إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ

Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui perhitunganku.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْinnii zhanantu annii mulaaqin hisaabiyah'sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui perhitunganku'

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  2. ظَنَنْتُzhanantuaku menyangka
  3. أَنِّيanniibahwa aku
  4. مُلَاقٍmulaaqinyang menemui
  5. حِسَابِيَهْhisaabiyahperhitunganku

Inti bacaan

Keyakinan yang membentuk perilaku: 'sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui perhitunganku', pengakuan bahwa kesadaran akan akuntabilitas di masa depan telah membentuk keputusan hidup di masa lalu, keyakinan teoretis yang benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan konsisten.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مُلَاقٍ, mulaaqin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk pelaku dari akar yang berarti bertemu, dan bentuk ini menyatakan pertemuan yang pasti akan terjadi. Bunyinya orang yang akan berjumpa, bukan orang yang sudah berjumpa atau yang mungkin berjumpa.

Kata kerja (ظَنَنْتُ, zhanantu) perlu diterangkan hati-hati. Akarnya menampung dua arti yang berjauhan: mengira tanpa kepastian, dan yakin sepenuhnya. Yang menentukan mana yang berlaku adalah keadaan kalimatnya. Di sini artinya yakin, sebab yang bicara sedang bergembira atas kebenaran perkiraannya. Terjemahan 'aku yakin' memilih sisi itu, dan pilihannya tepat.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Yang menarik, kata kerja seakar dipakai juga di 72:7 untuk mereka yang mengira bahwa tidak akan ada kebangkitan. Jadi satu akar yang sama menampung dugaan yang keliru dan keyakinan yang benar. Yang membedakan bukan katanya, melainkan siapa yang mengucapkannya dan apa yang diduganya.

Kata (حِسَابِيَهْ, hisaabiyah) muncul di 2 ayat: 69:20 dan 69:26. Keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang gembira, yang kedua diucapkan orang yang menyesal. Pasangan itu sejajar dengan pasangan yang sudah muncul di 69:19 dan 69:25, sehingga dua ucapan yang berlawanan itu tersusun dengan dua kata kunci yang sama persis.

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Urutan dua kata kunci itu pun sama di kedua tempat. Catatan disebut lebih dulu, baru perhitungan. Jadi dua pidato yang berlawanan nasibnya memakai rangka yang identik: menyebut catatannya, lalu menyebut perhitungannya. Kesamaan rangka membuat perbedaan isinya terasa jauh lebih tajam daripada kalau keduanya disusun bebas.

Perlu diperhatikan apa yang sebenarnya dijadikan alasan kegembiraan di sini. Yang disebut bukan banyaknya amal, bukan lamanya ibadah, bukan pula beratnya pengorbanan. Yang disebut adalah keyakinan bahwa perhitungan itu akan datang. Susunan seperti itu meletakkan keyakinan akan adanya hisab sebagai pangkal, dan segala amal sebagai buah yang tumbuh dari pangkal tersebut.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Akhiran pada kata terakhirnya juga menyambung rangkaian bunyi yang dipakai di seluruh bagian ini. Huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti itu dipakai berulang di 69:19 sampai 69:29, sehingga semua ucapan di bagian tersebut berbunyi seragam. Dua orang yang nasibnya berlawanan berbicara dengan irama yang sama, dan keseragaman bunyi itu justru menonjolkan pertentangan isinya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan pernyataan keyakinan penerima kitab tangan kanan. Ayat ini menutup ucapan orang yang menerima catatannya di tangan kanan, dan yang dijadikannya alasan kegembiraan patut diperhatikan baik-baik. Yang disebut bukan banyaknya amal, bukan lamanya ibadah, bukan pula beratnya pengorbanan. Yang disebut adalah keyakinan bahwa perhitungan itu akan datang. Susunan seperti itu meletakkan keyakinan akan adanya hisab sebagai pangkal, dan segala amal sebagai buah yang tumbuh dari pangkal tersebut.

Kata kerjanya perlu diterangkan hati-hati. Akarnya menampung dua arti yang berjauhan: mengira tanpa kepastian, dan yakin sepenuhnya. Yang menentukan mana yang berlaku adalah keadaan kalimatnya, dan di sini artinya yakin, sebab yang bicara sedang bergembira atas kebenaran perkiraannya. Kata kerja seakar dipakai juga di 72:7 untuk mereka yang mengira bahwa tidak akan ada kebangkitan. Satu akar yang sama menampung dugaan yang keliru dan keyakinan yang benar, dan yang membedakan bukan katanya melainkan siapa yang mengucapkannya.

Kata terakhirnya muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:26, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang gembira, yang kedua diucapkan orang yang menyesal. Pasangan itu sejajar dengan pasangan yang sudah muncul di 69:19 dan 69:25, dan urutan dua kata kuncinya pun sama di kedua tempat: catatan disebut lebih dulu, baru perhitungan. Allah menyusun dua pidato yang berlawanan nasibnya dengan rangka yang identik, dan kesamaan rangka membuat perbedaan isinya terasa jauh lebih tajam.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dijadikan alasan kegembiraan di ayat ini bukan banyaknya amal, bukan lamanya ibadah, bukan pula beratnya pengorbanan. Yang disebut adalah keyakinan bahwa perhitungan itu akan datang. Allah meletakkan keyakinan akan adanya hisab sebagai pangkal, dan segala amal sebagai buah yang tumbuh dari pangkal tersebut. Orang yang benar-benar yakin akan ditanya tidak perlu didorong untuk berbuat, sebab keyakinannya sendiri yang mendorongnya. Amal yang lahir dari keyakinan tidak perlu diawasi, sebab pengawasnya sudah ada di dalam dada orang yang mengerjakannya.
  • Akar kata kerja di ayat ini menampung dua arti yang berjauhan: mengira tanpa kepastian, dan yakin sepenuhnya. Kata kerja seakar dipakai juga di 72:7 untuk mereka yang mengira bahwa tidak akan ada kebangkitan. Satu akar yang sama menampung dugaan yang keliru dan keyakinan yang benar. Yang membedakan bukan katanya, melainkan siapa yang mengucapkannya dan apa yang diduganya tentang janji Allah. Dua orang bisa memakai kata yang persis sama untuk menyatakan sikap yang bertolak belakang, dan itu sebabnya kata saja tidak pernah cukup untuk menilai seseorang.
  • Kata terakhir ayat ini muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:26, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Urutan dua kata kuncinya sama di kedua tempat: catatan disebut lebih dulu, baru perhitungan. Allah menyusun dua pidato yang berlawanan nasibnya dengan rangka yang identik, dan kesamaan rangka membuat perbedaan isinya terasa jauh lebih tajam daripada kalau keduanya disusun bebas. Rangka yang dipakai berulang oleh Allah membuat pembaca membandingkan tanpa disuruh, dan perbandingan yang muncul sendiri lebih meyakinkan daripada yang disodorkan.
  • Kata untuk berjumpa di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya menyatakan pertemuan yang pasti akan terjadi. Bunyinya orang yang akan berjumpa, bukan orang yang mungkin berjumpa. Allah memakai bentuk yang tidak menyisakan keraguan, dan orang yang mengucapkannya di ayat ini memang sudah membuktikan sendiri bahwa dugaannya benar. Yang menunggu di ujung bukan kemungkinan melainkan kepastian, dan kepastian itu sudah ditetapkan Allah jauh sebelum kita sempat mempertimbangkannya.
  • Huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti dipakai berulang di 69:19 sampai 69:29, sehingga semua ucapan di bagian tersebut berbunyi seragam. Dua orang yang nasibnya berlawanan berbicara dengan irama yang sama. Keseragaman bunyi itu justru menonjolkan pertentangan isinya, sebab telinga tidak menemukan perbedaan sedikit pun sementara hati menangkap jurang di antara keduanya. Al-Qur'an menyusun bunyi dan makna sekaligus, dan pembaca yang hanya mengejar makna sedang meninggalkan separuh bangunannya.
  • Orang ini bergembira bukan karena mendapat kejutan, melainkan karena mendapati bahwa yang selama ini diyakininya ternyata benar. Seluruh hidupnya disusun di atas satu dugaan, dan pada hari itu dugaannya terbukti. Kalau seluruh nasib bisa bergantung pada apa yang kita duga tentang hari perhitungan, seberapa serius kita pernah memeriksa dugaan kita sendiri? Dugaan yang tidak pernah diperiksa akan tetap menjadi dugaan sampai hari ketika memeriksanya sudah terlambat.