وَجَاءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهُ وَالْمُؤْتَفِكَاتُ بِالْخَاطِئَةِ

Dan datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya, serta negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, dengan kesalahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَجَاءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهُ وَالْمُؤْتَفِكَاتُ بِالْخَاطِئَةِwa-jaa'a fir'awnu wa-man qablahu wa-l-mu'tafikaatu bi-l-khaathi'atidan datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya, serta negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, dengan kesalahan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَجَاءَwa-jaa'adan datang
  2. فِرْعَوْنُfir'awnuFiraun
  3. وَمَنْwa-mandan orang yang
  4. قَبْلَهُqablahusebelumnya
  5. وَالْمُؤْتَفِكَاتُwa-l-mu'tafikaatudan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan
  6. بِالْخَاطِئَةِbi-l-khaathi'atidengan kesalahan

Inti bacaan

Perluasan cakupan kesalahan historis: 'datang Firaun dan orang-orang yang sebelumnya serta negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, dengan (membawa) kesalahan', pengumpulan berbagai kasus historis yang berbeda namun berbagi pola dasar yang sama, penguatan argumen melalui akumulasi bukti.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(membawa)' tidak dipakai.

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (الْمُؤْتَفِكَاتُ, al-mu'tafikaatu) dan (بِالْخَاطِئَةِ, bil-khaathi'ati). Yang pertama berbentuk jamak perempuan dan berarti negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, dibalik bagian atasnya ke bawah. Yang kedua berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti keliru atau salah.

Kata (فِرْعَوْنُ, fir'aunu) muncul di 21 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia disebut di sini tanpa keterangan apa pun, tanpa kisah, tanpa penjelasan siapa dia. Penyebutan telanjang seperti itu mengandaikan pembaca yang sudah tahu, dan cara menyebut seperti ini dipakai untuk memanggil seluruh kisah hanya dengan satu nama.

Bentuk (وَجَاءَ, wa jaa-a) berarti datang, dan ia disusul kata sambung yang berarti dengan atau membawa. Susunan datang membawa itu menjadikan kesalahan seolah barang yang dijinjing, bukan sifat yang melekat. Terjemahan 'datang dengan (membawa) kesalahan' menahannya dengan tanda kurung, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa kata membawa memang tidak berdiri sendiri di teksnya.

Susunan daftarnya juga patut dicatat. Yang disebut tiga hal berbeda jenis: satu orang, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri. Satu nama, satu kumpulan, dan satu tempat, semuanya disambung dalam satu kalimat dengan satu kata kerja saja. Cakupan yang menyapu seperti itu memindahkan pembicaraan dari dua kaum tertentu di 69:4 sampai 69:8 menjadi seluruh yang pernah menolak.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perhatikan bahwa bentuk jamak untuk negeri-negeri itu berjenis perempuan, sedangkan yang dimaksud adalah penduduknya. Dalam bahasa Arab, nama tempat memang lazim berjenis perempuan, dan menyebut tempat sambil memaksudkan penghuninya adalah cara ungkap yang biasa. Terjemahan 'negeri-negeri yang dijungkirbalikkan' mempertahankan gambarannya, dan pembaca diserahi sendiri untuk mengerti bahwa yang bersalah bukan tanahnya.

Sebutan kedua dalam daftar ini sengaja dibiarkan kabur. Yang dipakai adalah rangkaian yang berarti dan orang-orang sebelum dia, tanpa satu nama pun. Kekaburan itu membuat daftarnya tidak bisa ditutup, sebab tidak ada batas yang menyatakan sampai siapa. Yang dibicarakan pun jadi bukan sekumpulan tokoh yang bisa dihitung, melainkan barisan yang memanjang ke belakang sejauh yang bisa dibayangkan.

Bunyi penutup ayat ini juga menyambung ke dua ayat sebelumnya di rangkaian yang sama. Penutup 69:4, penutup 69:5, dan penutup ayat ini sama-sama dibuka huruf sambung yang berarti dengan, lalu diikuti sebutan berjenis perempuan yang menunjuk pelaku. Tiga ayat dalam satu rangkaian memakai cetakan yang persis sama untuk tiga hal yang berlainan: nama hari, nama azab, dan nama dosa. Cetakan yang berulang itu menautkan ketiganya tanpa perlu satu kalimat penjelas pun.

Tafsiran

Ayat ini memperluas daftar kaum durhaka: Fir'aun dan negeri-negeri yang terbalik. Ayat ini membuka daftar baru. Sebelumnya, dari 69:4 sampai 69:8, yang dibicarakan hanya dua kaum dengan nama yang jelas dan nasib yang dirinci satu per satu. Di sini pembicaraan melebar menjadi sapuan: satu orang, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri, semuanya disambung dalam satu kalimat dengan satu kata kerja saja. Perpindahan dari rincian ke sapuan itu menandai bahwa yang hendak ditunjukkan Allah bukan lagi kasus, melainkan pola.

Nama yang disebut muncul di 21 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di sini ia disebut telanjang, tanpa kisah dan tanpa keterangan siapa dia. Penyebutan seperti itu mengandaikan pembaca yang sudah tahu, dan satu nama dipakai untuk memanggil seluruh kisahnya. Sementara dua kata lainnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: yang satu berarti negeri-negeri yang dijungkirbalikkan sampai bagian atasnya ke bawah, yang lain berarti kekeliruan.

Yang paling perlu dicatat adalah kata kerjanya. Ia berarti datang, dan disusul kata sambung yang berarti dengan atau membawa, sehingga kesalahan digambarkan seolah barang yang dijinjing dan disodorkan, bukan sifat yang menempel diam-diam. Gambaran itu mengubah kedudukan dosa: ia bukan sesuatu yang menimpa orang, melainkan sesuatu yang dibawa orang. Dan kalau ia dibawa, berarti ada tangan yang mengangkatnya dan ada langkah yang membawanya masuk.

Renungan dan Hikmah

  • Sebelum ayat ini, dari 69:4 sampai 69:8, yang dibicarakan hanya dua kaum dengan nama yang jelas dan nasib yang dirinci satu per satu. Di sini pembicaraan melebar menjadi sapuan yang mencakup satu orang, sekelompok tak bernama, dan beberapa negeri sekaligus. Perpindahan dari rincian ke sapuan menandai bahwa yang hendak ditunjukkan Allah bukan lagi kasus tertentu, melainkan pola yang berulang di sepanjang waktu. Pola yang sama berulang di banyak zaman, dan yang berulang seperti itu tidak lagi bisa disebut kebetulan oleh siapa pun yang membacanya berurutan.
  • Kata kerja di ayat ini berarti datang, dan ia disusul kata sambung yang berarti dengan atau membawa. Kesalahan digambarkan seolah barang yang dijinjing dan disodorkan, bukan sifat yang menempel diam-diam. Gambaran itu mengubah kedudukan dosa: ia bukan sesuatu yang menimpa orang, melainkan sesuatu yang dibawa orang. Kalau ia dibawa, berarti ada tangan yang mengangkatnya dan ada langkah yang membawanya masuk. Allah menaruh tanggung jawab pada yang membawa, bukan pada keadaan yang mengelilinginya, dan itu mengubah seluruh cara kita membaca kisah kejatuhan orang.
  • Nama yang disebut di ayat ini muncul di 21 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di sini ia disebut telanjang, tanpa kisah dan tanpa keterangan siapa dia. Penyebutan seperti itu mengandaikan pembaca yang sudah tahu. Allah menghemat kata karena kisahnya sudah tersimpan di tempat lain dalam kitab yang sama, jadi cukup satu nama untuk membuka seluruh lemarinya. Cara berbicara seperti ini menempatkan Al-Qur'an sebagai satu bangunan yang saling menopang, bukan kumpulan bacaan yang berdiri sendiri-sendiri.
  • Salah satu kata di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan artinya negeri-negeri yang dijungkirbalikkan sampai bagian atasnya ke bawah. Yang dipilih Allah bukan kata untuk dihancurkan atau diratakan, melainkan kata untuk dibalik. Yang di atas turun ke bawah, dan gambaran itu cocok betul untuk kaum yang membalik urutan yang seharusnya dalam hidup mereka sendiri. Hukuman yang berupa pembalikan menjawab kesalahan yang juga berupa pembalikan, dan kesejajaran itu berulang di sepanjang surah ini.
  • Bentuk jamak untuk negeri-negeri di ayat ini berjenis perempuan, sedangkan yang dimaksud adalah penduduknya. Dalam bahasa Arab, nama tempat memang lazim berjenis perempuan, dan menyebut tempat sambil memaksudkan penghuninya adalah cara ungkap yang biasa. Terjemahan mempertahankan gambarannya, dan pembaca diserahi sendiri untuk mengerti bahwa yang bersalah bukan tanahnya. Menyalahkan tempat adalah cara lama untuk melepaskan diri, dan bahasa Al-Qur'an di sini sengaja tidak memberi celah untuk itu.
  • Yang didaftar di ayat ini tiga hal yang berbeda jenis: satu orang, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri. Ketiganya disambung dalam satu kalimat dengan satu kata kerja saja. Kalau penguasa, orang banyak, dan seluruh negeri bisa disatukan hanya karena membawa muatan yang sama, di golongan mana sebenarnya kita sedang berdiri? Muatan yang dibawa masuk itulah yang ditimbang Allah, dan kedudukan atau jumlah pengikut tidak mengubah beratnya sedikit pun.