مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ
Hartaku sama sekali tidak mencukupkanku.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْmaa aghnaa 'annii maaliyah'hartaku sama sekali tidak mencukupkanku'
Terjemahan per kata (4 kata)
- مَاmaatidaklah
- أَغْنَىٰaghnaamencukupkan
- عَنِّي'anniidariku
- مَالِيَهْmaaliyahhartaku
Inti bacaan
Kegagalan kekayaan pada momen krusial: 'hartaku sama sekali tidak mencukupkanku', pengakuan bahwa akumulasi material yang dulu dibanggakan ternyata tidak memiliki nilai penyelamatan pada saat yang paling dibutuhkan, kesadaran terlambat tentang prioritas yang salah tempat.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَالِيَهْ, maaliyah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti hartaku, dengan huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti. Huruf itu tidak menambah arti apa pun, dan kehadirannya membuat kata tersebut berbunyi sama dengan tiga kata lain yang diucapkan dua orang di bagian ini.
Kata (أَغْنَىٰ, agnaa) muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti cukup, kaya, tidak membutuhkan. Jadi harta yang dikumpulkan untuk membuat pemiliknya tidak membutuhkan justru gagal membuatnya tidak membutuhkan. Bantahan itu tersimpan di dalam akar katanya sendiri, sebelum kalimatnya selesai dibaca.
Perbandingan dengan 111:2 sangat menolong. Di sana susunan yang hampir sama dipakai untuk menyatakan bahwa harta seseorang tidak mencukupkannya, dan bedanya hanya pada kata ganti: di sana orang ketiga, di sini orang pertama. Jadi apa yang di tempat lain diberitakan tentang orang lain, di sini diakui sendiri oleh yang mengalaminya. Berita berubah menjadi pengakuan.
Kata (عَنِّي, 'annii) muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah 69:28 dan 69:29. Jadi sepertiga pemakaiannya berkumpul di dua ayat berurutan ini. Kata itu berarti dari padaku, dan di kedua tempat ia menandai sesuatu yang menjauh atau tidak sampai. Pengulangan berdempetan seperti itu menegaskan bahwa yang hilang bukan satu perkara, melainkan berturut-turut.
Sisi lain ayat ini juga penting. Susunan pengingkarannya juga perlu dilihat. Kata pengingkar diletakkan paling depan, sebelum kata kerjanya. Dalam bahasa Arab, meletakkan pengingkar di depan menyeluruhkan penolakannya, sehingga bunyinya sama sekali tidak mencukupkan. Terjemahan 'sama sekali tidak mencukupkanku' menahan keseluruhan itu.
Yang disebut sesudah ini, di 69:29, adalah kekuasaannya. Jadi dua ayat berurutan menyebut dua hal yang paling diandalkan manusia: harta dan kuasa. Urutannya pun masuk akal, sebab harta lebih dulu dikumpulkan dan kuasa datang sesudahnya. Keduanya disebut hanya untuk dinyatakan tidak berguna.
Perlu dicatat bahwa ia masih menyebutnya hartaku, padahal harta itu sudah tidak ada padanya. Kata ganti kepemilikan tetap dipakai untuk sesuatu yang sudah lepas. Kebiasaan menyebut milik itu bertahan lebih lama daripada kepemilikannya sendiri, dan kebertahanan itu justru membuat keluhannya terdengar lebih pedih.
Masih ada yang belum disebut. Bunyi penutup ayat ini menyambungkannya ke tiga kata lain di bagian yang sama. Semuanya berakhir dengan sebutan milik orang pertama ditambah huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti. Dua di antaranya diucapkan orang yang gembira, dan empat diucapkan orang yang celaka. Barisan bunyi yang seragam itu menjadi tali yang mengikat dua pidato berlawanan menjadi satu bagian yang utuh.
Yang tidak disebut di sini pun berbicara. Ia tidak menyebut apa yang dikerjakannya dengan hartanya, tidak menyebut dari mana asalnya, dan tidak menyesali cara memperolehnya. Yang disesalinya semata-mata bahwa harta itu tidak menolongnya sekarang. Penyesalan yang berhenti di kegunaan seperti itu memperlihatkan bahwa ukuran yang dipakainya belum berubah sedikit pun, bahkan pada saat semuanya sudah terbuka.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kesia-siaan harta duniawi di hadapan perhitungan Allah. Ayat ini membuka dua ayat penutup dari pidato orang yang celaka, dan dua ayat itu menyebut dua hal yang paling diandalkan manusia: harta dan kuasa. Urutannya masuk akal, sebab harta lebih dulu dikumpulkan dan kuasa datang sesudahnya. Keduanya disebut hanya untuk dinyatakan tidak berguna.
Kata kerjanya muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti cukup, kaya, tidak membutuhkan. Harta yang dikumpulkan untuk membuat pemiliknya tidak membutuhkan justru gagal membuatnya tidak membutuhkan. Bantahan itu tersimpan di dalam akar katanya sendiri, sebelum kalimatnya selesai dibaca. Perbandingan dengan 111:2 sangat menolong: di sana susunan yang hampir sama dipakai untuk menyatakan bahwa harta seseorang tidak mencukupkannya, dan bedanya hanya pada kata ganti. Apa yang di tempat lain diberitakan Allah tentang orang lain, di sini diakui sendiri oleh yang mengalaminya, sehingga berita berubah menjadi pengakuan.
Kata untuk dari padaku muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah ayat ini dan 69:29, jadi sepertiga pemakaiannya berkumpul di dua ayat berurutan. Di kedua tempat ia menandai sesuatu yang menjauh atau tidak sampai, dan pengulangan berdempetan itu menegaskan bahwa yang hilang bukan satu perkara melainkan berturut-turut. Yang paling perlu dicatat, ia masih menyebutnya hartaku padahal harta itu sudah tidak ada padanya. Kebiasaan menyebut milik bertahan lebih lama daripada kepemilikannya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerja di ayat ini berarti cukup, kaya, tidak membutuhkan, dan kata itu muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an. Harta yang dikumpulkan untuk membuat pemiliknya tidak membutuhkan justru gagal membuatnya tidak membutuhkan. Bantahan itu tersimpan di dalam akar katanya sendiri, sebelum kalimatnya selesai dibaca, dan Allah menaruhnya di sana tanpa satu kalimat penjelas pun. Harta memang menutupi banyak kekurangan di dunia, dan justru karena itu ia mudah disangka bisa menutupi segalanya.
- Susunan yang hampir sama dipakai di 111:2 untuk menyatakan bahwa harta seseorang tidak mencukupkannya, dan bedanya hanya pada kata ganti: di sana orang ketiga, di sini orang pertama. Apa yang di tempat lain diberitakan Allah tentang orang lain, di sini diakui sendiri oleh yang mengalaminya. Peringatan yang dibaca sebagai kisah orang lain akhirnya diucapkan sendiri oleh yang menjalaninya.
- Ia masih menyebutnya hartaku, padahal harta itu sudah tidak ada padanya. Kata ganti kepemilikan tetap dipakai untuk sesuatu yang sudah lepas. Kebiasaan menyebut milik bertahan lebih lama daripada kepemilikannya sendiri, dan kebertahanan itu justru membuat keluhannya terdengar lebih pedih. Apa yang sebenarnya kita miliki, kalau sebutan miliknya masih melekat setelah barangnya lenyap? Kata milik yang kita ucapkan tiap hari ternyata bertumpu pada pinjaman yang bisa ditarik Allah kapan saja. Menyebut sesuatu sebagai milik sendiri adalah kebiasaan lidah yang jauh lebih kukuh daripada kenyataan yang menopangnya.
- Kata untuk dari padaku di ayat ini muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah ayat ini dan 69:29. Sepertiga pemakaiannya berkumpul di dua ayat berurutan. Di kedua tempat ia menandai sesuatu yang menjauh atau tidak sampai, dan pengulangan berdempetan itu menegaskan bahwa yang hilang bukan satu perkara melainkan berturut-turut. Kehilangan yang datang berurutan tidak memberi waktu untuk menyesuaikan diri, dan itulah bedanya dengan kehilangan yang datang satu-satu.
- Kata pengingkar di ayat ini diletakkan paling depan, sebelum kata kerjanya. Dalam bahasa Arab, meletakkan pengingkar di depan menyeluruhkan penolakannya, sehingga bunyinya sama sekali tidak mencukupkan. Terjemahan menahan keseluruhan itu, dan yang ditolak Allah bukan sebagian manfaat harta melainkan seluruhnya pada saat itu. Penolakan yang menyeluruh tidak menyisakan pengecualian, dan Allah memang tidak menyisakan satu celah pun di ayat ini.
- Ayat ini dan 69:29 menyebut dua hal yang paling diandalkan manusia: harta dan kuasa. Urutannya masuk akal, sebab harta lebih dulu dikumpulkan dan kuasa datang sesudahnya. Keduanya disebut Allah hanya untuk dinyatakan tidak berguna, dan penyebutan berurutan seperti itu tidak menyisakan satu pun sandaran yang belum diperiksa. Memeriksa sandaran kita sekarang jauh lebih murah daripada mendapatinya kosong pada hari ketika tidak ada lagi yang bisa dicari. Sandaran yang belum pernah diuji selalu terasa kokoh, dan pengujiannya biasanya datang pada saat yang paling tidak kita pilih.