Ayat 69:30
خُذُوهُ فَغُلُّوهُ
“Tangkaplah dia, lalu belenggulah dia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خُذُوهُ فَغُلُّوهُkhudzuuhu fa-ghulluuhu'tangkaplah dia, lalu belenggulah dia'
Terjemahan per kata (2 kata)
- خُذُوهُkhudzuuhutangkaplah dia
- فَغُلُّوهُfa-ghulluuhulalu belenggulah dia
Inti bacaan
Perintah eksekusi yang langsung: 'tangkaplah dia, lalu belenggulah dia', instruksi tegas tanpa ambiguitas, momen ketika penilaian final berubah menjadi tindakan konkret tanpa penundaan lebih lanjut.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَغُلُّوهُ, fagulluuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti maka belenggulah dia, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Akar yang sama dipakai untuk sifat orang yang tangannya terikat, yaitu gambaran kikir yang lazim dalam bahasa Arab.
Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Dua kata perintah di ayat ini berbentuk jamak, ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Tidak ada keterangan siapa yang diperintah. Cara ini sama dengan cara yang dipakai di seluruh surah untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar: yang disorot adalah perbuatannya, bukan pelaksananya.
Masih ada yang belum disebut. Perbandingan dengan 69:24 patut dicatat baik-baik. Di sana juga ada dua kata perintah berbentuk jamak yang berurutan, yaitu makan dan minum, dan perintah itu ditujukan kepada orang yang berbahagia. Di sini dua perintah berurutan juga muncul, tetapi tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan.
Perbedaan kedudukan itu besar sekali. Orang yang berbahagia masih menjadi lawan bicara, sedangkan orang ini turun menjadi barang yang diperintahkan atas namanya. Sepanjang tiga ayat berikutnya ia hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti.
Huruf sambung di antara dua perintahnya juga bekerja. Ia menyatakan urutan yang rapat, sehingga yang kedua terjadi segera sesudah yang pertama tanpa jeda. Jadi susunannya bukan tangkaplah dia, lalu suatu saat belenggulah. Kerapatan itu sama seperti yang dipakai di 69:10 untuk sebab dan akibat, dan surah ini memakainya berulang kali.
Hal berikut ini pun menentukan. Panjang ayat ini juga berbicara. Ia hanya dua patah kata, dan datang tepat sesudah pidato panjang yang penuh keluhan. Sesudah suara yang meratap, datang suara yang memerintah, dan suara yang memerintah itu jauh lebih pendek. Perbedaan panjang seperti itu dipakai berulang di surah ini untuk menandai siapa yang sebenarnya memegang keputusan.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di sini. Perintahnya datang telanjang, tanpa didahului pernyataan bersalah dan tanpa disusul keterangan. Alasannya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah ini selesai. Jadi keputusan diumumkan lebih dulu, dan dasarnya menyusul kemudian.
Kata (خُذُوهُ, khudzuuhu) yang membuka ayat ini berarti tangkaplah dia atau renggutlah dia. Akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:10 untuk kaum yang dicengkeram, dan sama pula dengan yang diandaikan di 69:45. Jadi satu akar dipakai tiga kali di surah ini untuk tiga pihak yang berbeda, dan tiap kali ia menandai cengkeraman yang tidak bisa dilepaskan.
Tafsiran
Ayat ini membuka perintah penyiksaan bagi pendurhaka. Ayat ini mengubah kedudukan orang yang celaka secara menyeluruh. Di 69:24 ada dua kata perintah berbentuk jamak yang berurutan, yaitu makan dan minum, dan perintah itu ditujukan kepada orang yang berbahagia. Di sini dua perintah berurutan juga muncul, tetapi tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan.
Perbedaan kedudukan itu besar sekali. Orang yang berbahagia masih menjadi lawan bicara, sedangkan orang ini turun menjadi barang yang diperintahkan atas namanya. Sepanjang tiga ayat berikutnya ia hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti. Allah mencabut kedudukannya sebagai lawan bicara, dan pencabutan itu dikerjakan lewat susunan kalimat, bukan lewat pernyataan.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Dua kata perintahnya berbentuk jamak dan ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya, sama seperti cara yang dipakai di seluruh surah ini untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Dan tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di sini; perintahnya datang telanjang, sedangkan dasarnya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah ini selesai.
Renungan dan Hikmah
- Di 69:24 dua perintah berurutan ditujukan kepada orang yang berbahagia, sedangkan di sini dua perintah berurutan tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan. Allah mencabut kedudukannya sebagai lawan bicara lewat susunan kalimat, bukan lewat pernyataan, dan pencabutan diam-diam seperti itu terasa lebih berat daripada penghinaan yang diucapkan. Kehilangan hak untuk berbicara adalah kehilangan yang paling sunyi, dan justru karena sunyi ia sering tidak terhitung sebagai kehilangan.
- Sepanjang tiga ayat berikutnya orang ini hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti. Segala yang tadi diakuinya sebagai milik sudah lenyap, dan sekarang sebutan bagi dirinya sendiri pun ikut menyusut sampai sekecil itu di hadapan Allah. Kita menghabiskan hidup memperbesar sebutan bagi diri sendiri, dan ayat ini memperlihatkan sampai seberapa kecil sebutan itu bisa menyusut.
- Tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di ayat ini. Perintahnya datang telanjang, tanpa didahului pernyataan bersalah dan tanpa disusul keterangan. Alasannya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah selesai. Allah mengumumkan keputusan lebih dulu dan menyusulkan dasarnya kemudian, dan urutan itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi dalam tahap pembuktian. Ada saat ketika pembuktian sudah selesai dan yang tersisa hanyalah pelaksanaan, dan Allah menandai saat itu lewat urutan kalimat.
- Kata kedua di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Akar yang sama dipakai untuk sifat orang yang tangannya terikat, yaitu gambaran kikir yang lazim dalam bahasa Arab. Tangan yang dulu enggan terbuka sekarang diikat sungguh-sungguh, dan kesejajaran itu tidak dinyatakan tetapi tersedia bagi yang menahan akarnya. Tangan yang terbiasa menahan akan menemukan bahwa menahan itu sendiri punya bentuk yang menunggunya di ujung jalan.
- Ayat ini hanya dua patah kata, dan datang tepat sesudah pidato panjang yang penuh keluhan. Sesudah suara yang meratap, datang suara yang memerintah, dan suara yang memerintah itu jauh lebih pendek. Perbedaan panjang seperti ini dipakai Allah berulang di surah ini untuk menandai siapa yang sebenarnya memegang keputusan. Panjang pendeknya kalimat adalah alat yang bekerja pada rasa pembaca, dan seluruh surah ini memakainya dengan sangat tertib.
- Dua kata perintah di ayat ini berbentuk jamak dan ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Tidak ada keterangan siapa yang diperintah. Cara ini sama dengan cara yang dipakai di seluruh surah untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Kalau yang menjalankan perintah pun tidak perlu disebut, apa yang sebenarnya masih penting untuk ditanyakan pada saat itu? Pertanyaan yang selama ini terasa penting akan gugur sendiri ketika keputusan sudah dijatuhkan Allah dan tinggal dilaksanakan.
Ayat 69:31
ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ
Kemudian bakarlah dia dalam neraka yang menyala-nyala!
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُtsumma l-jahiima shalluuhu'kemudian bakarlah dia dalam neraka yang menyala-nyala'
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- الْجَحِيمَl-jahiimaneraka yang menyala-nyala
- صَلُّوهُshalluuhubakarlah dia
Inti bacaan
Konsekuensi yang eksplisit: 'bakar dia dalam Neraka!', kejelasan hukuman yang tidak disamarkan, ketegasan bahasa yang menegaskan keseriusan konsekuensi bagi pilihan hidup yang diambil.
Penjelasan pilihan kata
Kata (صَلُّوهُ, shalluuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti panggangkanlah dia, dari akar yang dipakai untuk memasukkan sesuatu ke dalam api sampai terpanggang. Akar yang sama menurunkan sebutan untuk orang yang dibakar dan untuk api yang membakar.
Kata (الْجَحِيمَ, al-jahiima) muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia salah satu nama neraka, dan akarnya menunjuk api yang menyala besar dan berkobar. Bentuknya tertentu, sehingga bunyinya neraka itu, yaitu yang sudah dikenal dan tidak perlu diperkenalkan lagi.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Letak kedua kata itu perlu diperhatikan baik-baik. Yang disebut lebih dulu adalah nerakanya, baru kata perintahnya. Dalam susunan Arab, kata yang biasanya berada di belakang lalu dimajukan ke depan menerima sorotan khusus. Jadi yang disorot bukan perbuatan membakarnya melainkan tempat pembakarannya, dan sorotan itu hilang dalam terjemahan yang mengikuti urutan Indonesia.
Kata sambung (ثُمَّ, tsumma) yang membukanya berbeda dari huruf sambung yang dipakai di 69:30. Yang di sana menyatakan urutan yang rapat tanpa jeda, sedangkan yang di sini menyatakan urutan yang berjarak. Jadi antara membelenggu dan memanggang ada jarak, sementara antara menangkap dan membelenggu tidak ada. Perbedaan dua huruf sambung itu menyusun waktu di dalam kalimat.
Jarak yang disisipkan itu sendiri berbicara. Yang dibelenggu tidak langsung dimasukkan ke api, melainkan menunggu lebih dulu dalam keadaan terikat. Menunggu dalam keadaan terikat adalah hukuman tersendiri, dan hukuman itu tidak dinyatakan dengan kata mana pun; ia hanya tersimpan di dalam pilihan kata sambungnya.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Ayat ini juga hanya tiga patah kata, sama pendeknya dengan yang sebelumnya. Rangkaian perintah di 69:30 sampai 69:32 semuanya pendek dan berturut-turut, dan kependekan yang beruntun itu menirukan perintah yang dijatuhkan satu demi satu tanpa dibantah. Tidak ada ruang untuk menjawab di antara ayat-ayat itu.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Perlu dicatat bahwa orang yang bersangkutan tetap hanya disebut dengan kata ganti yang menempel. Sudah tiga kali berturut-turut ia disebut begitu, dan akan sekali lagi di 69:32. Empat kali penyebutan tanpa satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya berbicara panjang tentang catatanku, hartaku, dan kekuasaanku, sekarang tidak punya sebutan apa pun selain satu huruf di ujung kata kerja orang lain.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan perintah hukuman pembakaran. Ayat ini melanjutkan rangkaian perintah yang dimulai di 69:30, dan yang paling perlu diperhatikan adalah letak kata-katanya. Yang disebut lebih dulu adalah nerakanya, baru kata perintahnya. Dalam susunan Arab, kata yang biasanya berada di belakang lalu dimajukan ke depan menerima sorotan khusus. Jadi yang disorot bukan perbuatan membakarnya melainkan tempat pembakarannya, dan sorotan itu hilang dalam terjemahan yang mengikuti urutan Indonesia.
Kata sambung yang membukanya juga berbeda dari huruf sambung yang dipakai di 69:30. Yang di sana menyatakan urutan yang rapat tanpa jeda, sedangkan yang di sini menyatakan urutan yang berjarak. Antara membelenggu dan memanggang ada jarak, sementara antara menangkap dan membelenggu tidak ada. Jarak yang disisipkan itu sendiri berbicara: yang dibelenggu tidak langsung dimasukkan ke api, melainkan menunggu lebih dulu dalam keadaan terikat. Menunggu dalam keadaan terikat adalah hukuman tersendiri, dan hukuman itu tidak dinyatakan dengan kata mana pun.
Kata perintahnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk memasukkan sesuatu ke dalam api sampai terpanggang. Sebutan untuk nerakanya muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan bentuknya tertentu sehingga bunyinya neraka itu, yaitu yang sudah dikenal dan tidak perlu diperkenalkan lagi. Sementara orang yang bersangkutan tetap hanya disebut dengan kata ganti yang menempel, sudah tiga kali berturut-turut dan akan sekali lagi di 69:32.
Renungan dan Hikmah
- Yang disebut lebih dulu di ayat ini adalah nerakanya, baru kata perintahnya. Dalam susunan Arab, kata yang biasanya berada di belakang lalu dimajukan ke depan menerima sorotan khusus. Yang disorot Allah bukan perbuatan membakarnya melainkan tempat pembakarannya, dan sorotan itu hilang dalam terjemahan yang mengikuti urutan Indonesia. Menyebut tempatnya lebih dulu membuat pembaca membayangkan wadahnya sebelum membayangkan perbuatannya, dan urutan itu disengaja.
- Kata sambung pembuka ayat ini menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf sambung di 69:30 yang menyatakan urutan rapat tanpa jeda. Antara membelenggu dan memanggang ada jarak, sementara antara menangkap dan membelenggu tidak ada. Yang dibelenggu menunggu lebih dulu dalam keadaan terikat, dan menunggu seperti itu adalah hukuman tersendiri yang tidak dinyatakan Allah dengan kata mana pun.
- Orang yang bersangkutan tetap hanya disebut dengan kata ganti yang menempel, sudah tiga kali berturut-turut dan akan sekali lagi di 69:32. Empat kali penyebutan tanpa satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya berbicara panjang tentang catatanku, hartaku, dan kekuasaanku sekarang tidak punya sebutan apa pun selain satu huruf di ujung kata kerja orang lain. Sebutan yang kita bangun untuk diri sendiri ternyata tidak ikut terbawa, dan yang tersisa hanyalah kedudukan sebagai yang diperintahkan.
- Sebutan untuk nerakanya muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan bentuknya tertentu sehingga bunyinya neraka itu. Bentuk tertentu dipakai untuk sesuatu yang sudah dikenal dan tidak perlu diperkenalkan lagi. Allah tidak sedang memberi tahu adanya tempat itu, melainkan menunjuk tempat yang sudah berkali-kali disebut kepada orang yang berkali-kali mendengarnya. Peringatan yang sudah berkali-kali disampaikan tidak perlu diperkenalkan lagi, dan pengulangannya adalah bukti kesabaran Allah.
- Ayat ini hanya tiga patah kata, sama pendeknya dengan yang sebelumnya. Rangkaian perintah di 69:30 sampai 69:32 semuanya pendek dan berturut-turut, dan kependekan yang beruntun itu menirukan perintah yang dijatuhkan satu demi satu tanpa dibantah. Tidak ada ruang untuk menjawab di antara ayat-ayat itu, dan ketiadaan ruang itu terasa dari bentuknya sebelum dipahami isinya. Kalimat pendek yang beruntun tidak memberi ruang untuk membantah, dan bentuk itu sendiri sudah menyampaikan keadaannya.
- Kata perintah di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk memasukkan sesuatu ke dalam api sampai terpanggang. Akar yang sama menurunkan sebutan untuk orang yang dibakar dan untuk api yang membakar. Kalau satu akar bisa menampung yang membakar sekaligus yang terbakar, apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan dalam pilihan kita hari ini? Bahasa Arab menyimpan hubungan makna di dalam akar kata, dan pembaca yang mengenalinya menerima keterangan yang tidak tertulis di permukaan.
Ayat 69:32
ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ
Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُtsumma fii silsilatin dzar'uhaa sab'uuna dziraa'an fa-slukuuhu'kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta'
Terjemahan per kata (7 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- فِيfiidengan
- سِلْسِلَةٍsilsilatinrantai
- ذَرْعُهَاdzar'uhaapanjangnya
- سَبْعُونَsab'uunatujuh puluh
- ذِرَاعًاdziraa'anhasta
- فَاسْلُكُوهُfa-slukuuhumaka masukkanlah dia
Inti bacaan
Detail spesifik hukuman: 'belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta', presisi deskriptif yang menegaskan realitas konkret konsekuensi, bukan gambaran abstrak yang mudah diabaikan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip perintah yang dibuka di 69:30 ditutup di akhir ayat ini: satu perintah berkelanjutan (tangkap, belenggu, bakar, belit rantai), sebelum 69:33 beralih ke penjelasan narator orang ketiga.
Lima kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (سِلْسِلَةٍ, silsilatin), (ذَرْعُهَا, dzar'uhaa), (سَبْعُونَ, sab'uuna), (ذِرَاعًا, dziraa'an), dan (فَاسْلُكُوهُ, faslukuuhu). Ayat ini hanya terdiri atas tujuh patah kata, jadi lima dari tujuh katanya tidak dipakai lagi di tempat mana pun.
Kepadatan seperti itu jarang sekali. Di ayat-ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Kalimat yang seluruhnya hampir dirakit dari kata sekali pakai membuat gambarannya berdiri sendiri, tidak tertukar dengan gambaran mana pun.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Jadi yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan 'belitlah dia dengan rantai' menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut.
Ukurannya disebut dengan angka yang tepat, dan itu berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Di sana angkanya dibiarkan kosong, di sini angkanya lengkap dengan satuannya. Perbedaan perlakuan itu memperlihatkan bahwa Al-Qur'an tidak sedang menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Letak kata-katanya juga perlu diperhatikan. Seluruh keterangan tempatnya disebut lebih dulu, dan kata perintahnya jatuh paling belakang. Susunan seperti itu sudah dipakai di 69:31, dan dua ayat berurutan memakai cara yang sama. Yang disorot adalah alat dan tempatnya, sedangkan perbuatannya menyusul sebagai penutup.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Kata sambung pembukanya sama dengan yang membuka 69:31, yaitu yang menyatakan urutan berjarak. Jadi ada jeda lagi antara dipanggang dan dimasukkan ke rantai. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Waktu disusun di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja.
Masih ada yang belum disebut. Perlu dicatat bahwa orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Ini penyebutan keempat berturut-turut. Empat perintah, empat kali kata ganti, dan tidak satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya menyebut empat perkara sebagai miliknya sekarang tidak memiliki bahkan sebutan bagi dirinya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menutup perintah hukuman dengan belenggu rantai panjang. Ayat ini menutup rangkaian tiga perintah yang dimulai di 69:30, dan kepadatannya luar biasa. Lima dari tujuh katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Di ayat-ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Kalimat yang seluruhnya hampir dirakit dari kata sekali pakai membuat gambarannya berdiri sendiri, tidak tertukar dengan gambaran mana pun.
Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut. Sementara ukurannya disebut dengan angka yang tepat, berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Allah tidak sedang menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan.
Kata sambung pembukanya sama dengan yang membuka 69:31, yaitu yang menyatakan urutan berjarak, jadi ada jeda lagi antara dipanggang dan dimasukkan ke rantai. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Waktu disusun di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja. Dan orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel, penyebutan keempat berturut-turut tanpa satu pun nama atau sebutan.
Renungan dan Hikmah
- Lima kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan ayat ini hanya terdiri atas tujuh patah kata. Di ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Allah merakit satu gambaran hampir seluruhnya dari kata sekali pakai, sehingga gambaran itu berdiri sendiri dan tidak tertukar dengan apa pun. Peristiwa yang tidak akan terulang diceritakan dengan kata yang juga tidak terulang, dan kesesuaian itu terlalu rapat untuk disebut kebetulan.
- Kata kerja di ayat ini berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut. Yang tersisa dalam bahasa Indonesia adalah keadaannya, sedangkan caranya tertinggal di teks aslinya. Yang diikat masih bisa membayangkan lepas, sedangkan yang dimasukkan ke dalam sesuatu tidak punya bayangan itu sama sekali.
- Ukuran di ayat ini disebut dengan angka yang tepat beserta satuannya, berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Perbedaan perlakuan itu memperlihatkan bahwa Allah tidak menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan. Pembaca yang menuntut kelengkapan di semua tempat sedang menuntut sesuatu yang memang tidak dijanjikan. Rasa ingin tahu kita sering menuntut angka dan ukuran, padahal Allah memberikannya hanya ketika angka itu memang menyampaikan sesuatu.
- Kata sambung pembuka ayat ini menyatakan urutan berjarak, sama dengan yang membuka 69:31. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Allah menyusun waktu di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja, dan susunan itu tidak punya padanan dalam bahasa Indonesia yang memakai satu kata untuk keduanya. Jeda di antara hukuman adalah bagian dari hukuman itu sendiri, dan bahasa Arab menyampaikannya tanpa satu kata keterangan pun.
- Orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja, dan ini penyebutan keempat berturut-turut. Empat perintah, empat kali kata ganti, dan tidak satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya menyebut empat perkara sebagai miliknya sekarang tidak memiliki bahkan sebutan bagi dirinya sendiri di hadapan Allah. Sebutan bagi diri sendiri ternyata bukan milik kita, melainkan pemberian yang bisa ditarik seperti pemberian yang lain.
- Seluruh keterangan tempatnya disebut lebih dulu di ayat ini, dan kata perintahnya jatuh paling belakang. Susunan seperti itu sudah dipakai di 69:31, dan dua ayat berurutan memakai cara yang sama. Kalau letak kata saja bisa memindahkan sorotan dari perbuatan ke alatnya, berapa banyak sorotan yang berpindah tanpa kita sadari ketika membaca terjemahan? Membaca perlahan dan memperhatikan urutan kata adalah cara sederhana untuk menerima lebih banyak dari yang tertulis.