وَمَا لَا تُبْصِرُونَ

Dan demi apa yang tidak kalian lihat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا لَا تُبْصِرُونَwa-maa laa tubshiruunadan demi apa yang tidak kalian lihat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَمَاwa-maadan apa yang
  2. لَاlaatidak
  3. تُبْصِرُونَtubshiruunakalian memperhatikan

Inti bacaan

Perluasan sumpah ke dimensi tak terlihat: 'dan demi apa yang tidak kalian lihat', pelengkap yang mengakui bahwa realitas mencakup lebih dari yang bisa diindra langsung, kerangka yang menghormati baik pengetahuan empiris maupun dimensi tersembunyi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (تُبْصِرُونَ, tubshiruuna) di ayat ini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:38. Kata itu muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah dua ayat berdempetan ini. Yang pertama dalam kalimat biasa, yang kedua dalam kalimat sangkalan.

Pengulangan dengan arah berlawanan seperti itu menyusun cakupan yang menyeluruh. Yang disumpahi adalah apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat, dan dua golongan itu bersama-sama mencakup segala yang ada. Tidak ada yang tersisa di luar keduanya, sebab sesuatu hanya bisa terlihat atau tidak terlihat.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Ayat ini hanya tiga patah kata, dan ia melanjutkan kalimat yang dimulai di 69:38 tanpa mengulang kata kerja sumpahnya. Jadi dua ayat itu satu sumpah yang dipotong menjadi dua. Pemotongan itu memberi jeda tepat di antara yang terlihat dan yang tidak, sehingga pembaca sempat berhenti sebelum menerima bagian keduanya.

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Susunan sangkalannya memakai kata pengingkar yang meniadakan perbuatan, bukan yang meniadakan keberadaan. Jadi yang disangkal bukan adanya benda itu, melainkan sampainya benda itu ke penglihatan manusia. Yang tidak terlihat tetap ada; hanya mata yang tidak sampai kepadanya.

Perbedaan itu penting sekali. Kalau yang disangkal adalah keberadaannya, sumpah ini akan bersandar pada sesuatu yang tiada. Karena yang disangkal hanya penglihatannya, sumpah ini bersandar pada sesuatu yang ada tetapi tidak terjangkau. Terjemahan 'apa yang tidak kalian lihat' menahan perbedaan tersebut dengan tepat.

Perhatikan pula bahwa golongan kedua ini disebut belakangan. Yang bisa dilihat disebut lebih dulu, baru yang tidak. Urutan itu berangkat dari yang paling mudah diterima menuju yang paling sulit, dan seluruh surah ini memakai cara yang sama: kisah yang bisa diperiksa lebih dulu, berita tentang hari kiamat sesudahnya.

Perlu dicatat bahwa dua golongan ini juga mengembalikan pembaca ke bagian-bagian awal surah. Kaum yang binasa termasuk yang pernah terlihat, sedangkan hari kiamat, malaikat, dan neraka termasuk yang tidak terlihat. Jadi sumpah ini merangkum seluruh bahan yang sudah dipakai sejak 69:4 dalam dua patah golongan saja.

Bandingkan pula dengan cara surah ini membuka diri. Di 69:1 sampai 69:3 pembaca ditanya tiga kali tentang sesuatu yang belum diketahuinya, dan di sini ia disumpahi dengan yang diketahuinya sekaligus yang tidak. Dua bagian itu sama-sama bekerja pada batas pengetahuan manusia, satu dengan pertanyaan dan satu dengan sumpah. Awal dan bagian akhir surah bertemu di titik yang sama.

Perhatikan pula bahwa dua ayat sumpah ini pendek sekali. Yang pertama empat patah kata, yang kedua tiga. Sesudah rangkaian panjang berisi pidato dan perintah, datang dua kalimat yang hampir seperti tarikan napas. Perubahan panjang seperti itu menandai perpindahan pokok pembicaraan, dan surah ini memakainya berkali-kali tanpa satu kata pun yang menyatakan bahwa pokoknya berpindah.

Susunan (وَمَا, wa maa) yang membuka ayat ini terdiri atas huruf sambung dan kata sambung yang berarti apa yang. Kata sambung itu sama dengan yang dipakai di 69:38, sehingga dua ayat tersebut memakai alat yang sama untuk menyebut dua golongan yang berlawanan. Yang berganti hanya kalimat sesudahnya, sedangkan alat penyebutnya dipertahankan persis sama.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi sumpah demi yang tampak dan yang tidak tampak. Ayat ini melanjutkan sumpah yang dimulai di 69:38 tanpa mengulang kata kerja sumpahnya, jadi dua ayat itu satu sumpah yang dipotong menjadi dua. Pemotongan itu memberi jeda tepat di antara yang terlihat dan yang tidak, sehingga pembaca sempat berhenti sebelum menerima bagian keduanya.

Kata untuk melihat di sini adalah pemakaian kedua berturut-turut, dan kata itu muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang pertama dalam kalimat biasa, yang kedua dalam kalimat sangkalan. Pengulangan dengan arah berlawanan seperti itu menyusun cakupan yang menyeluruh: yang disumpahi adalah apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat, dan dua golongan itu bersama-sama mencakup segala yang ada. Tidak ada yang tersisa di luar keduanya, sebab sesuatu hanya bisa terlihat atau tidak terlihat.

Susunan sangkalannya memakai kata pengingkar yang meniadakan perbuatan, bukan yang meniadakan keberadaan. Yang disangkal bukan adanya benda itu, melainkan sampainya benda itu ke penglihatan manusia. Yang tidak terlihat tetap ada; hanya mata yang tidak sampai kepadanya. Perbedaan itu penting sekali, sebab kalau yang disangkal adalah keberadaannya, sumpah ini akan bersandar pada sesuatu yang tiada. Dan dua golongan ini mengembalikan pembaca ke bagian awal surah: kaum yang binasa termasuk yang pernah terlihat, sedangkan hari kiamat, malaikat, dan neraka termasuk yang tidak.

Renungan dan Hikmah

  • Kata untuk melihat dipakai dua kali berturut-turut, sekali dalam kalimat biasa dan sekali dalam kalimat sangkalan, dan kata itu muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang disumpahi Allah adalah apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat, dan dua golongan itu bersama-sama mencakup segala yang ada. Tidak ada yang tersisa di luar keduanya, sebab sesuatu hanya bisa terlihat atau tidak terlihat. Segala yang ada masuk ke dalam salah satu dari dua golongan itu, dan tidak ada golongan ketiga yang bisa kita bayangkan.
  • Susunan sangkalan di ayat ini memakai kata pengingkar yang meniadakan perbuatan, bukan yang meniadakan keberadaan. Yang disangkal bukan adanya benda itu, melainkan sampainya benda itu ke penglihatan manusia. Yang tidak terlihat tetap ada; hanya mata yang tidak sampai kepadanya, dan Allah bersumpah dengannya justru karena ia ada. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada, dan kekeliruan menyamakan keduanya adalah pangkal banyak penolakan. Banyak penolakan lahir dari menyamakan batas mata dengan batas kenyataan, padahal keduanya tidak pernah sama.
  • Ayat ini melanjutkan sumpah yang dimulai di 69:38 tanpa mengulang kata kerja sumpahnya, jadi dua ayat itu satu sumpah yang dipotong menjadi dua. Pemotongan itu memberi jeda tepat di antara yang terlihat dan yang tidak. Pembaca sempat berhenti sebelum menerima bagian keduanya, dan jeda itu sendiri sudah menandai bahwa dua golongan tersebut memang berbeda kedudukan. Jeda di antara dua bagian kalimat memberi pembaca waktu untuk menampung, dan Al-Qur'an memberi jeda itu dengan sengaja.
  • Yang bisa dilihat disebut lebih dulu, baru yang tidak. Urutan itu berangkat dari yang paling mudah diterima menuju yang paling sulit, dan seluruh surah ini memakai cara yang sama: kisah yang bisa diperiksa lebih dulu, berita tentang hari kiamat sesudahnya. Allah menyusun urutan yang menghormati kemampuan pendengarnya untuk mengikuti. Cara mengajar yang berangkat dari yang mudah memperlihatkan bahwa yang mengajar mengenal keadaan yang diajarnya. Yang mengajar dengan urutan yang tepat sedang menunjukkan bahwa ia mengenal muridnya, bukan sekadar menguasai bahannya.
  • Dua golongan di ayat ini mengembalikan pembaca ke bagian awal surah. Kaum yang binasa termasuk yang pernah terlihat, sedangkan hari kiamat, malaikat, dan neraka termasuk yang tidak terlihat. Sumpah ini merangkum seluruh bahan yang sudah dipakai sejak 69:4 dalam dua patah golongan saja, dan keringkasan itu hanya terasa oleh pembaca yang mengikuti dari awal. Susunan yang rapi biasanya baru terlihat setelah seluruh bagiannya dibaca, dan itu upah bagi pembaca yang bertahan sampai akhir.
  • Yang tidak terlihat tetap ada, dan Allah menempatkannya sejajar dengan yang terlihat dalam satu sumpah. Batas penglihatan kita ternyata bukan batas kenyataan. Kalau apa yang tidak kita lihat sama nyatanya dengan apa yang kita lihat, seberapa banyak keputusan kita selama ini dibuat hanya berdasarkan yang tertangkap mata? Keputusan yang hanya bersandar pada yang tertangkap mata selalu berdiri di atas separuh kenyataan.