خُذُوهُ فَغُلُّوهُ
“Tangkaplah dia, lalu belenggulah dia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خُذُوهُ فَغُلُّوهُkhudzuuhu fa-ghulluuhu'tangkaplah dia, lalu belenggulah dia'
Terjemahan per kata (2 kata)
- خُذُوهُkhudzuuhutangkaplah dia
- فَغُلُّوهُfa-ghulluuhulalu belenggulah dia
Inti bacaan
Perintah eksekusi yang langsung: 'tangkaplah dia, lalu belenggulah dia', instruksi tegas tanpa ambiguitas, momen ketika penilaian final berubah menjadi tindakan konkret tanpa penundaan lebih lanjut.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَغُلُّوهُ, fagulluuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti maka belenggulah dia, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Akar yang sama dipakai untuk sifat orang yang tangannya terikat, yaitu gambaran kikir yang lazim dalam bahasa Arab.
Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Dua kata perintah di ayat ini berbentuk jamak, ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Tidak ada keterangan siapa yang diperintah. Cara ini sama dengan cara yang dipakai di seluruh surah untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar: yang disorot adalah perbuatannya, bukan pelaksananya.
Masih ada yang belum disebut. Perbandingan dengan 69:24 patut dicatat baik-baik. Di sana juga ada dua kata perintah berbentuk jamak yang berurutan, yaitu makan dan minum, dan perintah itu ditujukan kepada orang yang berbahagia. Di sini dua perintah berurutan juga muncul, tetapi tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan.
Perbedaan kedudukan itu besar sekali. Orang yang berbahagia masih menjadi lawan bicara, sedangkan orang ini turun menjadi barang yang diperintahkan atas namanya. Sepanjang tiga ayat berikutnya ia hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti.
Huruf sambung di antara dua perintahnya juga bekerja. Ia menyatakan urutan yang rapat, sehingga yang kedua terjadi segera sesudah yang pertama tanpa jeda. Jadi susunannya bukan tangkaplah dia, lalu suatu saat belenggulah. Kerapatan itu sama seperti yang dipakai di 69:10 untuk sebab dan akibat, dan surah ini memakainya berulang kali.
Hal berikut ini pun menentukan. Panjang ayat ini juga berbicara. Ia hanya dua patah kata, dan datang tepat sesudah pidato panjang yang penuh keluhan. Sesudah suara yang meratap, datang suara yang memerintah, dan suara yang memerintah itu jauh lebih pendek. Perbedaan panjang seperti itu dipakai berulang di surah ini untuk menandai siapa yang sebenarnya memegang keputusan.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di sini. Perintahnya datang telanjang, tanpa didahului pernyataan bersalah dan tanpa disusul keterangan. Alasannya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah ini selesai. Jadi keputusan diumumkan lebih dulu, dan dasarnya menyusul kemudian.
Kata (خُذُوهُ, khudzuuhu) yang membuka ayat ini berarti tangkaplah dia atau renggutlah dia. Akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:10 untuk kaum yang dicengkeram, dan sama pula dengan yang diandaikan di 69:45. Jadi satu akar dipakai tiga kali di surah ini untuk tiga pihak yang berbeda, dan tiap kali ia menandai cengkeraman yang tidak bisa dilepaskan.
Tafsiran
Ayat ini membuka perintah penyiksaan bagi pendurhaka. Ayat ini mengubah kedudukan orang yang celaka secara menyeluruh. Di 69:24 ada dua kata perintah berbentuk jamak yang berurutan, yaitu makan dan minum, dan perintah itu ditujukan kepada orang yang berbahagia. Di sini dua perintah berurutan juga muncul, tetapi tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan.
Perbedaan kedudukan itu besar sekali. Orang yang berbahagia masih menjadi lawan bicara, sedangkan orang ini turun menjadi barang yang diperintahkan atas namanya. Sepanjang tiga ayat berikutnya ia hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti. Allah mencabut kedudukannya sebagai lawan bicara, dan pencabutan itu dikerjakan lewat susunan kalimat, bukan lewat pernyataan.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Dua kata perintahnya berbentuk jamak dan ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya, sama seperti cara yang dipakai di seluruh surah ini untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Dan tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di sini; perintahnya datang telanjang, sedangkan dasarnya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah ini selesai.
Renungan dan Hikmah
- Di 69:24 dua perintah berurutan ditujukan kepada orang yang berbahagia, sedangkan di sini dua perintah berurutan tidak ditujukan kepada orang yang bersangkutan melainkan tentang dirinya. Yang satu diajak bicara, yang lain dibicarakan. Allah mencabut kedudukannya sebagai lawan bicara lewat susunan kalimat, bukan lewat pernyataan, dan pencabutan diam-diam seperti itu terasa lebih berat daripada penghinaan yang diucapkan. Kehilangan hak untuk berbicara adalah kehilangan yang paling sunyi, dan justru karena sunyi ia sering tidak terhitung sebagai kehilangan.
- Sepanjang tiga ayat berikutnya orang ini hanya disebut dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Namanya tidak ada, sebutannya tidak ada, dan yang tersisa hanyalah satu huruf ganti. Segala yang tadi diakuinya sebagai milik sudah lenyap, dan sekarang sebutan bagi dirinya sendiri pun ikut menyusut sampai sekecil itu di hadapan Allah. Kita menghabiskan hidup memperbesar sebutan bagi diri sendiri, dan ayat ini memperlihatkan sampai seberapa kecil sebutan itu bisa menyusut.
- Tidak ada satu kata pun yang menjelaskan alasannya di ayat ini. Perintahnya datang telanjang, tanpa didahului pernyataan bersalah dan tanpa disusul keterangan. Alasannya baru disebut di 69:33 dan 69:34, dua ayat sesudah rangkaian perintah selesai. Allah mengumumkan keputusan lebih dulu dan menyusulkan dasarnya kemudian, dan urutan itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi dalam tahap pembuktian. Ada saat ketika pembuktian sudah selesai dan yang tersisa hanyalah pelaksanaan, dan Allah menandai saat itu lewat urutan kalimat.
- Kata kedua di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari akar yang dipakai untuk belenggu leher dan tangan. Akar yang sama dipakai untuk sifat orang yang tangannya terikat, yaitu gambaran kikir yang lazim dalam bahasa Arab. Tangan yang dulu enggan terbuka sekarang diikat sungguh-sungguh, dan kesejajaran itu tidak dinyatakan tetapi tersedia bagi yang menahan akarnya. Tangan yang terbiasa menahan akan menemukan bahwa menahan itu sendiri punya bentuk yang menunggunya di ujung jalan.
- Ayat ini hanya dua patah kata, dan datang tepat sesudah pidato panjang yang penuh keluhan. Sesudah suara yang meratap, datang suara yang memerintah, dan suara yang memerintah itu jauh lebih pendek. Perbedaan panjang seperti ini dipakai Allah berulang di surah ini untuk menandai siapa yang sebenarnya memegang keputusan. Panjang pendeknya kalimat adalah alat yang bekerja pada rasa pembaca, dan seluruh surah ini memakainya dengan sangat tertib.
- Dua kata perintah di ayat ini berbentuk jamak dan ditujukan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Tidak ada keterangan siapa yang diperintah. Cara ini sama dengan cara yang dipakai di seluruh surah untuk kalimat yang menyangkut kekuasaan besar. Kalau yang menjalankan perintah pun tidak perlu disebut, apa yang sebenarnya masih penting untuk ditanyakan pada saat itu? Pertanyaan yang selama ini terasa penting akan gugur sendiri ketika keputusan sudah dijatuhkan Allah dan tinggal dilaksanakan.