وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
Sedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍwa-ammaa 'aadun fa-uhlikuu bi-riihin sharsharin 'aatiyatinsedangkan Ad, mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- عَادٌ'aadun'Ad
- فَأُهْلِكُواfa-uhlikuumaka mereka dibinasakan
- بِرِيحٍbi-riihindengan angin
- صَرْصَرٍsharsharinyang sangat dingin
- عَاتِيَةٍ'aatiyatinyang sangat kencang
Inti bacaan
Detail cara kehancuran 'Ad: 'mereka dibinasakan dengan angin sangat dingin yang menderu', kekuatan alam yang ekstrem digunakan sebagai instrumen konsekuensi, pengingat akan skala kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia mengendalikannya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Kaum)' tidak dipakai.
Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (صَرْصَرٍ, sharsharin) dan (عَاتِيَةٍ, 'aatiyatin). Yang pertama menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Yang kedua berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti membangkang atau melampaui kendali.
Kata (بِرِيحٍ, biriihin) muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 kata itu berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi angin badai. Jadi dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Bentuknya di sini tidak tentu, sehingga bunyinya 'dengan suatu angin', bukan 'dengan angin itu'.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan tiga kata berturutan di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Angin disebut dulu, baru sifat dinginnya yang menderu, baru sifat membangkangnya. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung.
Sifat kedua patut diperhatikan. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Jadi sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang.
Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci. Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Ketiga kata di bagian tengah ayat ini sama-sama tidak tertentu. Bunyinya 'dengan suatu angin yang menderu dingin lagi membangkang', bukan 'dengan angin itu'. Kesamaan tersebut bukan kebetulan, sebab dalam bahasa Arab sifat harus mengikuti yang disifati dalam hal tertentu atau tidaknya. Yang ditimpakan bukan angin yang pernah dikenal dan bisa ditunjuk, melainkan angin yang tidak punya nama dan tidak punya banding.
Sifat pertama juga dibentuk dengan cara khusus. Dua suku katanya sama persis, diulang berurutan, dan pengulangan semacam itu dalam bahasa Arab sering menandai bunyi yang berkepanjangan atau gerak yang berulang. Jadi bukan deru sekali lalu reda, melainkan deru yang terus-menerus selama tujuh malam delapan hari sebagaimana dirinci di 69:7. Bentuk katanya sudah memberi tahu lamanya, sebelum ayat berikutnya menyebut angkanya.
Tafsiran
Ayat ini mencatat kebinasaan Ad karena angin yang dahsyat. Ayat ini melengkapi pasangan yang dibuka di 69:5, dan keduanya ditutup pola yang sama. Pola tersebut muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, jadi dua ayat berurutan ini berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Yang berbeda hanya alatnya: yang satu disebut tanpa bentuk, yang lain disebut dengan dua sifat yang rinci.
Ketidakseimbangan itu sendiri bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Angin disebut lengkap dengan sifat dinginnya yang menderu dan sifat membangkangnya, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Dua cara menyebut yang berbeda dipakai untuk dua kaum yang menerima perlakuan sebanding.
Yang paling perlu dicatat adalah sifat kedua. Ia berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama: yang membangkang dibinasakan oleh sesuatu yang juga disebut membangkang. Dan kata untuk angin di sini muncul di 2 ayat; yang satunya lagi, 10:22, menyebut angin dalam dua wajah sekaligus, yang menolong lalu yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata untuk angin di ayat ini muncul di 2 ayat: 10:22 dan 69:6. Di 10:22 ia berdiri dalam kalimat tentang angin baik yang membawa kapal berlayar, lalu berubah menjadi badai. Dua ayat yang memuatnya menyebut angin dalam dua wajah: yang menolong dan yang membinasakan. Benda yang sama bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi azab, dan yang menentukan bukan bendanya melainkan ketetapan Allah atasnya. Angin yang sama pernah menjadi tanda kasih sayang bagi pelaut, dan menjadi tanda kemurkaan bagi kaum yang menolak peringatan.
- Sifat kedua di ayat ini berarti membangkang atau lepas kendali, dan akarnya sering dipakai untuk manusia yang durhaka. Sama seperti di 69:5, alat kebinasaan diberi sifat yang biasanya melekat pada pelaku kedurhakaan. Dua ayat berurutan memakai cara yang sama, dan Allah menempatkan hukuman sebagai bayangan yang menirukan bentuk perbuatannya sendiri. Kekuatan alam yang lepas kendali dipakai Allah untuk menghukum manusia yang lepas kendali, dan kesejajaran itu berulang di banyak kisah lain dalam Al-Qur'an.
- Sifat pertama di ayat ini menggambarkan angin yang sangat dingin sekaligus berbunyi menderu, dan bunyi katanya sendiri menirukan deru itu. Kata tersebut muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Allah memilih kata yang bekerja pada telinga sebelum bekerja pada pikiran, dan pilihan seperti itu tidak bisa diseberangkan penuh ke bahasa mana pun. Membaca Al-Qur'an dengan suara memang bukan kebiasaan yang dibuat-buat, sebab sebagian pesannya memang diletakkan pada bunyi.
- Susunan tiga kata di ayat ini rapi: benda, lalu sifat pertama, lalu sifat kedua. Dua sifat itu bertumpuk pada satu benda tanpa kata penghubung di antaranya, susunan yang membuat keduanya melekat lebih rapat daripada kalau disambung. Kerapatan tata bahasa itu larut dalam terjemahan Indonesia, yang menuntut kata penghubung agar kalimatnya wajar dibaca. Sifat yang menempel langsung terasa menyatu dengan bendanya, sedangkan sifat yang disambung terasa ditambahkan kemudian dari luar.
- Ayat ini ditutup pola yang sama dengan 69:5, dan pola itu muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Dua ayat berurutan berbagi penutup yang tidak dipakai di tempat lain. Allah menyamakan kedudukan dua kaum lewat bentuk kata yang identik, dan penyamaan lewat bentuk lebih halus daripada penyamaan lewat pernyataan. Bentuk kata bekerja tanpa suara di latar belakang, dan pembaca yang memperhatikannya menerima keterangan tambahan yang tidak tertulis di permukaan.
- Angin di ayat ini disebut lengkap dengan dua sifat, sedangkan alat di ayat sebelumnya dibiarkan tanpa gambaran sama sekali. Ketidakseimbangan itu bercerita, sebab yang lebih dirinci bukan yang lebih dahulu disebut. Mengapa satu hukuman digambarkan sedetail ini dan yang lain dibiarkan kosong, kalau bukan supaya pembaca berhenti dan bertanya? Kekosongan dan kelimpahan diletakkan bersebelahan supaya pembaca merasakan bedanya, bukan sekadar diberi tahu bahwa keduanya berbeda.