وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ

Dan adapun orang yang diberi kitabnya di tangan kirinya, dia berkata, “Seandainya aku tidak diberi kitabku,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْwa-ammaa man uutiya kitaabahu bi-syimaalihi fa-yaquulu yaa laytanii lam uuta kitaabiyahdan adapun orang yang diberi kitabnya di tangan kirinya, dia berkata, 'seandainya aku tidak diberi kitabku'

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. أُوتِيَuutiyadiberikan
  4. كِتَابَهُkitaabahukitabnya
  5. بِشِمَالِهِbi-syimaalihidengan tangan kirinya
  6. فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
  7. يَاyaawahai
  8. لَيْتَنِيlaytaniiaduhai sekiranya aku
  9. لَمْlamtidak
  10. أُوتَuutadiberi
  11. كِتَابِيَهْkitaabiyahkitabku

Inti bacaan

Penyesalan mendalam yang terungkap: penerima kitab di tangan kiri berkata 'seandainya aku tidak diberi kitabku', keinginan untuk menghindari kenyataan yang harus dihadapi, kontras tajam dengan antusiasme penerima kitab kanan, ilustrasi kuat tentang perbedaan konsekuensi dari pilihan hidup yang berbeda.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِشِمَالِهِ, bisyimaalihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dengan tangan kirinya. Bandingkan dengan sebutan untuk tangan kanan di 69:19, yang muncul di 4 ayat. Jadi arah yang membawa kabar baik disebut berulang di beberapa tempat, sedangkan arah yang membawa kabar buruk hanya disebut sekali dengan kata ini.

Susunan (وَأَمَّا, wa-ammaa) yang membuka ayat ini adalah pasangan dari susunan yang membuka 69:19. Keduanya berjauhan enam ayat, dan jarak itu diisi ucapan serta balasan orang yang pertama. Susunan pemilahan seperti ini sudah dipakai di 69:5 dan 69:6, tetapi di sana jaraknya hanya satu ayat. Jadi cetakan yang sama dipakai dua kali dengan jarak yang jauh berbeda.

Perbedaan jarak itu sendiri bermakna. Bagian yang gembira diberi lima ayat, dan bagian yang menyesal akan diberi lebih panjang lagi sesudah ini. Sementara dua kaum yang binasa di awal surah hanya diberi satu ayat masing-masing. Perbandingan panjang itu memperlihatkan bahwa yang diperinci Al-Qur'an adalah nasib perseorangan, bukan kebinasaan bangsa.

Isi permintaannya patut diperhatikan. Ia tidak berharap dahulu berbuat lebih baik, tidak berharap diberi kesempatan kedua, dan tidak berharap catatannya berubah. Yang diharapkannya adalah catatan itu tidak diserahkan kepadanya. Yang diinginkan bukan perbaikan melainkan penyembunyian, padahal 69:18 sudah menyatakan bahwa pada hari itu tidak ada yang tersembunyi.

Bentuk (لَمْ أُوتَ, lam uuta) memakai kata pengingkar yang membalik waktu kata kerjanya ke masa lampau. Bunyinya aku tidak diberi. Bentuknya pasif, sama seperti bentuk yang dipakai untuk orang di 69:19. Jadi dua orang yang berlawanan nasib sama-sama disebut dengan kata kerja yang tidak menyebut pemberinya.

Kata (كِتَابِيَهْ, kitaabiyah) muncul di 2 ayat: 69:19 dan 69:25. Keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan dengan gembira sambil menyodorkannya kepada orang banyak, yang kedua diucapkan sambil berharap ia tidak pernah diterima. Satu kata yang sama menutup dua kalimat yang bertolak belakang isinya.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Perlu dicatat bahwa keduanya juga memakai kata seru pengandaian yang berbeda kedudukan. Yang pertama menyeru orang lain untuk membaca, yang kedua menyeru dirinya sendiri dengan penyesalan. Yang satu membuka, yang lain menutup. Perbedaan sikap terhadap catatan yang sama itulah yang sebenarnya sedang dilukiskan, dan catatan itu sendiri tidak berubah sedikit pun.

Tafsiran

Ayat ini membuka penyesalan mendalam penerima kitab dari tangan kiri. Ayat ini membuka bagian kedua dari pemilahan yang dimulai di 69:19. Keduanya berjauhan enam ayat, dan jarak itu diisi ucapan serta balasan orang yang pertama. Susunan pemilahan seperti ini sudah dipakai di 69:5 dan 69:6, tetapi di sana jaraknya hanya satu ayat, jadi cetakan yang sama dipakai dua kali dengan jarak yang jauh berbeda. Perbandingan panjang itu memperlihatkan bahwa yang diperinci adalah nasib perseorangan, bukan kebinasaan bangsa.

Isi permintaannya patut diperhatikan baik-baik. Ia tidak berharap dahulu berbuat lebih baik, tidak berharap diberi kesempatan kedua, dan tidak berharap catatannya berubah. Yang diharapkannya adalah catatan itu tidak diserahkan kepadanya. Yang diinginkan bukan perbaikan melainkan penyembunyian, padahal 69:18 sudah menyatakan bahwa pada hari itu tidak ada yang tersembunyi. Penyesalan yang keliru arah seperti itu justru memperlihatkan bahwa yang selama ini dijaganya memang penampakan, bukan isi.

Sebutan untuk tangan kirinya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan sebutan untuk tangan kanan di 69:19 muncul di 4 ayat. Arah yang membawa kabar baik disebut berulang di beberapa tempat, sedangkan arah yang membawa kabar buruk hanya disebut sekali dengan kata ini. Sementara kata terakhirnya muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:19, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Satu kata yang sama menutup dua kalimat yang bertolak belakang isinya, dan catatan yang dimaksud pun sebenarnya sejenis; yang berbeda hanya sikap orang terhadapnya.

Renungan dan Hikmah

  • Orang ini tidak berharap dahulu berbuat lebih baik, tidak berharap diberi kesempatan kedua, dan tidak berharap catatannya berubah. Yang diharapkannya adalah catatan itu tidak diserahkan kepadanya. Yang diinginkan bukan perbaikan melainkan penyembunyian, padahal Allah sudah menyatakan di 69:18 bahwa pada hari itu tidak ada yang tersembunyi. Penyesalan yang keliru arah memperlihatkan bahwa yang dijaganya selama ini memang penampakan. Menjaga penampakan menghabiskan tenaga seumur hidup dan tidak berlaku sama sekali pada hari ketika semuanya dibuka.
  • Sebutan untuk tangan kirinya di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan sebutan untuk tangan kanan di 69:19 muncul di 4 ayat. Arah yang membawa kabar baik disebut berulang di beberapa tempat, sedangkan arah yang membawa kabar buruk hanya disebut sekali dengan kata ini. Allah tidak memberi tempat yang sama besar bagi keduanya, bahkan dalam hal jumlah penyebutan. Allah tidak menyeimbangkan penyebutan dua arah itu, dan ketidakseimbangan itu sendiri adalah kabar tentang kemurahan-Nya.
  • Kata terakhir ayat ini muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:19, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan sambil menyodorkannya kepada orang banyak, yang kedua sambil berharap ia tidak pernah diterima. Catatan yang dimaksud sebenarnya sejenis, dan yang berbeda hanya sikap orang terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Isi catatan sudah selesai ditulis, dan yang masih bisa diubah sekarang hanyalah apa yang akan ditambahkan ke dalamnya hari ini.
  • Bagian yang gembira diberi lima ayat, bagian yang menyesal akan diberi lebih panjang lagi, sedangkan dua kaum yang binasa di awal surah hanya diberi satu ayat masing-masing. Perbandingan panjang itu memperlihatkan bahwa yang diperinci Allah adalah nasib perseorangan, bukan kebinasaan bangsa. Yang menghadap pada hari itu bukan bangsa melainkan orang, satu per satu. Berdiri sendirian tanpa bisa bersembunyi di balik nama kelompok adalah keadaan yang jarang kita bayangkan, padahal itulah yang dijanjikan.
  • Kata kerja di ayat ini berbentuk pasif, sama seperti bentuk yang dipakai untuk orang di 69:19, sehingga bunyinya diberi tanpa menyebut pemberinya. Dua orang yang berlawanan nasib sama-sama disebut dengan kata kerja yang menyembunyikan pelakunya. Cara Allah menyerahkan catatan itu sama untuk keduanya, dan yang membedakan sepenuhnya terletak pada isi yang diserahkan. Cara yang sama diberlakukan Allah kepada semua orang, dan keadilan sering justru terletak pada kesamaan cara, bukan kesamaan hasil.
  • Kata seru di 69:19 ditujukan kepada orang lain untuk membaca, sedangkan kata seru pengandaian di ayat ini ditujukan kepada dirinya sendiri dengan penyesalan. Yang satu membuka, yang lain menutup. Menyiapkan diri berarti menyiapkan isi catatan, sebab bentuk penyerahannya tidak akan berbeda untuk siapa pun. Kalau catatan yang sama bisa membuat satu orang memanggil semua orang dan membuat yang lain ingin lenyap, di sisi mana sebenarnya kita sedang berdiri hari ini?