هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

Kekuasaanku telah lenyap dariku.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْhalaka 'annii sulthaaniyah'kekuasaanku telah lenyap dariku'

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. هَلَكَhalakabinasa
  2. عَنِّي'anniidariku
  3. سُلْطَانِيَهْsulthaaniyahkekuasaanku

Inti bacaan

Hilangnya status dan pengaruh: 'kekuasaanku telah lenyap dariku', pengakuan bahwa otoritas dan pengaruh duniawi, betapa pun besar, tidak memiliki daya tahan melampaui batas kehidupan, kekosongan yang tersisa ketika status sosial tak lagi relevan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (سُلْطَانِيَهْ, sulthaaniyah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti kekuasaanku, dengan huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti. Huruf itu tidak menambah arti apa pun, dan kehadirannya menyamakan bunyi kata ini dengan tiga kata lain di bagian yang sama.

Kata (هَلَكَ, halaka) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an. Akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:5 dan 69:6 untuk dua kaum yang dibinasakan. Di sana yang binasa adalah manusianya, di sini yang binasa adalah kekuasaannya. Akar yang membuka kisah kebinasaan di awal surah muncul lagi di ujung pidato orang yang celaka, dan pengulangan itu menutup lingkaran.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Susunan kalimatnya menempatkan kata kerja paling depan, lalu keterangan arah, baru pelakunya. Jadi bunyinya telah binasa dari padaku kekuasaanku. Yang paling akhir jatuh ke telinga adalah kata kekuasaanku, dan dalam susunan Arab yang jatuh terakhir menerima tekanan paling berat. Terjemahan Indonesia menempatkan pelaku di depan, dan tekanan itu berpindah.

Kata (عَنِّي, 'annii) di sini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:28. Kata itu muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah dua ayat berdempetan ini. Di keduanya ia menandai sesuatu yang menjauh dari dirinya, sehingga kehilangan itu digambarkan sebagai gerak menjauh, bukan sekadar keadaan tidak punya.

Ini adalah kalimat terakhir yang diucapkannya. Sesudah ayat ini ia tidak berbicara lagi sampai akhir surah, dan yang terdengar berikutnya adalah perintah tentang dirinya. Jadi pidatonya berhenti tepat pada kata kekuasaan, dan kekuasaan itulah yang dinyatakan sudah lenyap. Orang yang paling banyak menyebut milik berhenti bicara pada saat menyebut milik yang terakhir.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Empat kata bersebutan milik orang pertama diucapkannya sepanjang bagian ini: catatanku, perhitunganku, hartaku, dan kekuasaanku. Dua yang pertama juga diucapkan orang yang gembira di 69:19 dan 69:20. Dua yang terakhir hanya diucapkan orang ini. Jadi yang membedakan dua pidato itu bukan kata bendanya melainkan tambahan dua perkara yang justru sudah tidak ada lagi.

Perlu dicatat bahwa yang disebut bukan hilangnya kekuasaan melainkan binasanya. Kata yang dipakai untuk kekuasaan sama dengan kata untuk kaum yang dihancurkan sampai tidak bersisa. Kekuasaan diperlakukan seperti makhluk yang bisa mati, dan gambaran itu jauh lebih tajam daripada sekadar menyatakan bahwa ia tidak berlaku lagi.

Tafsiran

Ayat ini menutup lamentasi dengan kesia-siaan kekuasaan duniawi. Ayat ini adalah kalimat terakhir yang diucapkan orang yang menerima catatannya dari arah kiri. Sesudahnya ia tidak berbicara lagi sampai akhir surah, dan yang terdengar berikutnya adalah perintah tentang dirinya. Pidatonya berhenti tepat pada kata kekuasaan, dan kekuasaan itulah yang dinyatakan sudah lenyap. Orang yang paling banyak menyebut milik berhenti bicara pada saat menyebut milik yang terakhir.

Kata kerjanya muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:5 dan 69:6 untuk dua kaum yang dibinasakan. Di sana yang binasa adalah manusianya, di sini yang binasa adalah kekuasaannya. Akar yang membuka kisah kebinasaan di awal surah muncul lagi di ujung pidato ini, dan pengulangan itu menutup lingkaran. Yang disebut pun bukan hilangnya kekuasaan melainkan binasanya, sehingga kekuasaan diperlakukan seperti makhluk yang bisa mati.

Empat kata bersebutan milik orang pertama diucapkannya sepanjang bagian ini: catatanku, perhitunganku, hartaku, dan kekuasaanku. Dua yang pertama juga diucapkan orang yang gembira di 69:19 dan 69:20, sedangkan dua yang terakhir hanya diucapkan orang ini. Yang membedakan dua pidato itu bukan kata bendanya, melainkan tambahan dua perkara yang justru sudah tidak ada lagi. Allah menyusun keduanya dengan bahan yang sama, dan kelebihan dua kata itulah yang menjadi bebannya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja di ayat ini sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:5 dan 69:6 untuk dua kaum yang dibinasakan. Di sana yang binasa adalah manusianya, di sini yang binasa adalah kekuasaannya. Akar yang membuka kisah kebinasaan di awal surah muncul lagi di ujung pidato ini, dan Allah menutup lingkaran itu tanpa satu kalimat penghubung pun. Aturan yang sama berlaku untuk bangsa dan untuk perkara, dan Allah memakai satu kata untuk memperlihatkan bahwa keduanya tunduk pada ketetapan yang sama.
  • Yang disebut di ayat ini bukan hilangnya kekuasaan melainkan binasanya. Kata yang dipakai sama dengan kata untuk kaum yang dihancurkan sampai tidak bersisa. Kekuasaan diperlakukan Allah seperti makhluk yang bisa mati, dan gambaran itu jauh lebih tajam daripada sekadar menyatakan bahwa ia tidak berlaku lagi. Yang mati tidak bisa dipulihkan, sedangkan yang tidak berlaku masih menyisakan bayangan harapan. Apa yang kita bangun bertahun-tahun ternyata punya umur juga, dan umurnya tidak pernah kita yang menentukan.
  • Empat kata bersebutan milik orang pertama diucapkannya sepanjang bagian ini: catatanku, perhitunganku, hartaku, dan kekuasaanku. Dua yang pertama juga diucapkan orang yang gembira di 69:19 dan 69:20, sedangkan dua yang terakhir hanya diucapkan orang ini. Allah menyusun keduanya dengan bahan yang sama, dan kelebihan dua kata itulah yang menjadi bebannya. Sebutan yang sama bisa menjadi kegembiraan atau beban, dan yang menentukan hanyalah berapa banyak yang kita akui sebagai milik.
  • Ini adalah kalimat terakhir yang diucapkannya, dan sesudahnya ia tidak berbicara lagi sampai akhir surah. Pidatonya berhenti tepat pada kata kekuasaan, dan kekuasaan itulah yang dinyatakan sudah lenyap. Allah menghentikan suaranya persis di tempat yang paling menyakitkan baginya, dan sesudah itu yang terdengar hanyalah perintah tentang dirinya. Suara yang dihentikan pada titik yang paling menyakitkan adalah cara bercerita yang tidak perlu menambahkan satu kalimat pun.
  • Kata untuk dari padaku di ayat ini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:28, dan kata itu muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an. Di kedua tempat ia menandai sesuatu yang menjauh dari dirinya, sehingga kehilangan digambarkan sebagai gerak menjauh, bukan sekadar keadaan tidak punya. Yang menjauh terasa pernah dekat, dan itulah yang membuatnya lebih pedih. Segala yang mendekat pada suatu masa akan menjauh pada masa yang lain, kecuali yang memang tidak pernah kita miliki.
  • Susunan kalimatnya menempatkan kata kerja paling depan, lalu keterangan arah, baru pelakunya, sehingga yang jatuh terakhir ke telinga adalah kata kekuasaanku. Dalam susunan Arab yang jatuh terakhir menerima tekanan paling berat, dan terjemahan Indonesia memindahkan tekanan itu ke depan. Kalau letak satu kata saja bisa mengubah bagian mana yang paling terdengar, berapa banyak tekanan yang berpindah tanpa kita sadari? Membaca teks aslinya sesekali membuat pembaca sadar bahwa terjemahan selalu memilih, dan setiap pilihan menyisihkan sesuatu.