إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِinnaa lammaa thaghaa l-maa'u hamalnaakum fii l-jaariyatisesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. لَمَّاlammaaketika
  3. طَغَىthaghaamelampaui batas
  4. الْمَاءُl-maa'uair
  5. حَمَلْنَاكُمْhamalnaakumKami mengangkut kalian
  6. فِيfiike dalam
  7. الْجَارِيَةِl-jaariyatiyang berlayar

Inti bacaan

Transisi ke kisah keselamatan: 'ketika air melampaui batas, Kami mengangkut kalian ke dalam (bahtera) yang berlayar', kontras dengan kisah kehancuran sebelumnya, menunjukkan bahwa konsekuensi bisa dihindari melalui persiapan dan ketaatan (kapal Nuh).

Penjelasan pilihan kata

Satu catatan atas pilihan penerjemahnya. Teks Arabnya hanya menyebut sifat geraknya, yaitu yang berlayar, dan tidak menyebut nama bendanya. Kata bahtera di dalam kurung pada terjemahan adalah tambahan penolong, bukan bagian dari teks.

Kata (الْمَاءُ, al-maa-u) di ayat ini didahului kata kerja yang berarti melampaui batas, meluap melewati takaran yang seharusnya. Kata kerja itu muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang perlu dicatat, akar kata ini sama dengan akar sebutan yang dipakai untuk azab kaum pertama di 69:5. Jadi di dalam satu surah, akar yang sama dipakai untuk menamai azab yang membinasakan dan untuk melukiskan air yang menenggelamkan.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Yang menarik, akar itu di banyak tempat lain justru dipakai untuk manusia yang durhaka. Di sini ia dipakai untuk air. Air yang melampaui batas dipakai untuk menghukum manusia yang melampaui batas, dan kesejajaran nama seperti ini sudah muncul dua kali sebelumnya di surah yang sama.

Bentuk (حَمَلْنَاكُمْ, hamalnaakum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti Kami mengangkut kalian, dengan pelaku jamak yang menunjuk kebesaran dan sasaran orang kedua jamak. Yang diangkut sebenarnya kaum Nuh, tetapi yang disapa adalah pembaca. Bunyinya bukan Kami mengangkut mereka, melainkan Kami mengangkut kalian.

Perpindahan sapaan ini patut diperhatikan. Di 69:7 dan 69:8 pembaca disapa sebagai orang yang menyaksikan kebinasaan orang lain. Di sini pembaca disapa sebagai orang yang ikut diselamatkan. Jadi dalam jarak beberapa ayat saja, kedudukan pembaca berpindah dari penonton menjadi penumpang. Yang selamat dahulu adalah nenek moyang, dan keselamatan itu dihitung sebagai keselamatan keturunannya juga.

Kata (الْجَارِيَةِ, al-jaariyati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti mengalir atau berjalan. Perahunya tidak disebut dengan nama bendanya, melainkan dengan sifat geraknya. Terjemahan menambahkan kata bahtera di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa teksnya sendiri hanya menyebut yang berlayar.

Pembuka ayat ini juga tidak biasa. Ia dimulai dengan (إِنَّا, innaa), yaitu penegas yang berarti sesungguhnya Kami, dan penegas semacam itu biasanya dipakai ketika ada yang perlu diyakinkan. Padahal tidak ada bantahan yang sedang dijawab di sini. Penegasnya justru menandai bahwa yang akan disebut adalah perkara besar, dan pembaca diminta menyiapkan perhatian sebelum isinya keluar.

Perpindahan pembicaranya juga menonjol. Sepanjang 69:4 sampai 69:10, Allah dibicarakan sebagai pihak ketiga, disebut dengan kata ganti Dia atau bahkan tidak disebut sama sekali dalam kalimat pasif. Mulai ayat ini Allah berbicara sebagai pihak pertama jamak. Perpindahan itu terjadi tepat ketika pembicaraan berpindah dari hukuman ke pertolongan, dan kedekatan sapaan menyertai kedekatan perbuatan.

Tafsiran

Ayat ini mengisahkan banjir Nuh sebagai pengingat kekuasaan Allah. Ayat ini berpindah dari kisah kebinasaan ke kisah keselamatan, dan perpindahannya ditandai perubahan sapaan. Di 69:7 dan 69:8 pembaca disapa sebagai orang yang menyaksikan kebinasaan orang lain. Di sini pembaca disapa sebagai orang yang ikut diselamatkan, sebab kata kerjanya berbunyi Kami mengangkut kalian, bukan Kami mengangkut mereka. Dalam jarak beberapa ayat saja, kedudukan pembaca berpindah dari penonton menjadi penumpang.

Kata untuk meluapnya air muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sama dengan akar sebutan yang dipakai untuk azab kaum pertama di 69:5. Di banyak tempat lain akar itu justru dipakai untuk manusia yang durhaka, sedangkan di sini ia dipakai untuk air. Allah menghukum yang melampaui batas dengan sesuatu yang juga melampaui batas, dan kesejajaran nama seperti ini sudah muncul dua kali sebelumnya di surah yang sama.

Perahunya sendiri tidak disebut dengan nama bendanya. Yang dipakai adalah sebutan yang berarti yang berlayar, dan sebutan itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya. Jadi yang disorot bukan kayunya, bukan ukurannya, bukan siapa yang membuatnya, melainkan kemampuannya bergerak di atas air yang sedang meluap. Di tengah air yang melampaui batas, yang menyelamatkan justru sesuatu yang ikut bergerak bersamanya, bukan sesuatu yang melawannya.

Renungan dan Hikmah

  • Di 69:7 dan 69:8 pembaca disapa sebagai orang yang menyaksikan kebinasaan orang lain. Di sini pembaca disapa sebagai orang yang ikut diselamatkan, sebab kata kerjanya berbunyi Kami mengangkut kalian, bukan Kami mengangkut mereka. Dalam jarak beberapa ayat saja Allah memindahkan kedudukan pembaca dari penonton menjadi penumpang. Keselamatan nenek moyang dihitung sebagai keselamatan keturunannya juga, dan itu menjadikan kisah lama sebagai utang yang masih ditanggung. Ada warisan yang tidak berupa harta dan tidak pernah dibagikan di hadapan siapa pun, tetapi ditagih juga pada waktunya.
  • Kata untuk meluapnya air di ayat ini muncul di 6 ayat, dan akarnya sama dengan akar sebutan yang dipakai untuk azab kaum pertama di 69:5. Di banyak tempat lain akar itu dipakai untuk manusia yang durhaka, sedangkan di sini untuk air. Allah menghukum yang melampaui batas dengan sesuatu yang juga melampaui batas, dan kesejajaran nama seperti ini sudah muncul dua kali sebelumnya di surah yang sama. Allah memakai satu akar kata untuk azab dan untuk air bah, dan pembaca yang menangkapnya akan melihat satu aturan di balik dua kisah yang tampak terpisah.
  • Perahunya tidak disebut dengan nama bendanya, melainkan dengan sebutan yang berarti yang berlayar, dan sebutan itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya. Yang disorot bukan kayunya, bukan ukurannya, bukan siapa yang membuatnya, melainkan kemampuannya bergerak. Di tengah air yang meluap, yang menyelamatkan justru sesuatu yang ikut bergerak bersamanya, bukan sesuatu yang mematung melawannya. Menyelamatkan diri kadang bukan berarti menahan arus, melainkan bergerak bersamanya di atas alat yang disediakan Allah.
  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dengan pelaku jamak yang menunjuk kebesaran dan sasaran orang kedua jamak. Allah menyebut perbuatan menyelamatkan itu dengan kata yang tidak dipakai lagi di mana pun, sehingga peristiwanya berdiri sendiri dan tidak larut ke dalam kisah pertolongan yang lain. Sekali disebut, dan kesekalian itu sendiri sudah menjadi tanda. Peristiwa yang berdiri sendiri lebih mudah dikenang daripada peristiwa yang larut ke dalam rangkaian yang mirip-mirip.
  • Yang dikerjakan manusia di ayat ini tidak disebut sama sekali. Tidak ada keterangan bahwa mereka berenang, memanjat, atau bertahan. Yang ada hanya Allah yang mengangkut, dan mereka yang terangkut. Susunan seperti itu meletakkan keselamatan sepenuhnya pada pihak yang mengangkat, dan pembaca yang mencari andilnya sendiri di ayat ini tidak akan menemukannya. Allah menyisakan ruang bagi manusia untuk bersyukur, bukan untuk mengaku, dan bedanya terletak pada siapa yang disebut dalam ceritanya.
  • Sasaran kata kerja di ayat ini adalah orang kedua jamak, padahal yang diangkut dahulu sudah lama tiada. Sapaan itu menarik pembaca masuk ke dalam peristiwa yang tidak dialaminya sendiri. Kalau keselamatan orang terdahulu ternyata dihitung sebagai keselamatan kita juga, apa yang sebenarnya sedang kita warisi tanpa pernah merasa menerimanya? Sapaan Allah kepada orang kedua di ayat ini memaksa pembaca menghitung kembali apa yang selama ini dianggapnya sekadar bacaan sejarah.