لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Agar Kami jadikan ia peringatan bagi kalian, dan agar telinga yang sadar menyimpannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌli-naj'alahaa lakum tadzkiratan wa-ta'iyahaa udzunun waa'iyatunagar Kami jadikan ia peringatan bagi kalian, dan agar telinga yang sadar menyimpannya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لِنَجْعَلَهَاli-naj'alahaaagar Kami menjadikannya
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. تَذْكِرَةًtadzkiratanperingatan
  4. وَتَعِيَهَاwa-ta'iyahaadan menyimpannya
  5. أُذُنٌudzununtelinga
  6. وَاعِيَةٌwaa'iyatunyang menyimak

Inti bacaan

Tujuan pedagogis dari peristiwa historis: 'agar Kami jadikan ia peringatan bagi kalian, dan agar telinga yang sadar menyimpannya', penegasan bahwa kisah-kisah ini difungsikan sebagai pelajaran aktif, namun efektivitasnya bergantung pada kesediaan pendengar untuk benar-benar menyimak dengan penuh kesadaran, bukan sekadar mendengar secara pasif.

Penjelasan pilihan kata

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (وَتَعِيَهَا, wa ta'iyahaa) dan (وَاعِيَةٌ, waa'iyatun). Keduanya berasal dari satu akar yang sama, dan akar itu berarti menampung serta menahan isi, seperti wadah yang memuat air tanpa membocorkannya. Jadi telinga di sini digambarkan sebagai bejana, bukan sebagai lubang yang dilewati suara.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Pemakaian dua kata seakar berurutan dalam satu ayat itu sendiri sudah menegaskan. Yang pertama berbentuk kata kerja, yang kedua berbentuk sifat pelaku. Bunyinya kira-kira agar menampungnya telinga yang menampung. Terjemahan 'agar telinga yang sadar menyimpannya' memilih dua kata Indonesia yang berbeda supaya kalimatnya wajar, dan sambungan akar itu larut.

Kata (أُذُنٌ, udzunun) muncul di 2 ayat: 9:61 dan 69:12. Perbandingannya menarik. Di 9:61 kata itu dipakai orang untuk mengejek Nabi sebagai orang yang mau mendengar apa saja. Di sini kata yang sama dipakai untuk memuji telinga yang menyimpan. Sebutan yang di satu tempat menjadi cemoohan, di tempat lain menjadi pujian, dan yang membedakan bukan alatnya melainkan apa yang dikerjakannya dengan yang didengar.

Bentuknya juga tunggal dan tidak tertentu, jadi bunyinya suatu telinga, bukan telinga-telinga atau telinga itu. Yang dituntut bukan seluruh pendengar, melainkan cukup satu telinga yang benar-benar menampung. Susunan yang tidak muluk itu justru meninggikan nilainya, sebab yang sedikit disebut karena memang jarang.

Kata (تَذْكِرَةً, tadzkiratan) muncul di 3 ayat: 20:3, 56:73, dan 69:12. Ia berarti sesuatu yang membuat ingat. Yang dijadikan pengingat di sini adalah peristiwa pengangkutan di 69:11, bukan air bahnya. Jadi yang diminta diingat bukan bencananya, melainkan pertolongannya, dan pilihan itu mengubah warna seluruh kisah.

Susunan tujuannya juga perlu diperhatikan. Ayat ini dibuka (لِنَجْعَلَهَا, linaj'alahaa), yaitu huruf yang menyatakan maksud disambung kata kerja pihak pertama jamak. Bunyinya agar Kami jadikan ia, dan kata ganti perempuan di ujungnya menunjuk kembali ke peristiwa di 69:11. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang tidak boleh dipisah, sebab yang satu memuat kejadiannya dan yang lain memuat maksudnya.

Dua maksud disebut berurutan, dan keduanya tidak setara. Yang pertama dikerjakan Allah, yaitu menjadikannya pengingat. Yang kedua dikerjakan manusia, yaitu menampungnya. Yang pertama sudah pasti terjadi, sedangkan yang kedua bergantung pada ada tidaknya telinga yang mau menampung. Susunan seperti itu meletakkan setengah dari maksud ayat ini di tangan pembacanya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan tujuan peristiwa itu dijadikan pelajaran bagi generasi berikutnya. Ayat ini menyebutkan alasan di balik peristiwa di 69:11, dan alasannya bukan hukuman melainkan ingatan. Kata untuk pengingat muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang dijadikan pengingat adalah pengangkutan yang menyelamatkan, bukan air bah yang menenggelamkan. Jadi yang diminta Allah untuk diingat bukan bencananya, melainkan pertolongannya, dan pilihan itu mengubah warna seluruh kisah di ayat sebelumnya.

Dua kata terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berasal dari satu akar yang sama. Akar itu berarti menampung serta menahan isi, seperti wadah yang memuat air tanpa membocorkannya. Telinga digambarkan sebagai bejana, bukan sebagai lubang yang dilewati suara. Bunyinya kira-kira agar menampungnya telinga yang menampung, dan terjemahan memilih dua kata Indonesia yang berbeda supaya kalimatnya wajar, sehingga sambungan akarnya larut.

Sebutan untuk telinga sendiri muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 9:61, memakainya untuk mengejek Nabi sebagai orang yang mau mendengar apa saja. Di sini kata yang sama dipakai untuk memuji. Sebutan yang di satu tempat menjadi cemoohan, di tempat lain menjadi pujian, dan yang membedakan bukan alatnya melainkan apa yang dikerjakannya dengan yang didengar. Bentuknya pun tunggal dan tidak tertentu, jadi yang dituntut bukan seluruh pendengar, melainkan cukup satu telinga yang benar-benar menampung.

Renungan dan Hikmah

  • Dua kata terakhir ayat ini berasal dari satu akar yang berarti menampung serta menahan isi, seperti wadah yang memuat air tanpa membocorkannya. Telinga digambarkan sebagai bejana, bukan sebagai lubang yang dilewati suara. Yang dituntut Allah bukan pendengaran melainkan penampungan, dan bedanya besar sekali: yang satu selesai begitu suaranya berhenti, yang lain baru mulai bekerja sesudah suaranya berhenti. Allah menuntut yang tersimpan, dan yang tersimpan itulah yang masih ada ketika majelisnya sudah bubar dan suaranya sudah lama hilang.
  • Kata untuk pengingat di ayat ini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan yang dijadikan pengingat adalah pengangkutan yang menyelamatkan di 69:11, bukan air bah yang menenggelamkan. Yang diminta Allah untuk diingat bukan bencananya, melainkan pertolongannya. Pilihan itu mengubah warna seluruh kisah, sebab ingatan tentang selamat melahirkan syukur, sedangkan ingatan tentang tenggelam hanya melahirkan takut. Rasa takut menggerakkan orang sebentar, sedangkan rasa berutang menggerakkannya jauh lebih lama.
  • Sebutan untuk telinga di ayat ini berbentuk tunggal dan tidak tertentu, jadi bunyinya suatu telinga, bukan telinga-telinga atau telinga itu. Yang dituntut bukan seluruh pendengar, melainkan cukup satu telinga yang benar-benar menampung. Susunan yang tidak muluk itu justru meninggikan nilainya, sebab yang sedikit disebut karena memang jarang, dan Allah tidak berpura-pura bahwa yang menampung itu banyak. Allah menyebut yang sedikit apa adanya, dan kejujuran seperti itu justru membuat panggilan-Nya terasa masuk akal bagi pembacanya.
  • Sebutan untuk telinga di ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 9:61, memakainya untuk mengejek Nabi sebagai orang yang mau mendengar apa saja. Di sini kata yang sama dipakai untuk memuji. Sebutan yang di satu tempat menjadi cemoohan, di tempat lain menjadi pujian, dan yang membedakan bukan alatnya melainkan apa yang dikerjakannya dengan yang didengar. Alat yang sama bisa menjadi bahan cemoohan atau bahan pujian, dan yang menentukan adalah pemiliknya, bukan alatnya.
  • Dua kata seakar dipakai berurutan di ayat ini, satu berbentuk kata kerja dan satu berbentuk sifat pelaku. Bunyinya kira-kira agar menampungnya telinga yang menampung. Terjemahan memilih dua kata Indonesia yang berbeda supaya kalimatnya wajar, dan sambungan akar itu larut. Kalau penegasan sekuat itu bisa hilang tanpa bekas dalam satu kalimat, berapa banyak lagi yang lolos dari perhatian kita? Kekayaan bentuk kata di ayat pendek seperti ini menunjukkan bahwa tidak ada bagian Al-Qur'an yang boleh disebut sekadar selingan.
  • Peristiwanya diceritakan lebih dulu di 69:11, baru tujuannya disebut di ayat ini. Susunan seperti itu membuat pembaca mengalami kejadiannya sebelum diberi tahu untuk apa. Allah tidak membuka dengan maksud dan menutup dengan contoh, melainkan sebaliknya, sehingga maksudnya datang kepada pembaca yang sudah terlanjur berdiri di tengah kejadiannya. Orang yang sudah berdiri di tengah kejadian akan menerima maksudnya sebagai kesimpulannya sendiri, bukan sebagai pesan yang disodorkan dari luar.