يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ
Seandainya itulah kesudahannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَyaa laytahaa kaanati l-qaadhiyata'seandainya itulah kesudahannya'
Terjemahan per kata (4 kata)
- يَاyaawahai
- لَيْتَهَاlaytahaaaduhai sekiranya ia
- كَانَتِkaanatiadalah
- الْقَاضِيَةَl-qaadhiyatayang memutuskan
Inti bacaan
Keinginan putus asa terhadap ketiadaan: 'seandainya (kematian) itulah yang menyudahi (segalanya)', puncak keputusasaan ketika seseorang berharap kematian benar-benar mengakhiri eksistensi, alih-alih membawa kepada pertanggungjawaban yang lebih berat, pengingat bahwa penyesalan sejati datang dari menyadari bahwa kesudahan bukanlah pelarian.
Penjelasan pilihan kata
Satu catatan atas pilihan penerjemahnya. Tambahan kurung '(kematian)' dan '(segalanya)' tidak dipakai di dalam uraian ini: penunjuk feminin 'haa' (itu) dipertahankan tanpa mengembalikan rujukan eksplisit yang tidak tertulis di teks Arab.
Kata (الْقَاضِيَةَ, al-qaadhiyata) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti memutuskan, menyudahi, menyelesaikan sampai tuntas. Jadi artinya yang menuntaskan, yang mengakhiri, yang tidak menyisakan lanjutan.
Bentuknya tertentu, sehingga bunyinya yang menuntaskan itu, bukan sesuatu yang menuntaskan. Bentuk tertentu di sini menandai bahwa yang dimaksud sudah dikenal oleh yang mengucapkannya. Ia tidak sedang mengharapkan hal baru, melainkan mengharapkan sesuatu yang sudah pernah dialaminya benar-benar berakhir di situ.
Yang menarik, teks tidak menyebut apa yang diharapkannya menuntaskan itu. Yang ada hanya kata ganti perempuan yang menempel pada kata seru pengandaian. Terjemahan menambahkan kata kematian di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa isinya bukan bagian dari teks. Kekosongan tersebut membuat kalimatnya terdengar seperti keluhan yang tidak sempat disusun rapi.
Permintaannya adalah tingkat ketiga dan yang paling jauh. Di 69:25 ia menolak catatannya, di 69:26 ia menolak pengetahuannya, dan di sini ia menolak keberadaannya sendiri. Yang diminta bukan lagi disembunyikan atau tidak diberi tahu, melainkan dihentikan sama sekali. Tiga langkah itu naik teratur, dan langkah ketiga adalah tempat berhentinya harapan.
Sebutan penutupnya juga menyambung barisan panjang di surah ini. Sejak 69:1 hampir semua ayat ditutup sebutan berjenis perempuan yang menunjuk pelaku, dan sebutan di sini termasuk di dalamnya. Bunyinya sama dengan sebutan untuk azab, untuk angin, untuk surga, dan untuk kehidupan yang dijanjikan. Cetakan bunyi yang sama menampung isi yang paling berlawanan.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Perlu dicatat bahwa akar kata ini juga dipakai untuk keputusan hakim. Jadi yang diharapkannya menuntaskan sebenarnya sekata dengan yang memutuskan perkara. Ia berharap dituntaskan oleh sesuatu yang bukan keputusan, di hadapan keputusan yang justru sedang berlangsung. Kesejajaran itu tidak dinyatakan, tetapi ia tersedia bagi pembaca yang menahan akarnya.
Perhatikan pula bahwa keinginan untuk lenyap ini muncul sesudah catatannya dibaca, bukan sebelumnya. Selama hidup ia tidak pernah menginginkannya, dan segala yang dikumpulkannya justru dimaksudkan untuk memperpanjang. Baru ketika hasilnya terbuka, ia menginginkan yang selama ini paling dihindarinya.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata seru pengandaian yang dipakai di sini sama dengan yang dipakai di 69:25, dan itu kali kedua ia muncul dalam pidato yang sama. Pengulangan kata seru semacam itu dalam jarak sedekat ini menandai orang yang tidak lagi menyusun kalimatnya, melainkan mengulang keluhan yang sama dengan isi yang berbeda. Terjemahan 'seandainya' menahannya di kedua tempat, sehingga pembaca Indonesia pun bisa merasakan pengulangannya.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerja bantunya juga patut dicatat. Ia berarti pernah menjadi, dan bentuknya lampau. Jadi yang diandaikannya bukan sesuatu yang akan datang, melainkan sesuatu yang dahulu sudah terjadi tetapi ternyata tidak menuntaskan. Pengandaian yang mengarah ke belakang seperti itu adalah pengandaian yang paling tidak berguna, sebab yang sudah lewat tidak bisa diubah oleh siapa pun kecuali oleh yang menetapkannya.
Kata kerja bantu (كَانَتِ, kaanati) di ayat ini berbentuk lampau dan berjenis perempuan, mengikuti kata ganti yang mendahuluinya. Gabungan kata kerja bantu berbentuk lampau dengan pengandaian membuat yang diandaikan tertuju ke belakang, bukan ke depan. Jadi yang diharapkannya bukan sesuatu yang akan datang, melainkan sesuatu yang dahulu sudah terjadi tetapi ternyata tidak menuntaskan.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan penyesalan mengharap kematian sebagai akhir total daripada menghadapi perhitungan. Ayat ini adalah tingkat ketiga dan yang paling jauh dari rangkaian permintaan orang yang celaka. Di 69:25 ia menolak catatannya, di 69:26 ia menolak pengetahuannya, dan di sini ia menolak keberadaannya sendiri. Yang diminta bukan lagi disembunyikan atau tidak diberi tahu, melainkan dihentikan sama sekali. Tiga langkah itu naik teratur, dan langkah ketiga adalah tempat berhentinya harapan.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk pelaku perempuan dari akar yang berarti memutuskan, menyudahi, menyelesaikan sampai tuntas. Bentuknya tertentu, sehingga bunyinya yang menuntaskan itu, dan bentuk tertentu di sini menandai bahwa yang dimaksud sudah dikenal oleh yang mengucapkannya. Ia tidak sedang mengharapkan hal baru, melainkan mengharapkan sesuatu yang sudah pernah dialaminya benar-benar berakhir di situ.
Teks tidak menyebut apa yang diharapkannya menuntaskan itu; yang ada hanya kata ganti perempuan yang menempel pada kata seru pengandaian. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa isinya bukan bagian dari teks. Kekosongan tersebut membuat kalimatnya terdengar seperti keluhan yang tidak sempat disusun rapi. Yang lebih perlu dicatat, keinginan untuk lenyap ini muncul sesudah catatannya dibaca, bukan sebelumnya. Selama hidup ia tidak pernah menginginkannya, dan segala yang dikumpulkannya justru dimaksudkan untuk memperpanjang.
Renungan dan Hikmah
- Di 69:25 orang ini menolak catatannya, di 69:26 menolak pengetahuannya, dan di sini menolak keberadaannya sendiri. Yang diminta bukan lagi disembunyikan atau tidak diberi tahu, melainkan dihentikan sama sekali. Tiga langkah itu naik teratur, dan langkah ketiga adalah tempat berhentinya harapan. Allah membiarkan pembaca menyaksikan sendiri sampai mana penyesalan bisa membawa seseorang. Penyesalan yang bertingkat seperti ini tidak pernah sampai pada permintaan untuk memperbaiki, dan justru itulah yang paling perlu diperhatikan.
- Keinginan untuk lenyap ini muncul sesudah catatannya dibaca, bukan sebelumnya. Selama hidup ia tidak pernah menginginkannya, dan segala yang dikumpulkannya justru dimaksudkan untuk memperpanjang. Baru ketika hasilnya terbuka, ia menginginkan yang selama ini paling dihindarinya. Nilai segala sesuatu ternyata bisa berbalik sepenuhnya begitu keadaannya berubah, dan keadaan itu ditentukan Allah. Apa yang kita hindari mati-matian sekarang bisa berubah menjadi yang kita cari, dan perubahannya tidak pernah kita rencanakan sendiri.
- Teks tidak menyebut apa yang diharapkannya menuntaskan itu; yang ada hanya kata ganti perempuan yang menempel pada kata seru pengandaian. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa isinya bukan bagian dari teks. Kekosongan tersebut membuat kalimatnya terdengar seperti keluhan yang tidak sempat disusun rapi, dan memang begitulah orang yang terdesak berbicara. Kalimat yang tidak rapi justru lebih jujur menggambarkan keadaan hati daripada kalimat yang tersusun dengan baik.
- Akar kata terakhir di ayat ini juga dipakai untuk keputusan hakim, jadi yang diharapkannya menuntaskan sebenarnya sekata dengan yang memutuskan perkara. Ia berharap dituntaskan oleh sesuatu yang bukan keputusan, tepat di hadapan keputusan Allah yang justru sedang berlangsung. Kesejajaran itu tidak dinyatakan, tetapi ia tersedia bagi pembaca yang menahan akarnya. Keputusan Allah sedang berlangsung ketika ia meminta dituntaskan, dan permintaannya itu sendiri sudah termasuk yang diputuskan.
- Sejak 69:1 hampir semua ayat di surah ini ditutup sebutan berjenis perempuan yang menunjuk pelaku, dan sebutan di ayat ini termasuk di dalamnya. Bunyinya sama dengan sebutan untuk azab, untuk angin, untuk surga, dan untuk kehidupan yang dijanjikan. Allah memakai satu cetakan bunyi untuk menampung isi yang paling berlawanan, dan telinga tidak diberi tanda apa pun untuk membedakannya. Bunyi yang sama untuk isi yang berlawanan memaksa pembaca memperhatikan maknanya, bukan sekadar mengikuti iramanya.
- Bentuk kata terakhir di ayat ini tertentu, sehingga bunyinya yang menuntaskan itu, bukan sesuatu yang menuntaskan. Ia tidak sedang mengharapkan hal baru, melainkan mengharapkan sesuatu yang sudah pernah dialaminya benar-benar berakhir di situ. Kalau yang paling ditakuti manusia sepanjang hidup ternyata bisa berubah menjadi harapan terakhirnya, seberapa dalam sebenarnya kita mengenal apa yang kita takuti?