وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ
Dan langit terbelah, karena pada hari itu ia rapuh,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌwa-nsyaqqati s-samaa'u fa-hiya yawma'idzin waahiyatundan langit terbelah, karena pada hari itu ia rapuh
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَانْشَقَّتِwa-nsyaqqatidan terbelah
- السَّمَاءُs-samaa'ulangit
- فَهِيَfa-hiyamaka ia
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- وَاهِيَةٌwaahiyatunyang lemah
Inti bacaan
Kerapuhan struktur kosmik: 'langit terbelah, karena pada hari itu ia rapuh', pengungkapan bahwa bahkan langit yang tampak kokoh dan abadi memiliki batas ketahanan, tidak ada struktur alam semesta yang benar-benar tak terhingga kekuatannya.
Penjelasan pilihan kata
Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (وَانْشَقَّتِ, wansyaqqati) dan (وَاهِيَةٌ, waahiyatun). Yang pertama berarti terbelah, dengan bentuk yang menyatakan terjadinya sendiri tanpa disebut siapa yang membelah. Yang kedua berasal dari akar yang berarti lusuh, renggang, dan lemah seperti kain yang benangnya sudah mengurai.
Gambaran kain itu perlu ditahan baik-baik. Langit tidak digambarkan retak seperti batu atau pecah seperti kaca, melainkan lusuh seperti bahan tenunan yang sudah aus. Yang aus tidak perlu dipukul untuk robek; ia robek karena serat penahannya sudah tidak sanggup lagi. Terjemahan 'rapuh' menahan kelemahannya, dan unsur kain yang mengurai itu sedikit larut.
Susunan kalimatnya juga terbalik dari kebiasaan bercerita. Yang disebut lebih dulu adalah terbelahnya, baru sesudah itu sebabnya. Dalam susunan Indonesia, kata 'karena' di terjemahan menahan hubungan sebab itu. Pembaca melihat akibatnya lebih dulu dan baru diberi tahu alasannya, dan urutan seperti itu memang cara orang menyaksikan kejadian di dunia nyata.
Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) muncul di 15 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia sudah dikenal pembaca dari banyak tempat, dan justru karena itu sifat yang disandingkan kepadanya terasa mengejutkan. Yang selama ini menjadi lambang keluasan dan ketinggian tiba-tiba diberi sifat yang biasa dipakai untuk barang usang.
Sebutan waktunya juga perlu diperhatikan. Rangkaian yang berarti pada hari itu diletakkan di tengah, menyela antara kata ganti dan sifatnya. Penyelaan seperti itu membatasi berlakunya sifat tersebut hanya pada hari itu. Jadi langit tidak sedang disebut rapuh sejak dahulu, melainkan menjadi rapuh pada waktu yang ditentukan.
Bunyi penutupnya pun menyambung rangkaian panjang di surah ini. Sejak 69:1, hampir semua ayat ditutup sebutan berjenis perempuan yang menunjuk pelaku, dan sebutan di sini termasuk di dalamnya. Kerapian bunyi itu berjalan terus meski isinya berpindah dari kisah kaum terdahulu ke gambaran hari kiamat.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu dicatat bahwa bentuk kata kerjanya menyatakan kejadian yang berlangsung pada dirinya sendiri. Tidak ada pelaku yang disebut, dan tidak pula ia berbentuk pasif yang mengandaikan pelaku tersembunyi. Langit digambarkan terbelah seperti benda yang menyerah pada keadaannya sendiri, dan gambaran itu lebih menakutkan daripada langit yang dihancurkan oleh sesuatu dari luar.
Ada satu perbandingan yang menolong di sini. Di tempat lain langit pada hari itu digambarkan meleleh dan memerah seperti minyak yang mendidih. Gambaran itu bertumpu pada panas dan warna. Yang dipakai di ayat ini bertumpu pada bahan dan usia, yaitu tenunan yang seratnya sudah renggang. Dua gambaran itu tidak bertentangan, sebab keduanya memotret hal yang sama dari sisi yang berbeda, dan pembaca yang menyimpan keduanya akan mendapat gambar yang lebih penuh daripada yang memegang satu saja.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan langit terbelah dan rapuh sebagai tanda kehancuran alam semesta. Ayat ini melanjutkan gambaran hari kiamat yang dimulai di 69:13. Sesudah bumi dan gunung diangkat lalu dibenturkan, giliran langit yang disebut. Dua katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya bekerja bersama membentuk satu gambaran yang utuh: sesuatu yang terbelah karena bahannya sudah lusuh.
Gambaran kain itu perlu ditahan baik-baik. Langit tidak digambarkan retak seperti batu atau pecah seperti kaca, melainkan lusuh seperti bahan tenunan yang sudah aus. Yang aus tidak perlu dipukul untuk robek; ia robek karena serat penahannya sudah tidak sanggup lagi. Bagi pembaca, gambaran itu memindahkan langit dari golongan benda yang kokoh ke golongan benda yang punya batas usia. Yang selama ini menjadi lambang keluasan dan ketinggian tiba-tiba diberi sifat yang biasa dipakai untuk barang usang.
Susunan kalimatnya juga terbalik dari kebiasaan bercerita. Yang disebut lebih dulu adalah terbelahnya, baru sesudah itu sebabnya. Pembaca melihat akibatnya lebih dulu dan baru diberi tahu alasannya, dan urutan seperti itu memang cara orang menyaksikan kejadian di dunia nyata. Sementara rangkaian yang berarti pada hari itu diletakkan menyela di tengah, sehingga sifat rapuh itu dibatasi berlakunya hanya pada hari tersebut. Langit tidak sedang disebut rapuh sejak dahulu oleh Allah, melainkan menjadi rapuh pada waktu yang sudah Dia tentukan.
Renungan dan Hikmah
- Sifat penutup ayat ini berasal dari akar yang berarti lusuh, renggang, dan lemah seperti kain yang benangnya sudah mengurai. Langit tidak digambarkan retak seperti batu atau pecah seperti kaca. Yang aus tidak perlu dipukul untuk robek; ia robek karena serat penahannya sudah tidak sanggup lagi. Allah memindahkan langit dari golongan benda yang kokoh ke golongan benda yang punya batas usia, dan pemindahan itu dikerjakan hanya dengan satu kata sifat. Yang kita sebut kokoh selama ini ternyata hanya belum sampai pada batas usianya, dan batas itu sudah ditetapkan sejak awal.
- Yang disebut lebih dulu di ayat ini adalah terbelahnya, baru sesudah itu sebabnya. Pembaca melihat akibatnya lebih dulu dan baru diberi tahu alasannya, dan urutan seperti itu memang cara orang menyaksikan kejadian di dunia nyata. Allah menyusun kalimatnya mengikuti urutan pengalaman, bukan urutan penalaran, sehingga pembaca menyaksikan lebih dahulu dan mengerti kemudian. Orang yang menyaksikan bencana selalu melihat kejadiannya lebih dulu, dan baru bertanya sebabnya sesudah semuanya berhenti.
- Rangkaian yang berarti pada hari itu diletakkan menyela di tengah kalimat, memisahkan kata ganti dari sifatnya. Penyelaan seperti itu membatasi berlakunya sifat tersebut hanya pada hari tersebut. Langit tidak sedang disebut rapuh sejak dahulu oleh Allah, melainkan menjadi rapuh pada waktu yang sudah Dia tentukan. Kekuatan yang kita lihat sekarang adalah pinjaman yang ada masa berlakunya. Kita terbiasa menghitung kekuatan benda dari lamanya ia bertahan, padahal lama bertahan bukan bukti bahwa ia tidak punya ujung.
- Bentuk kata kerja di ayat ini menyatakan kejadian yang berlangsung pada dirinya sendiri. Tidak ada pelaku yang disebut, dan tidak pula ia berbentuk pasif yang mengandaikan pelaku tersembunyi. Langit digambarkan terbelah seperti benda yang menyerah pada keadaannya sendiri, dan gambaran itu lebih menakutkan daripada langit yang dihancurkan oleh sesuatu dari luar. Allah tidak selalu perlu menghancurkan dengan pukulan, sebab menarik kembali daya tahan sudah cukup untuk membuat segalanya runtuh sendiri.
- Sebutan untuk langit di ayat ini muncul di 15 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, jadi ia sudah dikenal pembaca dari banyak tempat. Justru karena itu sifat yang disandingkan kepadanya terasa mengejutkan. Allah memakai kata yang akrab lalu menyandingkannya dengan sifat yang tidak terduga, dan kejutan itu bekerja karena keakrabannya, bukan meskipun keakrabannya. Kata yang sering dibaca mudah menjadi kata yang tidak lagi didengar, dan Allah membangunkannya kembali dengan cara menyandingkannya secara tak terduga.
- Sejak 69:1, hampir semua ayat di surah ini ditutup sebutan berjenis perempuan yang menunjuk pelaku, dan sebutan di ayat ini termasuk di dalamnya. Kerapian bunyi itu berjalan terus meski isinya berpindah dari kisah kaum terdahulu ke gambaran hari kiamat. Kalau satu tali bunyi bisa mengikat isi yang sejauh itu jaraknya, apa lagi yang tersusun rapi tanpa pernah kita sadari? Susunan bunyi yang rapi seperti ini adalah bagian dari mukjizat yang paling mudah dilewatkan pembaca terjemahan.