Ayat 69:33
إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ
Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِinnahu kaana laa yu'minu bi-llaahi l-'azhiimisesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِنَّهُinnahusesungguhnya dia
- كَانَkaanaadalah
- لَاlaatidak
- يُؤْمِنُyu'minuberiman
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung
Inti bacaan
Akar masalah yang diidentifikasi: 'sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung', pengungkapan penyebab dasar dari seluruh rangkaian konsekuensi, penolakan terhadap keimanan sebagai titik awal kegagalan.
Penjelasan pilihan kata
'Al-azhiimi' gelar takrif tetap sesudah 'billaahi', dipertahankan 'Sang Agung' sesuai kaidah baku.
Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiimi) muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti Yang Agung, Yang Besar. Sifat inilah yang dipilih untuk disebutkan di ayat yang menerangkan sebab hukuman, dan pemilihan itu tidak sembarangan.
Perbandingan dengan 69:29 patut dicatat. Di sana orang itu meratap bahwa kekuasaannya telah binasa. Di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Jadi yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap.
Susunan (كَانَ لَا يُؤْمِنُ, kaana laa yu'minu) memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang. Gabungan seperti itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Terjemahan 'dia tidak beriman' menahan artinya, dan unsur kebiasaan yang berlarut itu larut.
Pembuka (إِنَّهُ, innahu) adalah penegas yang berarti sesungguhnya dia. Penegas seperti ini dipakai ketika ada yang perlu diyakinkan atau ditegaskan. Di sini yang ditegaskan adalah alasan hukumannya, dan penegasan itu menutup kemungkinan bahwa hukumannya jatuh tanpa dasar.
Letak ayat ini juga perlu diperhatikan. Ia datang sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Jadi keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan.
Sebab yang disebut di sini adalah yang pertama dari dua. Yang kedua datang di 69:34 dan menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Jadi dua sebab itu tersusun menaik dari hubungan dengan Allah ke hubungan dengan orang lain. Keduanya disebut bergandengan, dan penggandengan itu menyatakan bahwa yang satu tidak berdiri tanpa yang lain.
Perlu dicatat bahwa yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol. Tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal: tidak beriman dan tidak mendorong memberi makan. Kesederhanaan daftar itu sendiri mengejutkan, sebab yang mengantar orang ke keadaan seberat itu ternyata bukan kejahatan yang luar biasa.
Sebutan untuk Allah di ayat ini juga perlu diperhatikan letaknya. Ia disebut dengan nama-Nya, lalu disusul sifat keagungan, dan sifat itu jatuh paling belakang sehingga menerima tekanan paling berat. Susunan seperti itu membuat yang terakhir terdengar bukan nama-Nya melainkan keagungan-Nya. Bagi orang yang sepanjang hidup menuntut kebesaran untuk dirinya sendiri, kata terakhir itulah yang paling menyakitkan didengar.
Bandingkan pula dengan orang yang berbahagia di 69:20. Di sana yang disebut sebagai pangkal kegembiraannya adalah keyakinan bahwa perhitungan akan datang. Di sini yang disebut sebagai pangkal kecelakaannya adalah tidak adanya keimanan. Dua ayat itu berdiri sebagai pasangan yang berhadapan: satu menyebut apa yang dipercayai, satu menyebut apa yang ditolak. Yang menentukan nasib keduanya ternyata sama-sama perkara yang berada di dalam dada, bukan yang tampak di tangan.
Tafsiran
Ayat penutup rangkaian ini menjelaskan sebab utama azab: ketidakberimanan kepada Allah. Ayat ini menyebutkan sebab hukuman, dan letaknya sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan.
Sifat Allah yang dipilih untuk disebutkan di sini adalah keagungan, dan kata itu muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an. Pemilihan itu tidak sembarangan. Di 69:29 orang tersebut meratap bahwa kekuasaannya telah binasa, dan di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap.
Susunannya memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang, dan gabungan seperti itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Terjemahan menahan artinya, dan unsur kebiasaan yang berlarut itu larut. Yang paling perlu dicatat, sebab yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol: tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal, dan yang kedua baru datang di 69:34.
Renungan dan Hikmah
- Di 69:29 orang itu meratap bahwa kekuasaannya telah binasa, dan di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap. Manusia menuntut untuk dirinya sifat yang justru diingkarinya pada pemilik sejatinya. Sifat yang kita rebut untuk diri sendiri biasanya justru sifat yang paling jelas bukan milik kita.
- Susunan di ayat ini memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang, dan gabungan itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Yang dihukum Allah adalah pendirian yang dipertahankan seumur hidup, bukan satu kekeliruan yang lewat. Pendirian yang dipertahankan bertahun-tahun tidak dibangun dalam sehari, dan karena itu ia juga tidak runtuh dalam sehari.
- Yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol. Tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal, dan yang kedua baru datang di 69:34. Kesederhanaan daftar itu sendiri mengejutkan, sebab yang mengantar orang ke keadaan seberat itu ternyata bukan kejahatan yang luar biasa melainkan sikap yang biasa dianggap sepele. Yang paling berbahaya bukan kejahatan yang mengejutkan, melainkan kebiasaan yang begitu wajar sampai tidak pernah dipertanyakan.
- Ayat ini datang sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan dari Allah tentang perkara yang sudah selesai ditimbang. Keputusan Allah selalu berdasar, dan ayat ini menutup pintu bagi siapa pun yang hendak menyebutnya sewenang-wenang.
- Pembuka ayat ini adalah penegas yang berarti sesungguhnya dia, dan penegas seperti ini dipakai ketika ada yang perlu diyakinkan. Di sini yang ditegaskan adalah alasan hukumannya. Penegasan itu menutup kemungkinan bahwa hukuman dari Allah jatuh tanpa dasar, dan pembaca tidak diberi ruang untuk menganggapnya kesewenangan. Penegasan diletakkan di tempat yang paling mungkin diragukan orang, dan itu sendiri sudah menunjukkan Allah mengenal keraguan kita.
- Sebab yang disebut di ayat ini adalah yang pertama dari dua, dan yang kedua datang di 69:34 menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Dua sebab itu disebut bergandengan, dan penggandengan itu menyatakan bahwa yang satu tidak berdiri tanpa yang lain. Kalau iman dan kepedulian memang selalu disebut sepasang, mungkinkah kita selama ini memisahkan apa yang tidak pernah dipisahkan? Iman tanpa kepedulian dan kepedulian tanpa iman sama-sama timpang, dan Al-Qur'an menyandingkan keduanya berulang kali.
Ayat 69:34
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Dan dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِwa-laa yahudhdhu 'alaa tha'aami l-miskiinidan dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَحُضُّyahudhdhumendorong
- عَلَىٰ'alaaatas
- طَعَامِtha'aamimakanan
- الْمِسْكِينِl-miskiiniorang miskin
Inti bacaan
Kegagalan tanggung jawab sosial: 'ia tidak mendorong (orang) untuk memberi makan orang miskin', pengakuan bahwa dosa bukan hanya tentang keyakinan pribadi, melainkan juga kegagalan aktif memobilisasi kepedulian sosial terhadap yang membutuhkan, dosa kelalaian yang setara seriusnya dengan dosa aktif.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(orang)' tidak dipakai.
Kata (يَحُضُّ, yahudhdhu) muncul di 2 ayat: 107:3 dan 69:34. Artinya mendorong, membujuk, mengajak orang lain melakukan sesuatu. Yang perlu dicatat, seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 107:3, huruf demi huruf. Dua ayat di dua surah yang berjauhan berbunyi identik.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Arti kata kerjanya patut ditahan baik-baik. Yang disebut bukan bahwa ia tidak memberi makan, melainkan bahwa ia tidak mendorong orang memberi makan. Jadi yang dituntut bukan sekadar memberi dari kantong sendiri, melainkan menggerakkan orang lain agar ikut memberi. Yang tidak dikerjakannya adalah menganjurkan, dan itu satu tingkat lebih ringan daripada memberi, tetapi tetap dihitung.
Kata (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini: 107:3, 69:34, dan 89:18. Ketiganya berbicara tentang perkara yang sama, yaitu tidak adanya dorongan untuk memberi makan. Jadi bentuk ini hampir selalu muncul dalam kalimat sangkalan tentang kelalaian yang sama.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bandingkan dengan 89:18. Di sana kata kerjanya berbentuk saling, ditujukan kepada orang banyak, sehingga artinya kalian tidak saling mendorong. Di sini bentuknya tunggal untuk satu orang. Jadi kelalaian yang sama dilukiskan sekali sebagai penyakit perseorangan dan sekali sebagai penyakit bersama.
Susunan (طَعَامِ الْمِسْكِينِ, tha'aamil-miskiini) menggandengkan dua kata benda tanpa kata kerja di antaranya. Bunyinya makanan orang miskin. Susunan seperti itu bisa berarti makanan yang menjadi hak orang miskin, bisa pula makanan yang diberikan kepadanya. Arti yang pertama menempatkan makanan itu sebagai haknya, bukan sebagai pemberian yang sukarela.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata sambung pembukanya menyambungkan ayat ini ke 69:33 sebagai sebab kedua. Keduanya tersusun dalam satu kalimat: dahulu ia tidak beriman, dan tidak pula mendorong memberi makan. Dua sebab dalam satu kalimat, dan tidak ada kata pemisah yang menjadikannya dua perkara terpisah.
Perlu dicatat bahwa dua sebab itu mewakili dua arah. Yang pertama menghadap ke atas, yang kedua menghadap ke samping. Yang pertama menyangkut pengakuan, yang kedua menyangkut kepedulian. Al-Qur'an menyandingkan keduanya berkali-kali di banyak tempat, dan penyandingan berulang seperti itu menandai bahwa keduanya memang satu paket dan bukan dua pilihan.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sebab azab: keengganan mendorong pemberian makan bagi orang miskin. Ayat ini menyebutkan sebab kedua, dan seluruh isinya sama persis dengan seluruh isi 107:3, huruf demi huruf. Dua ayat di dua surah yang berjauhan berbunyi identik. Kata kerjanya sendiri muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu di kedua tempat tersebut.
Arti kata kerjanya patut ditahan baik-baik. Yang disebut bukan bahwa ia tidak memberi makan, melainkan bahwa ia tidak mendorong orang memberi makan. Yang dituntut bukan sekadar memberi dari kantong sendiri, melainkan menggerakkan orang lain agar ikut memberi. Yang tidak dikerjakannya adalah menganjurkan, dan itu satu tingkat lebih ringan daripada memberi, tetapi tetap dihitung Allah sebagai sebab. Susunan dua kata bendanya pun bisa berarti makanan yang menjadi hak orang miskin, bukan sekadar pemberian yang sukarela.
Sebutan untuk orang miskin di sini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan ketiganya berbicara tentang perkara yang sama, yaitu tidak adanya dorongan untuk memberi makan. Bandingkan dengan 89:18, tempat kata kerjanya berbentuk saling dan ditujukan kepada orang banyak, sehingga artinya kalian tidak saling mendorong. Kelalaian yang sama dilukiskan sekali sebagai penyakit perseorangan dan sekali sebagai penyakit bersama. Dan dua sebab di 69:33 serta ayat ini mewakili dua arah: yang pertama menghadap ke atas, yang kedua menghadap ke samping.
Renungan dan Hikmah
- Yang disebut di ayat ini bukan bahwa ia tidak memberi makan, melainkan bahwa ia tidak mendorong orang memberi makan. Yang dituntut bukan sekadar memberi dari kantong sendiri, melainkan menggerakkan orang lain agar ikut memberi. Yang tidak dikerjakannya adalah menganjurkan, dan itu satu tingkat lebih ringan daripada memberi, tetapi Allah tetap menghitungnya sebagai sebab. Menganjurkan kebaikan tidak memerlukan harta, hanya memerlukan kemauan, dan justru itu yang membuat kelalaiannya sulit dimaafkan.
- Seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 107:3, huruf demi huruf, dan kata kerjanya muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu di kedua tempat tersebut. Dua ayat di dua surah yang berjauhan berbunyi identik. Allah mengulang kalimat yang sama di tempat yang berbeda, dan pengulangan itu menandai bahwa perkaranya memang perlu disebut lebih dari sekali. Kalimat yang diulang Allah di dua surah adalah kalimat yang memang tidak boleh lewat begitu saja dari perhatian pembacanya.
- Susunan dua kata benda di ayat ini menggandengkan makanan dengan orang miskin tanpa kata kerja di antaranya. Susunan seperti itu bisa berarti makanan yang menjadi hak orang miskin, bisa pula makanan yang diberikan kepadanya. Arti yang pertama menempatkan makanan itu sebagai haknya, bukan sebagai kebaikan sukarela, dan Allah membiarkan kedua arti itu berlaku sekaligus. Memandang pemberian sebagai penunaian hak mengubah cara kita memberi, dan mengubah pula cara kita merasa sesudah memberi.
- Sebutan untuk orang miskin di ayat ini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan di 89:18 kata kerjanya berbentuk saling serta ditujukan kepada orang banyak. Kelalaian yang sama dilukiskan sekali sebagai penyakit perseorangan dan sekali sebagai penyakit bersama. Dua bentuk itu menutup dua alasan sekaligus: tidak bisa berlindung di balik kesendirian, dan tidak bisa berlindung di balik keramaian. Dua bentuk yang berbeda menutup dua pintu keluar sekaligus, dan Allah tidak menyisakan alasan bagi yang sendiri maupun yang beramai-ramai.
- Kata sambung pembuka ayat ini menyambungkannya ke 69:33 sebagai sebab kedua, dan keduanya tersusun dalam satu kalimat tanpa kata pemisah. Yang pertama menghadap ke atas, yang kedua menghadap ke samping. Yang pertama menyangkut pengakuan kepada Allah, yang kedua menyangkut kepedulian kepada sesama. Keduanya memang satu paket dan bukan dua pilihan yang bisa diambil salah satunya. Memisahkan urusan dengan Allah dari urusan dengan sesama adalah pemisahan yang tidak pernah dibuat Al-Qur'an sendiri.
- Menganjurkan orang lain berbuat baik terasa perkara ringan, dan justru karena ringan ia mudah ditinggalkan tanpa merasa bersalah. Ayat ini meletakkannya sebagai salah satu dari dua sebab yang disebut Allah. Kalau perkara sekecil menganjurkan saja sudah masuk hitungan, apa lagi yang selama ini kita anggap terlalu kecil untuk dihitung? Perkara kecil yang terus-menerus ditinggalkan akhirnya menjadi perkara besar, dan ayat ini memperlihatkan di mana besarnya terlihat.
Ayat 69:35
فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ
Maka pada hari ini tidak ada baginya di sini seorang teman setia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌfa-laysa lahu l-yawma haahunaa hamiimunmaka pada hari ini tidak ada baginya di sini seorang teman setia
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَلَيْسَfa-laysamaka tidaklah
- لَهُlahubaginya
- الْيَوْمَl-yawmahari ini
- هَاهُنَاhaahunaadi sini
- حَمِيمٌhamiimunteman setia
Inti bacaan
Isolasi total pada momen kritis: 'pada hari ini tidak ada baginya di sini seorang teman setia', konsekuensi kesendirian yang menyakitkan, kontras dengan jaringan sosial yang mungkin dimiliki di dunia, pengingat bahwa hubungan sejati diuji pada momen yang paling menentukan.
Penjelasan pilihan kata
Bukan bagian kutip apa pun: ayat ini murni narasi orang ketiga.
Kata (حَمِيمٌ, hamiimun) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyimpan dua arti yang berjauhan. Di 41:34 dan 70:10 ia berarti teman yang sangat dekat. Di 38:57 ia berarti air yang mendidih, yang di sana disebut sebagai minuman penghuni neraka. Satu kata menampung kehangatan persahabatan dan panasnya siksaan sekaligus.
Kesejajaran itu perlu ditahan. Yang dinyatakan tidak ada bagi orang ini adalah teman yang dekat, sementara kata yang sama di tempat lain justru menjadi nama bagi apa yang akan disuguhkan kepadanya. Yang tidak dimilikinya dan yang akan diterimanya disebut dengan satu kata yang sama. Bahasa Arab menyimpan pertemuan itu di dalam satu bentuk, dan tidak ada padanan Indonesia yang bisa memuat keduanya.
Kata (هَاهُنَا, haahunaa) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti di sini, dengan penunjukan yang sangat dekat. Di 26:146 kata yang sama dipakai untuk kenyamanan dunia yang disangka aman selamanya. Di sini ia dipakai untuk tempat yang sama sekali berlawanan. Kata penunjuk yang sama menandai dua tempat berdiri yang bertolak belakang.
Susunan (فَلَيْسَ, falaisa) memakai kata pengingkar yang menyangkal keberadaan sesuatu. Kata ini muncul di 7 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia menyangkal secara mutlak, bukan menyatakan kekurangan atau keterlambatan. Terjemahan 'tidak ada baginya' menahan kemutlakannya.
Letak keterangan waktunya juga perlu diperhatikan. Rangkaian yang berarti pada hari ini diletakkan di tengah, sebelum keterangan tempat. Jadi urutannya menyangkal, lalu untuknya, lalu hari ini, lalu di sini, baru sebutan temannya. Sebutan teman jatuh paling belakang dan menerima tekanan paling berat, sehingga yang paling terasa hilang justru disebut terakhir.
Perhatikan pula bahwa yang disebut hilang di sini bukan harta dan bukan kekuasaan. Keduanya sudah dinyatakan lenyap di 69:28 dan 69:29 oleh orang itu sendiri. Sekarang yang dinyatakan tidak ada adalah teman. Jadi tiga sandaran disebut berturut-turut: harta, kuasa, lalu orang. Dua yang pertama diakuinya sendiri, dan yang ketiga diberitahukan tentang dirinya.
Perlu dicatat bahwa keterangan waktu dan tempat dipakai bersama-sama di ayat ini. Bukan sekadar tidak ada teman, melainkan tidak ada teman pada hari ini dan di tempat ini. Pembatasan ganda itu mengandaikan bahwa di hari lain dan di tempat lain teman-teman itu ada. Yang hilang bukan persahabatannya di dunia, melainkan gunanya pada saat yang paling dibutuhkan.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Bandingkan pula dengan 70:10, salah satu tempat lain yang memuat kata ini. Di sana disebutkan bahwa pada hari itu seorang teman tidak menanyakan keadaan temannya. Jadi dua ayat di dua surah berdampingan sama-sama berbicara tentang runtuhnya persahabatan pada hari yang sama. Yang satu menyatakan tidak ada temannya, yang lain menyatakan teman yang ada pun tidak bertanya. Dua sisi dari satu keadaan diletakkan di dua surah yang bersebelahan.
Perhatikan juga siapa yang berbicara di ayat ini. Sejak 69:19 yang terdengar adalah suara dua orang yang menerima catatannya, lalu suara perintah kepada malaikat. Di sini suaranya berganti lagi menjadi suara yang menerangkan keadaan. Jadi dalam satu bagian pendek, pembaca mendengar suara orang, suara perintah, dan suara keterangan berturut-turut. Pergantian suara seperti itu membuat pembaca berpindah kedudukan tanpa pernah diberi aba-aba.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan hukuman lanjutan: tiada kerabat penolong di akhirat. Ayat ini menyebut sandaran ketiga yang tidak dimiliki orang itu. Harta dan kekuasaan sudah dinyatakan lenyap di 69:28 dan 69:29 oleh dirinya sendiri, dan sekarang yang dinyatakan tidak ada adalah teman. Tiga sandaran disebut berturut-turut: harta, kuasa, lalu orang. Dua yang pertama diakuinya sendiri, dan yang ketiga diberitahukan tentang dirinya.
Kata untuk teman itu muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyimpan dua arti yang berjauhan. Di 41:34 dan 70:10 ia berarti teman yang sangat dekat, sedangkan di 38:57 ia berarti air yang mendidih, yang di sana disebut sebagai minuman penghuni neraka. Satu kata menampung kehangatan persahabatan dan panasnya siksaan sekaligus. Yang dinyatakan tidak ada bagi orang ini adalah teman yang dekat, sementara kata yang sama di tempat lain justru menjadi nama bagi apa yang akan disuguhkan kepadanya. Bahasa Arab menyimpan pertemuan itu di dalam satu bentuk, dan tidak ada padanan Indonesia yang bisa memuat keduanya.
Keterangan waktu dan tempat dipakai bersama-sama di ayat ini. Bukan sekadar tidak ada teman, melainkan tidak ada teman pada hari ini dan di tempat ini. Pembatasan ganda itu mengandaikan bahwa di hari lain dan di tempat lain teman-teman itu ada. Yang hilang bukan persahabatannya di dunia, melainkan gunanya pada saat yang paling dibutuhkan. Dan kata penunjuk tempat yang dipakai muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, salah satunya di 26:146 untuk kenyamanan dunia yang disangka aman selamanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata untuk teman di ayat ini muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 38:57 kata yang sama berarti air mendidih yang disuguhkan kepada penghuni neraka. Yang tidak dimilikinya dan yang akan diterimanya disebut dengan satu kata yang sama. Allah menyimpan pertemuan itu di dalam satu bentuk kata, dan tidak ada padanan Indonesia yang bisa memuat keduanya sekaligus. Kehangatan dan panas ternyata bisa berbagi satu nama, dan bedanya hanya terletak pada apa yang menyertainya.
- Harta dan kekuasaan sudah dinyatakan lenyap di 69:28 dan 69:29 oleh orang itu sendiri, dan sekarang yang dinyatakan tidak ada adalah teman. Tiga sandaran disebut berturut-turut: harta, kuasa, lalu orang. Dua yang pertama diakuinya sendiri, dan yang ketiga diberitahukan Allah tentang dirinya, sehingga ia bahkan tidak sempat menyadarinya sendiri. Yang paling terakhir runtuh biasanya yang paling tidak kita persiapkan, sebab kita menyangka ia tidak akan pernah runtuh.
- Bukan sekadar tidak ada teman, melainkan tidak ada teman pada hari ini dan di tempat ini. Pembatasan ganda itu mengandaikan bahwa di hari lain dan di tempat lain teman-teman itu ada. Yang hilang bukan persahabatannya di dunia, melainkan gunanya pada saat yang paling dibutuhkan. Yang berguna hanya di tempat yang mudah bukanlah pertolongan yang sebenarnya. Persahabatan yang hanya bertahan selama keadaan mudah adalah persahabatan yang belum pernah diuji sama sekali.
- Kata penunjuk tempat di ayat ini muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 26:146 kata yang sama dipakai untuk kenyamanan dunia yang disangka aman selamanya. Di sini ia dipakai untuk tempat yang sama sekali berlawanan. Kata penunjuk yang sama menandai dua tempat berdiri yang bertolak belakang, dan Allah memakai kedekatan penunjuknya untuk keduanya. Rasa aman yang kita rasakan di tempat kita berdiri sekarang memakai kata yang sama dengan tempat yang paling tidak diinginkan.
- Kata pengingkar di ayat ini menyangkal keberadaan sesuatu secara mutlak, bukan menyatakan kekurangan atau keterlambatan, dan kata itu muncul di 7 ayat di seluruh Al-Qur'an. Terjemahan menahan kemutlakannya. Yang ditiadakan Allah bukan jumlah temannya melainkan adanya teman sama sekali, dan tidak ada celah untuk berharap satu orang pun tersisa. Peniadaan yang mutlak tidak menyisakan tawar-menawar, dan Allah memakainya justru pada perkara yang paling ingin ditawar manusia.
- Sebutan teman jatuh paling belakang di ayat ini dan menerima tekanan paling berat dalam susunan Arab, sehingga yang paling terasa hilang justru disebut terakhir. Harta dan kuasa disebut lebih dulu di ayat sebelumnya. Kalau kehilangan teman ternyata diletakkan Allah sesudah kehilangan harta dan kuasa, apa sebenarnya yang paling kita jaga selama ini? Kita menghabiskan tenaga untuk mengumpulkan yang lebih dulu disebut hilang, dan menyisakan sedikit sekali untuk yang disebut terakhir.
Ayat 69:36
وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ
Dan tidak ada makanan kecuali dari nanah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍwa-laa tha'aamun illaa min ghisliinindan tidak ada makanan kecuali dari nanah
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- طَعَامٌtha'aamunmakanan
- إِلَّاillaakecuali
- مِنْmindari
- غِسْلِينٍghisliininnanah
Inti bacaan
Makanan yang justru menyiksa: 'tidak ada makanan kecuali dari nanah', pembalikan total dari konsep nutrisi yang menyehatkan menjadi sumber penderitaan, ironi tajam tentang kebutuhan dasar yang berubah menjadi hukuman.
Penjelasan pilihan kata
Kata (غِسْلِينٍ, gisliinin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mencuci, dan bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh, yaitu nanah bercampur darah. Jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Pertentangan di dalam kata itu perlu ditahan. Yang biasanya membersihkan menghasilkan yang paling kotor. Bahasa Arab membiarkan pertentangan tersebut berdiri di dalam satu kata, dan pembaca yang mengenali akarnya akan merasakannya sebelum artinya diterangkan. Terjemahan 'nanah' menahan bendanya, dan hubungan dengan akar mencuci itu larut sepenuhnya.
Kata (طَعَامٌ, tha'aamun) di sini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan.
Susunan pengecualiannya juga perlu diperhatikan. Kalimatnya menyangkal adanya makanan, lalu menyisakan satu pengecualian. Bentuk seperti itu dalam bahasa Arab memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya. Terjemahan 'tidak ada makanan kecuali dari nanah' menahan susunan tersebut.
Perhatikan juga hal berikut. Huruf sambung pembukanya menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat: tidak ada baginya teman, dan tidak ada pula makanan. Kesatuan kalimat itu menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan.
Perlu dicatat urutan penyebutannya. Teman disebut lebih dulu, baru makanan. Padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok. Urutan itu menempatkan kehilangan teman sebagai yang lebih diperhatikan, dan pembaca yang memperhatikannya akan bertanya-tanya mengapa yang lebih pokok justru disebut belakangan.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata makanannya tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu makanan, bukan makanan itu. Bentuk tidak tertentu di dalam kalimat sangkalan menyeluruhkan penyangkalan, jadi artinya tidak ada makanan apa pun. Pengecualian yang menyusul kemudian menjadi terasa lebih sempit, sebab ia dikecualikan dari sesuatu yang sudah ditiadakan sepenuhnya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan gambaran makanan hukuman yang menjijikkan. Ayat ini menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya, jadi dua ayat itu satu kalimat: tidak ada baginya teman, dan tidak ada pula makanan. Kesatuan kalimat itu menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan. Urutannya pun perlu dicatat: teman disebut lebih dulu, baru makanan, padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mencuci, dan bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh. Jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan. Yang biasanya membersihkan menghasilkan yang paling kotor, dan bahasa Arab membiarkan pertentangan tersebut berdiri di dalam satu kata. Terjemahan menahan bendanya, dan hubungan dengan akar mencuci itu larut sepenuhnya.
Kata untuk makanan di sini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan Allah kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan. Susunan pengecualiannya pun memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mencuci. Bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh, jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan. Allah membiarkan pertentangan itu berdiri di dalam satu kata, dan pembaca yang mengenali akarnya merasakannya sebelum artinya diterangkan. Sesuatu bisa lahir dari usaha membersihkan dan tetap menjadi yang paling kotor, dan bahasa menyimpan kenyataan itu di dalam satu kata.
- Kata untuk makanan di ayat ini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan Allah kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan, dan kesejajaran itu tidak dinyatakan tetapi tersedia bagi yang membacanya berurutan. Apa yang kita tahan dari orang lain punya cara sendiri untuk kembali kepada kita, dan Allah tidak perlu menyatakannya dengan kalimat.
- Teman disebut lebih dulu di 69:35, baru makanan di ayat ini, padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok. Urutan itu menempatkan kehilangan teman sebagai yang lebih diperhatikan Allah. Kalau yang lebih pokok justru disebut belakangan, mungkinkah yang paling kita butuhkan sebenarnya bukan yang paling kita kejar selama ini? Kebutuhan yang paling pokok belum tentu yang paling penting, dan urutan penyebutan Allah memperlihatkan bedanya.
- Huruf sambung pembuka ayat ini menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya, jadi dua ayat itu satu kalimat. Kesatuan kalimat menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan yang sama, dan bentuk kalimatnya sudah menyatakannya sebelum isinya dipahami. Dua kekurangan yang disebut dalam satu kalimat sebenarnya satu kekurangan, yaitu tidak adanya siapa pun yang peduli.
- Kalimat ini menyangkal adanya makanan, lalu menyisakan satu pengecualian. Bentuk seperti itu dalam bahasa Arab memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya. Allah memakai susunan yang menyempitkan pilihan sampai tinggal satu, dan yang satu itu justru yang paling tidak diinginkan siapa pun. Pilihan yang dipersempit sampai tinggal satu bukan lagi pilihan, dan itulah keadaan yang digambarkan Allah di sini.
- Bentuk kata makanan di ayat ini tidak tertentu, dan bentuk tidak tertentu di dalam kalimat sangkalan menyeluruhkan penyangkalan, jadi artinya tidak ada makanan apa pun. Pengecualian yang menyusul kemudian terasa lebih sempit, sebab ia dikecualikan dari sesuatu yang sudah ditiadakan Allah sepenuhnya lebih dahulu. Sangkalan yang menyeluruh lebih dulu diletakkan, baru pengecualiannya, dan urutan itu membuat pengecualiannya terasa semakin sempit.
Ayat 69:37
لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ
Tidak ada yang memakannya kecuali para pendosa.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَlaa ya'kuluhu illaa l-khaathi'uunatidak ada yang memakannya kecuali para pendosa
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaatidak
- يَأْكُلُهُya'kuluhumemakannya
- إِلَّاillaakecuali
- الْخَاطِئُونَl-khaathi'uunaorang-orang yang bersalah
Inti bacaan
Eksklusivitas konsekuensi berdasarkan pilihan: 'tidak ada yang memakannya kecuali para pendosa', penegasan bahwa nasib ini spesifik bagi kategori tertentu berdasarkan pilihan hidup mereka, bukan nasib universal yang menimpa semua orang tanpa pandang bulu.
Penjelasan pilihan kata
Tanda kutip penutup yang sempat muncul keliru di akhir ayat ini (residu dari kutip perintah 69:30-32 yang sebenarnya sudah ditutup di akhir 69:32) tidak dipertahankan: 69:33-37 murni narasi orang ketiga tanpa kutip sama sekali.
Kata (الْخَاطِئُونَ, al-khaathi-uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk jamak laki-laki dari akar yang berarti keliru atau bersalah. Akar yang sama sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Jadi kesalahan yang disebut di awal kisah dan pelakunya yang disebut di sini berasal dari satu akar.
Pertemuan itu menutup lingkaran. Di 69:9 yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini yang disebut adalah orang yang membawanya. Rangkaian yang membentang dari 69:9 sampai ayat ini diikat satu akar kata, meski di antaranya ada dua puluh tujuh ayat yang membicarakan hal lain.
Susunan pengecualiannya sama caranya dengan susunan di 69:36, dan dua ayat berurutan memakai cetakan yang sama. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Jadi makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Keduanya dipersempit dengan cara yang sama persis.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bentuk pelakunya jamak, sehingga bunyinya para pendosa, bukan si pendosa. Padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak itu memperluas jangkauannya, sama seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia. Jadi kedua golongan sama-sama dibuka dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa.
Bentuknya juga tertentu, sehingga bunyinya para pendosa itu, yaitu golongan yang sudah dikenal batasnya. Bentuk tertentu di sini menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sembarang orang yang pernah salah, melainkan golongan tertentu yang sudah diterangkan sifatnya di 69:33 dan 69:34.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Kata kerjanya berbentuk sekarang, sehingga menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Di tengah rangkaian yang penuh bentuk lampau dan perintah, kata kerja berbentuk sekarang menghadirkan pemandangan yang masih bergerak. Pembaca seolah sedang melihatnya terjadi, bukan membaca laporan sesudahnya.
Perlu dicatat bahwa ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain, yaitu sumpah tentang kebenaran Al-Qur'an. Jadi bagian yang dimulai di 69:19 dengan dua orang yang menerima catatannya berakhir di sini, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya.
Bunyi penutup ayat ini juga menyudahi satu rangkaian panjang. Sejak 69:19 semua ucapan berakhir dengan huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti, lalu di 69:30 sampai 69:32 penutupnya berganti menjadi kata ganti yang menempel, dan di sini berganti lagi menjadi sebutan jamak. Tiga jenis penutup berturut-turut menandai tiga tahap: yang berbicara, yang diperintahkan, dan yang digolongkan. Bunyinya berubah seiring berubahnya kedudukan orangnya.
Perlu diperhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut jumlah mereka. Yang disebut hanya bahwa merekalah golongannya, tanpa keterangan banyak atau sedikit. Kekosongan itu sejalan dengan cara surah ini memperlakukan angka: ia menyebutkan tujuh malam, delapan hari, delapan yang menjunjung, dan tujuh puluh hasta, tetapi tidak pernah menyebut berapa orang. Yang dihitung adalah waktu dan ukuran, bukan manusia.
Kata (يَأْكُلُهُ, ya'kuluhu) berbentuk sekarang dan berakhiran kata ganti yang menunjuk makanan di 69:36. Jadi dua ayat itu tersambung oleh satu huruf di ujung kata kerja, dan membaca ayat ini sendirian akan menyisakan kata ganti yang tidak punya rujukan. Susunan seperti itu memaksa pembaca menahan ayat sebelumnya di dalam ingatan sebelum melangkah.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran hukuman: hanya para pendosa yang memakan makanan itu. Ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain, yaitu sumpah tentang kebenaran Al-Qur'an. Bagian yang dimulai di 69:19 dengan dua orang yang menerima catatannya berakhir di sini, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Di sana yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini yang disebut adalah orang yang membawanya. Rangkaian yang membentang dari 69:9 sampai ayat ini diikat satu akar kata, meski di antaranya ada dua puluh tujuh ayat yang membicarakan hal lain. Allah menutup lingkaran itu tanpa satu kalimat penghubung pun.
Susunan pengecualiannya sama caranya dengan susunan di 69:36, dan dua ayat berurutan memakai cetakan yang sama. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Sementara bentuk pelakunya jamak, padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang, sehingga jangkauannya diperluas dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa, persis seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Di sana yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini orang yang membawanya. Rangkaian sepanjang dua puluh tujuh ayat diikat Allah dengan satu akar kata, tanpa satu kalimat penghubung pun. Awal dan akhir sebuah bagian diikat satu akar kata, dan tautan seperti itu hanya terlihat oleh pembaca yang membacanya utuh.
- Susunan pengecualian di ayat ini sama caranya dengan susunan di 69:36. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Allah mempersempit keduanya dengan cara yang sama persis, dan pengulangan cetakan itu mengunci dua ayat menjadi satu bangunan.
- Bentuk pelakunya jamak, sehingga bunyinya para pendosa, padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak memperluas jangkauannya, sama seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia. Kedua golongan sama-sama dibuka Allah dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa, dan perlakuan yang seimbang itu sendiri patut diperhatikan. Contoh yang dibuka menjadi golongan berlaku untuk kedua sisi, dan keseimbangan itu memperlihatkan keadilan dalam cara bercerita.
- Bentuk kata terakhirnya tertentu, sehingga bunyinya para pendosa itu, yaitu golongan yang sudah dikenal batasnya. Bentuk tertentu di sini menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sembarang orang yang pernah salah, melainkan golongan tertentu yang sudah diterangkan sifatnya di 69:33 dan 69:34. Allah tidak membiarkan sebutan itu mengambang tanpa batas. Sebutan yang berbatas jelas melindungi pembaca dari menuduh terlalu luas, dan Allah memberi batas itu di ayat sebelumnya.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Di tengah rangkaian yang penuh bentuk lampau dan perintah, kata kerja berbentuk sekarang menghadirkan pemandangan yang masih bergerak. Pembaca seolah sedang melihatnya terjadi, bukan membaca laporan sesudahnya. Bentuk kata kerja bisa memindahkan pembaca dari membaca laporan menjadi menyaksikan kejadian, dan Al-Qur'an memakainya dengan sangat tepat.
- Ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain. Kalau Allah memilih menutup bagian sepanjang itu dengan menyebut golongan orangnya dan bukan dengan menambah gambaran, apa yang sebenarnya hendak ditinggalkan pada ingatan pembacanya? Yang paling perlu tertinggal di ingatan bukan bentuk siksaannya melainkan sifat orang yang menerimanya, sebab sifat itu masih bisa diubah hari ini.