فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ
Maka, Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَfa-laa uqsimu bi-maa tubshiruunamaka, Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَلَاfa-laamaka
- أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
- بِمَاbi-maademi apa yang
- تُبْصِرُونَtubshiruunakalian memperhatikan
Inti bacaan
Sumpah yang mencakup realitas kasat mata: 'Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat', penggunaan bukti empiris yang dapat diverifikasi sebagai dasar penegasan kebenaran, argumen yang berpijak pada realitas yang dapat diamati.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (فَلَا أُقْسِمُ, falaa uqsimu) muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an: 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Kata kerja sumpahnya sendiri, (أُقْسِمُ, uqsimu), muncul di 8 ayat. Jadi bentuk sumpah yang dipakai di sini adalah bentuk yang berulang, bukan bentuk yang khusus untuk surah ini.
Yang menarik, salah satu dari lima tempat itu adalah 70:40, yaitu surah berikutnya. Dua surah yang bersebelahan memakai pembuka sumpah yang sama persis. Pembaca yang membacanya berurutan akan mendengar susunan yang sama muncul lagi tak lama sesudah surah ini selesai.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Huruf pengingkar sebelum kata kerja sumpahnya perlu diterangkan. Secara harfiah ia berarti tidak, sehingga bunyinya seolah aku tidak bersumpah. Dalam pemakaian Arab, huruf itu di tempat seperti ini justru menguatkan sumpahnya, bukan membatalkannya. Terjemahan 'Aku bersumpah' memilih memaknainya sebagai penguat, dan itu pilihan yang lazim.
Kata (تُبْصِرُونَ, tubshiruuna) muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah 69:38 dan 69:39. Jadi dua ayat berurutan di surah ini memakai kata yang sama, sekali dalam kalimat biasa dan sekali dalam kalimat sangkalan. Pengulangan berdempetan dengan arah yang berlawanan seperti itu jarang terjadi.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata kerjanya orang kedua jamak, sehingga bunyinya yang kalian lihat. Yang dijadikan sandaran sumpah bukan pandangan Allah melainkan pandangan manusia. Susunan itu memulai dari yang paling bisa diperiksa pendengarnya sendiri, lalu di ayat berikutnya melebar ke yang tidak bisa diperiksa siapa pun.
Letak ayat ini juga perlu dicatat. Ia datang tepat sesudah gambaran neraka selesai di 69:37. Jadi sesudah berbicara panjang tentang yang tidak terlihat, Allah bersumpah dengan yang terlihat. Perpindahan itu membawa pembicaraan kembali ke tanah yang bisa dipijak pembacanya.
Perlu diperhatikan bahwa yang disumpahi tidak disebutkan dengan satu nama pun. Yang dipakai adalah kata sambung yang berarti apa yang, tanpa menyebut bendanya. Kekaburan itu membuat sumpahnya mencakup segala sesuatu tanpa kecuali, dan menyebut satu nama justru akan mempersempitnya.
Bandingkan pula dengan empat tempat lain yang memakai pembuka sumpah ini. Semuanya berada di surah-surah pendek yang membicarakan hari kiamat dan kebenaran wahyu. Tidak satu pun dipakai untuk perkara hukum atau kisah. Jadi pembuka itu seperti tanda yang menandai jenis perkaranya sebelum isinya disebut, dan pendengar yang terbiasa akan langsung tahu ke arah mana pembicaraan akan bergerak.
Perhatikan pula bahwa yang bersumpah adalah Allah sendiri. Manusia bersumpah untuk meyakinkan orang lain karena perkataannya sendiri belum tentu dipercaya. Allah tidak memerlukan itu, dan sumpah-Nya bukan untuk menambah kebenaran melainkan untuk menarik perhatian pada apa yang akan disebut. Yang dipakai sebagai sandaran pun ciptaan-Nya sendiri, sehingga sumpahnya sekaligus menjadi penyebutan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Tafsiran
Ayat ini membuka sumpah ganda Allah untuk menegaskan kebenaran wahyu. Ayat ini memindahkan pembicaraan dari gambaran neraka ke sumpah tentang kebenaran wahyu. Letaknya tepat sesudah gambaran itu selesai di 69:37, jadi sesudah berbicara panjang tentang yang tidak terlihat, Allah bersumpah dengan yang terlihat. Perpindahan itu membawa pembicaraan kembali ke tanah yang bisa dipijak pembacanya.
Rangkaian pembukanya muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya adalah 70:40, yaitu surah berikutnya. Dua surah yang bersebelahan memakai pembuka sumpah yang sama persis. Huruf pengingkar sebelum kata kerja sumpahnya perlu diterangkan: secara harfiah ia berarti tidak, sehingga bunyinya seolah aku tidak bersumpah, tetapi dalam pemakaian Arab huruf itu di tempat seperti ini justru menguatkan sumpahnya. Terjemahan memilih memaknainya sebagai penguat, dan itu pilihan yang lazim.
Kata kerja untuk melihat di sini muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah ayat ini dan 69:39. Dua ayat berurutan memakai kata yang sama, sekali dalam kalimat biasa dan sekali dalam kalimat sangkalan. Bentuknya orang kedua jamak, sehingga bunyinya yang kalian lihat, dan yang dijadikan sandaran sumpah bukan pandangan Allah melainkan pandangan manusia. Susunan itu memulai dari yang paling bisa diperiksa pendengarnya sendiri, lalu melebar ke yang tidak bisa diperiksa siapa pun. Yang disumpahi pun tidak disebut dengan satu nama, sehingga cakupannya tidak terbatas.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk kata kerja di ayat ini orang kedua jamak, sehingga bunyinya yang kalian lihat. Yang dijadikan sandaran sumpah bukan pandangan Allah melainkan pandangan manusia. Susunan itu memulai dari yang paling bisa diperiksa pendengarnya sendiri, lalu di ayat berikutnya melebar ke yang tidak bisa diperiksa siapa pun. Yang dekat dipakai sebagai pijakan menuju yang jauh. Iman tidak pernah diminta Allah untuk berdiri di atas sesuatu yang tak berpijak sama sekali. Bukti yang bisa diperiksa sendiri selalu lebih menenangkan daripada bukti yang harus diterima begitu saja.
- Huruf pengingkar sebelum kata kerja sumpah di ayat ini secara harfiah berarti tidak, sehingga bunyinya seolah aku tidak bersumpah. Dalam pemakaian Arab, huruf itu di tempat seperti ini justru menguatkan sumpahnya, bukan membatalkannya. Terjemahan memilih memaknainya sebagai penguat, dan pembaca yang membacanya harfiah akan menyimpulkan kebalikan dari yang dimaksud Allah. Membaca teks suci dengan harfiah tanpa mengenal kebiasaan bahasanya bisa menghasilkan kesimpulan yang persis terbalik.
- Ayat ini datang tepat sesudah gambaran neraka selesai di 69:37. Sesudah berbicara panjang tentang yang tidak terlihat, Allah bersumpah dengan yang terlihat. Perpindahan itu membawa pembicaraan kembali ke tanah yang bisa dipijak pembacanya, dan cara seperti itu menjaga supaya yang gaib tetap bertaut dengan yang nyata. Yang gaib dan yang nyata bukan dua dunia terpisah, dan Al-Qur'an terus-menerus menautkan keduanya di dalam satu rangkaian. Yang gaib dijelaskan dengan bahan dari yang nyata, dan itu satu-satunya cara yang mungkin bagi akal manusia.
- Yang disumpahi di ayat ini tidak disebutkan dengan satu nama pun; yang dipakai adalah kata sambung yang berarti apa yang, tanpa menyebut bendanya. Kekaburan itu membuat sumpahnya mencakup segala sesuatu tanpa kecuali. Menyebut satu nama justru akan mempersempitnya, dan Allah memilih keluasan daripada kejelasan di tempat ini. Menyebut nama selalu membatasi, dan ada saat ketika Allah memilih tidak membatasi apa yang sedang dibicarakan.
- Rangkaian pembuka ayat ini muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja sumpahnya sendiri muncul di 8 ayat. Bentuk sumpah yang dipakai di sini adalah bentuk yang berulang, bukan bentuk khusus untuk surah ini. Yang berulang menjadi tanda pengenal, dan pembaca yang sering membaca akan mengenali nadanya sebelum isinya selesai dibaca. Susunan yang berulang membentuk kebiasaan telinga, dan kebiasaan itu menolong pembaca menangkap arah sebelum isinya lengkap.
- Salah satu dari lima tempat yang memuat rangkaian ini adalah 70:40, yaitu surah berikutnya. Dua surah yang bersebelahan memakai pembuka sumpah yang sama persis. Kalau dua surah yang berdampingan saja sudah menyimpan tautan sekuat itu, berapa banyak tautan lain yang lewat begitu saja karena kita membaca satu surah dan berhenti? Membaca berurutan lintas surah membuka tautan yang tidak akan pernah muncul dari membaca sepotong-sepotong.