فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ
Maka adapun orang yang diberi kitabnya di tangan kanannya, dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku ini!
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْfa-ammaa man uutiya kitaabahu bi-yamiinihi fa-yaquulu haa'umu qra'uu kitaabiyahmaka adapun orang yang diberi kitabnya di tangan kanannya, dia berkata, 'ambillah, bacalah kitabku ini!'
Terjemahan per kata (9 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- مَنْmanorang yang
- أُوتِيَuutiyadiberikan
- كِتَابَهُkitaabahukitabnya
- بِيَمِينِهِbi-yamiinihidengan tangan kanan-Nya
- فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
- هَاؤُمُhaa'umuambillah kalian
- اقْرَءُواqra'uubacalah kalian
- كِتَابِيَهْkitaabiyahkitabku
Inti bacaan
Kegembiraan spontan yang dibagikan: penerima kitab di tangan kanan berkata 'ambillah, bacalah kitabku ini!', respons antusias yang ingin membagikan hasil baik kepada orang lain, kontras dengan kecenderungan menyembunyikan kegagalan, kebanggaan yang lahir dari pencapaian yang layak dibanggakan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (هَاؤُمُ, haa-umu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia adalah kata seru yang berarti ambillah, terimalah, silakan pegang. Bentuknya jamak, jadi bukan ditujukan kepada satu orang melainkan kepada banyak orang. Begitu pula (اقْرَءُوا, iqra-uu) yang berarti bacalah, juga berbentuk jamak, dan kata itu muncul di 2 ayat: 69:19 dan 73:20.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Dua kata seru berbentuk jamak berurutan itu menggambarkan sikap. Orang ini tidak menyimpan catatannya, tidak membacanya sendiri, dan tidak menunggu ditanya. Ia menyodorkannya kepada siapa saja yang ada di sekitarnya dan meminta mereka membacanya. Terjemahan 'Ambillah, bacalah kitabku ini' menahan kegembiraannya, dan bentuk jamak dari kedua kata seru itu larut.
Kata (كِتَابِيَهْ, kitaabiyah) muncul di 2 ayat: 69:19 dan 69:25. Keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang menerima catatannya di tangan kanan, yang kedua diucapkan orang yang menerimanya dari arah lain. Satu kata yang sama dipakai untuk dua nasib yang berlawanan, dan bedanya hanya terletak pada kalimat yang mengelilinginya.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Huruf terakhir pada kata itu perlu diterangkan. Dalam bahasa Arab ada huruf yang ditambahkan di ujung kata hanya ketika bacaannya berhenti, dan huruf itu tidak menambah arti apa pun. Ia ada murni untuk menutup bunyi. Huruf semacam itu dipakai berulang kali di rangkaian ayat ini, sehingga seluruh bagiannya berbunyi seragam. Kehadiran huruf yang tidak berarti apa-apa tetapi ditulis dan dibaca adalah tanda bahwa bunyi memang bagian dari pesannya.
Susunan (فَأَمَّا, fa-ammaa) yang membuka ayat ini menandai pemilahan, sama seperti yang membuka 69:5. Di sana pasangannya datang di ayat berikutnya, di sini pasangannya baru datang di 69:25. Jadi surah ini memakai cetakan pemilahan yang sama dua kali: sekali untuk dua kaum yang binasa, sekali untuk dua orang yang dihisab. Jarak antara sepasang yang kedua jauh lebih panjang daripada yang pertama.
Bentuk (أُوتِيَ, uutiya) berbentuk pasif. Bunyinya diberi, tanpa menyebut siapa yang memberi. Cara ini sama dengan yang dipakai di ayat-ayat sebelumnya untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Yang menerima disorot, yang memberi tidak disebut, dan pembaca sudah tahu tanpa perlu diberi tahu.
Perlu dicatat bahwa (بِيَمِينِهِ, biyamiinihi) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an. Arahnya disebut, bukan isinya. Teks tidak mengatakan bahwa catatannya berisi kebaikan; yang disebut hanya dari sisi mana ia diterima. Kegembiraan orang itu lahir dari arah penyerahan, dan itu berarti arahnya sendiri sudah cukup menjadi kabar.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kegembiraan penerima kitab dari tangan kanan. Ayat ini membuka babak penghisaban dengan cetakan pemilahan yang sama seperti yang dipakai di 69:5. Di sana pasangannya datang di ayat berikutnya, di sini pasangannya baru datang di 69:25. Surah ini memakai cetakan yang sama dua kali: sekali untuk dua kaum yang binasa, sekali untuk dua orang yang dihisab. Jarak antara sepasang yang kedua jauh lebih panjang daripada yang pertama, dan panjangnya itu diisi ucapan orang yang gembira.
Kegembiraannya terbaca dari bentuk kata serunya. Ada dua kata seru berurutan di ayat ini, dan keduanya berbentuk jamak, jadi bukan ditujukan kepada satu orang melainkan kepada banyak orang. Yang pertama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Orang ini tidak menyimpan catatannya, tidak membacanya sendiri, dan tidak menunggu ditanya. Ia menyodorkannya kepada siapa saja yang ada di sekitarnya dan meminta mereka membacanya. Terjemahan menahan kegembiraannya, dan bentuk jamak dari kedua kata seru itu larut.
Yang disebut Allah hanyalah arah penyerahannya, bukan isi catatannya. Teks tidak mengatakan bahwa catatannya berisi kebaikan; yang disebut hanya dari sisi mana ia diterima, dan sebutan arah itu muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an. Kegembiraan orang itu lahir dari arah penyerahan, dan itu berarti arahnya sendiri sudah cukup menjadi kabar. Sementara kata kerjanya berbentuk pasif, sehingga bunyinya diberi tanpa menyebut siapa yang memberi sama sekali. Yang menerima disorot, yang memberi tidak disebut, dan pembaca sudah tahu tanpa perlu diberi tahu.
Renungan dan Hikmah
- Ada dua kata seru berurutan di ayat ini, dan keduanya berbentuk jamak, jadi bukan ditujukan kepada satu orang melainkan kepada banyak orang. Yang pertama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Orang ini tidak menyimpan catatannya, tidak membacanya sendiri, dan tidak menunggu ditanya. Ia menyodorkannya kepada siapa saja di sekitarnya, dan kegembiraan yang sampai ke tingkat itu hanya mungkin pada orang yang tidak menyembunyikan apa pun di hadapan Allah.
- Yang disebut Allah di ayat ini hanyalah arah penyerahannya, bukan isi catatannya. Teks tidak mengatakan bahwa catatannya berisi kebaikan; yang disebut hanya dari sisi mana ia diterima, dan sebutan arah itu muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an. Kegembiraan orang itu lahir dari arah penyerahan, dan itu berarti arahnya sendiri sudah cukup menjadi kabar sebelum satu barisnya dibaca. Arah penyerahan yang sudah menjadi kabar berarti keputusannya sudah selesai sebelum pemeriksaan dibacakan kepada siapa pun.
- Sebutan untuk catatan di ayat ini muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:25, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang menerimanya di tangan kanan, yang kedua diucapkan orang yang menerimanya dari arah lain. Satu kata yang sama dipakai untuk dua nasib yang berlawanan, dan bedanya hanya terletak pada kalimat yang mengelilinginya. Kalimat yang sama bisa berbunyi gembira atau putus asa, dan yang menentukan bukan kata-katanya melainkan keadaan yang mengucapkannya.
- Ada huruf tambahan di ujung kata terakhir ayat ini yang hanya muncul ketika bacaannya berhenti, dan huruf itu tidak menambah arti apa pun. Ia ada murni untuk menutup bunyi, dan dipakai berulang di rangkaian ayat ini sehingga seluruh bagiannya berbunyi seragam. Kehadiran huruf yang tidak berarti apa-apa tetapi tetap ditulis adalah tanda bahwa bunyi memang bagian dari pesan yang diturunkan Allah. Bacaan yang dijaga bunyinya sampai ke huruf yang tak berarti adalah bacaan yang dipelihara Allah sampai ke tingkat yang paling kecil.
- Susunan pembuka ayat ini menandai pemilahan, sama seperti yang membuka 69:5, tetapi pasangannya baru datang di 69:25. Surah ini memakai cetakan yang sama dua kali: sekali untuk dua kaum yang binasa, sekali untuk dua orang yang dihisab. Allah menyusun bagian awal dan bagian akhir surah ini dengan rangka yang sama, dan kesamaan rangka itu mengikat keduanya meski isinya berbeda jauh. Rangka yang sama dipakai untuk kisah kebinasaan dan untuk kisah penghisaban, dan kesamaan itu menyatakan bahwa keduanya satu perkara.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk pasif, sehingga bunyinya diberi tanpa menyebut siapa yang memberi, dan bentuk seperti itu dipakai juga di 69:25 untuk orang yang bernasib sebaliknya. Cara ini sama dengan yang dipakai di ayat sebelumnya untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Kalau catatan hidup kita diserahkan tanpa kita sempat menyentuh cara penyusunannya, apa yang sebenarnya masih berada dalam kuasa kita hari ini? Yang masih berada dalam kuasa kita hanyalah isi yang dicatat, bukan cara pencatatannya, dan itu sudah cukup untuk menjadi urusan seumur hidup.