وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ

Dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْwa-lam adri maa hisaabiyah'dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku'

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَمْwa-lamdan tidak
  2. أَدْرِadriaku tahu
  3. مَاmaaapa yang
  4. حِسَابِيَهْhisaabiyahperhitunganku

Inti bacaan

Kebingungan yang menambah penderitaan: 'aku tidak mengetahui apa perhitunganku', ketidakpastian yang memperparah situasi, kontras dengan kepastian yang dinikmati penerima kitab kanan, penekanan bahwa kejelasan dan ketidakjelasan tentang nasib sendiri menjadi bagian dari pengalaman yang dialami.

Penjelasan pilihan kata

Kata (حِسَابِيَهْ, hisaabiyah) muncul di 2 ayat: 69:20 dan 69:26. Keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang gembira karena yakin akan bertemu perhitungannya, yang kedua diucapkan orang yang berharap tidak pernah mengetahuinya. Satu kata yang sama menutup dua kalimat yang isinya bertolak belakang.

Kata kerja (أَدْرِ, adri) berasal dari akar yang sama dengan kata kerja di 69:3, yaitu ketika pembaca ditanya apakah ia tahu apa hari itu. Di pembuka surah, akar itu dipakai untuk membesarkan sesuatu yang belum diketahui. Di sini akar yang sama dipakai orang yang berharap selamanya tidak tahu. Awal dan bagian ini bertaut lewat satu akar, dan arah rasanya berlawanan.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata kerjanya juga perlu diperhatikan. Ia dipakai bersama kata pengingkar yang mengubah artinya menjadi masa lampau, sehingga bunyinya aku tidak mengetahui. Huruf akhirnya pun luruh karena aturan tersebut, dan pelurusan itu tidak punya jejak dalam bahasa Indonesia. Terjemahan 'aku tidak mengetahui' menahan artinya dengan tepat.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan pertanyaannya menarik. Kata tanya yang dipakai bukan untuk bertanya, melainkan untuk membesarkan. Susunan yang sama sudah dipakai di 69:2 untuk membesarkan hari itu. Jadi alat yang sama dipakai dua kali di surah ini: sekali untuk mengagungkan yang ditakuti, sekali untuk melukiskan kengerian yang sudah tiba.

Permintaannya juga bertingkat. Di 69:25 ia berharap catatannya tidak diserahkan, dan di sini ia berharap tidak mengetahui isinya. Yang pertama menolak barangnya, yang kedua menolak pengetahuannya. Dua penolakan itu naik setingkat, dan di ayat berikutnya ia akan naik lagi ke tingkat yang paling jauh.

Semua yang diucapkannya sejauh ini berakhir dengan huruf penutup yang sama. Huruf itu hanya muncul ketika bacaan berhenti dan tidak menambah arti apa pun. Karena itu seluruh keluhannya berbunyi seragam, dan keseragaman bunyi pada kalimat yang isinya kacau justru membuat kekacauannya terdengar lebih jelas.

Perlu dicatat bahwa yang disebutnya milik sendiri terus bertambah sepanjang pidatonya. Di 69:25 catatanku, di sini perhitunganku, dan nanti hartaku serta kekuasaanku. Orang yang gembira di 69:19 dan 69:20 hanya menyebut dua hal miliknya, lalu berhenti. Orang ini menyebut empat, dan dua tambahan itulah yang justru sudah tidak ada lagi padanya.

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Letak kata-katanya juga perlu diperhatikan. Sebutan untuk perhitungan diletakkan paling belakang, sesudah kata tanya yang membesarkan. Dalam susunan Arab, yang diletakkan di ujung kalimat menerima tekanan paling berat. Jadi yang paling ditakutinya bukan proses pemeriksaannya melainkan angka akhirnya, dan angka itulah yang jatuh terakhir ke telinga pendengar.

Huruf sambung yang membuka ayat ini pun bekerja rapat. Ia menyambungkan permintaan di sini ke permintaan di 69:25 tanpa memberi jeda, sehingga keduanya terbaca sebagai satu tarikan napas yang sama. Orang itu tidak berhenti sejenak lalu menambahkan; ia menumpahkan dua permintaan berturut-turut. Kerapatan seperti itu memang ciri orang yang bicara dalam keadaan panik, dan bentuk kalimatnya sudah menyampaikannya sebelum isinya dibaca.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan penyesalan mendalam penerima kitab tangan kiri. Ayat ini adalah tingkat kedua dari permintaan orang yang menerima catatannya dari arah kiri. Di 69:25 ia berharap catatannya tidak diserahkan, dan di sini ia berharap tidak mengetahui isinya. Yang pertama menolak barangnya, yang kedua menolak pengetahuannya. Dua penolakan itu naik setingkat, dan di ayat berikutnya ia akan naik lagi ke tingkat yang paling jauh.

Kata terakhirnya muncul di 2 ayat, yaitu di sini dan di 69:20, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Yang pertama diucapkan orang yang gembira karena yakin akan bertemu perhitungannya, yang kedua diucapkan orang yang berharap tidak pernah mengetahuinya. Satu kata yang sama menutup dua kalimat yang isinya bertolak belakang, dan Allah menyusun dua nasib itu dengan kosakata yang sama persis.

Kata kerjanya berasal dari akar yang sama dengan kata kerja di 69:3, yaitu ketika pembaca ditanya apakah ia tahu apa hari itu. Di pembuka surah, akar itu dipakai untuk membesarkan sesuatu yang belum diketahui. Di sini akar yang sama dipakai orang yang berharap selamanya tidak tahu. Awal dan bagian ini bertaut lewat satu akar dengan arah rasa yang berlawanan. Dan yang disebutnya milik sendiri terus bertambah sepanjang pidatonya: catatanku, perhitunganku, lalu hartaku dan kekuasaanku, sedangkan orang yang gembira hanya menyebut dua hal miliknya lalu berhenti.

Renungan dan Hikmah

  • Di 69:25 orang ini berharap catatannya tidak diserahkan, dan di sini ia berharap tidak mengetahui isinya. Yang pertama menolak barangnya, yang kedua menolak pengetahuannya. Dua penolakan itu naik setingkat, dan di ayat berikutnya ia akan naik lagi ke tingkat yang paling jauh. Allah menyusun penyesalan itu bertahap, sehingga pembaca merasakan sendiri bagaimana orang terdesak sampai ke ujung. Orang yang terdesak akan terus menawar sampai tidak ada lagi yang bisa ditawar, dan ayat-ayat ini merekam seluruh proses itu.
  • Kata kerja di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata kerja di 69:3, ketika pembaca ditanya apakah ia tahu apa hari itu. Di pembuka surah, akar itu dipakai untuk membesarkan sesuatu yang belum diketahui. Di sini akar yang sama dipakai orang yang berharap selamanya tidak tahu. Awal surah dan bagian ini bertaut lewat satu akar, dan arah rasanya berlawanan sepenuhnya. Kata yang sama bisa membuka rasa hormat atau membuka rasa ngeri, dan yang menentukan hanyalah keadaan orang yang membacanya.
  • Yang disebutnya milik sendiri terus bertambah sepanjang pidatonya: catatanku, perhitunganku, lalu hartaku dan kekuasaanku. Orang yang gembira di 69:19 dan 69:20 hanya menyebut dua hal miliknya, lalu berhenti. Orang ini menyebut empat, dan dua tambahan itulah yang justru sudah tidak ada lagi padanya. Yang paling banyak mengaku memiliki ternyata yang paling banyak kehilangan di hadapan Allah. Menghitung apa yang kita sebut milik sendiri adalah latihan yang sederhana, dan hasilnya sering mengejutkan orang yang jujur mengerjakannya.
  • Kata tanya di ayat ini bukan untuk bertanya, melainkan untuk membesarkan. Susunan yang sama sudah dipakai di 69:2 untuk membesarkan hari itu. Alat yang sama dipakai Allah dua kali di surah ini: sekali untuk mengagungkan yang ditakuti, sekali untuk melukiskan kengerian yang sudah tiba. Yang tadinya jauh dan besar sekarang menjadi dekat dan tetap besar. Alat bahasa yang sama dipakai Allah untuk membesarkan dan untuk mengerikan, dan pembaca yang mengenalinya akan menangkap keduanya sekaligus.
  • Semua yang diucapkannya sejauh ini berakhir dengan huruf penutup yang sama, dan huruf itu hanya muncul ketika bacaan berhenti serta tidak menambah arti apa pun. Seluruh keluhannya berbunyi seragam. Keseragaman bunyi pada kalimat yang isinya kacau justru membuat kekacauannya terdengar lebih jelas, seperti tangis yang dibacakan dengan irama yang tenang. Bunyi yang tenang di atas isi yang kacau adalah pilihan yang disengaja, dan pilihan itu membuat bacaannya justru lebih menusuk.
  • Yang diminta orang ini adalah tidak mengetahui, bukan mengetahui lalu memperbaiki. Ia sudah tidak lagi meminta kesempatan, hanya meminta kegelapan. Kalau pengetahuan tentang diri sendiri bisa berubah menjadi hukuman yang ingin dihindari, apa yang sedang kita lakukan sekarang terhadap hal-hal yang sudah kita tahu tentang diri kita? Yang kita tahu tentang diri sendiri hari ini adalah bahan yang sama yang akan dibacakan nanti, dan kita masih sempat menambah isinya.