Ayat 69:6
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
Sedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍwa-ammaa 'aadun fa-uhlikuu bi-riihin sharsharin 'aatiyatinsedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- عَادٌ'aadun'Ad
- فَأُهْلِكُواfa-uhlikuumaka mereka dibinasakan
- بِرِيحٍbi-riihindengan angin
- صَرْصَرٍsharsharinyang sangat dingin
- عَاتِيَةٍ'aatiyatinyang sangat kencang
Inti bacaan
Detail cara kehancuran 'Ad: 'mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu', kekuatan alam yang ekstrem digunakan sebagai instrumen konsekuensi, pengingat akan skala kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia mengendalikannya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Kaum)' tidak dipakai.
Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (صَرْصَرٍ, sharsharin) dan (عَاتِيَةٍ, 'aatiyatin). Yang pertama menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Yang kedua berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti membangkang atau melampaui kendali.
Kata (بِرِيحٍ, biriihin) muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 kata itu berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi angin badai. Jadi dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Bentuknya di sini tidak tentu, sehingga bunyinya 'dengan suatu angin', bukan 'dengan angin itu'.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan tiga kata berturutan di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Angin disebut dulu, baru sifat dinginnya yang menderu, baru sifat membangkangnya. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung.
Sifat kedua patut diperhatikan. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Jadi sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang.
Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci. Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Ketiga kata di bagian tengah ayat ini sama-sama tidak tertentu. Bunyinya 'dengan suatu angin yang menderu dingin lagi membangkang', bukan 'dengan angin itu'. Kesamaan tersebut bukan kebetulan, sebab dalam bahasa Arab sifat harus mengikuti yang disifati dalam hal tertentu atau tidaknya. Yang ditimpakan bukan angin yang pernah dikenal dan bisa ditunjuk, melainkan angin yang tidak punya nama dan tidak punya banding.
Sifat pertama juga dibentuk dengan cara khusus. Dua suku katanya sama persis, diulang berurutan, dan pengulangan semacam itu dalam bahasa Arab sering menandai bunyi yang berkepanjangan atau gerak yang berulang. Jadi bukan deru sekali lalu reda, melainkan deru yang terus-menerus selama tujuh malam delapan hari sebagaimana dirinci di 69:7. Bentuk katanya sudah memberi tahu lamanya, sebelum ayat berikutnya menyebut angkanya.
Tafsiran
Ayat ini mencatat kebinasaan Ad karena angin yang dahsyat. Ayat ini melengkapi pasangan yang dibuka di 69:5, dan keduanya ditutup pola yang sama. Pola tersebut muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, jadi dua ayat berurutan ini berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci.
Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Angin disebut lengkap dengan sifat dinginnya yang menderu dan sifat membangkangnya, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Dua cara menyebut yang berbeda dipakai untuk dua kaum yang menerima perlakuan sebanding.
Yang paling perlu dicatat adalah sifat kedua. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang. Dan kata untuk angin di sini muncul di 2 ayat; yang satunya lagi, 10:22, menyebut angin dalam dua wajah sekaligus, yang menolong lalu yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata untuk angin di ayat ini muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 ia berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi badai. Dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya melainkan ketetapan Allah atasnya. Angin yang sama pernah menjadi tanda kasih sayang bagi pelaut, dan menjadi tanda kemurkaan bagi kaum yang menolak peringatan.
- Sifat kedua di ayat ini berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama, dan Allah menempatkan hukuman sebagai bayangan yang menirukan bentuk perbuatannya sendiri. Kekuatan alam yang lepas kendali dipakai Allah untuk menghukum manusia yang lepas kendali, dan kesejajaran itu berulang di banyak kisah lain dalam Al-Qur'an.
- Sifat pertama di ayat ini menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Kata tersebut muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Allah memilih kata yang bekerja pada telinga sebelum bekerja pada pikiran, dan pilihan seperti itu tidak bisa diseberangkan penuh ke bahasa mana pun. Membaca Al-Qur'an dengan suara memang bukan kebiasaan yang dibuat-buat, sebab sebagian pesannya memang diletakkan pada bunyi.
- Susunan tiga kata di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung. Kerapatan tata bahasa itu larut dalam terjemahan Indonesia, yang menuntut kata penghubung agar kalimatnya wajar dibaca. Sifat yang menempel langsung terasa menyatu dengan bendanya, sedangkan sifat yang disambung terasa ditambahkan kemudian dari luar.
- Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Allah menyamakan kedudukan dua kaum lewat bentuk kata yang identik, dan penyamaan lewat bentuk lebih halus daripada penyamaan lewat pernyataan. Bentuk kata bekerja tanpa suara di latar belakang, dan pembaca yang memperhatikannya menerima keterangan tambahan yang tidak tertulis di permukaan.
- Angin di ayat ini disebut lengkap dengan dua sifat, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Ketidakseimbangan itu bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Mengapa satu hukuman digambarkan sedetail ini dan yang lain dibiarkan kosong, kalau bukan supaya pembaca berhenti dan bertanya? Kekosongan dan kelimpahan diletakkan bersebelahan supaya pembaca merasakan bedanya, bukan sekadar diberi tahu bahwa keduanya berbeda.
Ayat 69:7
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Dia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka engkau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًاsakhkharahaa 'alayhim sab'a layaalin wa-tsamaaniyata ayyaamin husuumanDia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus
- فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍfa-taraa l-qawma fiihaa shar'aa ka-annahum a'jaazu nakhlin khaawiyatinmaka engkau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk
Terjemahan per kata (15 kata)
- سَخَّرَهَاsakhkharahaamenundukkannya
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- سَبْعَsab'atujuh
- لَيَالٍlayaalinmalam
- وَثَمَانِيَةَwa-tsamaaniyatadan delapan
- أَيَّامٍayyaaminhari
- حُسُومًاhusuumanberturut-turut
- فَتَرَىfa-taraamaka engkau melihat
- الْقَوْمَl-qawmakaum
- فِيهَاfiihaadi sana
- صَرْعَىٰshar'aabergelimpangan
- كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
- أَعْجَازُa'jaazupangkal
- نَخْلٍnakhlinpohon kurma
- خَاوِيَةٍkhaawiyatinroboh
Inti bacaan
Durasi dan intensitas yang spesifik: 'Dia menimpakannya atas mereka tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kau melihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan pangkal-pangkal pohon kurma yang lapuk', detail waktu yang presisi (bukan abstrak) menegaskan realitas historis kejadian, perumpamaan visual yang kuat tentang kehancuran total.
Penjelasan pilihan kata
Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (حُسُومًا, husuuman), (صَرْعَىٰ, shar'aa), dan (خَاوِيَةٍ, khaawiyatin). Yang pertama berarti berturut-turut tanpa jeda, dan akarnya juga dipakai untuk memotong sampai putus. Yang kedua berarti tergeletak roboh. Yang ketiga berarti kosong di dalam, lapuk, tinggal kulitnya.
Bentuk (سَخَّرَهَا, sakhkharahaa) muncul di 2 ayat: 22:37 dan 69:7. Perbandingan keduanya patut dicatat baik-baik. Di 22:37 kata itu disusul kata sambung yang berarti untuk kalian, dan yang ditundukkan adalah hewan kurban demi kebaikan manusia. Di sini kata yang sama disusul kata sambung yang berarti atas mereka, dan yang ditundukkan adalah angin untuk membinasakan. Kata kerjanya sama persis; yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya.
Hitungan waktunya juga tidak biasa. Yang disebut lebih dulu malamnya, baru siangnya, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya. Dan jumlahnya tidak seimbang: tujuh malam berbanding delapan hari. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung, dan berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca.
Gambaran penutup ayat ini juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama, dan kedua ayat itu sama-sama berbicara tentang kaum yang sama. Yang berbeda hanya sifat terakhirnya: di 54:20 sifat itu berjenis laki-laki dan berarti tercabut sampai ke akarnya, sedangkan di sini sifatnya berjenis perempuan dan berarti kosong melompong di dalam. Jadi satu ayat memotret saat pencabutan, dan ayat ini memotret keadaan sesudahnya.
Perlu diperhatikan bahwa (فَتَرَى, fataraa) berbentuk orang kedua dan berwaktu sekarang. Bunyinya bukan mereka melihat atau orang-orang melihat, melainkan kau melihat. Pembaca ditarik masuk ke tempat kejadian yang sudah lewat berabad-abad dan diposisikan sebagai saksi mata. Terjemahan 'maka kau melihat' menahannya, dan itu pilihan yang tepat, sebab mengubahnya menjadi bentuk lampau akan mengembalikan pembaca ke kursi penonton.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Akar kata pertama tadi juga punya arti lain yang menerangi pilihannya. Ia dipakai untuk memotong sampai putus, dan juga untuk besi panas yang ditempelkan ke luka supaya darahnya berhenti. Jadi hari-hari itu bukan sekadar berturut-turut, melainkan hari yang memutus dan menghanguskan. Satu kata membawa dua gambaran sekaligus, dan tidak ada padanan Indonesia yang bisa memuat keduanya tanpa menjadi kalimat panjang.
Pelaku di ayat ini juga baru muncul sekarang. Di 69:5 dan 69:6 semua kalimat hukumannya berbentuk pasif, sehingga pelakunya tidak disebut sama sekali. Di sini bentuknya berubah menjadi aktif dengan pelaku yang tersembunyi di dalam kata kerjanya sendiri. Jadi susunannya bergerak dari menyamarkan pelaku menjadi menampakkannya, dan gerak itu terjadi tepat ketika azabnya dirinci paling panjang.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan durasi dan kehancuran total kaum Ad. Ayat ini adalah yang terpanjang di surah ini, dan panjangnya sebanding dengan isinya. Tiga katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya bekerja pada indera yang berbeda: yang satu pada rasa waktu, yang kedua pada penglihatan, yang ketiga pada raba dan bunyi kayu yang lapuk.
Yang paling perlu dicatat adalah kata kerja pembukanya. Bentuk itu muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 22:37, berbicara tentang hewan kurban yang ditundukkan demi kebaikan manusia. Di sana kata itu disusul kata sambung yang berarti untuk kalian; di sini disusul yang berarti atas mereka. Kata kerjanya sama persis, dan yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya. Kekuasaan yang sama bisa berwajah pemberian dan bisa berwajah hukuman, dan arahnya ditentukan Allah, bukan oleh sifat kekuatannya sendiri.
Hitungan waktunya juga tidak biasa. Malam disebut lebih dulu daripada siang, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya, dan jumlahnya tidak seimbang. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung, dan berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca. Sementara gambaran penutupnya juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama tentang kaum yang sama; yang berbeda hanya sifat terakhirnya, satu memotret saat pencabutan dan satu memotret keadaan sesudahnya. Dan sepanjang itu pembaca dipanggil dengan bentuk orang kedua, sehingga ia bukan sedang membaca laporan melainkan sedang berdiri di lokasinya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pembuka ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 22:37, berbicara tentang hewan kurban yang ditundukkan demi kebaikan manusia. Di sana ia disusul kata sambung yang berarti untuk kalian, di sini yang berarti atas mereka. Kata kerjanya sama persis, dan yang membalik seluruh maknanya cuma satu kata sambung sesudahnya. Kekuasaan yang sama bisa berwajah pemberian dan bisa berwajah hukuman, dan arahnya ditentukan Allah, bukan oleh sifat kekuatan itu sendiri. Yang menakutkan bukan kekuatan anginnya, melainkan bahwa arahnya bisa berbalik atas perintah yang sama yang tadinya menjadikannya berkah.
- Malam disebut lebih dulu daripada siang di ayat ini, padahal urutan yang lazim adalah sebaliknya, dan jumlahnya pun tidak seimbang, tujuh berbanding delapan. Susunan ganjil itu membuat pembaca berhenti dan menghitung. Berhenti menghitung itulah yang membuat lamanya azab terasa, bukan sekadar terbaca. Allah tidak memilih angka yang bulat dan mudah dilewati, sebab yang mudah dilewati tidak akan meninggalkan bekas. Angka yang ganjil menuntut perhatian dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh angka yang rapi dan gampang diingat.
- Kata untuk melihat di ayat ini berbentuk orang kedua dan berwaktu sekarang. Bunyinya bukan mereka melihat, melainkan kau melihat. Pembaca ditarik masuk ke tempat kejadian yang sudah lewat berabad-abad dan diposisikan sebagai saksi mata. Allah memindahkan pembaca dari kursi penonton ke lokasi kejadian, dan pemindahan itu dikerjakan hanya dengan mengganti bentuk satu kata kerja. Membaca kisah orang terdahulu sebagai berita jauh membuatnya aman, dan ayat ini menutup jalan keluar yang nyaman itu sejak katanya yang pertama.
- Gambaran penutup ayat ini juga muncul di 54:20 dengan susunan yang hampir sama, dan kedua ayat sama-sama berbicara tentang kaum yang sama. Yang berbeda hanya sifat terakhirnya: satu berarti tercabut sampai ke akarnya, satunya berarti kosong melompong di dalam. Satu ayat memotret saat pencabutan, ayat ini memotret keadaan sesudahnya. Dua bidikan atas satu kejadian, diletakkan di dua surah yang berjauhan. Dua surah yang berjauhan menyimpan satu peristiwa yang sama, dan pembaca yang mengenali keduanya akan melihat gambar utuh yang tidak tampak dari satu tempat saja.
- Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya bekerja pada indera yang berbeda: yang satu pada rasa waktu, yang kedua pada penglihatan, yang ketiga pada raba dan bunyi kayu yang lapuk. Kalau satu ayat saja menyimpan tiga kata yang tak pernah dipakai lagi di mana pun, berapa banyak yang lewat begitu saja dari bacaan kita? Allah menaruh kekayaan bahasa di tempat yang mudah dilewati, dan yang melewatinya tidak akan merasa kehilangan apa pun.
- Sifat terakhir di ayat ini berarti kosong di dalam, lapuk, tinggal kulitnya. Yang digambarkan bukan tubuh yang hancur berkeping, melainkan tubuh yang bentuknya masih ada tetapi isinya sudah tidak ada. Allah memilih gambaran yang lebih menakutkan daripada kehancuran, sebab yang tampak utuh dari luar dan kosong dari dalam adalah keadaan yang bisa juga menimpa orang yang masih hidup. Bentuk yang bertahan setelah isinya pergi adalah gambaran yang jauh lebih menusuk daripada puing yang berserakan.
Ayat 69:8
فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ
Maka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍfa-hal taraa lahum min baaqiyatinmaka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَهَلْfa-halmaka apakah
- تَرَىٰtaraaengkau melihat
- لَهُمْlahumdari mereka
- مِنْmindari
- بَاقِيَةٍbaaqiyatinyang tersisa
Inti bacaan
Konfirmasi kehancuran menyeluruh: 'adakah kau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?', pertanyaan retoris yang menegaskan tidak ada yang selamat, skala konsekuensi yang total tanpa pengecualian.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بَاقِيَةٍ, baaqiyatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti tersisa atau tinggal. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga bunyinya lebih dekat ke 'sisa apa pun' daripada 'orang yang tersisa'. Karena itu ia bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas.
Susunan (فَهَلْ تَرَىٰ, fahal taraa) berbentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Pertanyaan semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan, melainkan untuk membuat pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama.
Perhatikan hubungannya dengan ayat sebelumnya. Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dengan bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan: yang pertama melihat sesuatu, yang kedua tidak melihat apa-apa. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan tanpa kalimat pernyataan sama sekali.
Panjang ayat ini juga berbicara. Sesudah ayat terpanjang di surah ini, datang ayat yang jauh lebih pendek. Perbedaan panjang itu menirukan isinya: yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut. Susunan panjang lalu pendek seperti itu membuat penutupnya terasa seperti pintu yang ditutup.
Bunyi akhirnya tetap sama dengan sembilan ayat sebelumnya. Dari 69:1 sampai 69:10, sepuluh ayat berturut-turut ditutup bunyi -ah, meski kata-katanya berganti terus. Keseragaman bunyi itu mengikat rangkaian yang isinya berpindah dari pertanyaan ke kisah lalu ke kesimpulan. Telinga mendengar satu tali yang menyambung, sementara mata membaca isi yang berganti.
Perhatikan juga hal berikut. Susunan peniadaannya juga perlu dibedah. Ada satu huruf tambahan sebelum kata terakhir yang dalam bahasa Arab tidak menambah arti baru, melainkan menegaskan bahwa peniadaannya menyeluruh. Huruf semacam itu hanya boleh masuk sesudah kalimat sangkalan atau pertanyaan, dan kehadirannya di sini menjadi tanda bahwa yang berbentuk tanya ini sebenarnya sangkalan. Terjemahan Indonesia tidak punya huruf sejenis, jadi penegasannya larut ke dalam nada kalimat saja.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Letak kata-katanya pun tidak biasa. Sebutan untuk mereka diletakkan lebih dulu, baru sisa yang ditanyakan. Dalam susunan Arab, mendahulukan sesuatu berarti menyorotinya, sehingga yang disorot di sini adalah mereka, bukan sisanya. Pertanyaannya jadi terasa seperti menunjuk ke arah tempat kosong yang tadinya penuh, dan bukan sekadar menanyakan ada tidaknya sesuatu.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tidak ada yang tersisa dari kaum yang dibinasakan. Ayat ini menutup kisah dua kaum dengan sebuah pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Susunannya berbentuk tanya yang tidak menunggu jawaban, dan pertanyaan semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan melainkan untuk membuat pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama daripada kalau diberitahukan.
Hubungannya dengan ayat sebelumnya rapat sekali. Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dengan bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan: yang pertama melihat sesuatu, yang kedua tidak melihat apa-apa. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan Allah tanpa satu kalimat pernyataan pun.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga cakupannya lebih luas daripada sekadar orang: ia bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas. Dan panjang ayat ini pun berbicara. Sesudah ayat terpanjang di surah ini datang ayat yang jauh lebih pendek, dan perbedaan panjang itu menirukan isinya. Yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menutup kisah dua kaum dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Bentuk tanya semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan, melainkan supaya pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama. Allah membuat pembaca menyimpulkan, dan kesimpulan yang ditemukan sendiri lebih sulit dilupakan daripada yang diterima jadi. Kesimpulan yang dibiarkan Allah untuk ditemukan pembaca adalah cara mengajar yang menaruh kepercayaan pada akal orang yang diajaknya bicara.
- Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dalam bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan Allah tanpa satu kalimat pernyataan pun, hanya dengan mengulang satu kata kerja dan mengganti apa yang tersedia untuk dilihat. Dua ayat berdampingan memakai satu kata kerja untuk membawa pembaca dari penuh ke kosong, dan jarak antara keduanya cuma satu tarikan napas.
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga bunyinya lebih dekat ke sisa apa pun daripada orang yang tersisa. Cakupannya bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas. Peniadaan yang dipilih Allah di sini tidak menyisakan celah untuk ditawar oleh pembaca yang mencari pengecualian. Yang tidak menyisakan bekas tidak bisa dibantah dengan mencari-cari peninggalan, sebab yang dicari memang tidak pernah ditinggalkan.
- Sesudah ayat terpanjang di surah ini datang ayat yang jauh lebih pendek. Perbedaan panjang itu menirukan isinya: yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut. Susunan panjang lalu pendek membuat penutupnya terasa seperti pintu yang ditutup, dan rasa itu datang dari bentuknya, bukan dari kata-katanya. Panjang dan pendek adalah alat yang bekerja pada rasa pembaca sebelum ia sempat memikirkan artinya, dan Allah memakainya sepanjang surah ini.
- Dari 69:1 sampai 69:10, sepuluh ayat berturut-turut ditutup bunyi yang sama, meski kata-katanya berganti terus. Keseragaman bunyi itu mengikat rangkaian yang isinya berpindah dari pertanyaan ke kisah lalu ke kesimpulan. Telinga mendengar satu tali yang menyambung, sementara mata membaca isi yang berganti. Adakah kita pernah membaca sepanjang itu sambil benar-benar mendengarnya? Bunyi yang seragam menahan rangkaian panjang supaya tidak berhamburan, dan itu pekerjaan yang tak terlihat tetapi terasa hilang kalau dicabut.
- Yang ditiadakan di ayat ini bukan hanya nyawa mereka, melainkan segala yang bisa menyambung nama mereka ke masa berikutnya. Allah menutup kisah itu sampai ke bekasnya, dan penutupan sampai ke bekas seperti itu jarang dipakai. Yang tersisa dari mereka sekarang justru hanya ayat ini, dan itu pun tersisa bukan sebagai kelanjutan mereka melainkan sebagai peringatan atas mereka. Nama yang hidup terus bukan karena keturunannya melainkan karena peringatan atasnya adalah nasib yang tidak pernah diinginkan siapa pun.