Ayat 69:44

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ

Dan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِwa-law taqawwala 'alaynaa ba'dha l-aqaawiilidan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. تَقَوَّلَtaqawwalamengada-adakan
  3. عَلَيْنَا'alaynaaatas Kami
  4. بَعْضَba'dhasebagian
  5. الْأَقَاوِيلِl-aqaawiiliperkataan

Inti bacaan

Skenario hipotetis untuk menguji integritas: 'sekiranya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami', pengandaian yang membuka jalan bagi argumen tentang konsekuensi jika klaim kenabian ternyata palsu, standar akuntabilitas yang tinggi bagi klaim atas nama otoritas ilahi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(nama)' tidak dipakai.

Kata (الْأَقَاوِيلِ, al-aqaawiili) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya khusus: ia jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan atau karangan yang bertumpuk-tumpuk tanpa nilai.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Akar kata itu sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42. Jadi dalam lima ayat berurutan, akar yang berarti berkata muncul empat kali: sekali untuk menetapkan bahwa ia perkataan utusan yang mulia, dua kali untuk menyangkal bahwa ia perkataan penyair dan tukang tenung, dan sekali lagi di sini untuk menyangkal bahwa ia karangan sendiri. Satu akar mengikat seluruh pembelaan itu.

Kata (تَقَوَّلَ, taqawwala) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 52:33 dan 69:44. Bentuknya menyatakan mengada-adakan perkataan lalu menisbatkannya kepada orang lain. Di 52:33 kata itu dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang, dan di sini ia dipakai dalam kalimat pengandaian yang membantahnya. Jadi tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini.

Kata (بَعْضَ, ba'dha) berarti sebagian. Yang diandaikan bukan mengarang seluruhnya, melainkan sebagian saja. Pengandaian yang sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat, sebab akibat yang disebut di 69:45 dan 69:46 tetap sama beratnya meski yang diandaikan hanya sepotong.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan pengandaiannya memakai kata sambung yang menyatakan pengandaian atas sesuatu yang tidak terjadi. Dalam bahasa Arab, kata sambung jenis itu dipakai khusus untuk perkara yang tidak pernah ada. Jadi bentuk kalimatnya sendiri sudah menyatakan bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi, sebelum jawabannya disebutkan.

Kata (عَلَيْنَا, 'alainaa) berarti atas Kami, dengan bentuk pihak pertama jamak yang menunjuk kebesaran. Yang dirugikan dalam pengandaian itu bukan manusia melainkan Allah sendiri. Terjemahan menambahkan kata nama di dalam kurung untuk menjelaskan, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks.

Perlu dicatat bahwa yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Jadi Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama.

Tafsiran

Ayat ini membuka ancaman hipotetis jika Rasul mengada-adakan perkataan atas nama Allah. Ayat ini membuka jawaban terakhir atas tuduhan tentang asal bacaan ini, dan cara menjawabnya patut diperhatikan. Yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya khusus: ia jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan yang bertumpuk-tumpuk tanpa nilai. Akarnya sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42, sehingga dalam lima ayat berurutan akar yang berarti berkata muncul empat kali. Satu akar mengikat seluruh pembelaan itu.

Kata kerjanya muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:33 kata itu dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang sedangkan di sini dipakai dalam kalimat pengandaian yang membantahnya. Tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini. Yang diandaikan pun bukan mengarang seluruhnya melainkan sebagian saja, dan pengandaian sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat. Susunan pengandaiannya sendiri memakai kata sambung yang khusus dipakai untuk perkara yang tidak pernah ada, jadi bentuk kalimatnya sudah menyatakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi.

Renungan dan Hikmah

  • Yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama dengan siapa pun. Pembelaan yang bersyarat selalu lebih dipercaya daripada pembelaan yang menolak segala kemungkinan sejak awal.
  • Akar kata terakhir ayat ini sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42. Dalam lima ayat berurutan, akar yang berarti berkata muncul empat kali: sekali untuk menetapkan, dua kali untuk menyangkal dua tuduhan, dan sekali di sini untuk menyangkal karangan sendiri. Allah mengikat seluruh pembelaan itu dengan satu akar, dan ikatan itu hanya terlihat pada teks aslinya. Ikatan antarayat yang dibangun lewat akar kata adalah bentuk susunan yang tidak akan pernah terlihat dari terjemahan mana pun.
  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan yang bertumpuk tanpa nilai. Nada merendahkan itu terletak pada bentuk katanya, bukan pada artinya, sehingga ia larut dalam terjemahan mana pun. Nada sebuah kata sering tersimpan di bentuknya, dan bentuk itulah yang paling dulu hilang ketika dipindahkan ke bahasa lain.
  • Yang diandaikan bukan mengarang seluruhnya, melainkan sebagian saja. Pengandaian sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat, sebab akibat yang disebut di 69:45 dan 69:46 tetap sama beratnya meski yang diandaikan hanya sepotong. Allah tidak menyisakan ruang bagi tambahan sekecil apa pun, dan ketegasan itu justru menjadi jaminan bagi pembacanya. Batas yang ditarik sampai ke bagian terkecil justru melegakan, sebab ia menutup kemungkinan yang paling sulit diperiksa.
  • Susunan pengandaian di ayat ini memakai kata sambung yang dalam bahasa Arab khusus dipakai untuk perkara yang tidak pernah terjadi. Bentuk kalimatnya sendiri sudah menyatakan hal itu sebelum jawabannya disebutkan. Pembaca yang mengenali bentuknya sudah tahu kesimpulannya sejak kata pertama, dan yang membaca terjemahan menunggu sampai kalimatnya selesai. Mengenali bentuk kalimat sama pentingnya dengan mengenali arti katanya, dan keduanya bekerja bersama-sama.
  • Kata kerja di ayat ini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:33 ia dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang. Tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini. Kalau tuduhan dan jawabannya bisa terpisah sejauh itu di dalam satu kitab, seberapa banyak jawaban yang belum kita temukan karena membaca sepotong-sepotong? Satu kitab yang saling menjawab dari surah ke surah menuntut pembaca yang mau menempuh seluruhnya.

Ayat 69:45

لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ

Niscaya Kami renggut dia dengan tangan kanan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِla-akhadznaa minhu bi-l-yamiininiscaya Kami renggut dia dengan tangan kanan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. لَأَخَذْنَاla-akhadznaasungguh Kami akan mengambil
  2. مِنْهُminhudarinya
  3. بِالْيَمِينِbi-l-yamiinidengan tangan kanan

Inti bacaan

Konsekuensi tegas bagi klaim palsu: 'niscaya Kami renggut dia dengan tangan kanan (kekuatan)', jaminan bahwa pemalsuan atas nama wahyu tidak akan dibiarkan tanpa tindakan, standar yang menegaskan keseriusan konsekuensi bagi manipulasi otoritas spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kekuatan)' tidak dipakai.

Kata (لَأَخَذْنَا, la-akhadznaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti niscaya Kami renggut, dengan huruf penguat di depannya dan bentuk pihak pertama jamak yang menunjuk kebesaran. Akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:10 untuk kaum yang dicengkeram sesudah mendurhakai utusan mereka.

Pertemuan itu perlu ditahan baik-baik. Di 69:10 yang dicengkeram adalah kaum yang menolak utusan, dan di sini yang diandaikan dicengkeram adalah utusannya sendiri seandainya ia berbuat curang. Satu akar dipakai untuk dua pihak yang berlawanan kedudukan. Ukuran yang sama berlaku untuk yang menolak dan untuk yang membawa, dan tidak ada kekebalan bagi siapa pun.

Kata (بِالْيَمِينِ, bil-yamiini) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 37:93 dan 69:45. Di 37:93 rangkaian itu dipakai untuk pukulan yang menghancurkan berhala. Jadi dua tempat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang tindakan yang tegas dan menentukan, bukan tentang arah atau sisi tubuh belaka.

Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Terjemahan menambahkan kata kekuatan di dalam kurung sesudah tangan kanan, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks. Dalam bahasa Arab, menyebut tangan kanan memang lazim dipakai untuk menyatakan kekuatan dan kesungguhan, sebab tangan kanan adalah tangan yang dipakai untuk pekerjaan yang menuntut tenaga.

Sebutan yang sama sudah muncul di 69:19 untuk catatan yang diterima di tangan kanan. Di sana ia menandai kabar baik, dan di sini ia menandai cengkeraman yang membinasakan. Sebutan yang sama membawa dua rasa yang berlawanan, dan yang menentukan adalah kalimat yang mengelilinginya.

Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Huruf penguat di depan kata kerjanya juga perlu dicatat. Ia adalah jawaban wajib bagi kalimat pengandaian yang dibuka di 69:44. Dalam bahasa Arab, pengandaian jenis itu menuntut jawaban yang diawali huruf penguat tersebut. Jadi dua ayat itu terkunci satu sama lain oleh aturan tata bahasa, bukan sekadar oleh urutan pemikiran.

Hal berikut ini pun menentukan. Perlu diperhatikan bahwa yang mengerjakan disebut dengan bentuk pihak pertama jamak. Sepanjang bagian pembelaan ini, Allah berbicara sebagai pihak pertama, sama seperti di 69:11 dan 69:12 ketika berbicara tentang pertolongan. Kedekatan sapaan itu dipakai untuk dua perkara yang berlawanan: menyelamatkan dan membinasakan.

Bandingkan pula dengan bagian sebelumnya di surah ini. Di 69:30 sampai 69:32 hukuman dijatuhkan lewat perintah kepada pihak lain, sedangkan di sini Allah menyebut diri-Nya sendiri sebagai pelaku. Perbedaan itu bukan kebetulan: yang menyangkut penjagaan wahyu tidak diserahkan kepada siapa pun. Semakin penting perkaranya, semakin dekat sapaannya, dan kedekatan itu terbaca dari bentuk kata kerjanya saja.

Perhatikan pula bahwa ancaman ini justru menjadi penenang bagi pembacanya. Yang dijaga sekeras itu tidak mungkin dibiarkan berubah, dan pembaca yang menerima bacaan ini berabad-abad kemudian mendapat jaminan dari kalimat yang sekilas tampak mengancam. Kalimat yang paling keras di bagian ini ternyata bekerja sebagai kalimat yang paling menenangkan.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan konsekuensi keras jika wahyu dipalsukan. Ayat ini adalah jawaban wajib bagi kalimat pengandaian yang dibuka di 69:44. Dalam bahasa Arab, pengandaian jenis itu menuntut jawaban yang diawali huruf penguat, dan huruf itulah yang membuka ayat ini. Dua ayat tersebut terkunci satu sama lain oleh aturan tata bahasa, bukan sekadar oleh urutan pemikiran, sehingga membaca salah satunya sendirian menyisakan setengah bangunan.

Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:10 untuk kaum yang dicengkeram sesudah mendurhakai utusan mereka. Pertemuan itu perlu ditahan baik-baik. Di sana yang dicengkeram adalah kaum yang menolak utusan, dan di sini yang diandaikan dicengkeram adalah utusannya sendiri seandainya ia berbuat curang. Satu akar dipakai Allah untuk dua pihak yang berlawanan kedudukan, dan ukuran yang sama berlaku bagi keduanya tanpa kekebalan bagi siapa pun.

Rangkaian keduanya muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 37:93 rangkaian itu dipakai untuk pukulan yang menghancurkan berhala. Dua tempat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang tindakan yang tegas dan menentukan, bukan tentang arah atau sisi tubuh belaka. Sebutan yang sama sudah muncul pula di 69:19 untuk catatan yang diterima di tangan kanan; di sana ia menandai kabar baik, dan di sini menandai cengkeraman yang membinasakan. Sebutan yang sama membawa dua rasa yang berlawanan, dan yang menentukan adalah kalimat yang mengelilinginya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata pertama ayat ini sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:10 untuk kaum yang dicengkeram sesudah mendurhakai utusan mereka. Di sana yang dicengkeram adalah kaum yang menolak, dan di sini yang diandaikan dicengkeram adalah utusannya sendiri. Satu akar dipakai Allah untuk dua pihak yang berlawanan kedudukan, dan ukuran yang sama berlaku bagi keduanya tanpa kekecualian. Ukuran yang berlaku sama untuk semua adalah dasar keadilan, dan Allah memperlihatkannya justru pada orang yang paling dekat dengan-Nya.
  • Rangkaian kedua di ayat ini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 37:93 ia dipakai untuk pukulan yang menghancurkan berhala. Dua tempat yang memuatnya sama-sama berbicara tentang tindakan yang tegas dan menentukan, bukan tentang arah atau sisi tubuh belaka. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks. Bahasa menyimpan banyak kiasan yang sudah menjadi kebiasaan, dan membacanya harfiah akan menyempitkan maksudnya.
  • Sebutan untuk tangan kanan sudah muncul di 69:19 untuk catatan yang diterima seorang yang berbahagia. Di sana ia menandai kabar baik, dan di sini menandai cengkeraman yang membinasakan. Sebutan yang sama membawa dua rasa yang berlawanan, dan yang menentukan adalah kalimat yang mengelilinginya. Allah memakai satu kata untuk dua keadaan, dan pembaca yang tergesa akan menyamakan keduanya. Kata yang sama bisa membawa kabar gembira atau kabar buruk, dan yang menentukan selalu kalimat yang mengelilinginya.
  • Huruf penguat di depan kata kerja ayat ini adalah jawaban wajib bagi kalimat pengandaian yang dibuka di 69:44. Dalam bahasa Arab, pengandaian jenis itu menuntut jawaban yang diawali huruf tersebut. Dua ayat itu terkunci satu sama lain oleh aturan tata bahasa, bukan sekadar oleh urutan pemikiran, sehingga membaca salah satunya sendirian menyisakan setengah bangunan. Dua ayat yang terkunci oleh aturan tata bahasa tidak bisa dibaca sendiri-sendiri tanpa kehilangan separuh maksudnya.
  • Yang mengerjakan di ayat ini disebut dengan bentuk pihak pertama jamak, sama seperti di 69:11 dan 69:12 ketika Allah berbicara tentang pertolongan. Kedekatan sapaan itu dipakai untuk dua perkara yang berlawanan: menyelamatkan dan membinasakan. Yang dekat tidak selalu berarti yang lembut, dan kedekatan justru membuat keduanya terasa lebih sungguh. Kedekatan tidak berarti kelunakan, dan Allah memakai suara yang sama untuk menyelamatkan dan untuk menghukum.
  • Ayat ini berisi ancaman terhadap utusan seandainya ia berbuat curang, dan justru ancaman itulah yang menjadi jaminan bagi pembaca. Yang dijaga sekeras itu tidak mungkin dibiarkan menambahkan apa pun ke dalamnya. Kalau penjagaan atas satu kalimat saja sekeras ini, apa yang sebenarnya sedang kita pegang setiap kali membuka bacaan ini? Penjagaan yang ketat atas sesuatu adalah tanda betapa bernilainya yang dijaga itu bagi yang menjaganya.

Ayat 69:46

ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

Kemudian benar-benar Kami putuskan urat nadinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَtsumma la-qatha'naa minhu l-watiinakemudian benar-benar Kami putuskan urat nadinya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. لَقَطَعْنَاla-qatha'naasungguh Kami akan memutus
  3. مِنْهُminhudarinya
  4. الْوَتِينَl-watiinaurat nadi

Inti bacaan

Detail konsekuensi fisik yang eksplisit: 'kemudian benar-benar Kami putuskan urat nadinya', deskripsi konkret yang menekankan bahwa konsekuensi bagi kebohongan semacam itu bersifat total dan tidak bisa dihindari.

Penjelasan pilihan kata

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (لَقَطَعْنَا, laqatha'naa) dan (الْوَتِينَ, al-watiina). Yang pertama berarti niscaya Kami putuskan, dengan huruf penguat di depannya. Yang kedua adalah sebutan untuk urat besar yang menyambung jantung, yaitu urat yang kalau putus tidak menyisakan kemungkinan hidup.

Ada sisi lain yang belum sempat mendapat gilirannya sampai di titik ini. Pemilihan kata kedua itu sangat tepat. Yang disebut bukan leher, bukan dada, bukan jantungnya sendiri, melainkan urat penyambungnya. Yang diputus adalah bagian yang paling menentukan kelangsungan hidup dan paling tidak bisa disambung kembali. Ketepatan seperti itu memperlihatkan pilihan yang cermat, bukan sekadar gambaran kekerasan.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata sambung pembukanya menyatakan urutan yang berjarak, sama dengan yang dipakai di 69:31 dan 69:32. Jadi antara direnggut dan diputus uratnya ada jeda. Susunan itu mengulang pola yang sudah dipakai untuk orang yang celaka, dan pengulangan pola pada dua bagian yang berbeda menandai bahwa cara Allah memperlakukan pelanggaran memang satu.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Huruf penguat di depan kata kerjanya adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:45. Dua ayat berurutan sama-sama dibuka penguat, dan keduanya sama-sama merupakan jawaban bagi pengandaian di 69:44. Jadi satu pengandaian dijawab dua kali, dan dua jawaban itu menyusun satu tindakan yang bertahap.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bentuk pihak pertama jamak dipakai lagi di sini. Sepanjang tiga ayat ini yang berbicara adalah Allah sendiri sebagai pelaku langsung, bukan lewat perantara. Bandingkan dengan 69:30 sampai 69:32, tempat perintah diberikan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Perbedaan itu menandai bahwa perkara yang di sini tidak diserahkan kepada siapa pun.

Susunan (مِنْهُ, minhu) yang berarti dari padanya dipakai di ayat ini dan di 69:45. Dua ayat berurutan memakainya, dan di keduanya ia menandai bagian yang diambil dari dirinya. Pengulangan berdempetan seperti itu memperjelas bahwa yang dikenai tindakan tetap satu orang yang sama sepanjang dua ayat.

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Perlu dicatat bahwa seluruh gambaran ini berada di dalam pengandaian yang bentuknya sudah menyatakan tidak pernah terjadi. Jadi yang dilukiskan sekeras ini justru menjadi bukti kebalikannya. Kekerasan gambaran itu bukan ancaman yang menggantung, melainkan jaminan bahwa bacaan ini sampai kepada pembacanya tanpa satu tambahan pun yang diselipkan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran konsekuensi keras tersebut. Ayat ini melengkapi jawaban bagi pengandaian yang dibuka di 69:44. Dua ayat berurutan sama-sama dibuka huruf penguat, dan keduanya sama-sama merupakan jawaban bagi pengandaian tersebut, sehingga satu pengandaian dijawab dua kali dan dua jawaban itu menyusun satu tindakan yang bertahap. Kata sambung pembukanya menyatakan urutan yang berjarak, sama dengan yang dipakai di 69:31 dan 69:32, jadi antara direnggut dan diputus uratnya ada jeda.

Dua katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang kedua adalah sebutan untuk urat besar yang menyambung jantung, yaitu urat yang kalau putus tidak menyisakan kemungkinan hidup. Pemilihan itu sangat tepat: yang disebut bukan leher, bukan dada, bukan jantungnya sendiri, melainkan urat penyambungnya. Yang diputus adalah bagian yang paling menentukan kelangsungan hidup dan paling tidak bisa disambung kembali. Ketepatan seperti itu memperlihatkan pilihan yang cermat, bukan sekadar gambaran kekerasan.

Yang paling perlu dicatat, seluruh gambaran ini berada di dalam pengandaian yang bentuknya sudah menyatakan tidak pernah terjadi. Yang dilukiskan sekeras ini justru menjadi bukti kebalikannya. Kekerasan gambaran itu bukan ancaman yang menggantung, melainkan jaminan bahwa bacaan ini sampai kepada pembacanya tanpa satu tambahan pun yang diselipkan. Dan bentuk pihak pertama jamak dipakai lagi, sehingga sepanjang tiga ayat ini Allah berbicara sebagai pelaku langsung, berbeda dari 69:30 sampai 69:32 tempat perintah diberikan kepada pihak yang tidak disebut namanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kedua di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia sebutan untuk urat besar yang menyambung jantung. Yang disebut bukan leher, bukan dada, bukan jantungnya sendiri, melainkan urat penyambungnya. Yang diputus adalah bagian yang paling menentukan kelangsungan hidup dan paling tidak bisa disambung kembali, dan ketepatan pilihan Allah itu memperlihatkan kecermatan, bukan sekadar kekerasan. Pilihan kata yang setepat itu memperlihatkan bahwa yang berbicara mengenal seluk-beluk tubuh yang diciptakan-Nya sendiri.
  • Seluruh gambaran di ayat ini berada di dalam pengandaian yang bentuknya sudah menyatakan tidak pernah terjadi. Yang dilukiskan sekeras ini justru menjadi bukti kebalikannya. Kekerasan gambaran itu bukan ancaman yang menggantung, melainkan jaminan dari Allah bahwa bacaan ini sampai kepada pembacanya tanpa satu tambahan pun yang diselipkan. Kalimat yang paling keras di bagian ini justru bekerja sebagai kalimat yang paling menenangkan bagi pembacanya.
  • Huruf penguat di depan kata kerja ayat ini adalah pemakaian kedua berturut-turut sesudah 69:45, dan keduanya sama-sama jawaban bagi pengandaian di 69:44. Satu pengandaian dijawab dua kali, dan dua jawaban itu menyusun satu tindakan yang bertahap. Allah tidak menyelesaikannya dalam satu kalimat, dan bertahap membuat gambarannya lebih terasa. Menyampaikan bertahap membuat gambarannya tertanam, dan Allah memakai cara itu berulang kali di sepanjang surah ini.
  • Bentuk pihak pertama jamak dipakai sepanjang tiga ayat ini, sehingga Allah berbicara sebagai pelaku langsung. Bandingkan dengan 69:30 sampai 69:32, tempat perintah diberikan kepada pihak yang tidak disebut namanya. Perbedaan itu menandai bahwa perkara yang di sini tidak diserahkan kepada siapa pun, dan penjagaan atas wahyu memang tidak diwakilkan. Ada perkara yang tidak diwakilkan kepada siapa pun, dan bentuk kata kerjanya sudah memberitahukan hal itu.
  • Kata sambung pembuka ayat ini menyatakan urutan berjarak, sama dengan yang dipakai di 69:31 dan 69:32 untuk orang yang celaka. Pengulangan pola pada dua bagian yang berbeda menandai bahwa cara Allah memperlakukan pelanggaran memang satu. Yang berbeda hanya siapa yang dikenai, sedangkan bentuk perlakuannya disusun dengan cetakan yang sama. Aturan yang sama diberlakukan pada semua pihak, dan kesamaan cetakan kalimatnya adalah tanda dari kesamaan itu.
  • Susunan yang berarti dari padanya dipakai di ayat ini dan di 69:45, dan di keduanya ia menandai bagian yang diambil dari dirinya. Pengulangan berdempetan itu memperjelas bahwa yang dikenai tindakan tetap satu orang yang sama sepanjang dua ayat. Kalau penjagaan sekeras ini diberlakukan pada orang yang paling dipercaya, apa lagi yang masih pantas kita ragukan tentang kemurnian bacaan ini? Keraguan atas kemurnian bacaan ini dijawab bukan dengan bantahan, melainkan dengan memperlihatkan seberapa keras penjagaannya.

Ayat 69:47

فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

Maka tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi darinya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَfa-maa minkum min ahadin 'anhu haajiziinamaka tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi darinya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَمَاfa-maamaka tidak ada
  2. مِنْكُمْminkumdari kalian
  3. مِنْmindari
  4. أَحَدٍahadinseorang pun
  5. عَنْهُ'anhudarinya
  6. حَاجِزِينَhaajiziinayang menghalangi

Inti bacaan

Ketiadaan perlindungan bagi yang bersalah: 'tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami) darinya', penegasan bahwa jika klaim kenabian memang palsu, tidak ada kekuatan manusia yang mampu mencegah konsekuensinya, argumen tidak langsung tentang keaslian wahyu melalui logika konsekuensi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Kami)' tidak dipakai.

Kata (حَاجِزِينَ, haajiziina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti penghalang, pemisah, orang yang menahan sesuatu supaya tidak sampai. Akarnya dipakai juga untuk batas yang memisahkan dua hal supaya tidak bercampur.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk jamaknya perlu diperhatikan. Kalimatnya berbunyi tidak ada seorang pun dari kalian, dengan sebutan tunggal, tetapi sifat penghalangnya berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan, bukan satu orang. Jadi yang ditiadakan bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan pengingkarannya bertumpuk. Ada kata pengingkar di depan, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Jadi ada dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek, dan penumpukan itu menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun.

Kata (مِنْكُمْ, minkum) berarti dari kalangan kalian. Sasaran kalimat berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42. Jadi sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung. Perpindahan itu membuat pernyataannya terasa ditujukan kepada yang sedang membaca.

Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Tiga ayat sebelumnya menyusun perbuatan, dan ayat ini menutup kemungkinan campur tangan dari luar. Jadi urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun.

Kata (عَنْهُ, 'anhu) berarti dari padanya. Yang dimaksud adalah orang yang diandaikan, bukan perbuatannya. Jadi yang tidak bisa dihalangi adalah tindakan atas dirinya, dan bukan sekadar keputusannya. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menjelaskan siapa yang tidak bisa dihalangi, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks.

Perlu dicatat bahwa peniadaan ini ditujukan kepada manusia, bukan kepada makhluk lain. Yang disebut adalah dari kalangan kalian, sehingga yang ditiadakan adalah kesanggupan sesama manusia untuk membela. Bagi pendengar yang biasa mengandalkan pembelaan kerabat dan kelompok, peniadaan itu menyentuh tepat pada tempat yang paling diandalkan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan tidak ada yang dapat mencegah keputusan Allah: bukti keaslian wahyu. Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Tiga ayat sebelumnya menyusun perbuatan, dan ayat ini menutup kemungkinan campur tangan dari luar. Urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti penghalang atau orang yang menahan sesuatu supaya tidak sampai. Bentuk jamaknya perlu diperhatikan: kalimatnya berbunyi tidak ada seorang pun dari kalian dengan sebutan tunggal, tetapi sifat penghalangnya berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan, bukan satu orang. Yang ditiadakan Allah bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya.

Susunan pengingkarannya pun bertumpuk. Ada kata pengingkar di depan, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun. Sasaran kalimatnya juga berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42, sehingga sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini berbentuk jamak, padahal sebutan sebelumnya tunggal. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan. Yang ditiadakan Allah bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya. Bentuk kata itu sendiri yang memperluas cakupannya, tanpa satu kalimat penjelas pun. Bentuk kata kadang menyampaikan cakupan yang tidak tertulis di permukaan, dan pembaca terjemahan menerimanya tanpa jejak.
  • Ada kata pengingkar di depan kalimat ini, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun. Allah tidak menyisakan ruang bagi pengecualian, dan ketegasan itu terletak pada susunan katanya. Penumpukan penanda dalam satu kalimat pendek adalah cara menegaskan yang paling hemat sekaligus paling kuat. Ketegasan yang dibangun dari susunan kata bertahan selama teksnya bertahan, dan tidak bergantung pada nada orang yang membacanya.
  • Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun, dan kelengkapan seperti itu adalah cara Allah menjawab keraguan sampai ke ujungnya. Jawaban yang lengkap sampai ke ujungnya memberi ketenangan yang tidak bisa diberikan jawaban yang berhenti di tengah.
  • Peniadaan di ayat ini ditujukan kepada manusia, sebab yang disebut adalah dari kalangan kalian. Yang ditiadakan adalah kesanggupan sesama manusia untuk membela. Bagi orang yang biasa mengandalkan pembelaan kerabat dan kelompok, peniadaan itu menyentuh tepat pada tempat yang paling diandalkan, dan Allah memang menyebutnya dengan sengaja. Pembelaan kelompok adalah sandaran yang paling sering dipakai manusia dan paling jarang diperiksa kekuatannya.
  • Sasaran kalimat berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42. Sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung. Perpindahan itu membuat pernyataannya terasa ditujukan kepada yang sedang membaca, bukan kepada orang lain di masa lampau. Disapa langsung membuat pembaca berhenti menjadi penonton, dan Al-Qur'an memakai perpindahan itu dengan sangat sering. Perpindahan sapaan yang mendadak bekerja seperti tepukan di bahu, dan pembaca yang lengah dibangunkan olehnya.
  • Kata yang berarti dari padanya di ayat ini menunjuk orang yang diandaikan, bukan perbuatannya. Yang tidak bisa dihalangi adalah tindakan atas dirinya, bukan sekadar keputusannya. Kalau tidak seorang pun sanggup menghalangi tindakan Allah atas orang yang paling mulia sekalipun, pembelaan macam apa yang selama ini kita andalkan? Sandaran yang tidak pernah diuji akan terus terasa kokoh sampai hari ketika ia benar-benar diperlukan.