Ayat 69:41

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ

Dan itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍwa-maa huwa bi-qawli syaa'irindan itu bukanlah perkataan seorang penyair
  2. قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَqaliilan maa tu'minuunasedikit sekali kalian beriman

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. هُوَhuwaitu
  3. بِقَوْلِbi-qawliperkataan
  4. شَاعِرٍsyaa'irinpenyair
  5. قَلِيلًاqaliilansedikit
  6. مَاmaasedikit sekali
  7. تُؤْمِنُونَtu'minuunakalian beriman

Inti bacaan

Bantahan tuduhan pertama dengan diagnosis: 'ia bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kalian beriman', sanggahan terhadap kategori kesalahan (dianggap syair), diikuti diagnosis bahwa akar penolakan sesungguhnya adalah kurangnya keimanan, bukan kesalahan klasifikasi genre.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِقَوْلِ, biqauli) muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an: 69:41, 69:42, dan 81:25. Dua di antaranya berada di surah ini, berurutan. Yang ketiga, 81:25, memakai rangkaian pembuka yang sama persis dengan ayat ini, hanya berbeda pada siapa yang dibantah.

Perbandingan itu patut ditahan. Di 81:25 yang dibantah adalah bahwa bacaan ini perkataan setan yang terkutuk. Di sini yang dibantah adalah bahwa ia perkataan penyair. Jadi cetakan bantahan yang sama dipakai untuk menolak tiga tuduhan berbeda di dua surah, dan tuduhan-tuduhan itu memang yang paling sering dilontarkan orang.

Kata (شَاعِرٍ, syaa'irin) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 37:36 dan 69:41. Di 37:36 sebutan itu dipakai orang yang menolak, dan di sana ia digandengkan dengan tuduhan gila. Di sini ia berdiri sendiri tanpa gandengan. Perbedaan itu membuat bantahannya lebih terpusat pada satu perkara saja.

Tuduhan penyair perlu dimengerti pada tempatnya. Yang dituduhkan bukan bahwa bacaan ini indah, melainkan bahwa ia karangan manusia yang pandai menyusun kata. Bantahan di sini karena itu bukan menyangkal keindahannya, melainkan menyangkal asal-usulnya. Terjemahan 'bukanlah perkataan seorang penyair' menahan sasaran bantahan itu dengan tepat.

Rangkaian (قَلِيلًا مَا, qaliilan maa) muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah 69:41 dan 69:42. Artinya sedikit sekali. Susunannya menempatkan kata yang berarti sedikit di depan, dan mendahulukan sesuatu dalam bahasa Arab berarti menyorotinya. Jadi yang disorot adalah kesedikitannya, bukan perbuatannya.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk kata kerjanya orang kedua jamak, sehingga bunyinya kalian beriman. Sasaran teguran berpindah dari orang ketiga yang dibicarakan menjadi orang kedua yang disapa langsung. Perpindahan mendadak itu membuat pembaca merasa ditunjuk, dan ia terjadi tepat sesudah bantahan selesai disampaikan.

Perlu dicatat bahwa teguran ini menyangkut iman, sedangkan teguran di 69:42 menyangkut ingatan. Dua teguran berpasangan dengan dua tuduhan: yang menuduh penyair ditegur soal iman, yang menuduh tukang tenung ditegur soal ingatan. Penyair menggerakkan perasaan, dan lawannya adalah keyakinan. Tukang tenung mengaku tahu yang gaib, dan lawannya adalah kesediaan mengingat kembali apa yang sudah disampaikan.

Bandingkan pula susunan pembukanya dengan susunan di 69:40. Yang di sana memakai dua penguat untuk menegaskan, sedangkan yang di sini memakai pengingkar untuk menyangkal. Dua ayat berdampingan bergerak ke dua arah yang berlawanan: satu menetapkan, satu menolak. Bersama-sama keduanya membentuk pagar dari dua sisi, dan pagar dari dua sisi lebih kukuh daripada pagar dari satu sisi saja.

Perhatikan pula bahwa bantahan ini disusul teguran, bukan disusul bukti tambahan. Sesudah menyatakan bahwa bacaan ini bukan karangan penyair, yang datang berikutnya adalah keterangan tentang tipisnya iman pendengarnya. Susunan itu memindahkan perkara dari perdebatan tentang teks menjadi perkara tentang keadaan hati yang membacanya, dan pemindahan seperti itu tidak bisa dijawab dengan bantahan.

Tafsiran

Ayat ini membantah tuduhan bahwa wahyu ini adalah syair. Ayat ini menutup satu kemungkinan salah paham tentang asal bacaan ini. Kata keduanya muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dua di antaranya di surah ini secara berurutan, dan yang ketiga, 81:25, memakai rangkaian pembuka yang sama persis dengan ayat ini. Di sana yang dibantah adalah bahwa bacaan ini perkataan setan yang terkutuk, sedangkan di sini yang dibantah adalah bahwa ia perkataan penyair. Cetakan bantahan yang sama dipakai untuk menolak tiga tuduhan berbeda di dua surah.

Tuduhan penyair perlu dimengerti pada tempatnya. Yang dituduhkan bukan bahwa bacaan ini indah, melainkan bahwa ia karangan manusia yang pandai menyusun kata. Bantahan di sini karena itu bukan menyangkal keindahannya, melainkan menyangkal asal-usulnya. Sebutan penyair itu sendiri muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 37:36 ia dipakai orang yang menolak sambil digandengkan dengan tuduhan gila, sedangkan di sini ia berdiri sendiri sehingga bantahannya lebih terpusat.

Rangkaian penutupnya muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah ayat ini dan 69:42. Susunannya menempatkan kata yang berarti sedikit di depan, dan mendahulukan sesuatu dalam bahasa Arab berarti menyorotinya, jadi yang disorot adalah kesedikitannya. Bentuk kata kerjanya orang kedua jamak, sehingga sasaran teguran berpindah dari orang ketiga yang dibicarakan menjadi orang kedua yang disapa langsung. Perpindahan mendadak itu membuat pembaca merasa ditunjuk oleh Allah, tepat sesudah bantahan selesai disampaikan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kedua di ayat ini muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan yang ketiga, 81:25, memakai rangkaian pembuka yang sama persis dengan ayat ini. Di sana yang dibantah adalah perkataan setan, di sini perkataan penyair. Allah memakai satu cetakan bantahan untuk menolak tiga tuduhan berbeda di dua surah, dan tuduhan itu memang yang paling sering dilontarkan orang. Tuduhan yang sama terus berulang di tiap zaman dengan nama yang berganti, dan bantahannya pun tetap berlaku.
  • Yang dituduhkan bukan bahwa bacaan ini indah, melainkan bahwa ia karangan manusia yang pandai menyusun kata. Bantahan di sini bukan menyangkal keindahannya, melainkan menyangkal asal-usulnya. Terjemahan menahan sasaran bantahan itu dengan tepat, dan pembaca yang mengira Allah sedang menolak keindahan bahasanya telah salah menangkap sasarannya. Mengagumi keindahan bahasanya tanpa mengakui asalnya adalah sikap yang justru sudah dijawab lebih dulu di sini.
  • Rangkaian penutup ayat ini muncul di 10 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan susunannya menempatkan kata yang berarti sedikit di depan. Mendahulukan sesuatu dalam bahasa Arab berarti menyorotinya, jadi yang disorot Allah adalah kesedikitannya, bukan perbuatannya. Yang ditegur bukan ketiadaan iman melainkan betapa tipisnya, dan teguran seperti itu justru mengandaikan masih adanya sesuatu untuk ditumbuhkan. Teguran yang menyebut sedikit selalu lebih membangkitkan daripada teguran yang menyebut tidak ada sama sekali.
  • Bentuk kata kerja penutup ayat ini orang kedua jamak, sehingga bunyinya kalian beriman. Sasaran teguran berpindah dari orang ketiga yang dibicarakan menjadi orang kedua yang disapa langsung. Perpindahan mendadak itu membuat pembaca merasa ditunjuk Allah, dan ia terjadi tepat sesudah bantahan selesai disampaikan, ketika perhatian sedang terpusat. Disapa langsung selalu terasa berbeda daripada dibicarakan, dan Allah memakai perbedaan itu di saat yang paling tepat.
  • Teguran di ayat ini menyangkut iman, sedangkan teguran di 69:42 menyangkut ingatan. Penyair menggerakkan perasaan, dan lawannya adalah keyakinan. Tukang tenung mengaku tahu yang gaib, dan lawannya adalah kesediaan mengingat kembali apa yang sudah disampaikan. Allah memasangkan obat yang tepat untuk tiap penyakit, dan pasangan itu tidak tertukar. Obat yang tepat memerlukan pengenalan pada penyakitnya, dan Al-Qur'an memperlihatkan pengenalan itu di dalam susunan kalimatnya.
  • Sebutan penyair muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 37:36 ia dipakai orang yang menolak sambil digandengkan dengan tuduhan gila. Di sini ia berdiri sendiri tanpa gandengan, sehingga bantahannya lebih terpusat pada satu perkara saja. Kalau menjawab satu tuduhan saja sudah memerlukan ayat tersendiri, apa artinya kebiasaan kita menumpuk banyak tuduhan sekaligus? Menjawab satu per satu memerlukan waktu, dan kesediaan memberi waktu adalah tanda bahwa yang menjawab menghormati yang bertanya.

Ayat 69:42

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Dan bukan perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍwa-laa bi-qawli kaahinindan bukan perkataan tukang tenung
  2. قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَqaliilan maa tadzakkaruunasedikit sekali kalian mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. بِقَوْلِbi-qawliperkataan
  3. كَاهِنٍkaahinintukang tenung
  4. قَلِيلًاqaliilansedikit
  5. مَاmaasedikit sekali
  6. تَذَكَّرُونَtadzakkaruunakalian mengambil pelajaran

Inti bacaan

Bantahan tuduhan kedua dengan diagnosis serupa: 'bukan (pula) perkataan tukang tenung; sedikit sekali kalian mengambil pelajaran', pola bantahan ganda yang menutup dua kemungkinan tuduhan sekaligus, menegaskan bahwa masalah sesungguhnya bukan pada sifat teks melainkan kesediaan merenungkannya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(pula)' tidak dipakai.

Kata (كَاهِنٍ, kaahinin) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 52:29 dan 69:42. Ia berarti tukang tenung, yaitu orang yang mengaku tahu perkara gaib. Di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi, dan di sini ia dibantah untuk bacaannya. Jadi bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya.

Kata (بِقَوْلِ, biqauli) di sini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:41. Kata itu muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah dua ayat berdempetan ini. Jadi dua pertiga pemakaiannya berkumpul di satu tempat yang sama.

Ayat ini melanjutkan kalimat yang sudah dimulai di 69:41, dan pengingkar pertamanya tidak diulang lagi. Yang dipakai hanya huruf sambung dan pengingkar yang kedua. Susunan seperti itu menempatkan dua bantahan dalam satu kalimat, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis, bukan dua penolakan terpisah.

Tuduhan tukang tenung perlu diletakkan pada tempatnya. Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal. Bantahan ini karena itu menyangkut cara memperoleh, bukan isi beritanya. Dua bantahan berurutan menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap.

Teguran penutupnya menyangkut ingatan, berbeda dari teguran di 69:41 yang menyangkut iman. Kata kerjanya berbentuk orang kedua jamak dan berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali. Yang diminta bukan pengetahuan baru, melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan.

Perhatikan juga hal berikut. Susunan tegurannya sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya. Dua ayat berurutan ditutup cetakan yang identik dengan satu kata yang berganti. Pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata seperti itu membuat perbedaannya justru lebih terdengar, sebab telinga sudah menyiapkan diri untuk kata yang sama.

Perlu dicatat bahwa dua tuduhan yang dibantah di 69:41 dan 69:42 mewakili dua sumber yang dikenal orang: kepandaian manusia dan hubungan dengan yang gaib. Sesudah keduanya ditutup, tinggal satu kemungkinan yang belum disebut, dan kemungkinan itulah yang dinyatakan di 69:43. Jadi tiga ayat berurutan menyusun penalaran yang menutup pintu satu per satu sampai tersisa satu.

Bandingkan pula dengan cara surah ini menutup dua tuduhan tersebut. Penyair dan tukang tenung sama-sama dianggap punya sumber di luar akal biasa: yang satu dari bakat, yang lain dari bisikan. Dengan menolak keduanya sekaligus, tidak tersisa lagi penjelasan manusiawi mana pun untuk menerangkan asal bacaan ini. Yang tersisa hanya kemungkinan yang disebut di 69:43.

Perhatikan pula bahwa dua teguran di 69:41 dan ayat ini sama-sama menyangkut keadaan pendengarnya, bukan mutu bantahannya. Allah tidak menambah bukti, melainkan menunjuk sebab mengapa bukti yang ada belum juga diterima. Susunan seperti itu memindahkan pertanyaan dari luar ke dalam, dan pembaca yang jujur akan mendapati bahwa pertanyaan yang sesungguhnya memang berada di dalam dirinya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini membantah tuduhan bahwa wahyu ini adalah tenungan. Ayat ini melanjutkan kalimat 69:41 tanpa mengulang kata pengingkarnya yang pertama. Yang dipakai hanya huruf sambung dan kata pengingkar yang kedua. Susunan seperti itu menempatkan dua bantahan dalam satu kalimat, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis, bukan dua penolakan terpisah.

Sebutan yang dibantah di sini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi sedangkan di sini untuk bacaannya. Bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya. Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal, jadi bantahan ini menyangkut cara memperoleh dan bukan isi beritanya. Dua bantahan berurutan menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap.

Teguran penutupnya menyangkut ingatan, berbeda dari teguran di 69:41 yang menyangkut iman. Kata kerjanya berbentuk orang kedua jamak dan berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali, jadi yang diminta Allah bukan pengetahuan baru melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan. Susunan tegurannya sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya, dan pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata seperti itu membuat perbedaannya justru lebih terdengar.

Renungan dan Hikmah

  • Dua bantahan berurutan di 69:41 dan ayat ini menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap. Keduanya mewakili dua sumber yang dikenal orang, yaitu kepandaian manusia dan hubungan dengan yang gaib. Allah menutup pintu satu per satu, dan cara seperti itu meninggalkan kesimpulan yang tidak bisa dielakkan. Kesimpulan yang datang setelah semua kemungkinan lain ditutup jauh lebih kuat daripada kesimpulan yang disodorkan lebih dulu.
  • Sebutan yang dibantah di ayat ini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi sedangkan di sini untuk bacaannya. Bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya. Allah membersihkan keduanya, sebab menuduh salah satunya akan berarti menuduh yang lain juga. Membersihkan nama pembawa dan nama bawaannya adalah dua pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
  • Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal. Bantahan ini karena itu menyangkut cara memperoleh, bukan isi beritanya. Perbedaan sasaran seperti itu perlu diperhatikan, sebab menjawab tuduhan yang salah sasaran tidak akan pernah menyelesaikan keberatan orang yang bertanya. Menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan adalah cara paling halus untuk kehilangan pendengar. Menjawab pertanyaan yang salah membuat jawabannya benar tetapi tidak berguna, dan Allah selalu menjawab pertanyaan yang sebenarnya diajukan.
  • Kata kerja penutup ayat ini berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali. Yang diminta Allah bukan pengetahuan baru, melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan. Banyak yang kita perlukan sebenarnya sudah pernah kita dengar, dan yang kurang bukan bahannya melainkan kesediaan menariknya kembali ke permukaan.
  • Susunan teguran di ayat ini sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya. Dua ayat berurutan ditutup cetakan yang identik dengan satu kata yang berganti. Pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata membuat perbedaannya justru lebih terdengar, sebab telinga sudah menyiapkan diri untuk kata yang sama. Perubahan kecil di tempat yang terduga justru paling terdengar, dan Al-Qur'an memakai kejutan sekecil itu dengan sangat cermat.
  • Ayat ini melanjutkan kalimat 69:41 tanpa mengulang kata pengingkarnya yang pertama, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis. Kata yang menandai bantahan muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya berkumpul di dua ayat berdempetan ini. Kalau Allah merangkai bantahan-Nya serapat itu, mungkinkah kita membacanya sepotong dan tetap menangkap maksudnya? Bantahan yang dirangkai rapat menuntut pembaca yang tidak memotong di tengah, sebab potongannya kehilangan tenaganya. Rangkaian yang dibaca utuh memberi kesimpulan yang tidak akan pernah muncul dari membaca satu ayat saja.