وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ

Dan tidak ada makanan kecuali dari nanah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍwa-laa tha'aamun illaa min ghisliinindan tidak ada makanan kecuali dari nanah

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. طَعَامٌtha'aamunmakanan
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. مِنْmindari
  5. غِسْلِينٍghisliininnanah

Inti bacaan

Makanan yang justru menyiksa: 'tidak ada makanan kecuali dari nanah', pembalikan total dari konsep nutrisi yang menyehatkan menjadi sumber penderitaan, ironi tajam tentang kebutuhan dasar yang berubah menjadi hukuman.

Penjelasan pilihan kata

Kata (غِسْلِينٍ, gisliinin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mencuci, dan bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh, yaitu nanah bercampur darah. Jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Pertentangan di dalam kata itu perlu ditahan. Yang biasanya membersihkan menghasilkan yang paling kotor. Bahasa Arab membiarkan pertentangan tersebut berdiri di dalam satu kata, dan pembaca yang mengenali akarnya akan merasakannya sebelum artinya diterangkan. Terjemahan 'nanah' menahan bendanya, dan hubungan dengan akar mencuci itu larut sepenuhnya.

Kata (طَعَامٌ, tha'aamun) di sini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan.

Susunan pengecualiannya juga perlu diperhatikan. Kalimatnya menyangkal adanya makanan, lalu menyisakan satu pengecualian. Bentuk seperti itu dalam bahasa Arab memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya. Terjemahan 'tidak ada makanan kecuali dari nanah' menahan susunan tersebut.

Perhatikan juga hal berikut. Huruf sambung pembukanya menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat: tidak ada baginya teman, dan tidak ada pula makanan. Kesatuan kalimat itu menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan.

Perlu dicatat urutan penyebutannya. Teman disebut lebih dulu, baru makanan. Padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok. Urutan itu menempatkan kehilangan teman sebagai yang lebih diperhatikan, dan pembaca yang memperhatikannya akan bertanya-tanya mengapa yang lebih pokok justru disebut belakangan.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata makanannya tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu makanan, bukan makanan itu. Bentuk tidak tertentu di dalam kalimat sangkalan menyeluruhkan penyangkalan, jadi artinya tidak ada makanan apa pun. Pengecualian yang menyusul kemudian menjadi terasa lebih sempit, sebab ia dikecualikan dari sesuatu yang sudah ditiadakan sepenuhnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran makanan hukuman yang menjijikkan. Ayat ini menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya, jadi dua ayat itu satu kalimat: tidak ada baginya teman, dan tidak ada pula makanan. Kesatuan kalimat itu menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan. Urutannya pun perlu dicatat: teman disebut lebih dulu, baru makanan, padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mencuci, dan bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh. Jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan. Yang biasanya membersihkan menghasilkan yang paling kotor, dan bahasa Arab membiarkan pertentangan tersebut berdiri di dalam satu kata. Terjemahan menahan bendanya, dan hubungan dengan akar mencuci itu larut sepenuhnya.

Kata untuk makanan di sini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan Allah kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan. Susunan pengecualiannya pun memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mencuci. Bentuk ini menunjuk cairan yang keluar dari luka ketika dibasuh, jadi kata untuk sesuatu yang paling menjijikkan justru dibangun dari akar yang berarti membersihkan. Allah membiarkan pertentangan itu berdiri di dalam satu kata, dan pembaca yang mengenali akarnya merasakannya sebelum artinya diterangkan. Sesuatu bisa lahir dari usaha membersihkan dan tetap menjadi yang paling kotor, dan bahasa menyimpan kenyataan itu di dalam satu kata.
  • Kata untuk makanan di ayat ini menyambung ke 69:34, tempat kata seakar dipakai untuk makanan orang miskin. Di sana ia tidak mendorong orang memberi makan, dan di sini ia sendiri tidak mendapat makanan kecuali yang paling buruk. Yang ditahannya dari orang lain dikembalikan Allah kepadanya dalam bentuk yang paling jauh dari makanan, dan kesejajaran itu tidak dinyatakan tetapi tersedia bagi yang membacanya berurutan. Apa yang kita tahan dari orang lain punya cara sendiri untuk kembali kepada kita, dan Allah tidak perlu menyatakannya dengan kalimat.
  • Teman disebut lebih dulu di 69:35, baru makanan di ayat ini, padahal makanan adalah kebutuhan yang lebih pokok. Urutan itu menempatkan kehilangan teman sebagai yang lebih diperhatikan Allah. Kalau yang lebih pokok justru disebut belakangan, mungkinkah yang paling kita butuhkan sebenarnya bukan yang paling kita kejar selama ini? Kebutuhan yang paling pokok belum tentu yang paling penting, dan urutan penyebutan Allah memperlihatkan bedanya.
  • Huruf sambung pembuka ayat ini menyambung ke 69:35 tanpa mengulang kata pengingkarnya, jadi dua ayat itu satu kalimat. Kesatuan kalimat menempatkan teman dan makanan dalam satu deretan, seolah keduanya sejenis. Yang hilang bukan dua perkara terpisah melainkan dua bagian dari satu kekurangan yang sama, dan bentuk kalimatnya sudah menyatakannya sebelum isinya dipahami. Dua kekurangan yang disebut dalam satu kalimat sebenarnya satu kekurangan, yaitu tidak adanya siapa pun yang peduli.
  • Kalimat ini menyangkal adanya makanan, lalu menyisakan satu pengecualian. Bentuk seperti itu dalam bahasa Arab memusatkan perhatian pada yang dikecualikan, sehingga yang terdengar bukan tidak ada makanan melainkan hanya ini makanannya. Allah memakai susunan yang menyempitkan pilihan sampai tinggal satu, dan yang satu itu justru yang paling tidak diinginkan siapa pun. Pilihan yang dipersempit sampai tinggal satu bukan lagi pilihan, dan itulah keadaan yang digambarkan Allah di sini.
  • Bentuk kata makanan di ayat ini tidak tertentu, dan bentuk tidak tertentu di dalam kalimat sangkalan menyeluruhkan penyangkalan, jadi artinya tidak ada makanan apa pun. Pengecualian yang menyusul kemudian terasa lebih sempit, sebab ia dikecualikan dari sesuatu yang sudah ditiadakan Allah sepenuhnya lebih dahulu. Sangkalan yang menyeluruh lebih dulu diletakkan, baru pengecualiannya, dan urutan itu membuat pengecualiannya terasa semakin sempit.