لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ

Tidak ada yang memakannya kecuali para pendosa.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَlaa ya'kuluhu illaa l-khaathi'uunatidak ada yang memakannya kecuali para pendosa

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَأْكُلُهُya'kuluhumemakannya
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. الْخَاطِئُونَl-khaathi'uunaorang-orang yang bersalah

Inti bacaan

Eksklusivitas konsekuensi berdasarkan pilihan: 'tidak ada yang memakannya kecuali para pendosa', penegasan bahwa nasib ini spesifik bagi kategori tertentu berdasarkan pilihan hidup mereka, bukan nasib universal yang menimpa semua orang tanpa pandang bulu.

Penjelasan pilihan kata

Tanda kutip penutup yang sempat muncul keliru di akhir ayat ini (residu dari kutip perintah 69:30-32 yang sebenarnya sudah ditutup di akhir 69:32) tidak dipertahankan: 69:33-37 murni narasi orang ketiga tanpa kutip sama sekali.

Kata (الْخَاطِئُونَ, al-khaathi-uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk jamak laki-laki dari akar yang berarti keliru atau bersalah. Akar yang sama sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Jadi kesalahan yang disebut di awal kisah dan pelakunya yang disebut di sini berasal dari satu akar.

Pertemuan itu menutup lingkaran. Di 69:9 yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini yang disebut adalah orang yang membawanya. Rangkaian yang membentang dari 69:9 sampai ayat ini diikat satu akar kata, meski di antaranya ada dua puluh tujuh ayat yang membicarakan hal lain.

Susunan pengecualiannya sama caranya dengan susunan di 69:36, dan dua ayat berurutan memakai cetakan yang sama. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Jadi makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Keduanya dipersempit dengan cara yang sama persis.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bentuk pelakunya jamak, sehingga bunyinya para pendosa, bukan si pendosa. Padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak itu memperluas jangkauannya, sama seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia. Jadi kedua golongan sama-sama dibuka dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa.

Bentuknya juga tertentu, sehingga bunyinya para pendosa itu, yaitu golongan yang sudah dikenal batasnya. Bentuk tertentu di sini menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sembarang orang yang pernah salah, melainkan golongan tertentu yang sudah diterangkan sifatnya di 69:33 dan 69:34.

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Kata kerjanya berbentuk sekarang, sehingga menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Di tengah rangkaian yang penuh bentuk lampau dan perintah, kata kerja berbentuk sekarang menghadirkan pemandangan yang masih bergerak. Pembaca seolah sedang melihatnya terjadi, bukan membaca laporan sesudahnya.

Perlu dicatat bahwa ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain, yaitu sumpah tentang kebenaran Al-Qur'an. Jadi bagian yang dimulai di 69:19 dengan dua orang yang menerima catatannya berakhir di sini, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya.

Bunyi penutup ayat ini juga menyudahi satu rangkaian panjang. Sejak 69:19 semua ucapan berakhir dengan huruf penutup yang hanya muncul saat bacaan berhenti, lalu di 69:30 sampai 69:32 penutupnya berganti menjadi kata ganti yang menempel, dan di sini berganti lagi menjadi sebutan jamak. Tiga jenis penutup berturut-turut menandai tiga tahap: yang berbicara, yang diperintahkan, dan yang digolongkan. Bunyinya berubah seiring berubahnya kedudukan orangnya.

Perlu diperhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut jumlah mereka. Yang disebut hanya bahwa merekalah golongannya, tanpa keterangan banyak atau sedikit. Kekosongan itu sejalan dengan cara surah ini memperlakukan angka: ia menyebutkan tujuh malam, delapan hari, delapan yang menjunjung, dan tujuh puluh hasta, tetapi tidak pernah menyebut berapa orang. Yang dihitung adalah waktu dan ukuran, bukan manusia.

Kata (يَأْكُلُهُ, ya'kuluhu) berbentuk sekarang dan berakhiran kata ganti yang menunjuk makanan di 69:36. Jadi dua ayat itu tersambung oleh satu huruf di ujung kata kerja, dan membaca ayat ini sendirian akan menyisakan kata ganti yang tidak punya rujukan. Susunan seperti itu memaksa pembaca menahan ayat sebelumnya di dalam ingatan sebelum melangkah.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran hukuman: hanya para pendosa yang memakan makanan itu. Ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain, yaitu sumpah tentang kebenaran Al-Qur'an. Bagian yang dimulai di 69:19 dengan dua orang yang menerima catatannya berakhir di sini, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Di sana yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini yang disebut adalah orang yang membawanya. Rangkaian yang membentang dari 69:9 sampai ayat ini diikat satu akar kata, meski di antaranya ada dua puluh tujuh ayat yang membicarakan hal lain. Allah menutup lingkaran itu tanpa satu kalimat penghubung pun.

Susunan pengecualiannya sama caranya dengan susunan di 69:36, dan dua ayat berurutan memakai cetakan yang sama. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Sementara bentuk pelakunya jamak, padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang, sehingga jangkauannya diperluas dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa, persis seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sudah dipakai di 69:9 untuk kesalahan yang dibawa Firaun dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan. Di sana yang disebut adalah muatan yang dibawa, dan di sini orang yang membawanya. Rangkaian sepanjang dua puluh tujuh ayat diikat Allah dengan satu akar kata, tanpa satu kalimat penghubung pun. Awal dan akhir sebuah bagian diikat satu akar kata, dan tautan seperti itu hanya terlihat oleh pembaca yang membacanya utuh.
  • Susunan pengecualian di ayat ini sama caranya dengan susunan di 69:36. Yang satu menyangkal adanya makanan lalu mengecualikan satu jenis, yang lain menyangkal adanya pemakan lalu mengecualikan satu golongan. Makanannya satu jenis saja, dan pemakannya satu golongan saja. Allah mempersempit keduanya dengan cara yang sama persis, dan pengulangan cetakan itu mengunci dua ayat menjadi satu bangunan.
  • Bentuk pelakunya jamak, sehingga bunyinya para pendosa, padahal sejak 69:25 yang dibicarakan adalah satu orang. Perpindahan dari satu ke banyak memperluas jangkauannya, sama seperti yang terjadi di 69:24 untuk golongan yang berbahagia. Kedua golongan sama-sama dibuka Allah dari satu contoh menjadi seluruh yang bernasib serupa, dan perlakuan yang seimbang itu sendiri patut diperhatikan. Contoh yang dibuka menjadi golongan berlaku untuk kedua sisi, dan keseimbangan itu memperlihatkan keadilan dalam cara bercerita.
  • Bentuk kata terakhirnya tertentu, sehingga bunyinya para pendosa itu, yaitu golongan yang sudah dikenal batasnya. Bentuk tertentu di sini menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sembarang orang yang pernah salah, melainkan golongan tertentu yang sudah diterangkan sifatnya di 69:33 dan 69:34. Allah tidak membiarkan sebutan itu mengambang tanpa batas. Sebutan yang berbatas jelas melindungi pembaca dari menuduh terlalu luas, dan Allah memberi batas itu di ayat sebelumnya.
  • Kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Di tengah rangkaian yang penuh bentuk lampau dan perintah, kata kerja berbentuk sekarang menghadirkan pemandangan yang masih bergerak. Pembaca seolah sedang melihatnya terjadi, bukan membaca laporan sesudahnya. Bentuk kata kerja bisa memindahkan pembaca dari membaca laporan menjadi menyaksikan kejadian, dan Al-Qur'an memakainya dengan sangat tepat.
  • Ayat ini menutup rangkaian tentang orang yang celaka, dan penutupnya bukan gambaran siksaan melainkan penyebutan siapa yang menjalaninya. Sesudahnya surah berpindah ke perkara yang sama sekali lain. Kalau Allah memilih menutup bagian sepanjang itu dengan menyebut golongan orangnya dan bukan dengan menambah gambaran, apa yang sebenarnya hendak ditinggalkan pada ingatan pembacanya? Yang paling perlu tertinggal di ingatan bukan bentuk siksaannya melainkan sifat orang yang menerimanya, sebab sifat itu masih bisa diubah hari ini.