tenaga pembaca untuk memikirkan isinya, bukan menghabiskannya untuk sekadar melacak siapa yang sedang dibicarakan.
  • Bentuk penutup ayat ini pasif, sehingga bunyinya mereka dibinasakan, tanpa menyebut pelakunya. Susunan tanpa pelaku itu dipakai Allah di kebanyakan kalimat hukuman di surah-surah sekitarnya. Menahan diri dari menyebut nama di kalimat hukuman adalah pilihan yang berulang, dan pengulangannya menandai bahwa itu memang cara yang dipilih, bukan kelalaian. Yang ditonjolkan Allah adalah kejadian dan akibatnya, sebab pelakunya sudah jelas bagi siapa pun yang membaca surah ini dari awal.

Ayat 69:6

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

Sedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍwa-ammaa 'aadun fa-uhlikuu bi-riihin sharsharin 'aatiyatinsedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. عَادٌ'aadun'Ad
  3. فَأُهْلِكُواfa-uhlikuumaka mereka dibinasakan
  4. بِرِيحٍbi-riihindengan angin
  5. صَرْصَرٍsharsharinyang sangat dingin
  6. عَاتِيَةٍ'aatiyatinyang sangat kencang

Inti bacaan

Detail cara kehancuran 'Ad: 'mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu', kekuatan alam yang ekstrem digunakan sebagai instrumen konsekuensi, pengingat akan skala kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia mengendalikannya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Kaum)' tidak dipakai.

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (صَرْصَرٍ, sharsharin) dan (عَاتِيَةٍ, 'aatiyatin). Yang pertama menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Yang kedua berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti membangkang atau melampaui kendali.

Kata (بِرِيحٍ, biriihin) muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 kata itu berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi angin badai. Jadi dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Bentuknya di sini tidak tentu, sehingga bunyinya 'dengan suatu angin', bukan 'dengan angin itu'.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan tiga kata berturutan di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Angin disebut dulu, baru sifat dinginnya yang menderu, baru sifat membangkangnya. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung.

Sifat kedua patut diperhatikan. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Jadi sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang.

Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci. Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Ketiga kata di bagian tengah ayat ini sama-sama tidak tertentu. Bunyinya 'dengan suatu angin yang menderu dingin lagi membangkang', bukan 'dengan angin itu'. Kesamaan tersebut bukan kebetulan, sebab dalam bahasa Arab sifat harus mengikuti yang disifati dalam hal tertentu atau tidaknya. Yang ditimpakan bukan angin yang pernah dikenal dan bisa ditunjuk, melainkan angin yang tidak punya nama dan tidak punya banding.

Sifat pertama juga dibentuk dengan cara khusus. Dua suku katanya sama persis, diulang berurutan, dan pengulangan semacam itu dalam bahasa Arab sering menandai bunyi yang berkepanjangan atau gerak yang berulang. Jadi bukan deru sekali lalu reda, melainkan deru yang terus-menerus selama tujuh malam delapan hari sebagaimana dirinci di 69:7. Bentuk katanya sudah memberi tahu lamanya, sebelum ayat berikutnya menyebut angkanya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kebinasaan Ad karena angin yang dahsyat. Ayat ini melengkapi pasangan yang dibuka di 69:5, dan keduanya ditutup pola yang sama. Pola tersebut muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, jadi dua ayat berurutan ini berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci.

Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Angin disebut lengkap dengan sifat dinginnya yang menderu dan sifat membangkangnya, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Dua cara menyebut yang berbeda dipakai untuk dua kaum yang menerima perlakuan sebanding.

Yang paling perlu dicatat adalah sifat kedua. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang. Dan kata untuk angin di sini muncul di 2 ayat; yang satunya lagi, 10:22, menyebut angin dalam dua wajah sekaligus, yang menolong lalu yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata untuk angin di ayat ini muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 ia berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi badai. Dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya melainkan ketetapan Allah atasnya. Angin yang sama pernah menjadi tanda kasih sayang bagi pelaut, dan menjadi tanda kemurkaan bagi kaum yang menolak peringatan.
  • Sifat kedua di ayat ini berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama, dan Allah menempatkan hukuman sebagai bayangan yang menirukan bentuk perbuatannya sendiri. Kekuatan alam yang lepas kendali dipakai Allah untuk menghukum manusia yang lepas kendali, dan kesejajaran itu berulang di banyak kisah lain dalam Al-Qur'an.
  • Sifat pertama di ayat ini menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Kata tersebut muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Allah memilih kata yang bekerja pada telinga sebelum bekerja pada pikiran, dan pilihan seperti itu tidak bisa diseberangkan penuh ke bahasa mana pun. Membaca Al-Qur'an dengan suara memang bukan kebiasaan yang dibuat-buat, sebab sebagian pesannya memang diletakkan pada bunyi.
  • Susunan tiga kata di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung. Kerapatan tata bahasa itu larut dalam terjemahan Indonesia, yang menuntut kata penghubung agar kalimatnya wajar dibaca. Sifat yang menempel langsung terasa menyatu dengan bendanya, sedangkan sifat yang disambung terasa ditambahkan kemudian dari luar.
  • Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Allah menyamakan kedudukan dua kaum lewat bentuk kata yang identik, dan penyamaan lewat bentuk lebih halus daripada penyamaan lewat pernyataan. Bentuk kata bekerja tanpa suara di latar belakang, dan pembaca yang memperhatikannya menerima keterangan tambahan yang tidak tertulis di permukaan.
  • Angin di ayat ini disebut lengkap dengan dua sifat, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Ketidakseimbangan itu bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Mengapa satu hukuman digambarkan sedetail ini dan yang lain dibiarkan kosong, kalau bukan supaya pembaca berhenti dan bertanya? Kekosongan dan kelimpahan diletakkan bersebelahan supaya pembaca merasakan bedanya, bukan sekadar diberi tahu bahwa keduanya berbeda.

Ayat 69:7

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Dia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka engkau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًاsakhkharahaa 'alayhim sab'a layaalin wa-tsamaaniyata ayyaamin husuumanDia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus
  2. فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍfa-taraa l-qawma fiihaa shar'aa ka-annahum a'jaazu nakhlin khaawiyatinmaka engkau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. سَخَّرَهَاsakhkharahaamenundukkannya
  2. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  3. سَبْعَsab'atujuh
  4. لَيَالٍlayaalinmalam
  5. وَثَمَانِيَةَwa-tsamaaniyatadan delapan
  6. أَيَّامٍayyaaminhari
  7. حُسُومًاhusuumanberturut-turut
  8. فَتَرَىfa-taraamaka engkau melihat
  9. الْقَوْمَl-qawmakaum
  10. فِيهَاfiihaadi sana
  11. صَرْعَىٰshar'aabergelimpangan
  12. كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
  13. أَعْجَازُa'jaazupangkal
  14. نَخْلٍnakhlinpohon kurma
  15. خَاوِيَةٍkhaawiyatinroboh

Inti bacaan

Durasi dan intensitas yang spesifik: 'Dia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk', detail waktu yang presisi (bukan abstrak) menegaskan realitas historis kejadian, perumpamaan visual yang kuat tentang kehancuran total.

Penjelasan pilihan kata

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (حُسُومًا, husuuman), (صَرْعَىٰ, shar'aa), dan (خَاوِيَةٍ, khaawiyatin). Yang pertama berarti berturut-turut tanpa jeda, dan akarnya juga dipakai untuk memotong sampai putus. Yang kedua berarti tergeletak roboh. Yang ketiga berarti kosong di dalam, lapuk, tinggal kulitnya.

Bentuk (سَخَّرَهَا, sakhkharahaa) muncul di 2 ayat: 22:37 dan 69:7. Perbandingan keduanya patut dicatat baik-baik. Di 22:37 kata itu disusul kata sambung yang berarti untuk kalian, dan yang ditundukkan adalah hewan kurban demi kebaikan manusia. Di sini kata yang sama disusul kata sambung yang berarti atas mereka, dan yang ditundukkan adalah angin untuk membinasakan. Kata kerjanya sama persis; yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya.

Hitungan waktunya juga tidak biasa. Yang disebut lebih dulu malamnya, baru siangnya, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya. Dan jumlahnya tidak seimbang: tujuh malam berbanding delapan hari. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung, dan berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca.

Gambaran penutup ayat ini juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama, dan kedua ayat itu sama-sama berbicara tentang kaum yang sama. Yang berbeda hanya sifat terakhirnya: di 54:20 sifat itu berjenis laki-laki dan berarti tercabut sampai ke akarnya, sedangkan di sini sifatnya berjenis perempuan dan berarti kosong melompong di dalam. Jadi satu ayat memotret saat pencabutan, dan ayat ini memotret keadaan sesudahnya.

Perlu diperhatikan bahwa (فَتَرَى, fataraa) berbentuk orang kedua dan berwaktu sekarang. Bunyinya bukan mereka melihat atau orang-orang melihat, melainkan kau melihat. Pembaca ditarik masuk ke tempat kejadian yang sudah lewat berabad-abad dan diposisikan sebagai saksi mata. Terjemahan 'maka kau melihat' menahannya, dan itu pilihan yang tepat, sebab mengubahnya menjadi bentuk lampau akan mengembalikan pembaca ke kursi penonton.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Akar kata pertama tadi juga punya arti lain yang menerangi pilihannya. Ia dipakai untuk memotong sampai putus, dan juga untuk besi panas yang ditempelkan ke luka supaya darahnya berhenti. Jadi hari-hari itu bukan sekadar berturut-turut, melainkan hari yang memutus dan menghanguskan. Satu kata membawa dua gambaran sekaligus, dan tidak ada padanan Indonesia yang bisa memuat keduanya tanpa menjadi kalimat panjang.

Pelaku di ayat ini juga baru muncul sekarang. Di 69:5 dan 69:6 semua kalimat hukumannya berbentuk pasif, sehingga pelakunya tidak disebut sama sekali. Di sini bentuknya berubah menjadi aktif dengan pelaku yang tersembunyi di dalam kata kerjanya sendiri. Jadi susunannya bergerak dari menyamarkan pelaku menjadi menampakkannya, dan gerak itu terjadi tepat ketika azabnya dirinci paling panjang.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan durasi dan kehancuran total kaum Ad. Ayat ini adalah yang terpanjang di surah ini, dan panjangnya sebanding dengan isinya. Tiga katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya bekerja pada indera yang berbeda: yang satu pada rasa waktu, yang kedua pada penglihatan, yang ketiga pada raba dan bunyi kayu yang lapuk.

Yang paling perlu dicatat adalah kata kerja pembukanya. Bentuk itu muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 22:37, berbicara tentang hewan kurban yang ditundukkan demi kebaikan manusia. Di sana kata itu disusul kata sambung yang berarti untuk kalian; di sini disusul yang berarti atas mereka. Kata kerjanya sama persis, dan yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya. Kekuasaan yang sama bisa berwajah pemberian dan bisa berwajah hukuman, dan arahnya ditentukan Allah, bukan oleh sifat kekuatannya sendiri.

Hitungan waktunya juga tidak biasa. Malam disebut lebih dulu daripada siang, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya, dan jumlahnya tidak seimbang. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung, dan berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca. Sementara gambaran penutupnya juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama tentang kaum yang sama; yang berbeda hanya sifat terakhirnya, satu memotret saat pencabutan dan satu memotret keadaan sesudahnya. Dan sepanjang itu pembaca dipanggil dengan bentuk orang kedua, sehingga ia bukan sedang membaca laporan melainkan sedang berdiri di lokasinya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja pembuka ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 22:37, berbicara tentang hewan kurban yang ditundukkan demi kebaikan manusia. Di sana ia disusul kata sambung yang berarti untuk kalian, di sini yang berarti atas mereka. Kata kerjanya sama persis, dan yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya. Kekuasaan yang sama bisa berwajah pemberian dan bisa berwajah hukuman, dan arahnya ditentukan Allah, bukan oleh sifat kekuatan itu sendiri. Yang menakutkan bukan kekuatan anginnya, melainkan bahwa arahnya bisa berbalik atas perintah yang sama yang tadinya menjadikannya berkah.
  • Malam disebut lebih dulu daripada siang di ayat ini, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya, dan jumlahnya pun tidak seimbang, tujuh berbanding delapan. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung. Berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca. Allah tidak memilih angka yang bulat dan mudah dilewati, sebab yang mudah dilewati tidak akan meninggalkan bekas. Angka yang ganjil menuntut perhatian dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh angka yang rapi dan gampang diingat.
  • Kata untuk melihat di ayat ini berbentuk orang kedua dan berwaktu sekarang. Bunyinya bukan mereka melihat, melainkan kau melihat. Pembaca ditarik masuk ke tempat kejadian yang sudah lewat berabad-abad dan diposisikan sebagai saksi mata. Allah memindahkan pembaca dari kursi penonton ke lokasi kejadian, dan pemindahan itu dikerjakan hanya dengan mengganti bentuk satu kata kerja. Membaca kisah orang terdahulu sebagai berita jauh membuatnya aman, dan ayat ini menutup jalan keluar yang nyaman itu sejak katanya yang pertama.
  • Gambaran penutup ayat ini juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama, dan kedua ayat sama-sama berbicara tentang kaum yang sama. Yang berbeda hanya sifat terakhirnya: satu berarti tercabut sampai ke akarnya, satunya berarti kosong melompong di dalam. Satu ayat memotret saat pencabutan, ayat ini memotret keadaan sesudahnya. Dua bidikan atas satu kejadian, diletakkan di dua surah yang berjauhan. Dua surah yang berjauhan menyimpan satu peristiwa yang sama, dan pembaca yang mengenali keduanya akan melihat gambar utuh yang tidak tampak dari satu tempat saja.
  • Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya bekerja pada indera yang berbeda: yang satu pada rasa waktu, yang kedua pada penglihatan, yang ketiga pada raba dan bunyi kayu yang lapuk. Kalau satu ayat saja menyimpan tiga kata yang tak pernah dipakai lagi di mana pun, berapa banyak yang lewat begitu saja dari bacaan kita? Allah menaruh kekayaan bahasa di tempat yang mudah dilewati, dan yang melewatinya tidak akan merasa kehilangan apa pun.
  • Sifat terakhir di ayat ini berarti kosong di dalam, lapuk, tinggal kulitnya. Yang digambarkan bukan tubuh yang hancur berkeping, melainkan tubuh yang bentuknya masih ada tetapi isinya sudah tidak ada. Allah memilih gambaran yang lebih menakutkan daripada kehancuran, sebab yang tampak utuh dari luar dan kosong dari dalam adalah keadaan yang bisa juga menimpa orang yang masih hidup. Bentuk yang bertahan setelah isinya pergi adalah gambaran yang jauh lebih menusuk daripada puing yang berserakan.