ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُtsumma fii silsilatin dzar'uhaa sab'uuna dziraa'an fa-slukuuhu'kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta'

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. فِيfiidengan
  3. سِلْسِلَةٍsilsilatinrantai
  4. ذَرْعُهَاdzar'uhaapanjangnya
  5. سَبْعُونَsab'uunatujuh puluh
  6. ذِرَاعًاdziraa'anhasta
  7. فَاسْلُكُوهُfa-slukuuhumaka masukkanlah dia

Inti bacaan

Detail spesifik hukuman: 'belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta', presisi deskriptif yang menegaskan realitas konkret konsekuensi, bukan gambaran abstrak yang mudah diabaikan.

Penjelasan pilihan kata

Kutip perintah yang dibuka di 69:30 ditutup di akhir ayat ini: satu perintah berkelanjutan (tangkap, belenggu, bakar, belit rantai), sebelum 69:33 beralih ke penjelasan narator orang ketiga.

Lima kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (سِلْسِلَةٍ, silsilatin), (ذَرْعُهَا, dzar'uhaa), (سَبْعُونَ, sab'uuna), (ذِرَاعًا, dziraa'an), dan (فَاسْلُكُوهُ, faslukuuhu). Ayat ini hanya terdiri atas tujuh patah kata, jadi lima dari tujuh katanya tidak dipakai lagi di tempat mana pun.

Kepadatan seperti itu jarang sekali. Di ayat-ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Kalimat yang seluruhnya hampir dirakit dari kata sekali pakai membuat gambarannya berdiri sendiri, tidak tertukar dengan gambaran mana pun.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Jadi yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan 'belitlah dia dengan rantai' menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut.

Ukurannya disebut dengan angka yang tepat, dan itu berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Di sana angkanya dibiarkan kosong, di sini angkanya lengkap dengan satuannya. Perbedaan perlakuan itu memperlihatkan bahwa Al-Qur'an tidak sedang menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Letak kata-katanya juga perlu diperhatikan. Seluruh keterangan tempatnya disebut lebih dulu, dan kata perintahnya jatuh paling belakang. Susunan seperti itu sudah dipakai di 69:31, dan dua ayat berurutan memakai cara yang sama. Yang disorot adalah alat dan tempatnya, sedangkan perbuatannya menyusul sebagai penutup.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Kata sambung pembukanya sama dengan yang membuka 69:31, yaitu yang menyatakan urutan berjarak. Jadi ada jeda lagi antara dipanggang dan dimasukkan ke rantai. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Waktu disusun di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja.

Masih ada yang belum disebut. Perlu dicatat bahwa orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja. Ini penyebutan keempat berturut-turut. Empat perintah, empat kali kata ganti, dan tidak satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya menyebut empat perkara sebagai miliknya sekarang tidak memiliki bahkan sebutan bagi dirinya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menutup perintah hukuman dengan belenggu rantai panjang. Ayat ini menutup rangkaian tiga perintah yang dimulai di 69:30, dan kepadatannya luar biasa. Lima dari tujuh katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Di ayat-ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Kalimat yang seluruhnya hampir dirakit dari kata sekali pakai membuat gambarannya berdiri sendiri, tidak tertukar dengan gambaran mana pun.

Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut. Sementara ukurannya disebut dengan angka yang tepat, berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Allah tidak sedang menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan.

Kata sambung pembukanya sama dengan yang membuka 69:31, yaitu yang menyatakan urutan berjarak, jadi ada jeda lagi antara dipanggang dan dimasukkan ke rantai. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Waktu disusun di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja. Dan orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel, penyebutan keempat berturut-turut tanpa satu pun nama atau sebutan.

Renungan dan Hikmah

  • Lima kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan ayat ini hanya terdiri atas tujuh patah kata. Di ayat lain surah ini paling banyak tiga kata yang tidak terpakai lagi, dan di sini jumlahnya hampir dua kali lipat dalam kalimat yang lebih pendek. Allah merakit satu gambaran hampir seluruhnya dari kata sekali pakai, sehingga gambaran itu berdiri sendiri dan tidak tertukar dengan apa pun. Peristiwa yang tidak akan terulang diceritakan dengan kata yang juga tidak terulang, dan kesesuaian itu terlalu rapat untuk disebut kebetulan.
  • Kata kerja di ayat ini berasal dari akar yang berarti memasukkan sesuatu ke dalam lubang atau celah, seperti memasukkan benang ke lubang jarum. Yang digambarkan bukan diikat dengan rantai, melainkan dimasukkan ke dalam rantai. Terjemahan menahan hasilnya, dan gambaran menyusupkan itu sedikit larut. Yang tersisa dalam bahasa Indonesia adalah keadaannya, sedangkan caranya tertinggal di teks aslinya. Yang diikat masih bisa membayangkan lepas, sedangkan yang dimasukkan ke dalam sesuatu tidak punya bayangan itu sama sekali.
  • Ukuran di ayat ini disebut dengan angka yang tepat beserta satuannya, berbeda dari 69:17 yang menyebut bilangan tanpa keterangan apa pun. Perbedaan perlakuan itu memperlihatkan bahwa Allah tidak menghemat keterangan secara asal, melainkan memilih di mana keterangan diberikan dan di mana ditahan. Pembaca yang menuntut kelengkapan di semua tempat sedang menuntut sesuatu yang memang tidak dijanjikan. Rasa ingin tahu kita sering menuntut angka dan ukuran, padahal Allah memberikannya hanya ketika angka itu memang menyampaikan sesuatu.
  • Kata sambung pembuka ayat ini menyatakan urutan berjarak, sama dengan yang membuka 69:31. Tiga perintah di 69:30 sampai 69:32 tersusun dengan dua macam jarak: yang pertama rapat tanpa jeda, dua berikutnya berjarak. Allah menyusun waktu di dalam kalimat lewat pilihan kata sambung saja, dan susunan itu tidak punya padanan dalam bahasa Indonesia yang memakai satu kata untuk keduanya. Jeda di antara hukuman adalah bagian dari hukuman itu sendiri, dan bahasa Arab menyampaikannya tanpa satu kata keterangan pun.
  • Orang itu tetap disebut hanya dengan kata ganti yang menempel di ujung kata kerja, dan ini penyebutan keempat berturut-turut. Empat perintah, empat kali kata ganti, dan tidak satu pun nama atau sebutan. Yang tadinya menyebut empat perkara sebagai miliknya sekarang tidak memiliki bahkan sebutan bagi dirinya sendiri di hadapan Allah. Sebutan bagi diri sendiri ternyata bukan milik kita, melainkan pemberian yang bisa ditarik seperti pemberian yang lain.
  • Seluruh keterangan tempatnya disebut lebih dulu di ayat ini, dan kata perintahnya jatuh paling belakang. Susunan seperti itu sudah dipakai di 69:31, dan dua ayat berurutan memakai cara yang sama. Kalau letak kata saja bisa memindahkan sorotan dari perbuatan ke alatnya, berapa banyak sorotan yang berpindah tanpa kita sadari ketika membaca terjemahan? Membaca perlahan dan memperhatikan urutan kata adalah cara sederhana untuk menerima lebih banyak dari yang tertulis.