كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah dengan nikmat, sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِkuluu wa-syrabuu hanii'an bi-maa aslaftum fii l-ayyaami l-khaaliyati'makan dan minumlah dengan nikmat, sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu'
Terjemahan per kata (8 kata)
- كُلُواkuluumakanlah kalian
- وَاشْرَبُواwa-syrabuudan minumlah kalian
- هَنِيئًاhanii'andengan nikmat
- بِمَاbi-maaatas apa yang
- أَسْلَفْتُمْaslaftumkalian lakukan dahulu
- فِيfiipada
- الْأَيَّامِl-ayyaamihari-hari
- الْخَالِيَةِl-khaaliyatiyang telah lalu
Inti bacaan
Penghargaan yang secara eksplisit dikaitkan dengan usaha masa lalu: 'makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu', penegasan langsung bahwa kenikmatan yang dinikmati bukan kebetulan, melainkan hasil proporsional dari usaha yang telah diinvestasikan sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَسْلَفْتُمْ, aslaftum), (الْأَيَّامِ, al-ayyaami), dan (الْخَالِيَةِ, al-khaaliyati). Yang pertama berarti kalian dahulukan atau kalian kirimkan lebih dulu. Yang kedua berarti hari-hari itu. Yang ketiga berarti yang telah berlalu.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Kata pertama itu perlu dibedah. Akarnya dipakai dalam urusan dagang untuk pembayaran yang diserahkan di muka, sebelum barangnya diterima. Jadi amal digambarkan sebagai sesuatu yang sudah dibayarkan lebih dulu, dan yang sekarang diterima adalah barang yang sudah dilunasi. Terjemahan 'apa yang telah kalian kerjakan' menahan artinya, dan gambaran pembayaran di muka itu larut.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Perbandingan dengan dua ayat lain sangat menolong di sini. Rangkaian tiga kata pembukanya juga dipakai di 52:19 dan 77:43, tetapi di kedua tempat itu lanjutannya berbunyi dengan sebab apa yang dahulu kalian kerjakan. Hanya di ayat ini lanjutannya memakai gambaran menyerahkan lebih dulu. Jadi bukan rangkaian pembukanya yang khas, melainkan penutupnya, dan perbedaan satu kata itulah yang membawa gambaran dagang tersebut masuk.
Sifat (الْخَالِيَةِ, al-khaaliyati) juga menarik. Akarnya berarti kosong. Jadi hari-hari yang lewat disebut hari-hari yang telah kosong, bukan sekadar hari yang telah lalu. Bahasa Arab melukiskan masa lampau sebagai wadah yang isinya sudah diambil, dan yang mengambilnya adalah orang yang menjalaninya.
Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Dua kata perintah di awalnya berbentuk jamak, ditujukan kepada banyak orang. Padahal sejak 69:19 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak itu memperluas jangkauannya: yang tadinya satu contoh menjadi seluruh golongan yang bernasib sama. Terjemahan 'kalian' menahan perluasan tersebut.
Sifat (هَنِيئًا, hanii-an) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya, 4:4, dipakai untuk harta pemberian yang halal dinikmati di dunia. Jadi kata untuk menikmati tanpa ganjalan itu bukan kata khusus akhirat. Kenikmatan yang bersih dari ganjalan sudah punya namanya sendiri sejak di dunia, dan nama itulah yang dipakai di sini.
Perlu diperhatikan bahwa yang disuruh sekarang adalah menikmati, bukan bekerja. Sepanjang surah ini perintah selalu berupa peringatan atau ancaman, dan baru di sini muncul perintah untuk bersenang. Perubahan jenis perintah itu sendiri menandai bahwa masa kerja sudah ditutup, dan yang tersisa hanyalah menerima.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan sambutan penuh kenikmatan bagi penghuni taman. Ayat ini memuat perintah yang berbeda jenisnya dari semua perintah sebelumnya di surah ini. Sepanjang bagian awal, yang muncul adalah peringatan dan ancaman, dan baru di sini datang perintah untuk bersenang. Perubahan jenis perintah itu menandai bahwa masa kerja sudah ditutup, dan yang tersisa hanyalah menerima. Dua kata perintahnya pun berbentuk jamak, padahal sejak 69:19 yang dibicarakan adalah satu orang, sehingga jangkauannya diperluas dari satu contoh menjadi seluruh golongan yang bernasib sama.
Tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang paling perlu dibedah adalah kata untuk amal mereka. Akarnya dipakai dalam urusan dagang untuk pembayaran yang diserahkan di muka, sebelum barangnya diterima. Jadi amal digambarkan sebagai sesuatu yang sudah dibayarkan lebih dulu, dan yang sekarang diterima adalah barang yang sudah dilunasi. Terjemahan menahan artinya, dan gambaran pembayaran di muka itu larut.
Perbandingan dengan dua ayat lain sangat menolong. Rangkaian tiga kata pembuka ayat ini juga dipakai di 52:19 dan 77:43, tetapi di kedua tempat itu lanjutannya berbunyi dengan sebab apa yang dahulu kalian kerjakan. Hanya di ayat ini lanjutannya memakai gambaran menyerahkan lebih dulu, jadi bukan rangkaian pembukanya yang khas melainkan penutupnya. Dan hari-hari yang lewat disebut Allah dengan sifat yang akarnya berarti kosong, sehingga masa lampau dilukiskan sebagai wadah yang isinya sudah diambil oleh orang yang menjalaninya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata untuk amal mereka di ayat ini dipakai dalam urusan dagang untuk pembayaran yang diserahkan di muka, sebelum barangnya diterima. Amal digambarkan sebagai sesuatu yang sudah dibayarkan lebih dulu, dan yang sekarang diterima adalah barang yang sudah dilunasi. Allah menempatkan pemberian-Nya sebagai penyerahan yang sudah dibayar, bukan sebagai hadiah yang datang tanpa hubungan dengan apa pun. Yang membayar di muka tidak sedang meminta belas kasihan ketika mengambil barangnya, dan gambaran itu memuliakan orang yang beramal.
- Rangkaian tiga kata pembuka ayat ini juga dipakai di 52:19 dan 77:43, tetapi di kedua tempat itu lanjutannya berbunyi dengan sebab apa yang dahulu kalian kerjakan. Hanya di ayat ini lanjutannya memakai gambaran menyerahkan lebih dulu. Bukan rangkaian pembukanya yang khas melainkan penutupnya, dan perbedaan satu kata itulah yang membawa gambaran dagang tersebut masuk. Perbedaan sekecil satu kata bisa mengubah warna seluruh kalimat, dan itu sebabnya membaca teliti bukan kemewahan melainkan keharusan.
- Akar sifat penutup ayat ini berarti kosong, jadi hari-hari yang lewat disebut hari-hari yang telah kosong, bukan sekadar hari yang telah lalu. Allah melukiskan masa lampau sebagai wadah yang isinya sudah diambil, dan yang mengambilnya adalah orang yang menjalaninya. Hari yang kita lewati hari ini sedang dikosongkan juga, dan isinya sedang kita pindahkan entah ke mana. Isi hari yang sudah dikosongkan tidak bisa diambil kembali, dan itulah satu-satunya kekayaan yang benar-benar tidak bisa ditawar ulang.
- Sepanjang bagian awal surah ini, perintah yang muncul berupa peringatan dan ancaman, dan baru di ayat ini datang perintah untuk bersenang. Perubahan jenis perintah itu menandai bahwa masa kerja sudah ditutup, dan yang tersisa hanyalah menerima. Allah menutup pintu amal dengan cara mengganti isi perintah-Nya, bukan dengan menyatakan bahwa pintunya ditutup. Ada saat ketika Allah berhenti menyuruh bekerja, dan saat itu bukan kabar baik bagi semua orang.
- Dua kata perintah di awal ayat ini berbentuk jamak, ditujukan kepada banyak orang, padahal sejak 69:19 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak memperluas jangkauannya: yang tadinya satu contoh menjadi seluruh golongan yang bernasib sama. Terjemahan menahan perluasan itu dengan memakai kata ganti orang kedua jamak. Satu orang dijadikan contoh, lalu contohnya dibuka Allah untuk seluruh golongan, dan cara itu dipakai berulang dalam Al-Qur'an.
- Sifat untuk kenikmatan di ayat ini muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya, 4:4, dipakai untuk harta pemberian yang halal dinikmati di dunia. Kata untuk menikmati tanpa ganjalan itu bukan kata khusus akhirat. Kalau rasa nikmat yang bersih dari ganjalan sudah bisa dicicipi sekarang, mengapa kita sering menunda merasakannya sampai entah kapan? Nikmat tanpa ganjalan sudah ada namanya sejak di dunia, dan yang menghalangi kita mencicipinya biasanya bukan keadaan melainkan cara kita memandangnya.