فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً
Maka mereka mendurhakai utusan Tuhan mereka, lalu Dia menyiksa mereka dengan siksaan yang keras.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةًfa-'ashaw rasuula rabbihim fa-akhadzahum akhdzatan raabiyatanmaka mereka mendurhakai utusan Tuhan mereka, lalu Dia menyiksa mereka dengan siksaan yang keras
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَعَصَوْاfa-'ashawmaka mereka mendurhakai
- رَسُولَrasuularasul
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- فَأَخَذَهُمْfa-akhadzahummaka menimpa mereka
- أَخْذَةًakhdzatanhukuman
- رَابِيَةًraabiyatanyang keras
Inti bacaan
Prinsip sebab-akibat yang jelas: 'mereka mendurhakai utusan Tuhan mereka, lalu Dia menyiksa mereka dengan siksaan yang keras', hubungan langsung antara pembangkangan terhadap panduan yang diberikan dan konsekuensi yang diterima, bukan hukuman sewenang-wenang.
Penjelasan pilihan kata
Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (فَعَصَوْا, fa'ashau), (أَخْذَةً, akhdzatan), dan (رَابِيَةً, raabiyatan). Yang pertama berarti maka mereka mendurhakai. Yang kedua adalah sebutan untuk perbuatan menyambar atau mencengkeram. Yang ketiga berasal dari akar yang berarti tumbuh dan membengkak.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Sifat terakhir itu perlu dibedah baik-baik. Akarnya sama dengan akar untuk riba, yaitu tambahan yang menggelembung di atas pokoknya. Jadi siksaan yang digambarkan bukan siksaan yang keras sekali lalu selesai, melainkan siksaan yang membesar melampaui takaran biasa. Terjemahan 'siksaan yang keras' menahan beratnya, dan unsur menggelembungnya sedikit larut.
Yang lebih menarik, pola itu berulang di surah ini. Azab yang menimpa kaum pertama disebut dengan sebutan yang berarti melampaui batas, azab yang menimpa kaum kedua disebut dengan sebutan yang berarti membangkang, dan azab di ayat ini disebut dengan sebutan yang berarti membengkak. Ketiganya bersifat lebih dari ukuran wajar, persis seperti perbuatan yang membuahkannya.
Susunan (فَأَخَذَهُمْ, fa-akhadzahum) diikuti (أَخْذَةً, akhdzatan) memakai kata kerja dan sebutan dari akar yang sama secara berurutan. Dalam bahasa Arab susunan seperti ini menegaskan, sehingga bunyinya kira-kira Dia mencengkeram mereka dengan cengkeraman. Terjemahan Indonesia tidak lazim mengulang seperti itu, jadi penegasannya dipindahkan ke kata sifat di belakangnya.
Perlu diperhatikan bahwa (رَسُولَ رَبِّهِمْ, rasuula rabbihim) berbentuk tunggal, padahal yang durhaka di 69:9 adalah satu penguasa, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri sekaligus. Yang banyak itu didurhakai kepada utusan yang disebut satu. Susunan seperti itu menyatakan bahwa tiap kaum punya utusannya sendiri, dan mendurhakai yang satu itu sama saja dengan mendurhakai semuanya.
Huruf sambung yang membuka ayat ini juga bekerja rangkap. Ia muncul dua kali, sekali di depan kalimat sebab dan sekali di depan kalimat akibat. Dalam bahasa Arab huruf itu menyatakan urutan yang rapat dan segera, jadi susunannya bukan mereka durhaka, lalu suatu ketika ditimpa siksaan. Tidak ada ruang untuk masa tenggang di antara keduanya, dan kerapatan itu terletak pada bentuk kalimatnya, bukan pada kata mana pun yang menerangkannya.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata untuk mendurhakai di sini pun perlu dibedakan dari kata untuk mendustakan yang dipakai di 69:4. Yang di 69:4 menyangkut sikap terhadap berita, sedangkan yang di sini menyangkut sikap terhadap orang yang membawanya. Jadi rangkaian ini bergerak dari menolak isi pesan menjadi menolak pembawa pesan. Dua penolakan itu berbeda tingkat, dan yang kedua lebih jauh daripada yang pertama.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan sebab kehancuran: mendurhakai rasul yang diutus. Ayat ini menutup daftar yang dibuka di 69:9 dengan menyebut sebabnya lalu akibatnya, dan keduanya diletakkan berdempetan tanpa jeda. Tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, jadi seluruh kalimat sebab dan akibat ini dirakit dari kata-kata yang tidak dipakai lagi di mana pun.
Yang paling perlu dicatat adalah sifat penutupnya. Akarnya sama dengan akar untuk riba, yaitu tambahan yang menggelembung di atas pokoknya. Siksaan yang digambarkan bukan siksaan yang keras sekali lalu selesai, melainkan siksaan yang membesar melampaui takaran biasa. Pola ini berulang di surah ini: azab kaum pertama disebut dengan sebutan yang berarti melampaui batas, azab kaum kedua dengan sebutan yang berarti membangkang, dan azab di sini dengan sebutan yang berarti membengkak. Allah memberi nama pada hukuman dengan sifat yang sama seperti sifat perbuatan yang membuahkannya, dan pengulangan itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Susunan kata kerja dan sebutan dari akar yang sama secara berurutan juga menegaskan. Bunyinya kira-kira Dia mencengkeram mereka dengan cengkeraman, dan penegasan lewat pengulangan akar seperti itu tidak lazim dalam bahasa Indonesia. Sementara sebutan untuk utusan di sini berbentuk tunggal, padahal yang durhaka di 69:9 adalah satu penguasa, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri sekaligus. Tiap kaum punya utusannya sendiri, dan mendurhakai yang satu itu sama saja dengan mendurhakai semuanya.
Renungan dan Hikmah
- Sifat penutup ayat ini berasal dari akar yang berarti tumbuh dan membengkak, akar yang sama dengan akar untuk riba, yaitu tambahan yang menggelembung di atas pokoknya. Yang digambarkan bukan siksaan yang keras sekali lalu selesai, melainkan siksaan yang membesar melampaui takaran biasa. Terjemahan menahan beratnya, dan unsur menggelembungnya sedikit larut. Allah memilih gambaran pertumbuhan untuk sesuatu yang justru menghancurkan, dan pilihan itu membalik arti tumbuh yang biasa kita bayangkan. Yang menggelembung dalam urusan harta merugikan orang lain, dan yang menggelembung dalam urusan azab menimpa pelakunya sendiri.
- Azab kaum pertama disebut dengan sebutan yang berarti melampaui batas, azab kaum kedua dengan sebutan yang berarti membangkang, dan azab di ayat ini dengan sebutan yang berarti membengkak. Ketiganya bersifat lebih dari ukuran wajar, persis seperti perbuatan yang membuahkannya. Allah memberi nama pada hukuman dengan sifat yang sama seperti sifat kesalahan, dan pengulangan sebanyak tiga kali dalam satu rangkaian terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Membaca ketiganya berurutan membuat pembaca melihat aturan yang sedang bekerja, bukan sekadar tiga kejadian yang kebetulan berdekatan.
- Sebutan untuk utusan di ayat ini berbentuk tunggal, padahal yang durhaka di 69:9 adalah satu penguasa, sekelompok orang tak bernama, dan beberapa negeri sekaligus. Yang banyak itu didurhakai kepada utusan yang disebut satu. Susunan seperti itu menyatakan bahwa tiap kaum punya utusannya sendiri dari Allah, dan mendurhakai yang satu itu sama saja dengan mendurhakai semuanya. Menolak satu pembawa pesan berarti menolak seluruh rangkaian yang mengutusnya. Yang menolak pun sering merasa hanya menolak seorang saja, padahal yang ditolaknya adalah pintu yang cuma satu itu untuk zamannya.
- Kata kerja dan sebutan dari akar yang sama dipakai berurutan di ayat ini, sehingga bunyinya kira-kira Dia mencengkeram mereka dengan cengkeraman. Dalam bahasa Arab susunan itu berfungsi menegaskan, dan bahasa Indonesia tidak lazim mengulang seperti itu, jadi penegasannya dipindahkan ke kata sifat di belakangnya. Berapa banyak penegasan semacam ini yang lewat tanpa kita sadari ketika membaca terjemahan saja? Penegasan yang dibangun Allah dari bentuk kata bertahan di dalam teks asli selamanya, sementara terjemahan mana pun harus memilih menahan atau melepaskannya.
- Ayat ini menyebut sebabnya lalu akibatnya, dan keduanya diletakkan berdempetan tanpa jeda oleh dua huruf sambung yang sama. Tidak ada ruang untuk masa tenggang di antara keduanya dalam susunan kalimatnya. Allah merapatkan perbuatan dengan balasannya di dalam bentuk kalimat, dan kerapatan itu menyampaikan sesuatu yang tidak dinyatakan dengan kata mana pun di ayat ini. Jarak yang kita bayangkan antara perbuatan dan balasannya sering datang dari pengalaman kita, bukan dari susunan yang dipakai Allah.
- Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, jadi seluruh kalimat sebab dan akibat ini dirakit dari kata yang tidak dipakai lagi di mana pun. Kejadian yang berulang di banyak zaman justru diceritakan dengan kata yang tidak berulang sama sekali. Kesan yang timbul adalah peristiwa yang khas dan tidak tertukar, meski polanya sendiri terus terulang. Allah memakai kata yang tidak terpakai lagi untuk kejadian yang terus terulang, dan gabungan itu membuat pembaca merasakan yang lama sebagai yang baru.