إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya itu benar-benar perkataan Rasul yang mulia.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍinnahu la-qawlu rasuulin kariiminsesungguhnya itu benar-benar perkataan Rasul yang mulia

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  2. لَقَوْلُla-qawlubenar-benar perkataan
  3. رَسُولٍrasuulinrasul
  4. كَرِيمٍkariiminyang mulia

Inti bacaan

Sumber otentik yang ditegaskan: 'sesungguhnya ia (Al-Qur'an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia', penegasan langsung tentang jalur penyampaian yang terhormat, kredibilitas sumber sebagai dasar kepercayaan terhadap pesan yang disampaikan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Al-Qur'an)' dan '(yang diturunkan kepada)' tidak dipakai: tambahan kedua membalik makna literal 'perkataan Rasul' menjadi 'wahyu yang diturunkan kepada Rasul', dikembalikan ke makna literal teks Arab.

Kata (لَقَوْلُ, laqaulu) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 69:40 dan 81:19. Yang perlu dicatat, seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 81:19, huruf demi huruf. Dua ayat di dua surah berbeda berbunyi identik.

Kesamaan itu menyimpan hal yang menarik. Di 81:19 kalimat tersebut disusul keterangan tentang utusan yang punya kedudukan di sisi pemilik Arasy, sehingga yang dimaksud di sana adalah utusan dari kalangan malaikat. Di sini kalimatnya disusul bantahan bahwa ia bukan perkataan penyair dan bukan perkataan tukang tenung, sehingga yang dimaksud adalah utusan dari kalangan manusia. Kalimat yang sama menunjuk dua utusan yang berbeda, dan yang menentukan adalah ayat-ayat di sekelilingnya.

Kata (كَرِيمٍ, kariimin) muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah 69:40 dan 81:19. Artinya mulia, murah hati, terhormat. Sifat itu diletakkan pada utusannya, bukan pada perkataannya. Jadi yang dipuji lebih dulu adalah pembawanya, dan mutu bawaannya menyusul di 69:43.

Susunan (لَقَوْلُ رَسُولٍ, laqaulu rasuulin) menggandengkan perkataan dengan utusan. Susunan seperti itu dalam bahasa Arab menyatakan hubungan yang bisa bermacam-macam: bisa perkataan yang diucapkannya, bisa perkataan yang disampaikannya dari orang lain. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menunjuk arti yang kedua, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks.

Pilihan arti itu ditegaskan di 69:43, yang menyatakan bahwa ia diturunkan dari Tuhan seisi alam. Jadi rangkaian 69:40 sampai 69:43 menyusun satu pernyataan bertahap: pembawanya mulia, ia bukan penyair, ia bukan tukang tenung, dan sumbernya adalah Tuhan seisi alam. Empat ayat untuk menutup satu kemungkinan salah paham demi satu.

Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Bentuk kata utusannya tidak tertentu, sehingga bunyinya seorang utusan yang mulia, bukan utusan itu. Bentuk tidak tertentu di sini menyisakan ruang bagi kedua penafsiran, dan itu sejalan dengan kenyataan bahwa kalimat yang sama memang dipakai untuk dua utusan yang berbeda di dua surah.

Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Huruf penguat sebelum kata perkataan juga perlu diperhatikan. Ia menegaskan isi kalimatnya, sehingga bunyinya benar-benar perkataan. Penguat itu dipakai bersama penegas di awal ayat, jadi ada dua penguat dalam satu kalimat pendek. Penumpukan seperti itu menandai bahwa yang dinyatakan sedang berhadapan dengan bantahan yang keras.

Perlu dicatat bahwa ayat ini adalah jawaban dari sumpah di 69:38 dan 69:39. Sumpah dalam bahasa Arab menuntut kalimat jawaban, dan inilah jawabannya. Jadi sumpah yang mencakup segala yang terlihat dan tidak terlihat itu dipakai untuk menopang satu pernyataan saja, yaitu tentang asal-usul bacaan ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan wahyu sebagai perkataan Rasul yang mulia. Ayat ini adalah jawaban dari sumpah di 69:38 dan 69:39. Sumpah dalam bahasa Arab menuntut kalimat jawaban, dan inilah jawabannya. Sumpah yang mencakup segala yang terlihat dan tidak terlihat itu dipakai Allah untuk menopang satu pernyataan saja, yaitu tentang asal-usul bacaan ini.

Seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 81:19, huruf demi huruf, dan kata keduanya muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu di kedua tempat tersebut. Kesamaan itu menyimpan hal yang menarik. Di 81:19 kalimat tersebut disusul keterangan tentang utusan yang punya kedudukan di sisi pemilik Arasy, sehingga yang dimaksud di sana adalah utusan dari kalangan malaikat. Di sini kalimatnya disusul bantahan bahwa ia bukan perkataan penyair dan bukan perkataan tukang tenung, sehingga yang dimaksud adalah utusan dari kalangan manusia. Kalimat yang sama menunjuk dua utusan yang berbeda, dan yang menentukan adalah ayat di sekelilingnya.

Sifat mulia di ayat ini diletakkan pada utusannya, bukan pada perkataannya, dan kata itu muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang dipuji lebih dulu adalah pembawanya, dan mutu bawaannya menyusul di 69:43. Susunan yang menggandengkan perkataan dengan utusan pun bisa berarti perkataan yang diucapkannya atau perkataan yang disampaikannya dari orang lain. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menunjuk arti yang kedua, dan pilihan itu ditegaskan di 69:43 yang menyatakan bahwa ia diturunkan dari Tuhan seisi alam.

Renungan dan Hikmah

  • Seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 81:19, huruf demi huruf. Di 81:19 kalimat itu disusul keterangan tentang utusan yang punya kedudukan di sisi pemilik Arasy, sedangkan di sini disusul bantahan tentang penyair dan tukang tenung. Kalimat yang sama menunjuk dua utusan yang berbeda, dan yang menentukan adalah ayat di sekelilingnya, bukan kata-katanya sendiri. Satu kalimat bisa berdiri di dua tempat dengan dua maksud, dan itulah sebabnya membaca sekitarnya tidak pernah boleh dilewatkan.
  • Ayat ini adalah jawaban dari sumpah di 69:38 dan 69:39, sebab sumpah dalam bahasa Arab menuntut kalimat jawaban. Sumpah yang mencakup segala yang terlihat dan tidak terlihat dipakai Allah untuk menopang satu pernyataan saja, yaitu tentang asal-usul bacaan ini. Besarnya sumpah menandai besarnya perkara yang sedang dinyatakan. Sumpah yang besar dipakai untuk perkara yang besar, dan ukuran sumpahnya sendiri sudah menjadi keterangan tentang isinya.
  • Sifat mulia di ayat ini diletakkan pada utusannya, bukan pada perkataannya, dan kata itu muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang dipuji Allah lebih dulu adalah pembawanya, dan mutu bawaannya menyusul di 69:43. Urutan itu masuk akal bagi pendengar yang sedang meragukan orangnya, sebab keraguan mereka memang tertuju pada pembawanya lebih dulu. Orang lebih dulu menilai pembawa berita sebelum menilai beritanya, dan Allah menjawab urutan penilaian itu apa adanya.
  • Rangkaian 69:40 sampai 69:43 menyusun satu pernyataan bertahap: pembawanya mulia, ia bukan penyair, ia bukan tukang tenung, dan sumbernya adalah Tuhan seisi alam. Empat ayat dipakai Allah untuk menutup satu kemungkinan salah paham demi satu. Kesabaran menutup satu per satu seperti itu adalah bentuk penghormatan kepada akal yang sedang meragu. Menjawab keraguan satu per satu memerlukan kesabaran, dan kesabaran itu sendiri bagian dari cara Allah mengajar.
  • Ada penegas di awal ayat ini dan huruf penguat sebelum kata perkataan, jadi ada dua penguat dalam satu kalimat pendek. Penumpukan seperti itu menandai bahwa yang dinyatakan sedang berhadapan dengan bantahan yang keras. Allah tidak menyampaikannya dengan nada biasa, sebab yang dihadapi memang bukan pertanyaan biasa. Nada yang dipilih menyesuaikan diri dengan keadaan pendengarnya, dan Al-Qur'an tidak pernah berbicara dengan satu nada saja.
  • Bentuk kata utusannya tidak tertentu, sehingga bunyinya seorang utusan yang mulia, bukan utusan itu. Bentuk tidak tertentu menyisakan ruang bagi kedua penafsiran, dan itu sejalan dengan kenyataan bahwa kalimat yang sama dipakai untuk dua utusan yang berbeda di dua surah. Kalau satu kalimat bisa berdiri di dua tempat dengan dua maksud, seberapa hati-hati kita harus membaca sebelum memastikan artinya? Kehati-hatian membaca adalah bentuk penghormatan pada teks, dan tergesa-gesa selalu berakhir dengan kesimpulan yang rapuh.