فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ
Maka dia berada dalam kehidupan yang diridai,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍfa-huwa fii 'iisyatin raadhiyatinmaka dia berada dalam kehidupan yang diridai
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَهُوَfa-huwamaka dia
- فِيfiidalam
- عِيشَةٍ'iisyatinkehidupan
- رَاضِيَةٍraadhiyatinyang rida
Inti bacaan
Hasil dari keyakinan yang konsisten: 'ia berada dalam kehidupan yang diridai', konsekuensi positif yang mengikuti dari kesadaran dan tindakan yang selaras, kepuasan yang berasal dari keselarasan antara keyakinan dan perbuatan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (عِيشَةٍ, 'iisyatin) muncul di 2 ayat: 101:7 dan 69:21. Begitu pula (رَاضِيَةٍ, raadhiyatin), yang muncul di 2 ayat yang sama. Jadi rangkaian dua kata ini hanya bertemu di dua tempat di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya sama-sama berbicara tentang balasan orang yang timbangannya berat.
Tautan dengan surah 101 itu bukan yang pertama di surah ini. Di 69:4 hari kiamat disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah tersebut. Jadi dua surah ini bertaut dua kali: sekali lewat nama hari itu, sekali lewat lukisan balasannya. Pembaca yang mengenali keduanya akan melihat bahwa dua surah yang berjauhan letaknya ternyata memakai bahan yang sama.
Sifat (رَاضِيَةٍ, raadhiyatin) perlu dibedah. Ia berbentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai, jadi arti harfiahnya kehidupan yang rida, bukan kehidupan yang diridai. Dalam bahasa Arab, sifat pemiliknya kadang dipindahkan kepada barangnya. Terjemahan 'yang diridai' memilih membalik arahnya supaya terdengar wajar dalam bahasa Indonesia, dan pemindahan sifat itu larut.
Perbedaan arah tersebut membawa perbedaan rasa. Kehidupan yang rida berarti kehidupan yang di dalamnya tidak ada yang kurang, sampai-sampai kehidupannya sendiri seolah puas dengan dirinya. Kehidupan yang diridai berarti ada pihak lain yang menyetujuinya. Keduanya benar, tetapi yang pertama melukiskan keadaan dari dalam, dan yang kedua dari luar.
Kata (فَهُوَ, fahuwa) yang membuka ayat ini adalah jawaban atas pemilahan yang dibuka di 69:19. Jawabannya ditunda dua ayat, dan selama tertunda itu pembaca mendengar dulu ucapan orang tersebut. Susunan menunda jawaban seperti ini sudah dipakai di 69:13 sampai 69:15, jadi surah ini memakai cara yang sama dua kali untuk dua bagian yang berbeda.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata pertamanya tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu kehidupan, bukan kehidupan itu. Bentuk tidak tertentu di tempat seperti ini dipakai untuk menyatakan sesuatu yang besar dan tidak terjangkau gambaran. Yang dimaksud bukan sembarang kehidupan, melainkan kehidupan yang tidak bisa ditunjuk karena belum ada bandingnya.
Perlu dicatat bahwa yang digambarkan di sini adalah keadaan, bukan tempat. Tempatnya baru disebut di ayat berikutnya. Jadi urutannya rasa dulu, baru lokasi. Susunan seperti itu mendahulukan yang paling dirindukan manusia, sebab orang tidak merindukan tempat melainkan merindukan keadaan yang bisa dirasakannya di tempat itu.
Ada satu perbandingan yang menolong di sini. Di 69:5 dan 69:6, dua kaum yang binasa dipilah dengan susunan yang sama seperti yang dipakai di 69:19, dan di sana jawabannya datang di ayat itu juga tanpa ditunda. Di bagian ini jawabannya justru ditahan dua ayat. Perbedaan perlakuan itu sendiri berbicara: kebinasaan disampaikan sependek mungkin, sedangkan keselamatan diberi ruang untuk diceritakan lebih dahulu oleh yang mengalaminya.
Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Susunan kata di ayat ini pun hanya tiga patah, dan bunyinya bersambung rapat. Sesudah dua ayat berisi ucapan yang panjang, datang kalimat yang seperti dihela dalam satu tarikan napas. Perubahan panjang seperti itu dipakai berulang di surah ini, dan kali ini ia menandai perpindahan dari suara manusia kembali ke suara yang menceritakan.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kehidupan yang diridai bagi orang beriman. Ayat ini adalah jawaban atas pemilahan yang dibuka di 69:19. Jawabannya ditunda dua ayat, dan selama tertunda itu pembaca mendengar dulu ucapan orang tersebut. Susunan menunda jawaban seperti ini sudah dipakai di 69:13 sampai 69:15, jadi surah ini memakai cara yang sama dua kali untuk dua bagian yang berbeda.
Dua kata di ayat ini masing-masing muncul di 2 ayat, dan keduanya bertemu di tempat yang sama: 101:7 dan 69:21. Rangkaian dua kata ini hanya ada di dua tempat di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya sama-sama berbicara tentang balasan orang yang timbangannya berat. Tautan dengan surah 101 itu bukan yang pertama di surah ini, sebab di 69:4 hari kiamat disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah tersebut. Dua surah ini bertaut dua kali: sekali lewat nama hari itu, sekali lewat lukisan balasannya.
Sifat penutupnya perlu dibedah. Ia berbentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai, jadi arti harfiahnya kehidupan yang rida, bukan kehidupan yang diridai. Dalam bahasa Arab, sifat pemiliknya kadang dipindahkan kepada barangnya. Terjemahan memilih membalik arahnya supaya terdengar wajar dalam bahasa Indonesia, dan pemindahan sifat itu larut. Perbedaan arah tersebut membawa perbedaan rasa: kehidupan yang rida melukiskan keadaan dari dalam, sedangkan kehidupan yang diridai melukiskannya dari luar. Yang digambarkan Allah di sini pun keadaan, bukan tempat, sebab tempatnya baru disebut di ayat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata di ayat ini hanya bertemu di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu di sini dan di 101:7, dan keduanya berbicara tentang balasan orang yang timbangannya berat. Tautan itu bukan yang pertama, sebab di 69:4 hari kiamat disebut dengan sebutan yang menjadi nama surah tersebut. Allah menautkan dua surah yang berjauhan letaknya dua kali sekaligus, lewat nama hari itu dan lewat lukisan balasannya. Bahan yang sama dipakai Allah di tempat yang berjauhan, dan pembaca yang menyimpan keduanya akan melihat satu bangunan tempat orang lain melihat dua serpihan.
- Sifat penutup ayat ini berbentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai, jadi arti harfiahnya kehidupan yang rida. Dalam bahasa Arab, sifat pemiliknya kadang dipindahkan kepada barangnya. Terjemahan membalik arahnya supaya terdengar wajar, dan pemindahan sifat itu larut. Yang hilang adalah gambaran hidup yang begitu penuh sampai hidupnya sendiri seolah puas dengan dirinya. Kepuasan yang datang dari keadaan itu sendiri tidak bisa dicabut oleh siapa pun, sedangkan kepuasan yang bergantung pada penilaian selalu rapuh.
- Yang digambarkan Allah di ayat ini adalah keadaan, bukan tempat, sebab tempatnya baru disebut di ayat berikutnya. Urutannya rasa dulu, baru lokasi. Susunan seperti itu mendahulukan yang paling dirindukan manusia, sebab orang sebenarnya tidak merindukan tempat melainkan merindukan keadaan yang bisa dirasakannya ketika berada di tempat itu. Allah menyebut yang paling dirindukan lebih dulu, dan urutan itu memperlihatkan bahwa Dia mengenal apa yang sebenarnya dicari manusia.
- Ayat ini menjawab pemilahan yang dibuka di 69:19, dan jawabannya ditunda dua ayat. Selama tertunda itu pembaca mendengar dulu ucapan orang tersebut. Susunan menunda jawaban sudah dipakai di 69:13 sampai 69:15, jadi surah ini memakai cara yang sama dua kali. Allah membiarkan pembaca menunggu, dan yang ditunggu selalu terasa lebih berharga daripada yang langsung diserahkan. Penundaan yang disengaja adalah cara mengajar, bukan kelambatan, dan seluruh surah ini memakainya dengan tertib.
- Bentuk kata pertama di ayat ini tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu kehidupan, bukan kehidupan itu. Bentuk tidak tertentu di tempat seperti ini dipakai untuk menyatakan sesuatu yang besar dan tidak terjangkau gambaran. Yang dijanjikan Allah bukan sembarang kehidupan, melainkan kehidupan yang tidak bisa ditunjuk karena belum ada bandingnya di dunia ini. Yang tidak ada bandingnya memang tidak bisa dilukiskan dengan tepat, dan Allah memilih membiarkannya terbuka daripada mempersempitnya.
- Kehidupan yang rida berarti kehidupan yang di dalamnya tidak ada yang kurang. Kehidupan yang diridai berarti ada pihak lain yang menyetujuinya. Keduanya benar, dan keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kepuasan yang kita kejar sekarang selalu bergantung pada penilaian orang lain, sudah pernahkah kita mencicipi kepuasan yang datang dari keadaan itu sendiri? Rida yang dirasakan dan rida yang diberikan sebenarnya bertemu di satu titik, sebab keduanya bersumber dari Allah yang sama.