إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِinnahu kaana laa yu'minu bi-llaahi l-'azhiimisesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. إِنَّهُinnahusesungguhnya dia
  2. كَانَkaanaadalah
  3. لَاlaatidak
  4. يُؤْمِنُyu'minuberiman
  5. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  6. الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung

Inti bacaan

Akar masalah yang diidentifikasi: 'sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Sang Agung', pengungkapan penyebab dasar dari seluruh rangkaian konsekuensi, penolakan terhadap keimanan sebagai titik awal kegagalan.

Penjelasan pilihan kata

'Al-azhiimi' gelar takrif tetap sesudah 'billaahi', dipertahankan 'Sang Agung' sesuai kaidah baku.

Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiimi) muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti Yang Agung, Yang Besar. Sifat inilah yang dipilih untuk disebutkan di ayat yang menerangkan sebab hukuman, dan pemilihan itu tidak sembarangan.

Perbandingan dengan 69:29 patut dicatat. Di sana orang itu meratap bahwa kekuasaannya telah binasa. Di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Jadi yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap.

Susunan (كَانَ لَا يُؤْمِنُ, kaana laa yu'minu) memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang. Gabungan seperti itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Terjemahan 'dia tidak beriman' menahan artinya, dan unsur kebiasaan yang berlarut itu larut.

Pembuka (إِنَّهُ, innahu) adalah penegas yang berarti sesungguhnya dia. Penegas seperti ini dipakai ketika ada yang perlu diyakinkan atau ditegaskan. Di sini yang ditegaskan adalah alasan hukumannya, dan penegasan itu menutup kemungkinan bahwa hukumannya jatuh tanpa dasar.

Letak ayat ini juga perlu diperhatikan. Ia datang sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Jadi keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan.

Sebab yang disebut di sini adalah yang pertama dari dua. Yang kedua datang di 69:34 dan menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Jadi dua sebab itu tersusun menaik dari hubungan dengan Allah ke hubungan dengan orang lain. Keduanya disebut bergandengan, dan penggandengan itu menyatakan bahwa yang satu tidak berdiri tanpa yang lain.

Perlu dicatat bahwa yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol. Tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal: tidak beriman dan tidak mendorong memberi makan. Kesederhanaan daftar itu sendiri mengejutkan, sebab yang mengantar orang ke keadaan seberat itu ternyata bukan kejahatan yang luar biasa.

Sebutan untuk Allah di ayat ini juga perlu diperhatikan letaknya. Ia disebut dengan nama-Nya, lalu disusul sifat keagungan, dan sifat itu jatuh paling belakang sehingga menerima tekanan paling berat. Susunan seperti itu membuat yang terakhir terdengar bukan nama-Nya melainkan keagungan-Nya. Bagi orang yang sepanjang hidup menuntut kebesaran untuk dirinya sendiri, kata terakhir itulah yang paling menyakitkan didengar.

Bandingkan pula dengan orang yang berbahagia di 69:20. Di sana yang disebut sebagai pangkal kegembiraannya adalah keyakinan bahwa perhitungan akan datang. Di sini yang disebut sebagai pangkal kecelakaannya adalah tidak adanya keimanan. Dua ayat itu berdiri sebagai pasangan yang berhadapan: satu menyebut apa yang dipercayai, satu menyebut apa yang ditolak. Yang menentukan nasib keduanya ternyata sama-sama perkara yang berada di dalam dada, bukan yang tampak di tangan.

Tafsiran

Ayat penutup rangkaian ini menjelaskan sebab utama azab: ketidakberimanan kepada Allah. Ayat ini menyebutkan sebab hukuman, dan letaknya sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan.

Sifat Allah yang dipilih untuk disebutkan di sini adalah keagungan, dan kata itu muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an. Pemilihan itu tidak sembarangan. Di 69:29 orang tersebut meratap bahwa kekuasaannya telah binasa, dan di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap.

Susunannya memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang, dan gabungan seperti itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Terjemahan menahan artinya, dan unsur kebiasaan yang berlarut itu larut. Yang paling perlu dicatat, sebab yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol: tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal, dan yang kedua baru datang di 69:34.

Renungan dan Hikmah

  • Di 69:29 orang itu meratap bahwa kekuasaannya telah binasa, dan di sini disebutkan bahwa ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Yang diakuinya sebagai miliknya adalah kekuasaan, dan yang ditolaknya adalah keagungan. Dua kata itu berdekatan artinya, dan yang satu runtuh sementara yang lain tetap. Manusia menuntut untuk dirinya sifat yang justru diingkarinya pada pemilik sejatinya. Sifat yang kita rebut untuk diri sendiri biasanya justru sifat yang paling jelas bukan milik kita.
  • Susunan di ayat ini memakai kata kerja bantu berbentuk lampau ditambah kata kerja berbentuk sekarang, dan gabungan itu dalam bahasa Arab menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus-menerus di masa lampau. Jadi bukan sekali tidak beriman, melainkan terus-menerus begitu sepanjang hidupnya. Yang dihukum Allah adalah pendirian yang dipertahankan seumur hidup, bukan satu kekeliruan yang lewat. Pendirian yang dipertahankan bertahun-tahun tidak dibangun dalam sehari, dan karena itu ia juga tidak runtuh dalam sehari.
  • Yang disebut bukan perbuatan buruk yang menonjol. Tidak ada penyebutan pembunuhan, perampasan, atau pengkhianatan. Yang disebut hanya dua hal, dan yang kedua baru datang di 69:34. Kesederhanaan daftar itu sendiri mengejutkan, sebab yang mengantar orang ke keadaan seberat itu ternyata bukan kejahatan yang luar biasa melainkan sikap yang biasa dianggap sepele. Yang paling berbahaya bukan kejahatan yang mengejutkan, melainkan kebiasaan yang begitu wajar sampai tidak pernah dipertanyakan.
  • Ayat ini datang sesudah tiga perintah selesai dijatuhkan, bukan sebelumnya. Keputusan diumumkan lebih dulu dan dasarnya menyusul kemudian. Susunan seperti itu menandai bahwa perkaranya sudah tidak lagi berada di tahap pembuktian, dan yang disebut sekarang bukan tuduhan melainkan keterangan dari Allah tentang perkara yang sudah selesai ditimbang. Keputusan Allah selalu berdasar, dan ayat ini menutup pintu bagi siapa pun yang hendak menyebutnya sewenang-wenang.
  • Pembuka ayat ini adalah penegas yang berarti sesungguhnya dia, dan penegas seperti ini dipakai ketika ada yang perlu diyakinkan. Di sini yang ditegaskan adalah alasan hukumannya. Penegasan itu menutup kemungkinan bahwa hukuman dari Allah jatuh tanpa dasar, dan pembaca tidak diberi ruang untuk menganggapnya kesewenangan. Penegasan diletakkan di tempat yang paling mungkin diragukan orang, dan itu sendiri sudah menunjukkan Allah mengenal keraguan kita.
  • Sebab yang disebut di ayat ini adalah yang pertama dari dua, dan yang kedua datang di 69:34 menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Dua sebab itu disebut bergandengan, dan penggandengan itu menyatakan bahwa yang satu tidak berdiri tanpa yang lain. Kalau iman dan kepedulian memang selalu disebut sepasang, mungkinkah kita selama ini memisahkan apa yang tidak pernah dipisahkan? Iman tanpa kepedulian dan kepedulian tanpa iman sama-sama timpang, dan Al-Qur'an menyandingkan keduanya berulang kali.