فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ
Maka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍfa-hal taraa lahum min baaqiyatinmaka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَهَلْfa-halmaka apakah
- تَرَىٰtaraaengkau melihat
- لَهُمْlahumdari mereka
- مِنْmindari
- بَاقِيَةٍbaaqiyatinyang tersisa
Inti bacaan
Konfirmasi kehancuran menyeluruh: 'adakah kau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?', pertanyaan retoris yang menegaskan tidak ada yang selamat, skala konsekuensi yang total tanpa pengecualian.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بَاقِيَةٍ, baaqiyatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti tersisa atau tinggal. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga bunyinya lebih dekat ke 'sisa apa pun' daripada 'orang yang tersisa'. Karena itu ia bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas.
Susunan (فَهَلْ تَرَىٰ, fahal taraa) berbentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Pertanyaan semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan, melainkan untuk membuat pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama.
Perhatikan hubungannya dengan ayat sebelumnya. Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dengan bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan: yang pertama melihat sesuatu, yang kedua tidak melihat apa-apa. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan tanpa kalimat pernyataan sama sekali.
Panjang ayat ini juga berbicara. Sesudah ayat terpanjang di surah ini, datang ayat yang jauh lebih pendek. Perbedaan panjang itu menirukan isinya: yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut. Susunan panjang lalu pendek seperti itu membuat penutupnya terasa seperti pintu yang ditutup.
Bunyi akhirnya tetap sama dengan sembilan ayat sebelumnya. Dari 69:1 sampai 69:10, sepuluh ayat berturut-turut ditutup bunyi -ah, meski kata-katanya berganti terus. Keseragaman bunyi itu mengikat rangkaian yang isinya berpindah dari pertanyaan ke kisah lalu ke kesimpulan. Telinga mendengar satu tali yang menyambung, sementara mata membaca isi yang berganti.
Perhatikan juga hal berikut. Susunan peniadaannya juga perlu dibedah. Ada satu huruf tambahan sebelum kata terakhir yang dalam bahasa Arab tidak menambah arti baru, melainkan menegaskan bahwa peniadaannya menyeluruh. Huruf semacam itu hanya boleh masuk sesudah kalimat sangkalan atau pertanyaan, dan kehadirannya di sini menjadi tanda bahwa yang berbentuk tanya ini sebenarnya sangkalan. Terjemahan Indonesia tidak punya huruf sejenis, jadi penegasannya larut ke dalam nada kalimat saja.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Letak kata-katanya pun tidak biasa. Sebutan untuk mereka diletakkan lebih dulu, baru sisa yang ditanyakan. Dalam susunan Arab, mendahulukan sesuatu berarti menyorotinya, sehingga yang disorot di sini adalah mereka, bukan sisanya. Pertanyaannya jadi terasa seperti menunjuk ke arah tempat kosong yang tadinya penuh, dan bukan sekadar menanyakan ada tidaknya sesuatu.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tidak ada yang tersisa dari kaum yang dibinasakan. Ayat ini menutup kisah dua kaum dengan sebuah pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Susunannya berbentuk tanya yang tidak menunggu jawaban, dan pertanyaan semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan melainkan untuk membuat pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama daripada kalau diberitahukan.
Hubungannya dengan ayat sebelumnya rapat sekali. Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dengan bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan: yang pertama melihat sesuatu, yang kedua tidak melihat apa-apa. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan Allah tanpa satu kalimat pernyataan pun.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga cakupannya lebih luas daripada sekadar orang: ia bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas. Dan panjang ayat ini pun berbicara. Sesudah ayat terpanjang di surah ini datang ayat yang jauh lebih pendek, dan perbedaan panjang itu menirukan isinya. Yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menutup kisah dua kaum dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Bentuk tanya semacam ini dipakai bukan untuk mencari keterangan, melainkan supaya pendengar menjawab sendiri di dalam hatinya. Jawabannya sudah pasti tidak, dan justru karena pembaca yang mengucapkannya sendiri, jawaban itu menempel lebih lama. Allah membuat pembaca menyimpulkan, dan kesimpulan yang ditemukan sendiri lebih sulit dilupakan daripada yang diterima jadi. Kesimpulan yang dibiarkan Allah untuk ditemukan pembaca adalah cara mengajar yang menaruh kepercayaan pada akal orang yang diajaknya bicara.
- Di 69:7 pembaca disuruh melihat kaum itu bergelimpangan, dan di sini pembaca ditanya apakah masih melihat sisa mereka. Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut dalam bentuk orang kedua yang sama, tetapi hasilnya berlawanan. Perpindahan dari ada ke tiada dikerjakan Allah tanpa satu kalimat pernyataan pun, hanya dengan mengulang satu kata kerja dan mengganti apa yang tersedia untuk dilihat. Dua ayat berdampingan memakai satu kata kerja untuk membawa pembaca dari penuh ke kosong, dan jarak antara keduanya cuma satu tarikan napas.
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya tidak tertentu dan didahului kata tambahan yang menguatkan peniadaan, sehingga bunyinya lebih dekat ke sisa apa pun daripada orang yang tersisa. Cakupannya bisa mencakup jiwa, jejak, bahkan bekas. Peniadaan yang dipilih Allah di sini tidak menyisakan celah untuk ditawar oleh pembaca yang mencari pengecualian. Yang tidak menyisakan bekas tidak bisa dibantah dengan mencari-cari peninggalan, sebab yang dicari memang tidak pernah ditinggalkan.
- Sesudah ayat terpanjang di surah ini datang ayat yang jauh lebih pendek. Perbedaan panjang itu menirukan isinya: yang panjang menggambarkan azab yang berlarut, yang pendek menggambarkan kesudahan yang tuntas dan tidak berbuntut. Susunan panjang lalu pendek membuat penutupnya terasa seperti pintu yang ditutup, dan rasa itu datang dari bentuknya, bukan dari kata-katanya. Panjang dan pendek adalah alat yang bekerja pada rasa pembaca sebelum ia sempat memikirkan artinya, dan Allah memakainya sepanjang surah ini.
- Dari 69:1 sampai 69:10, sepuluh ayat berturut-turut ditutup bunyi yang sama, meski kata-katanya berganti terus. Keseragaman bunyi itu mengikat rangkaian yang isinya berpindah dari pertanyaan ke kisah lalu ke kesimpulan. Telinga mendengar satu tali yang menyambung, sementara mata membaca isi yang berganti. Adakah kita pernah membaca sepanjang itu sambil benar-benar mendengarnya? Bunyi yang seragam menahan rangkaian panjang supaya tidak berhamburan, dan itu pekerjaan yang tak terlihat tetapi terasa hilang kalau dicabut.
- Yang ditiadakan di ayat ini bukan hanya nyawa mereka, melainkan segala yang bisa menyambung nama mereka ke masa berikutnya. Allah menutup kisah itu sampai ke bekasnya, dan penutupan sampai ke bekas seperti itu jarang dipakai. Yang tersisa dari mereka sekarang justru hanya ayat ini, dan itu pun tersisa bukan sebagai kelanjutan mereka melainkan sebagai peringatan atas mereka. Nama yang hidup terus bukan karena keturunannya melainkan karena peringatan atasnya adalah nasib yang tidak pernah diinginkan siapa pun.