وَالْمَلَكُ عَلَىٰ أَرْجَائِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan para malaikat di berbagai penjurunya, dan pada hari itu delapan menjunjung Arasy Tuhanmu di atas mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْمَلَكُ عَلَىٰ أَرْجَائِهَاwa-l-malaku 'alaa arjaa'ihaadan para malaikat di berbagai penjurunya
  2. وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌwa-yahmilu 'arsya rabbika fawqahum yawma'idzin tsamaaniyatundan pada hari itu delapan menjunjung Arasy Tuhanmu di atas mereka

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَالْمَلَكُwa-l-malakudan malaikat
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. أَرْجَائِهَاarjaa'ihaapenjurunya
  4. وَيَحْمِلُwa-yahmiludan memikul
  5. عَرْشَ'arsyasinggasana
  6. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  7. فَوْقَهُمْfawqahumdi atas mereka
  8. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  9. ثَمَانِيَةٌtsamaaniyatundelapan

Inti bacaan

Detail organisasi kosmik pada hari itu: 'para malaikat di berbagai penjurunya; dan pada hari itu delapan (malaikat) menjunjung Arasy Tuhanmu', gambaran tatanan yang terorganisir bahkan di tengah kekacauan kosmik, ketertiban ilahi yang tetap terjaga meski struktur fisik alam semesta runtuh.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(malaikat)' tidak dipakai.

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَرْجَائِهَا, arjaa-ihaa), (وَيَحْمِلُ, wa yahmilu), dan (ثَمَانِيَةٌ, tsamaaniyatun). Yang pertama berarti tepi-tepi atau penjuru-penjurunya. Yang kedua berarti dan menjunjung. Yang ketiga berarti delapan.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerjanya itu perlu dihubungkan ke dua tempat lain di surah ini. Akar yang sama dipakai di 69:11 untuk Allah mengangkut manusia ke tempat yang menyelamatkan, dan di 69:14 untuk bumi serta gunung yang diangkat lalu dibenturkan. Di sini akar yang sama dipakai untuk yang menjunjung Arasy. Jadi satu akar muncul tiga kali di surah ini, dan tiga kali itu memuat manusia yang selamat, bumi yang binasa, dan singgasana yang ditinggikan.

Bentuk (وَالْمَلَكُ, wal-malaku) berbentuk tunggal, padahal maksudnya banyak. Dalam bahasa Arab, sebutan tunggal seperti ini bisa dipakai untuk menunjuk seluruh jenisnya sekaligus. Terjemahan 'para malaikat' menahan maksudnya, dan bentuk tunggalnya larut. Sebutan yang sama dalam bentuk ini muncul di 2 ayat: 69:17 dan 89:22, dan keduanya berbicara tentang hari yang sama.

Angkanya sendiri dibiarkan tanpa keterangan. Tidak disebut delapan apa. Teks hanya menyebut bilangannya, dan sisanya dibiarkan kosong. Terjemahan menambahkan kata malaikat di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa yang di dalamnya bukan bagian dari teksnya.

Kata (عَرْشَ, 'arsya) muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya, 27:41, justru menyebut singgasana seorang ratu di dunia. Jadi kata yang sama dipakai untuk kursi kekuasaan manusia dan untuk yang tidak sebanding dengannya. Perbandingan itu tidak dinyatakan, tetapi ia tersedia bagi pembaca yang menaruh keduanya berdampingan.

Sapaan (رَبِّكَ, rabbika) berbentuk orang kedua tunggal, ditujukan kepada Nabi. Padahal sejak 69:11 sapaan yang dipakai adalah orang kedua jamak untuk seluruh pembaca. Perpindahan dari banyak ke satu itu terjadi tepat pada ayat yang paling tinggi gambarannya, seolah di tengah keramaian yang mahabesar itu ada satu orang yang tetap disapa sendiri.

Perlu diperhatikan letak semua unsurnya. Malaikat berada di tepi-tepi langit, dan yang delapan itu di atas mereka. Jadi ayat ini menyusun tingkatan: langit yang sudah terbelah di bawah, malaikat di tepinya, yang delapan di atas mereka, dan Arasy di atas semuanya. Ketika bumi dan langit sudah tidak lagi menjadi tempat berpijak, susunan yang tersisa justru menjadi jelas.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan malaikat menjunjung Arasy pada Hari Kiamat. Ayat ini menyusun tingkatan pada saat semua tempat berpijak sudah hilang. Langit yang sudah terbelah di bawah, malaikat di tepi-tepinya, yang delapan di atas mereka, dan Arasy di atas semuanya. Ketika bumi dan langit tidak lagi berfungsi sebagai tempat, susunan yang tersisa justru menjadi jelas. Tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Kata kerjanya perlu dihubungkan ke dua tempat lain di surah ini. Akar yang sama dipakai di 69:11 untuk Allah mengangkut manusia ke tempat yang menyelamatkan, dan di 69:14 untuk bumi serta gunung yang diangkat lalu dibenturkan. Di sini akar yang sama dipakai untuk yang menjunjung Arasy. Satu akar muncul tiga kali di surah ini, dan tiga kali itu memuat manusia yang selamat, bumi yang binasa, dan singgasana yang ditinggikan. Semua yang bergerak pada hari itu bergerak karena diangkat, dan tidak ada satu pun yang bergerak dengan tenaganya sendiri.

Angkanya dibiarkan tanpa keterangan. Tidak disebut delapan apa, dan teks hanya menyebut bilangannya. Terjemahan menambahkan kata malaikat di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa yang di dalamnya bukan bagian dari teksnya. Sementara sapaan untuk Tuhan di sini berbentuk orang kedua tunggal, ditujukan kepada Nabi, padahal sejak 69:11 yang dipakai adalah orang kedua jamak untuk seluruh pembaca. Perpindahan dari banyak ke satu itu terjadi tepat pada ayat yang paling tinggi gambarannya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja di ayat ini dipakai juga di 69:11 untuk Allah mengangkut manusia ke tempat yang menyelamatkan, dan di 69:14 untuk bumi serta gunung yang diangkat lalu dibenturkan. Satu akar muncul tiga kali di surah ini, memuat manusia yang selamat, bumi yang binasa, dan singgasana yang ditinggikan. Semua yang bergerak pada hari itu bergerak karena diangkat, dan tidak satu pun bergerak dengan tenaganya sendiri. Kedudukan segala sesuatu pada hari itu ditentukan oleh siapa yang mengangkatnya, bukan oleh berat atau besarnya sendiri.
  • Ayat ini menyusun tingkatan justru pada saat semua tempat berpijak sudah hilang: langit yang terbelah di bawah, malaikat di tepi-tepinya, yang delapan di atas mereka, dan Arasy di atas semuanya. Ketika bumi dan langit tidak lagi berfungsi sebagai tempat, susunan yang ditetapkan Allah justru menjadi jelas. Yang runtuh ternyata hanya bangunan yang kita pakai untuk mengukur, bukan tatanan yang sebenarnya. Runtuhnya alat ukur kita bukan berarti runtuhnya yang diukur, dan Allah memperlihatkan bedanya justru pada saat semuanya runtuh.
  • Angkanya dibiarkan tanpa keterangan di ayat ini. Tidak disebut delapan apa, dan teks hanya menyebut bilangannya. Terjemahan menambahkan kata malaikat di dalam kurung, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa yang di dalamnya bukan bagian dari teksnya. Allah menyebut jumlah tanpa menyebut jenisnya, dan pembaca yang jujur akan berhenti di batas yang disediakan teksnya. Berhenti pada batas yang disediakan teks adalah bentuk kejujuran yang jarang, sebab akal selalu tergoda melengkapi yang sengaja dikosongkan.
  • Sapaan untuk Tuhan di ayat ini berbentuk orang kedua tunggal, ditujukan kepada Nabi, padahal sejak 69:11 yang dipakai adalah orang kedua jamak untuk seluruh pembaca. Perpindahan dari banyak ke satu terjadi tepat pada ayat yang paling tinggi gambarannya. Di tengah keramaian yang mahabesar itu Allah tetap menyapa satu orang sendirian, dan kedekatan itu tidak hilang oleh besarnya peristiwa. Sapaan yang menyendiri di tengah gambaran sebesar itu adalah penghiburan yang diletakkan Allah tanpa satu kata penghiburan pun.
  • Sebutan untuk singgasana di ayat ini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya, 27:41, menyebut singgasana seorang ratu di dunia. Kata yang sama dipakai untuk kursi kekuasaan manusia dan untuk yang tidak sebanding dengannya. Perbandingan itu tidak dinyatakan Allah, tetapi ia tersedia bagi pembaca yang menaruh keduanya berdampingan. Kekuasaan manusia dan kekuasaan Allah memakai kata yang sama dalam bahasa manusia, dan itu sendiri sudah menunjukkan batas bahasa kita.
  • Sebutan untuk malaikat di ayat ini berbentuk tunggal, padahal maksudnya banyak, sebab dalam bahasa Arab sebutan tunggal bisa menunjuk seluruh jenisnya sekaligus. Terjemahan memilih bentuk jamak supaya jelas, dan bentuk tunggalnya larut. Kalau satu kata bisa memuat seluruh golongan sekaligus, seberapa banyak yang sebenarnya sedang kita baca setiap kali membuka satu ayat? Satu ayat pendek bisa memuat seluruh golongan makhluk, dan kepadatan seperti itu menuntut pembaca yang membaca perlahan.