فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
Maka pada hari itu terjadilah Peristiwa itu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُfa-yawma'idzin waqa'ati l-waaqi'atumaka pada hari itu terjadilah Peristiwa itu
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَيَوْمَئِذٍfa-yawma'idzinmaka pada hari itu
- وَقَعَتِwaqa'atiterjadi
- الْوَاقِعَةُl-waaqi'atuhari Kiamat
Inti bacaan
Kepastian yang akhirnya tiba: 'pada hari itu terjadilah Peristiwa itu', pernyataan sederhana namun tegas bahwa yang telah diperingatkan berulang kali akhirnya benar-benar terjadi, transisi dari kemungkinan menjadi kenyataan.
Penjelasan pilihan kata
'Al-waaqi'atu' diterjemahkan 'Peristiwa itu', dikonfirmasi konsisten dengan acuan yang sudah baku sejak Surah Al-Waqi'ah.
Kata (وَقَعَتِ, waqa'ati) muncul di 2 ayat: 56:1 dan 69:15. Begitu pula (الْوَاقِعَةُ, al-waaqi'atu), yang muncul di 2 ayat yang sama. Jadi pasangan kata kerja dan sebutan ini hanya bertemu di dua tempat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya adalah ayat pembuka surah 56. Nama surah itu sendiri diambil dari kata terakhir ayat ini.
Yang menarik, ini bukan satu-satunya nama surah lain yang dipakai di sini. Di 69:4 hari itu disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah 101, dan di 69:1 sampai 69:3 disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah ini sendiri. Jadi dalam satu surah, hari yang sama dipanggil dengan tiga nama, dan ketiganya adalah nama surah.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Susunan kata kerja diikuti sebutan seakar ini sama caranya dengan yang dipakai di 69:12, dan sama pula dengan yang dipakai di 69:10. Bunyinya kira-kira terjadilah yang terjadi. Dalam bahasa Arab susunan seperti itu menegaskan, dan karena tidak ada keterangan tambahan apa pun, penegasannya justru terasa seperti pengumuman yang tidak perlu dijelaskan lagi.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Bentuk kata kerjanya lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Cara ini lazim dipakai untuk perkara yang kepastiannya sudah tidak bisa ditawar: yang akan terjadi diceritakan seolah sudah selesai. Terjemahan 'terjadilah' menahan kepastian itu tanpa menyeretnya ke masa lampau.
Perhatikan panjangnya. Sesudah dua ayat yang menggantung dan penuh keterangan, jawabannya datang hanya dalam tiga patah kata. Kalimat panjang yang ditahan sejak 69:13 dijawab sesingkat mungkin, dan kesingkatan itu bekerja seperti palu yang jatuh sesudah ayunan yang lama. Bentuknya menirukan isinya, sebab yang diberitakan pun sesuatu yang datang tiba-tiba dan langsung selesai.
Pembuka ayat ini juga perlu dilihat. Ia terdiri atas huruf sambung yang menyatakan akibat dan sebutan waktu yang berarti pada hari itu. Sebutan waktu semacam itu tidak berdiri sendiri; ia selalu bersandar pada kejadian yang sudah disebut sebelumnya. Jadi ayat ini tidak bisa dibaca tanpa dua ayat di depannya, dan pembaca yang membukanya di tengah-tengah tidak akan tahu hari apa yang dimaksud.
Perhatikan pula bahwa tidak ada satu pun keterangan tambahan di ayat ini. Tidak disebut siapa yang hadir, apa yang tampak, atau bagaimana rasanya. Kekosongan itu berbeda sekali dengan dua ayat sebelumnya yang padat dengan gambaran. Sesudah bumi dan gunung dibenturkan, yang tersisa untuk dikatakan hanyalah bahwa hal itu terjadi, dan justru keheningan keterangan itulah yang membuatnya terasa mutlak.
Tafsiran
Ayat penutup rangkaian ini menegaskan kepastian Hari Kiamat benar-benar terjadi. Ayat ini adalah jawaban yang ditunggu sejak 69:13. Sesudah dua ayat yang menggantung dan penuh keterangan, jawabannya datang hanya dalam tiga patah kata. Kalimat panjang yang ditahan dijawab sesingkat mungkin, dan kesingkatan itu bekerja seperti palu yang jatuh sesudah ayunan yang lama. Bentuknya menirukan isinya, sebab yang diberitakan pun sesuatu yang datang tiba-tiba dan langsung selesai.
Dua kata terakhirnya masing-masing muncul di 2 ayat, dan kedua ayat itu sama: 56:1 dan 69:15. Jadi pasangan kata kerja dan sebutan seakar ini hanya bertemu di dua tempat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya adalah ayat pembuka surah 56. Nama surah tersebut diambil dari kata terakhir ayat ini. Ini pun bukan satu-satunya nama surah lain yang dipakai di sini: di 69:4 hari itu disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah 101, dan di 69:1 sampai 69:3 dengan sebutan yang menjadi nama surah ini sendiri. Dalam satu surah, hari yang sama dipanggil dengan tiga nama, dan ketiganya adalah nama surah.
Bentuk kata kerjanya lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Cara ini lazim dipakai untuk perkara yang kepastiannya sudah tidak bisa ditawar: yang akan terjadi diceritakan Allah seolah sudah selesai. Bagi pembaca, susunan itu menutup celah untuk menawar. Sesuatu yang sudah diceritakan sebagai selesai tidak lagi menyisakan ruang untuk bertanya apakah ia benar-benar akan terjadi.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini menjadi nama surah 56, sebutan di 69:4 menjadi nama surah 101, dan sebutan di 69:1 sampai 69:3 menjadi nama surah ini sendiri. Dalam satu surah, hari yang sama dipanggil Allah dengan tiga nama, dan ketiganya adalah nama surah. Satu peristiwa diberi begitu banyak pintu masuk, dan tiap pintu membuka sisi yang berlainan dari yang sama. Nama yang berlainan menahan sisi yang berlainan, dan tidak ada satu nama pun yang sanggup memuat seluruhnya sendirian.
- Sesudah dua ayat yang menggantung dan penuh keterangan, jawabannya datang hanya dalam tiga patah kata. Kalimat panjang yang ditahan sejak 69:13 dijawab sesingkat mungkin, dan kesingkatan itu bekerja seperti palu yang jatuh sesudah ayunan yang lama. Susunan panjang lalu pendek itu dipakai Allah berulang kali di surah ini, dan pengulangannya membuat pembaca mengenali iramanya tanpa perlu diberi tahu. Yang paling pendek di rangkaian ini justru yang paling berat isinya, dan ketidakseimbangan itu disengaja Allah.
- Bentuk kata kerja di ayat ini lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Cara ini lazim dipakai untuk perkara yang kepastiannya tidak bisa ditawar: yang akan terjadi diceritakan Allah seolah sudah selesai. Bagi pembaca, susunan itu menutup celah untuk menawar, sebab sesuatu yang sudah diceritakan sebagai selesai tidak lagi menyisakan ruang untuk bertanya apakah ia benar-benar akan datang. Yang sudah pasti tidak perlu dijanjikan dengan kata akan, dan Allah memakai bentuk lampau justru untuk menyatakan kepastian itu.
- Kata kerja dan sebutan seakar dipakai berurutan di ayat ini, sama caranya dengan yang dipakai di 69:12 dan di 69:10. Bunyinya kira-kira terjadilah yang terjadi. Karena tidak ada keterangan tambahan apa pun, penegasannya terasa seperti pengumuman yang tidak perlu dijelaskan lagi. Ada perkara yang justru kehilangan bobotnya kalau diberi banyak penjelasan. Diam pada tempatnya adalah bagian dari cara Allah berbicara, dan pembaca yang menuntut penjelasan di setiap tempat akan kehilangan bagian itu.
- Pasangan kata di ayat ini hanya bertemu di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu di sini dan di ayat pembuka surah 56. Dua surah yang berjauhan memakai kalimat yang sama untuk membuka dan untuk memuncak. Allah menautkan bagian-bagian kitab-Nya dengan kalimat yang berulang, dan tautan itu hanya terlihat oleh pembaca yang membacanya sampai keduanya bertemu di ingatannya. Membaca Al-Qur'an berkali-kali membuat tautan semacam ini muncul sendiri, dan itulah salah satu upah dari mengulang bacaan.
- Akar kata terakhir ayat ini berarti jatuh atau menimpa, jadi hari itu dinamai dengan gerakan jatuhnya, bukan dengan waktunya atau tempatnya. Nama-nama lain untuk hari yang sama juga diambil dari gerak dan bunyi, bukan dari penanggalan. Kalau semua namanya menunjuk gerak yang menimpa, mengapa kita masih membayangkannya sebagai tanggal yang jauh di kalender? Nama yang menunjuk gerak menuntut kesiapan yang berbeda daripada nama yang menunjuk waktu, sebab gerak bisa datang kapan saja.