قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ
Buah-buahannya dekat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُطُوفُهَا دَانِيَةٌquthuufuhaa daaniyatunbuah-buahannya dekat
Terjemahan per kata (2 kata)
- قُطُوفُهَاquthuufuhaabuah-buahnya
- دَانِيَةٌdaaniyatunyang dekat
Inti bacaan
Kemudahan menikmati hasil: 'buah-buahannya dekat (dapat dipetik)', aksesibilitas yang tidak memerlukan usaha berlebihan, kontras dengan perjuangan yang mungkin diperlukan untuk mencapai kenikmatan serupa di dunia.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(dapat dipetik)' tidak dipakai.
Kata (قُطُوفُهَا, quthuufuhaa) muncul di 2 ayat: 69:23 dan 76:14. Ia berbentuk jamak dan berarti tandan atau untaian buah yang siap dipetik. Kata (دَانِيَةٌ, daaniyatun) juga muncul di 2 ayat: 69:23 dan 6:99, dan artinya dekat, merunduk, terjangkau.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Perbandingan dengan 6:99 patut dicatat baik-baik. Di sana kata yang sama dipakai untuk untaian kurma di dunia yang merunduk sampai bisa diraih tangan. Jadi gambaran surga di ayat ini dipinjam dari pemandangan yang bisa dilihat siapa saja di kebun. Yang dijanjikan dilukiskan dengan bahan yang sudah dikenal, bukan dengan bahan yang belum pernah ditemui.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Akar kata keduanya berarti mendekat. Yang mendekat adalah buahnya, bukan orangnya. Susunan itu membalik kebiasaan dunia, tempat orang harus mendatangi, memanjat, dan menjangkau. Di sini yang dijanjikan datang sendiri ke arah yang menikmatinya, dan pembalikan arah itu terletak pada satu kata saja.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Ayat ini hanya terdiri atas dua patah kata, dan tidak ada kata kerja sama sekali di dalamnya. Ia adalah kalimat yang menerangkan keadaan, bukan yang menceritakan kejadian. Kalimat tanpa kata kerja dalam bahasa Arab menyatakan sesuatu yang tetap, bukan yang sedang berlangsung lalu berhenti. Jadi keadaan itu bukan sesaat, melainkan tetap begitu.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata ganti perempuan yang menempel di kata pertama menunjuk kembali ke surga yang disebut di 69:22. Jadi tiga ayat berturut-turut menyusun satu gambaran bertahap: keadaannya di 69:21, tempatnya di 69:22, dan isinya di sini. Tiap ayat menambah satu lapis dan tidak lebih, sehingga gambarannya tersusun perlahan di kepala pembaca.
Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Di tempat lain yang memuat kata pertamanya, yaitu 76:14, tandan buah itu digambarkan ditundukkan dengan penundukan yang sempurna. Jadi dua ayat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang buah yang direndahkan sampai mudah dicapai. Kemudahan mencapainya ternyata disebut berulang, dan pengulangan itu menandai bahwa yang penting bukan hanya buahnya melainkan tidak adanya usaha untuk meraihnya.
Perlu dicatat betapa sedikit yang disebut di sini. Tidak ada rasa, tidak ada warna, tidak ada nama buah. Yang disebut hanya jaraknya. Pilihan sehemat itu memindahkan perhatian dari kelezatan ke kemudahan, dan bagi orang yang sepanjang hidupnya bersusah payah, kemudahan memang bisa terasa lebih berharga daripada kelezatan.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kemudahan memetik buah sebagai simbol kenikmatan. Ayat ini melengkapi rangkaian tiga langkah yang dimulai di 69:21. Keadaannya disebut lebih dulu, lalu tempatnya, dan sekarang isinya. Tiap ayat menambah satu lapis dan tidak lebih, sehingga gambarannya tersusun perlahan di kepala pembaca. Kata ganti perempuan yang menempel di kata pertamanya menunjuk kembali ke surga yang disebut di 69:22.
Dua katanya masing-masing muncul di 2 ayat, dan perbandingan dengan salah satunya patut dicatat baik-baik. Di 6:99 kata yang berarti dekat dipakai untuk untaian kurma di dunia yang merunduk sampai bisa diraih tangan. Gambaran surga di sini dipinjam dari pemandangan yang bisa dilihat siapa saja di kebun. Allah melukiskan yang dijanjikan dengan bahan yang sudah dikenal, bukan dengan bahan yang belum pernah ditemui, sehingga pembaca punya pijakan untuk membayangkannya.
Akar kata keduanya berarti mendekat, dan yang mendekat adalah buahnya, bukan orangnya. Susunan itu membalik kebiasaan dunia, tempat orang harus mendatangi, memanjat, dan menjangkau. Di sini yang dijanjikan datang sendiri ke arah yang menikmatinya, dan pembalikan arah itu terletak pada satu kata saja. Betapa sedikit pula yang disebut: tidak ada rasa, tidak ada warna, tidak ada nama buah, dan yang disebut hanya jaraknya. Pilihan sehemat itu memindahkan perhatian dari kelezatan ke kemudahan.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kedua di ayat ini berarti mendekat, dan yang mendekat adalah buahnya, bukan orangnya. Susunan itu membalik kebiasaan dunia, tempat orang harus mendatangi, memanjat, dan menjangkau. Allah membalik arah usaha hanya dengan satu kata, dan pembalikan itu menyampaikan lebih banyak tentang keadaan di sana daripada uraian panjang tentang rasa dan bentuknya. Yang sepanjang hidup terbiasa berjinjit untuk meraih akan merasakan bedanya lebih dalam daripada yang tidak pernah kekurangan.
- Kata untuk dekat di ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 6:99, memakainya untuk untaian kurma di dunia yang merunduk sampai bisa diraih tangan. Gambaran surga di sini dipinjam dari pemandangan yang bisa dilihat siapa saja di kebun. Allah melukiskan yang dijanjikan dengan bahan yang sudah dikenal, sehingga pembaca punya pijakan untuk membayangkannya. Bahasa yang dipakai Allah selalu berangkat dari yang bisa dijangkau pendengarnya, dan itu bentuk kasih sayang yang jarang disebut.
- Tidak ada rasa, tidak ada warna, dan tidak ada nama buah di ayat ini. Yang disebut hanya jaraknya. Pilihan sehemat itu memindahkan perhatian dari kelezatan ke kemudahan, dan bagi orang yang sepanjang hidupnya bersusah payah, kemudahan memang bisa terasa lebih berharga daripada kelezatan. Apa yang paling kita rindukan sebenarnya, kenikmatannya atau berhentinya kepayahan? Kelelahan yang berhenti adalah nikmat yang baru terasa besarnya oleh orang yang pernah benar-benar lelah.
- Ayat ini tidak punya kata kerja sama sekali, jadi ia menerangkan keadaan dan bukan menceritakan kejadian. Kalimat tanpa kata kerja dalam bahasa Arab menyatakan sesuatu yang tetap, bukan yang sedang berlangsung lalu berhenti. Yang dijanjikan Allah di sini bukan keadaan sesaat, dan ketetapannya itu tersimpan di dalam bentuk kalimatnya sendiri. Segala yang kita nikmati sekarang punya ujung, dan Allah membedakan yang dijanjikan-Nya justru pada bagian itu.
- Ayat ini melengkapi rangkaian tiga langkah yang dimulai di 69:21: keadaannya, lalu tempatnya, lalu isinya. Tiap ayat menambah satu lapis dan tidak lebih. Allah menyusunnya bertahap, dan gambaran yang tersusun perlahan lebih melekat daripada gambaran yang ditumpahkan sekaligus dalam satu kalimat panjang. Membaca ayat pendek berturut-turut dengan sabar adalah cara menerima gambaran itu sebagaimana ia disusun Allah.
- Kata pertama di ayat ini muncul di 2 ayat, dan di 76:14 tandan buah itu digambarkan ditundukkan dengan penundukan yang sempurna. Dua ayat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang buah yang direndahkan sampai mudah dicapai. Kemudahan meraihnya disebut Allah berulang, dan pengulangan itu menandai bahwa yang penting bukan hanya buahnya melainkan hilangnya usaha untuk meraihnya. Susah payah yang selama ini melekat pada setiap hasil ternyata bukan bagian dari hasil itu sendiri.