وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Dan bukan perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍwa-laa bi-qawli kaahinindan bukan perkataan tukang tenung
  2. قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَqaliilan maa tadzakkaruunasedikit sekali kalian mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. بِقَوْلِbi-qawliperkataan
  3. كَاهِنٍkaahinintukang tenung
  4. قَلِيلًاqaliilansedikit
  5. مَاmaasedikit sekali
  6. تَذَكَّرُونَtadzakkaruunakalian mengambil pelajaran

Inti bacaan

Bantahan tuduhan kedua dengan diagnosis serupa: 'bukan (pula) perkataan tukang tenung; sedikit sekali kalian mengambil pelajaran', pola bantahan ganda yang menutup dua kemungkinan tuduhan sekaligus, menegaskan bahwa masalah sesungguhnya bukan pada sifat teks melainkan kesediaan merenungkannya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(pula)' tidak dipakai.

Kata (كَاهِنٍ, kaahinin) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 52:29 dan 69:42. Ia berarti tukang tenung, yaitu orang yang mengaku tahu perkara gaib. Di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi, dan di sini ia dibantah untuk bacaannya. Jadi bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya.

Kata (بِقَوْلِ, biqauli) di sini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:41. Kata itu muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah dua ayat berdempetan ini. Jadi dua pertiga pemakaiannya berkumpul di satu tempat yang sama.

Ayat ini melanjutkan kalimat yang sudah dimulai di 69:41, dan pengingkar pertamanya tidak diulang lagi. Yang dipakai hanya huruf sambung dan pengingkar yang kedua. Susunan seperti itu menempatkan dua bantahan dalam satu kalimat, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis, bukan dua penolakan terpisah.

Tuduhan tukang tenung perlu diletakkan pada tempatnya. Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal. Bantahan ini karena itu menyangkut cara memperoleh, bukan isi beritanya. Dua bantahan berurutan menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap.

Teguran penutupnya menyangkut ingatan, berbeda dari teguran di 69:41 yang menyangkut iman. Kata kerjanya berbentuk orang kedua jamak dan berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali. Yang diminta bukan pengetahuan baru, melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan.

Perhatikan juga hal berikut. Susunan tegurannya sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya. Dua ayat berurutan ditutup cetakan yang identik dengan satu kata yang berganti. Pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata seperti itu membuat perbedaannya justru lebih terdengar, sebab telinga sudah menyiapkan diri untuk kata yang sama.

Perlu dicatat bahwa dua tuduhan yang dibantah di 69:41 dan 69:42 mewakili dua sumber yang dikenal orang: kepandaian manusia dan hubungan dengan yang gaib. Sesudah keduanya ditutup, tinggal satu kemungkinan yang belum disebut, dan kemungkinan itulah yang dinyatakan di 69:43. Jadi tiga ayat berurutan menyusun penalaran yang menutup pintu satu per satu sampai tersisa satu.

Bandingkan pula dengan cara surah ini menutup dua tuduhan tersebut. Penyair dan tukang tenung sama-sama dianggap punya sumber di luar akal biasa: yang satu dari bakat, yang lain dari bisikan. Dengan menolak keduanya sekaligus, tidak tersisa lagi penjelasan manusiawi mana pun untuk menerangkan asal bacaan ini. Yang tersisa hanya kemungkinan yang disebut di 69:43.

Perhatikan pula bahwa dua teguran di 69:41 dan ayat ini sama-sama menyangkut keadaan pendengarnya, bukan mutu bantahannya. Allah tidak menambah bukti, melainkan menunjuk sebab mengapa bukti yang ada belum juga diterima. Susunan seperti itu memindahkan pertanyaan dari luar ke dalam, dan pembaca yang jujur akan mendapati bahwa pertanyaan yang sesungguhnya memang berada di dalam dirinya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini membantah tuduhan bahwa wahyu ini adalah tenungan. Ayat ini melanjutkan kalimat 69:41 tanpa mengulang kata pengingkarnya yang pertama. Yang dipakai hanya huruf sambung dan kata pengingkar yang kedua. Susunan seperti itu menempatkan dua bantahan dalam satu kalimat, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis, bukan dua penolakan terpisah.

Sebutan yang dibantah di sini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi sedangkan di sini untuk bacaannya. Bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya. Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal, jadi bantahan ini menyangkut cara memperoleh dan bukan isi beritanya. Dua bantahan berurutan menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap.

Teguran penutupnya menyangkut ingatan, berbeda dari teguran di 69:41 yang menyangkut iman. Kata kerjanya berbentuk orang kedua jamak dan berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali, jadi yang diminta Allah bukan pengetahuan baru melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan. Susunan tegurannya sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya, dan pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata seperti itu membuat perbedaannya justru lebih terdengar.

Renungan dan Hikmah

  • Dua bantahan berurutan di 69:41 dan ayat ini menutup dua jalan sekaligus: bukan karangan sendiri, dan bukan pula bisikan dari sumber yang gelap. Keduanya mewakili dua sumber yang dikenal orang, yaitu kepandaian manusia dan hubungan dengan yang gaib. Allah menutup pintu satu per satu, dan cara seperti itu meninggalkan kesimpulan yang tidak bisa dielakkan. Kesimpulan yang datang setelah semua kemungkinan lain ditutup jauh lebih kuat daripada kesimpulan yang disodorkan lebih dulu.
  • Sebutan yang dibantah di ayat ini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:29 sebutan itu dibantah untuk diri Nabi sedangkan di sini untuk bacaannya. Bantahan yang sama dikenakan sekali pada orangnya dan sekali pada yang dibawanya. Allah membersihkan keduanya, sebab menuduh salah satunya akan berarti menuduh yang lain juga. Membersihkan nama pembawa dan nama bawaannya adalah dua pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
  • Yang dituduhkan adalah bahwa berita tentang hari kiamat di surah ini diperoleh dengan cara yang biasa dipakai peramal. Bantahan ini karena itu menyangkut cara memperoleh, bukan isi beritanya. Perbedaan sasaran seperti itu perlu diperhatikan, sebab menjawab tuduhan yang salah sasaran tidak akan pernah menyelesaikan keberatan orang yang bertanya. Menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan adalah cara paling halus untuk kehilangan pendengar. Menjawab pertanyaan yang salah membuat jawabannya benar tetapi tidak berguna, dan Allah selalu menjawab pertanyaan yang sebenarnya diajukan.
  • Kata kerja penutup ayat ini berarti mengambil pelajaran atau mengingat kembali. Yang diminta Allah bukan pengetahuan baru, melainkan memanggil kembali apa yang sudah pernah disampaikan. Banyak yang kita perlukan sebenarnya sudah pernah kita dengar, dan yang kurang bukan bahannya melainkan kesediaan menariknya kembali ke permukaan.
  • Susunan teguran di ayat ini sama persis dengan yang di 69:41, hanya berbeda kata kerja terakhirnya. Dua ayat berurutan ditutup cetakan yang identik dengan satu kata yang berganti. Pengulangan cetakan dengan pergantian satu kata membuat perbedaannya justru lebih terdengar, sebab telinga sudah menyiapkan diri untuk kata yang sama. Perubahan kecil di tempat yang terduga justru paling terdengar, dan Al-Qur'an memakai kejutan sekecil itu dengan sangat cermat.
  • Ayat ini melanjutkan kalimat 69:41 tanpa mengulang kata pengingkarnya yang pertama, sehingga keduanya terbaca sebagai satu penolakan berlapis. Kata yang menandai bantahan muncul di 3 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya berkumpul di dua ayat berdempetan ini. Kalau Allah merangkai bantahan-Nya serapat itu, mungkinkah kita membacanya sepotong dan tetap menangkap maksudnya? Bantahan yang dirangkai rapat menuntut pembaca yang tidak memotong di tengah, sebab potongannya kehilangan tenaganya. Rangkaian yang dibaca utuh memberi kesimpulan yang tidak akan pernah muncul dari membaca satu ayat saja.