فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ
Maka apabila sangkakala ditiup dengan sekali tiupan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌfa-idzaa nufikha fii sh-shuuri nafkhatun waahidatunmaka apabila sangkakala ditiup dengan sekali tiupan
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- نُفِخَnufikhaditiup
- فِيfiipada
- الصُّورِsh-shuurisangkakala
- نَفْخَةٌnafkhatuntiupan
- وَاحِدَةٌwaahidatunsatu
Inti bacaan
Momen transisi tunggal yang menentukan: 'apabila sangkakala ditiup dengan sekali tiupan', penegasan bahwa perubahan besar bisa dipicu oleh satu momen tunggal, kesiapan diperlukan karena tidak ada peringatan bertahap sebelum momen kritis tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَفْخَةٌ, nafkhatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya khusus: dalam bahasa Arab, tambahan huruf ta di ujung sebutan seperti ini menandai satu kali kejadian. Jadi katanya sendiri sudah berarti sekali tiupan, sebelum ditambah (وَاحِدَةٌ, waahidatun) yang berarti satu. Dua penanda kesekalian ditumpuk dalam satu susunan, dan penumpukan itu tidak mungkin kebetulan.
Kata kerjanya, (نُفِخَ, nufikha), muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan (الصُّورِ, ash-shuuri) muncul di 10 ayat. Jadi bagian awal ayat ini memakai kata yang sudah dikenal pembaca dari banyak tempat lain, sedangkan kata terakhirnya tidak dipakai lagi di mana pun. Yang lazim dan yang sekali pakai diletakkan berdampingan dalam satu kalimat pendek.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga bunyinya ditiup, tanpa menyebut siapa yang meniup. Cara ini dipakai berulang di surah ini untuk kalimat-kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Yang disorot adalah kejadiannya, bukan tangan yang mengerjakannya, dan penyorotan seperti itu membuat peristiwanya terasa lebih besar daripada pelakunya.
Susunan (فَإِذَا, fa-idzaa) yang membuka ayat ini menandai syarat yang menunggu jawaban. Dalam bahasa Arab, pembuka semacam ini tidak boleh berdiri sendiri; ia menuntut kalimat lanjutan yang menyatakan apa yang terjadi. Jawabannya baru datang di 69:15, sesudah satu ayat lagi disisipkan di antaranya. Jadi 69:13 sampai 69:15 sebenarnya satu kalimat panjang yang dipotong menjadi tiga.
Perlu diperhatikan bahwa penundaan jawaban itu punya akibat pada pembacanya. Kalimat yang menggantung membuat pembaca menahan napas sampai jawabannya tiba, dan selama tertahan itu ia menerima satu tambahan keterangan lagi tentang bumi dan gunung. Bentuk kalimatnya membuat pembaca merasakan waktu tunggu, bukan sekadar membaca keterangan tentangnya.
Sebutan untuk alat tiupnya juga perlu dilihat lebih dekat. Ia berbentuk tertentu, jadi bunyinya sangkakala itu, bukan sebuah sangkakala. Bentuk tertentu semacam itu menunjuk sesuatu yang tidak perlu diperkenalkan lagi, dan memang sebutan yang sama muncul di sembilan tempat lain. Jadi ayat ini tidak sedang memperkenalkan barang baru, melainkan memanggil kembali sesuatu yang sudah berulang kali disinggung di tempat lain dalam kitab yang sama.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Letak kata-katanya pun perlu diperhatikan. Yang menerangkan jumlah diletakkan paling belakang, sesudah semua unsur lain sudah lengkap. Kalimatnya bisa saja berhenti tanpa keterangan jumlah itu dan tetap utuh artinya. Karena diletakkan di ujung dan bukan di tengah, keterangan tersebut jatuh sebagai tambahan yang menutup, dan yang jatuh di ujung selalu terdengar lebih keras daripada yang terselip di tengah.
Tafsiran
Ayat ini membuka gambaran dahsyat awal Hari Kiamat. Ayat ini membuka babak baru surah ini. Sesudah rangkaian kisah kaum terdahulu yang sudah selesai di 69:10 dan kisah keselamatan yang ditutup di 69:12, pembicaraan berpindah dari yang sudah terjadi ke yang akan terjadi. Perpindahan itu ditandai satu susunan pembuka yang berarti maka apabila, dan susunan semacam itu menuntut kalimat lanjutan yang menyatakan apa yang terjadi.
Jawabannya baru datang di 69:15, sesudah satu ayat lagi disisipkan di antaranya. Jadi 69:13 sampai 69:15 sebenarnya satu kalimat panjang yang dipotong menjadi tiga. Penundaan itu punya akibat pada pembacanya: kalimat yang menggantung membuatnya menahan napas sampai jawabannya tiba. Bentuk kalimatnya membuat pembaca merasakan waktu tunggu, bukan sekadar membaca keterangan tentangnya.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya khusus. Tambahan huruf di ujung sebutan seperti ini menandai satu kali kejadian, jadi katanya sendiri sudah berarti sekali tiupan sebelum ditambah kata yang berarti satu. Dua penanda kesekalian ditumpuk dalam satu susunan. Allah menegaskan bahwa yang mengakhiri seluruh alam ini bukan rangkaian panjang melainkan satu tiupan saja, dan penegasan itu dikerjakan lewat bentuk kata, bukan lewat kalimat yang menerangkannya. Kata kerjanya sendiri berbentuk pasif, tanpa menyebut siapa yang meniup, sehingga yang disorot adalah kejadiannya dan bukan tangan yang mengerjakannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya sudah menandai satu kali kejadian sebelum ditambah kata yang berarti satu. Dua penanda kesekalian ditumpuk dalam satu susunan. Allah menegaskan bahwa yang mengakhiri seluruh alam ini bukan rangkaian panjang melainkan satu tiupan saja, dan penegasan itu dikerjakan lewat bentuk kata, bukan lewat kalimat yang menerangkannya. Yang bertahan berabad-abad ternyata tidak menuntut waktu lama untuk dihentikan, dan ketidakseimbangan itu sendiri sudah menjadi pelajaran.
- Susunan pembuka ayat ini menuntut kalimat lanjutan, dan jawabannya baru datang di 69:15 sesudah satu ayat lagi disisipkan di antaranya. Kalimat yang menggantung membuat pembaca menahan napas sampai jawabannya tiba. Allah membuat pembaca merasakan waktu tunggu lewat bentuk kalimat, dan rasa itu tidak bisa dipindahkan ke terjemahan yang memotong tiap ayat menjadi kalimat yang berdiri sendiri. Kalimat yang dipotong menjadi tiga ayat menuntut pembaca yang sabar, dan kesabaran membaca adalah latihan kecil untuk kesabaran menunggu.
- Kata kerja di ayat ini muncul di 6 ayat dan sebutan untuk sangkakala muncul di 10 ayat, sedangkan kata terakhirnya tidak dipakai lagi di mana pun. Yang lazim dan yang sekali pakai diletakkan berdampingan dalam satu kalimat pendek. Pembaca yang mengenali bagian awalnya akan merasa berada di wilayah yang dikenal, lalu terhenti di ujungnya oleh sesuatu yang belum pernah ditemuinya. Allah memakai bahan yang dikenal untuk membawa pembaca sampai ke titik yang tidak dikenal, dan cara itu lebih ramah daripada memulai dari yang asing sama sekali.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk pasif, sehingga bunyinya ditiup, tanpa menyebut siapa yang meniup. Cara ini dipakai berulang di surah ini untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Yang disorot Allah adalah kejadiannya, bukan tangan yang mengerjakannya, dan penyorotan seperti itu membuat peristiwanya terasa lebih besar daripada pelaksananya. Ada perkara yang justru lebih tepat disampaikan Allah tanpa menyebut pelaksananya, sebab menyebutnya akan memperkecil apa yang sedang digambarkan.
- Sesudah rangkaian kisah kaum terdahulu yang selesai di 69:10 dan kisah keselamatan yang ditutup di 69:12, pembicaraan berpindah dari yang sudah terjadi ke yang akan terjadi. Allah menyusun surah ini dengan meletakkan bukti lebih dulu dan berita kemudian. Yang sudah terbukti dipakai untuk menopang yang belum tampak, dan urutan itu masuk akal bagi siapa pun yang mau menimbang. Bukti dari masa lalu bisa diperiksa, dan berita tentang masa depan tidak bisa, jadi Allah meletakkan yang bisa diperiksa lebih dahulu.
- Yang mengakhiri seluruh alam menurut ayat ini hanya satu tiupan, bukan rangkaian bencana yang panjang. Segala yang dibangun manusia selama ribuan tahun berhenti oleh satu kejadian yang bahkan tidak perlu diulang. Kalau seluruhnya bisa selesai secepat itu, apa sebenarnya yang membuat kita merasa punya banyak waktu? Allah tidak menakut-nakuti dengan panjangnya azab di ayat ini, melainkan dengan singkatnya jarak menuju kesudahan.